Samudera Biru

Samudera Biru
Demam


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Satu hari ini Rain sama sekali tak menikmati wadah gizi alaminya meski ia sesekali meminta dan merengek tapi saat Biru memperlihatkan tanda merah di dadanya bocah tampan itu pun diam dan beralih ke air putih. Rain mendadak rewel, ia terus ingin di gendong saat makan malam menjelang. Siapapun tak bisa merayunya termasuk sang Gajah.


Aduuuuh...


Rain terus menangis seperti orang kebingungan, ia kesal dan mengamuk dalam pelukan Biru.


"Sama Phiu yuk, kita liat kelinci ya atau mau liat burung? oh, Bum-Bum kan punya kucing baru" rayu Sam yang langsung mendapat penolakan dari putranya.


Semakin di paksa, nyatanya Rain malah histeris. Ini sungguh tak pernah terjadi padanya. Beda Rain tentu beda juga dengan Embun saat ia berhenti ASI karna gadis cilik itu sudah terbiasa dengan sufor berbeda dengan Rain yang sama sekali tak mau bahkan langsung muntah.


Nda... miong akal.


Biru hanya bisa membuang napas kasar, entah sampai kapan Rain terus menyalakan si kucing yang tak tahu apa-apa.


"Bum-Bum, mau apa?"


Mahu Nyeh...

__ADS_1


Biru hanya tersenyum kecil, ia sudah tak tahu harus bagaiamana lagi karna Rain tak mau lepas darinya sedangkan ia sudah begitu lelah.


"Kamu makan aja duluan, Bee" titah Biru pada sang suami yang sejak pulang kantor selalu mendampinginya.


"Aku bawain makan malam kesini ya"


Biru langsung mengangguk, ia memang sudah sangat lapar saat ini. Menggendong Rain hampir dua jam membuat ia lelah dan merasa tubuhnya seolah remuk.


Sam mencium kening istrinya sebelum ia keluar, jangankan untuk beristirahat karna nyatanya kemeja kerjanya pun masih melekat di tubuh tingginya. Ia belum membersihkan diri sejak sampai di rumah, Sam hanya terus mencoba merayu Rain meski hasilnya nihil.


.


.


"Dikamar, Moy" sahut Sam pelan, ia meraih dua piring yang di isinya beberapa menu makanan.


"Rain masih nangis?" tanya Reza.


"Iya, Appa. Gak mau sama siapapun." adu nya lagi yang malah berhambur memeluk sang Gajah.

__ADS_1


Setelah semua siap, Sam langsung membawa satu nampan yang berisi dua piring itu kembali ke kamar. Ia sedikit berteriak agar Biru mau membuka pintu.


Cek lek


Biru membuka pintu dengan sangat pelan karna Rain tertidur dalam pelukannya. Bocah itu lelah sampai tak terasa masuk ke alam mimpi meski masih terdengar sesegukan kecil keluar dari mulutnya.


Biru yang berjalan di belakang sang Suami, turut duduk di sisi Sam tapi baru dua detik ia meletakkan bo kongnya, Rain kembali menanggis tentu Biru reflek bangun lagi. Jadilah kini Sam menyuapi Biru dengan cara berdiri sampai makanan di piringnya habis tak tersisa.


Sudah hampir jam sepuluh malam akhirnya si bungsu kembali terlelap, dengan sangat hati-hati bocah itupun di baringkan di tengah ranjang sambil langsung di peluk agar Rain merasa masih dalam gendongan Mhiunya.


"Aku mandi dulu ya, Bee" bisik Sam saat dirasa semua aman.


"Iya, nanti gantian ya" balas Biru yang memang sama-sama belum membersihkan diri.


Rasa lelah di tubuhnya dengan kaki dan tangan yang begitu pegal membuat Biru benar-benar menikmati kasur yang sedang ia tiduri saat ini tanpa terasa wanita cantik yang sedang berjuang itu pun ikut terbuai ke alam mimpi.


Ritual mandi yang biasanya lama kini hanya di lakukan Sam beberapa menit saja. Ia begitu khawatir sampai harus buru buru menyelesaikannya.


"Bee, aku udahan. Kamu mau mandi gak, sayang?"

__ADS_1


"Bee..."


"Ya, ampun, Bee! kamu demam"


__ADS_2