Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
The power of... move on!


__ADS_3

🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥


...Area dewasa....


...Bijaklah memilih bacaan....


******


Ketika wanita lain melakukan diet ketat demi menurunkan bobot mereka yang melewati limit. Justru sebaliknya bagi wanita muda berambut coklat pendek ini.


Ia berjuang sekuat tenaga demi menaikkan berat badannya. Karena dulu, sebelum kejadian naas yang menimpanya. Bentuk tubuhnya sangat sintal dan seksi.


Perlahan, Susi berusaha untuk menaikkan bobotnya agar tidak terlalu kurus. Apalagi ketika ia mengingat bagaimana bentuk tubuh Jelita.


Menonjol pada bagian-bagian tertentu. Dimana ia juga memiliki nya dulu. Ternyata, beban di batin serta pikiran menjadi titik awal penyakit yang menggerogoti tubuhnya.


Susi menjadi susah menerima makanan, sering bermimpi buruk yang membuatnya susah untuk tidur.


Saat ini, semuanya sudah semakin berkurang. Depresinya, kesedihannya, Susi berusaha menghempas rasa yang memakan raganya perlahan. Asanya mengubah takdir menjadikannya sumber kekuatan untuk bangkit.


Kini, napsu makannya sudah lebih baik. Susi bisa menerima makanan apapun, maka itu ia mengagendakan khusus sehari dalam sepekan, untuk makan-makanan enak.


Seperti saat ini, Susi tengah menikmati steak hasil masakannya sendiri. Ia dan kawan sekamarnya memang patungan untuk dapat memasak makanan ala restoran bintang tujuh ini.


"Uenak tenan!"


"Dagingnya empuk Mbak, aku berasa kek yang di film-film itu yo," respon Yupi sambil menggigit pinggiran daging sherloin steak.


"Ih, makannya gak kayak gitu. Norak deh!" sergah Vanish menghentikan aksi Yupi.


"Aku ndak bisa e, motong-motong pake piso ngono. Ya udah tak cokot ae," kilah Yupi terus menggigit daging itu hingga sausnya belepotan di bibir.


"Iuuuhh, kau ini!"


" Jadi tak berkelas lagi kan," protes Rapika mendengus sebal.


Yupi terus memakan steak nya sampai habis, dia masa bodoh dengan respon kedua temannya. Judulnya daging itu sampai juga ke lambungnya.


Lagipula mereka bukan berada di restoran elit, sehingga harus memikirkan etika makan atau biasa di sebut " Table manner" .


Susi hanya bergeleng kepala dan tersenyum kecil melihat tingkah para sahabatnya itu.


Ia mulai memotong steak di atas piringnya. Teringat seseorang yang begitu suka dengan makanan buatannya ini.


"Aku beruntung memiliki istri yang cantik dan pandai memasak."


" Kau sungguh dapat memuaskan mata, perut dan juga pusaka keramat ku."


Pujian itu, terngiang-ngiang di kepalanya. Mantan suaminya itu memang suka sekali makan di rumah. Apapun masakannya pasti akan di lahap habis oleh Seno.


(Kenapa harus mengingatnya lagi disaat seperti ini? Membuat selera makan ku rusak saja!


Huft..., aku harus bisa dan harus banyak makan.)


Pada akhirnya Susi menghabiskan dua potong daging dan semangkuk kentang goreng.


Saat ini ia bersyukur bisa makan sepuasnya, meski harus bekerja keras dahulu itu sepadan. Di banding ketika masih di istana emas, tulangnya hampir terpisah dari badan, tetapi hanya mendapat makanan sisa.

__ADS_1


"Sejak kau menghabiskan uang anakku karena dua kali masuk rumah sakit. Aku tak mengizinkanmu makan enak di rumah ini!"


"Kecuali sisa, dan jangan sekalipun kau mengadu pada anakku, atau aku akan membuat Seno meninggalkanmu!"


(Menurut, tapi ujungnya...., aku tetaplah di buang. Kalian pikir aku tak bisa hidup tanpa uang kalian?)


Susi meremas ujung wastafel sesaat setelah ia mencuci tangan.


kemudian ia menghela napasnya. Menghempas sisa emosi yang hanya akan membuatnya stress. Lebih baik ia kembali pada teman-teman sengkleknya itu.


"Kenyang!"


"Wareg"!


Ketiga wanita muda itu tersenyum sambil mengusap perut mereka karena kekenyangan.


" Kita kudu sering-sering begini kayaknya. Demi perbaikan gizi," ujar Vanish.


"Ha, iya benar itu. Kasian cacing dalam perutku ini kalau di beri makan nasi rames ceban setiap hari," seloroh Rapika membuat mereka semua tertawa terbahak-bahak.


(Tak kukira, bertemu kalian membuat jiwaku yang mati tumbuh lagi. Sejenak kesedihan dan kesakitan itu sirna, menguap bersama angin. Terhempas oleh tawa dan ocehan unfaedah kalian.) kata batin Susi.


