
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Hari yang di tunggu Biru pun tiba, gadis cantik itu sudah sangat tak sabar menunggu ibu dan bapak datang menjenguknya hari ini setelah Sam memutuskan salah satu supirnya untuk menjemput mereka ke kampung.
Sudah banyak yang wanita hamil itu lakukan untuk mengusir rasa bosannya di apartemen termasuk kembali mengecek kerapihan kamar tamu dan juga persediaan di dalam kulkas karna ia sudah membayangkan akan membuat banyak makanan juga cemilan bersama ibu seperti yang dulu sering mereka lakukan saat di kampung.
Biru lagi dan lagi melirik kearah jam yang menempel di dinding, waktu begitu lambat ia rasakan bila sedang menunggu sampai akhirnya ia buru buru menoleh saat mendengar ketukan pintu.
Cek lek
"Assalamu'alaikum, Biru" sapa Ibu di depan pintu.
"Waalaikum salam, Ibu. Biru kangen" sahutnya yang langsung berhambur memeluk mantan calon mertuanya itu.
Keduanya menumpahkan rasa rindu yang terpendam selama beberapa bulan tak berjumpa, rasanya tak cukup meski setiap hari mereka bertukar kabar lewat sambungan telepon.
"Ayo, masuk. Loh bapak mana?" tanya Biru saat hanya ada ibu dan si supir yang ia lihat.
"Bapak ada urusan mendadak, Nak."
"Jadi ibu sendiri?" tanya Biru lagi yang di jawab gelengan kepala.
__ADS_1
"Sama Khansa" jawabnya sambil menoleh kearah kiri.Dan benar saja, ada seorang wanita dewasa berjalan mendekat kearah mereka.
"Kakak ikut juga? Dhika mana?" tanya Biru saat ia mulai mencari sosok bocah kecil yang tak lain dan bukan adalah anak Khansa.
Khansa adalah kakak pertama Wildan, ia yang sudah menikah tentu di bawa oleh suaminya ke kampung sebelah meski masih satu desa. Raut wajahnya yang sedikit terlihat galak membuat Biru sedari kecil memang tak begitu akrab, Ia lebih memilih menghindar atau langsung mengiyakan perintah Khansa dibanding harus mendengar ocehah anak sulung orangtua angkat.
"Kita bicara di dalam ya" ajak Ibu sebelum putrinya menjawab.
Kini ketiganya sudah duduk di ruang tamu, Ibu dengan lembut mengusap perut Biru seraya membacakan banyak doa dan harapan, Biru yang menyimak dan mendengarnya pun tak kuasa untuk menahan air matanya. Bayangan Almarhum Wildan kembali terlintas, bukan karna Biru mencintai pria itu tapi memang hanya Wildan lah tempat ia berkeluh kesah dan membelanya selama sepuluh tahun di angkat anak.
"Ibu sangat bahagia saat tahu kabar kehamilanmu, setidaknya ibu masih bisa merasakan menimang cucu lagi, Bi." lirih ibu sambil menghapus air matanya.
"Biru tahu, ibu pasti merasakan hal itu, makanya Biru akan sekuat hati untuk mejaga anak ini demi kalian yang sayang sama Biru dan janin di dalam rahim Biru."
"Biru harap ibu tinggal disini lebih lama ya, ibu mau kan nemenin Biru?" pintanta manja penuh harap.
"Pasti, ibu dan Khansa akan disini menemanimu beberapa waktu karna ada juga yang ingin ibu bicarakan denganmu"
Biru yang diam mulai mengernyitkan dahinya, ia siapa mendengarkan apa yang akan di katakan ibu yang sepertinya begitu serius.
"Ada apa? apa ada masalah dengan kalian?" tanya Biru yang sudah sangat penasaran.
__ADS_1
"Tidak, ibu dan bapak baik baik saja. Tapi kakakmu ini yang sedang bermasalah, Bi"
"Kak Khansa, kenapa?"
Biru menoleh kearah kakak angkatnya itu yang duduk di sofa single, tatapannya sungguh sangat sulit di artikan.
.
.
.
.
.
.
Khansa baru dua minggu lalu bercerai, ia butuh pekerjaan untuk mencukupi hidupnya, Bi...
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
__ADS_1
Biru butuh @pawangRahardian berserta wajan wajannya nih kayanya 🤫🤫🤫🤫.
Like komennnya yuk ramaikan.