Samudera Biru

Samudera Biru
Resahnya si ibu hamil


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Jadi gimana?" tanya Reza saat semua anggota Rahardian berkumpul di ruang tengah rumah utama untuk membahas masalah tujuh bulanan Biru yang akan berlangsung pada tanggal tujuh nanti tepat di hari sabtu mendatang.


"Kaya yang biasa kita adain aja, Mas" sahut Melisa. Di usianya yang tak lagi muda ia masih turut andil dalam setiap acara yang di adakan keluarga suaminya itu, terlepas hanya dia satu satunya Nyonya besar setelah sang ibu mertua kembali ke pangkuanNya.


"Biar nanti aku sama Khayangan yang urus, Mah"


"Iya, mamah jangan capek capek. Mama tinggal kasih arahan aja buat kita" timpan sang menantu kedua Rahardian.


"Nanti adek coba hubungi pihak catering yang dulu kita pake pas Si tutut nikah aja ya" sambung Ameera yang duduk tepat di sisi Biru.


"Adek? mana Adek?" ledek Air sambil mencibir kearah Auntynya yang kini sudah memiliki cucu dari Mitha, sang anak sambung.

__ADS_1


"Diema gak? geplak nih!" ancamnya. Ameera dan Air memang tak pernah akur hingga detik ini sama seperti Sam dan Cahaya, ada saja yang mereka debatkan jika bertemu membuat siapapun hanya bisa menggelengkan kepala.


Keluarga besar itu kini sudah mendapatkan tugas masing-masing, semuanya mereka lakukan secara bersama agar hasilnya selalu maksimal. Terbukti jika semua acara yang selalu di gelar oleh Rahardian Wijaya tak pernah gagal sama sekali bahkan seolah selalu mendekati kata Sempurna!


*******


Samudera dan Biru yang sudah memasuki kamar mulai membaringkan tubuh mereka di atas ranjang, meski Sam meminta agar istrinya itu selalu tenang tapi tetap saja ada yang menjadi bahan pikirannya.


"Ayo tidur, emang gak ngantuk?" ajak Sam saat melihat Biru belum juga memejamkan kedua matanya.


"Kalo sakit bilang, besok kita periksa lagi ya"


"Aku cuma takut, apa melahirkan sesakit itu?" tanya Biru. Usai melihat video persalinan di ponsel, Biru seakan tak percaya diri jika ia bisa melewati semua proses antara hidup dan mati.

__ADS_1


"Pasti bisa, kan ada aku, Bee. Aku akan selalu di samping kamu. Percayalah"


Bukan hanya Biru yang takut, Sam pun merasakan hal yang sama. Terlebih dokter selalu berpesan banyak hal demi Biru baik baik saja hingga saat sang buah hati menyapa dunia kurang lebih dua bulan mendatang.


"Sekarang kamu tidur ya, besok ada orang yang kesini buat fitting baju untuk semua keluarga. Kita akan selalu bersama sampai kapanpun itu" bisik Sam sambil menciumi pucuk kepala istrinya yang hampir terlelap.


Biru, gadis yang baru belum genap sembilan belas tahun itu harus berjuang ekstra karna dokter tak menyarankan ia untuk melakukan persalinan normal. Tubuh serta panggul yang kecil dan usia yang masih muda membuat team dokter tak ingin mengambil resiko apapun untuk sang cucu mantu Reza Rahardian Wijaya. Apalagi rumah sakit yang akan di jadikan tempat bersalin pun adalah milik Hujan, sang ibu mertua. Dengan dokter yang sudah di pilih khusus untuk proses persalinan keturunan Rahardian yang sampai detik ini masih di tutupi jenis kelaminnya.


.


.


.

__ADS_1


Apapun prosesnya, kamu adalah wanita sempurna. Kamu tetap menjadi ibu yang terbaik, karna sampai di tujuh bulan ini pun aku tahu semua tak mudah bagimu


__ADS_2