Samudera Biru

Samudera Biru
Pertanyaan Biru


__ADS_3

🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


"Bee, perasaan makin keras dan gede ya?" ucap Samudera yang langsung membuat Biru tersentak kaget.


Ia pasrah saat sang suami memainkan bagian tubuhnya yang memang terlihat padat berisi.


Jadi, tak salah jika Sam begitu suka berlama-lama disana sebelum masuk ke permainan inti.


Besar... keras..


Dua kalimat itu terus berputar di otaknya membuat Biru galau dan resah tingkat dewa. Sam yang sadar jika istrinya sedikit melamun pun akhirnya bertanya.


"Kamu kenapa,Bee. Lagi gak pengen ya?" bisik Sam, ia menghentikan aksinya sejenak sambil menunggu jawaban.


"Gak apa-apa, terusin lagi"


Sam hanya mengangguk, lalu melanjutkan apa yang tadi tertunda sebelum Embun bangun dari tidurnya.


Beberapa menit berlalu pasangan suami istri itu sampai pada puncak pelepasannya. Sam langsung merapihkan lagi celananya dan tidur sedangkan Biru buru buru ke kamar mandi untuk merapihkan dirinya.


Wanita beranak satu itu melepas seluruh pakaian yang sebenarnya sudah sangat berantakan, senyum tipis tersungging di sudut bibirnya saat melihat banyaknya tanda merah yang di buat sang suami.


Biru meraba dua gundukan dagi kenyal miliknya, ia raba dengan pelan merasakan sendiri apa yang tadi di katakan Samudera saat ia singgah di area favoritnya itu.


"Besar, keras, padat" gumamnya pelan dengan hati berdebar hebat.


Piyut Mhiu ada balonnya ya?

__ADS_1


Ucapan Embun tadi siang pun kembali terngiang di telinganya, bagaimana bisa bocah tiga tahun itu mengatakan jika perutnya seperti balon.


Biru mengusap bagian tengah tubuhnya perlahan sama seperti saat ia meraba bagian dadanya barusan.


"Enggak gede kok' cuma kaya orang begah aja. Sedikit buncit serasa cacingan" gumamnya lagi.


Biru terus memperhatikan tubuh polosnya di depan cermin dengan sorot mata fokus pada dada dan perutnya saja.


"Jangan jangan!"


Biru meraih bathrobe putih yang tergantung dan langsung memakainya dengan cepat. Langkah kakinya kini menuju lemari kecil tempat penyimpanan handuk, perlengkapan mandi dan...


Sreekk...


Biru membuka lanci paling bawah di lemari tersebut, detak jantungnya berdetak bagai ribuan kali lipat saat melihat benda di dalam sana yang masih tersusun rapih bagai tak tersentuh sama sekali.


"Bodoh! kenapa bisa sih?!" rutuknya kesal dan menyalahkan dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia tak sadar dengan hal yang biasanya rutin terjadi setiap bulan namun nyatanya tak lagi ia alami akhir akhir ini.


Biru bangun dari duduknya, meski lemas ia tetap membersihkan diri sebagai mana mestinya.


Ia yang baru keluar dari kamar mandi tersenyum simpul saat melihat Embun sedang bercanda dengan Phiunya.


"Kok udah pada bangun?" tanya Biru, ia mendekat lebih dulu ke Ranjang tempat dimana anak dan suaminya berada.


"Bul-Bul nih bangunin Phiu, nakal" kata Sam sambil mencubit pipi gemoy putrinya.


"Nda, Bubuy tangtep bulung banak banak" balasanya tak mau di salahkan.

__ADS_1


"Burung dimana?" tanya Biru lagi bingung.


"Mungkin Bul-Bul mimpi, Bee"


Biru hanya mengangguk sambil tersenyum lalu merapihkan dirinya sendiri.


Embun yang sudah keluar dari kamar mereka seakan menjadi kesempatan bagi Biru bicara serius berdua dengan sang suami. Tapi tentu ia meminta Sam untuk membersihkan lebih dulu dirinya.


"Ada apa? Tumben, Bee" tanya Sam yang memeluk istrinya dari belakang saat keduanya berada di balkon kamar.


"Hanya ada yang ingin ku tanyakan"


"Apa?" Sam yang penasaran semakin mengeratkan pelukannya. Ia membuka lebar lebar telinganya bersiap untuk mendengar apa yang akan di katakan sang pemilik hati.


.


.


.


Kalau aku hamil lagi bagaimana?


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Hayo loh 🤭🤭🤭


Kalian sabar ya, ini tuh ON GOING.

__ADS_1


Jangan dulu menyimpulkan sesuatu sebelum baca next babnya ok 😌


__ADS_2