Samudera Biru

Samudera Biru
Pemakaman


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Rain yang mulai marah marah akhirnya menangis di meja makan tepat di sisi Embun, sang kakak langsung menoleh dan menghapus air mata Rain tapi...


"Aw.. Jangan gigit dong, auh tau!" protes sang Ratu Rahardian saat tangannya menjadi sasaran empuk rasa kesal Rain.


"Kebiasaan deh, suka gigit gigit terus" omel Biru sambil mengangkat Rain di kursinya sedangkan Embun melanjutkan lagi menonton video dari ponsel milik Biru.


Nyenyeh yuk miyuuuuh..


Bocah bawel itu terus merengek masih memaksa Biru untuk mengeluarkan wadah gizi alaminya, kini Rain tak sekedar menangis tapi sudah masuk tahap jengkel dan mengamuk.


"Hayo! kalau gak berenti, Mhiu gak kasih Nyeh ya. Diem gak!" ancam si wanita yang masih memakai celemek.


Ibu yang datang kedapur langsung mengambil alih masakan Biru yang tertunda, membiarkan putri angkatnya mengurus Rain lebih dulu.


"Kasih dong, Bi. Kasihan Bum-Bum" ucap ibu.


"Semalam aja hampir gak di lepas, dia tuh di mainin, Bu. Bukan beneran pengen nyusU." jawab Biru.


Nyeh, Miyuuuuh apeng ih...


"Ya udah yok, makan ya. Jangan nyeh, ok" tawar Biru yang di jawab gelengan kepala.


Nda!


Biru yang pasrah akhirnya mau tak mau memberikan apa yang di inginkan sang putra karna Embun sudah mulai kesal mendengar tangis adiknya yang semakin menjadi.


"Belisik banet, ntal di gigit badut loh" ucap Embun menakuti Rain, tapi bocah menggemaskan tentu tak akan perduli. Ia tetap meronta sampai keinginan annya terpenuhi.


Nak.. yah. Agih yuk agih.

__ADS_1


Biru mencibir saat Rain mulai tenang, anak itu tertawa dan terlihat sangat jelas bahagianya.


"Jadi pulang sore nanti?" tanya Ibu saat menghidangkan makanan di atas meja makan.


"Jadi, Bu. aku mau ke makam kak Wildan dulu" jawab Biru, niatnya pulang memang karna sangat merindukan almarhum yang dulu berniat menikahinya.


"Ya sudah, kalian kesana saja"


"Memang ibu tak ikut?" tanya Biru.


"Ibu dan bapak akan kerumah mamangmu dulu. Baru tiga hari lalu ibu membersihkan makamnya" ucap Ibu.


.


.


Biru yang sudah bersiap di jam tiga sore langsung menemui suaminya yang sedang mengasuh Rain dan Embun di halaman samping. Cuaca yang mulai mendung membuat Sam sesekali melihat ke arah langit.


"Eh, jadi inget MiMoy. Dede kangen banak banak oey" tambahnya lagi sambil terkekeh.


Biru yang mendekat, langsung memeluk suaminya dari belakang. Punggung lebar itu benar-benar memberi kedamaian baginya.


"Jadi, kan antar aku ke makam?"


"Jadi dong, emang kamu pikir aku izinin kamu buat ketemu almarhum Wildan sendiri?" jawab Sam sedikit ketus.


Biru yang tak ingin berdebat hanya tersenyum kecil. Tubuh mungilnya menghampiri kedua sang buah hati yang bermain.


Tejaaaaal.... tejaal Ta Buuuuy...


Rain berjalan di belakang Embun sambil terus berteriak, siapapun yang melihatnya pasti akan gemas dengan kelakuan dua keturunan konglomerat itu.

__ADS_1


Embun yang tadi di tuntun dan Rain yang di gendong kini sudah masuk kedalam mobil, Sam yang sudah bersiap pun mulai menyalakan mesin mobil mewahnya menuju pemakaman umum Daerah setempat.


Tak membutuhkan waktu lama, kendaraan pun menepi di lahan kosong yang biasa di gunakan untuk parkir mobil, Sam menggendong Rain sedangkan Embun berjalan lebih dulu bersama Biru.


Manah?


"Kuburan, tempat bobo" jawab Sam.


Bobo nyeh


"Bisa gak, gak usah bahas nyenyeh mulu? tutut Phiu langsung geleng-geleng nih"


Sam berjongkok di depan Biru yang menaburkan bunga dan air yang di beli di jalan barusan, wanita itu berdoa begitu khusyuk dengan memejamkan matanya.


Aamiin..


Doa terakhirpun selesai, kini saatnya mereka bangun dan pulang kerumah untuk kembali ke ibu kota.


Rain yang tak lagi di gendong malah berlari lebih dulu sampai Sam harus mengejarnya.


"Bum, mau kemana?" teriak Sam.


.


.


.


Abuuul... ucat ucat tatut iiiiih


__ADS_1


__ADS_2