Samudera Biru

Samudera Biru
Pundung.


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Pernahkah mereka tak bahagia?


Mungkin itu satu pertanyaan yang ingin sekali di tanyakan oleh orang-orang yang tahu betul bagaimana keluarga Rahardian Wijaya menjalani hubungan dengan pasangan mereka masing-masing. Terlihat begitu manis dan hangat sudah pasti dan tak bisa di ragukan lagi memang itu yang selalu mereka tunjukan.


Bosan, satu kata itu mungkin saja di rasakan tapi tak pernah sampai berlarut larut karna semua itu akan kalah dengan cinta.


"Tapi, Bee" lirih Biru bingung, Ia duduk di tepi ranjang sambil memainkan jari jarinya diatas paha.


Sam yang bersimpuh di hadapan istrinya terus meyakinkan Biru jika semua akan baik-baik saja saat mereka harus meninggalkan Rain dan Embun.


"Makin lama mikir, makin lama juga buat pergi dan itu otomatis bikin lama buat ninggalin anak-anak juga" kata Sam mengingatkan.


"Ya udah, aku ganti baju dulu"


Sam mengangguk paham, Ia begitu senang dan bahagia karna Biru mau di ajaknya pergi untuk acara makan malam menggantikan Air dan Hujan yang berhalangan datang. Sam hanya takut jika disana mungkin saja ia akan bertemu dengan Alyssa, meski dalam hati ia berharap itu semua tak pernah terjadi. Kesalah paham yang sudah sudah setidaknya membuat ia lebih memilih sedia payung sebelum hujan. Tak ingin ada pertengkaran yang meributkan hal yang tak penting.


.


.


.


Hampir tiga puluh menit berlalu, Sam yang sudah rapih dengan stelan jasnya menunggu di ruang tengah bersama Rain. Bayi tampan itu sedikit rewel mencari Mhiu nya.


"Bee..." Sam dan Rain menoleh secara bersamaan kearah suara yang jelas mereka hapal, Biru.

__ADS_1


"Iya, Sayang. Sudah selesai?" tanya Sam sambil bangun dan menggendong Rain. Ia masih saja sering terpesona saat melihat istrinya sedikit berdandan rapih. Biru benar-benar cantik, bathinnya.


Rain yang rawel tentu semakin rewel ketika melihat Biru, dan itu membuat wanita yang kini sudah memakai dress selutut itu serba salah.


"Susu in dulu sebentar, mungkin aja lagi ngantuk" titah Sam yang harus lebih mengalah lagi.


Biru duduk di sofa dengan di temani sang suami yang ikut mengusap lengan buah hati mereka dan benar saja, hanya sepuluh menit Rain sudah melepas mulutnya daei wadah ASI alami. Bayi tampan itu pun langsung di baringkan di sisi Embun di kamar sang kakak dengan di jaga Melisa dan Rini.


"Kami pergi dulu ya, Amma. Aku titip anak anak" punya Sam sambil mencium pipi Melisa.


"Iya, Sayang. Hati-hati dan cepat kembali"


.


.


.


"Kamu itu terlalu cantik" ucap Sam saat pulang dan kini keduanya sudah berada di mobil.


"Lalu apa itu salahku?" tanya Biru yang kesal karna tebakan Sam benar dengan adanya Alyssa disana tadi.


"Mereka yang salah karna tak bisa menjaga pandangan saat melihat istri orang"


Biru yang tak menimpali, akhirnya membuat pasang suami istri itu terdiam sepanjang perjalanan pulang, dan sampai di rumah utama pun Biru lah yang pertama turun dan masuk untuk menemui anak-anaknya.


Cek lek

__ADS_1


Suara pintu di buka dengan lumayan kasar, Melisa yang menoleh langsung memberi senyum khas keibuannya.


"Amma, Bum-Bum nangis ya?" tanya Biru saat melihat putranya sedang duduk.


"Iya, tadi kebangun, sempet nangis tapi udah minum susu cuma gak mau tidur lagi.


"Kenapa? Rain ngambek?" tanya Sam yang juga ikut masuk dan menyusul ke kamar Embun.


"Enggak, de" jawab Melisa, ia sedikit terkekeh gemas saat melirik cicitnya.


Biru yang menggendong Rain ke karpet depan TV langsung disusui agar anaknya itu kembali tertidur. Tapi bukannya menikmati isi wadah ASI favoritnya Rain malah merangakak ke pojok sofa.


"Mulai deh Drama lagi" ucap Biru, Sam yang mendengar itupun langsung mendekat sambil membuka jas dan menggulung kemejanya sampai siku.


"Sini, Bum gak usah ngambek gitu" sambung Biru lagi antara kesal dan gemas.


.


.


.


.


Bum-Bum mau nyenyeh gak? kalo enggak, Nyenyeh nya buat Phiu ya.


__ADS_1


__ADS_2