Ia terus memegangi perutnya, karena lelah tertawa.


****


Waktu berlalu dengan cepat.


Penampilan Susi semakin baik, tubuhnya terlihat sudah kembali pada postur awal.


Wajahnya juga sudah lebih cerah dan bersih tanpa bintik-bintik hitam dan jerawat. Kini ia tak lagi menutupi noda itu dengan make up.


Karena dengan penampilannya sekarang, Susi semakin pede dan tidak sering menunduk lagi ketika bertemu sesama karyawan wanita.


"Kakak gak usah minder sama mereka yang cantik-cantik itu,"


"Mereka semua cantik karena the power of touch up alias magic of make up,"


" Coba liat mereka pas bangun tidur, pasti auto kabur, hahaha...!" ucap Vanish di akhiri dengan gelak tawa.


"Huss! Kau ini," Susi pun ikut tertawa meski sambil membungkam mulutnya.


"Jadi, mulai sekarang Kakak harus berani menatap mata mereka,"


"Atau, Kakak akan diremehkan selamanya," ucap Vanish serius.


Susi tersenyum lebar sambil menatap Vanish dalam.


(Benar juga, aku sampai di titik ini dengan kerja keras otot dan juga otak ku. Bukan, seperti mereka yang hanya mengandalkan kecantikan dan bakat merayu.) batin Susi mengiyakan perkataan si gadis betawi.


"Hei Kak. Jangan menatap ku seperti itu dong!" protes Vanish yang melihat Susi melihatnya sambil terus tersenyum.


"Emangnya kenapa?" tanya Susi mencoba mendekat.


"Hei-hei, Kak!"


"Aku masih normal ya!"

__ADS_1


PLAK!


"Aww!"


"Aku juga masih doyan terong Van!" delik Susi membuat Vanish nyengir kuda.


****


Seorang pria dewasa berbadan tegap tengah berdiri menatap keluar jendela. Sebelah tangannya ia masukkan kedalam kantung celananya, tatapannya yang tajam seakan memandangi gedung pencakar langit. Padahal hati dan pikirannya berada jauh dari raganya saat ini.


" Tuan, ini laporan dari basecamp 17." Asisten Joy menyerahkan sebuah amplop coklat besar.


(Perubahan yang luar biasa, tak ku kira si lemah bisa seperti ini. Apakah dia benar-benar ingin bangkit, atau balas dendam?)


"Tambahkan bonus tiga juta untuknya!" titah Arjuna mengembalikan kertas laporan tiba-tiba, hingga Joy menanggapinya gelagapan.


( kenapa Tuan perhatian sekali? Bukankah dia benci terhadap perempuan?) batin Joy.


"Kau bosan hidup Joy?!" Melirik tajam.


"Ah tidak! Aku belum nikah Tuan." Undur diri keluar secepat kilat.


*****


Pria tampan berusia 32 tahun itu terus memompa wanita di bawah tubuhnya. Sudah sejak sejam yang lalu ia mengguncang raga yang seksi itu.


Bahkan wanita di bawahnya ini telah merasakan pencapaiannya sebanyak tiga kali, sedangkan dirinya? sekali pun belum.


(Dia juga cantik, tubuhnya seksi memanjakan mata. Lalu, kenapa rasanya berbeda? Bukankah semua wanita cantik itu seharusnya nikmat? Sempit tapi kenapa tidak menjepit? )


"Aku luar biasa sayang!"


Wanita itu terus meracau dan memanggil namanya. Pria itu memaksa dirinya agar segera mencapai ujung geloranya. Atau ia akan merasakan panas dan sakit di pinggang juga kepalanya sepanjang hari.


(Ayolah keluar! Biasanya semalam aku bisa menyembur tiga sampai empat kali. Ini sekali pun susah! Semua posisi sudah ku coba, hasilnya sama saja.)


Arggghh...!" raungnya.


(Akhirnya....)


Pria itu segera memisahkan diri dan turun dari pembaringan panas mereka. Mengenakan kembali celananya kemudian berjalan ke balkon.


Sedangkan wanita itu sudah tepar, setelah pencapaiannya yang keempat. Pria itu mendengus tatkala menatap tubuh tanpa sehelai benang terkapar lemas.


"Sial! Kenapa jadi aku yang memuaskannya!" Kesalnya memukul pagar balkon.


"Seburuk-buruknya penampilan Susi, akan tetapi miliknya masih sangat nikmat."


"Meski pun kupakai berkali-kali, lubang itu tetap sempit dan menggigit."


Pria itu mengeram dengan mata terpejam. Pegangan pada besi pagar balkon semakin kencang.


"Argh...!"


"Ugh!"


"Ups. Celana ku basah hanya karena mengingatnya." Menatap cengo pada pakaian bawahnya.

__ADS_1


Bersambung>>>>


__ADS_2