
🔥🔥🔥🔥🔥🔥
"Sus, hei!" Arjuna mencolek dan menepuk pipi, tapi wanita yang tertidur pulas itu tak bangun juga.
Arjuna menyibak surai pendek bergelung yang menutupi wajah cantik itu. Senyum pun mereka dari bibirnya.
Entah kenapa akhir-akhir ini, pria itu sering kali tersenyum. Kehadiran Susi membawa perubahan signifikan, hingga kanebo kering itu perlahan melunak.
"Kau ini, melihat mu begini saja hatiku sudah menghangat." gumam Arjuna, terkekeh pelan. Karena ia memencet hidung Susi hingga wanita itu susah bernapas.
"Emmppt ...!" Susi pun bangun seketika, karena merasa pernapasannya terganggu. Pemandangan yang tak pernah di lihat sebelumnya membuat keningnya berlipat.
Arjuna yang tergelak sampai memukul-mukul kemudi. Selama hidup bersama pria kaku itu, baru kali ini Susi melihat Arjuna tertawa selepas itu.
Di saat itulah, Susi melihat sisi lain dari Arjuna. Wajah yang keras dan dingin itu berubah menjadi semakin memikat hatinya.
"Apa yang kau tertawakan, ah maksudku ... Apa yang membuat mu tertawa, Ar?" heran Susi.
"Kau ... kau itu lucu pada saat terbangun tadi," jawab Arjuna masih dengan sisa tawanya.
"Hemm ... kau ini, jadi tadi itu menjahili ku ya!" Susi hendak mendaratkan jurus capit kepitingnya, tapi tangannya keburu ditangkap oleh Arjuna.
"Ampun ratu kepiting ku yang cantik."
Cup!
Kecupan kilat pun singgah di kening Susi.
"Yuk turun, kita makan chicken steak." ajak Arjuna yang telah membukakan pintu, padahal Susi masih terbengong akan kelakuannya barusan.
(Sejak kapan dia pandai memuji dan bersikap romantis seperti ini?) Susi mengerjapkan mata lalu mencubit lengannya.
__ADS_1
"Aww! Aku gak mimpi."
" Kau itu sudah bangun, kenapa mengira mimpi." dengus Arjuna, yang lelah karena terus berdiri sambil memegangi pintu mobil.
Susi hanya merapikan rambutnya, lalu beranjak keluar mobil.
"Kau yang benar saja, mengajakku ke restoran dengan penampilan yang buruk seperti ini," protes Susi, tak lama mobil para bodyguard yang mengikuti mereka pun sampai.
" Black, Red! Kalian berdua antar Nona ke toilet." titah Arjuna pada kedua anak buah yang berbadan besar itu. Satunya berambut gimbal satunya lagi tak berambut alias pelontos atau botak.
"Siap,Tuan!"
" Mari, Nona." Keduanya pun menunduk sopan lalu mengekor di belakang Susi yang manyun ke arah Arjuna.
Pria dewasa berbadan tegap, dengan stelan formal kerjanya itu melangkah menuju salah satu meja di pojokan.
________
" Karena itu ketua dewan direksi membuat rapat terbatas." jelas Rich, asisten bermata sipit dengan wajah asia itu. Wajahnya yang bengis menandakan bahwa dirinya adalah manusia berdarah dingin. Kejam tak pandang bulu kawan apalagi lawan.
"Hati-hati terhadap Don si tua licik itu Rich." tegas Seno yang diangguki oleh pria irit bicara itu. Karena Rich lebih suka bertindak ketimbang berkata-kata.
"Seno!" Tiba -tiba seorang wanita paruh baya dengan perhiasan berjejer di lengan dan juga lehernya masuk keruangan.
"Bagaimana bisa, perusahaan ini kena hack untuk kedua kalinya!"
"Apa kerja para anak buah kepercayaanmu ini!" hardik Easy mengipas bara yang sedari tadi berasap hingga kini bara itu mengeluarkan apinya.
"Memang kau tau apa tentang perusahaan! Kau hanya tau menikmati keuntungannya Mam! Kamilah yang mati-matian mempertahankannya serta membuatnya tiga kali lipat lebih maju ketimbang dulu!" Seno sudah tak dapat menahan emosinya lagi terhadap sang mami. Seno yang memang tau kelakuan maminya sejak dulu, kini mulai muak. Pasalnya, perusahaannya lagi-lagi berada di ujung tanduk. Sudah bukan saatnya bagi Easy untuk menghambur-hamburkan uang.
"Kau ... membentak Mami, Nak?" Easy memegangi dadanya, dengan ekspresi sedih.
__ADS_1
" Jangan berlakon lagi di depanku, Mam. Mengertilah sedikit." Seno mulai melunak pada wanita yang pandai sekali memasang wajah seakan terintimidasi olehnya.
"Tuan, rapat akan segera di mulai." pesan Rich.
" Mam,pulanglah. Bantu aku mengawasi Jelita." Seno pun berlalu dengan di bantu oleh sang asisten untuk mendorong kursi rodanya.
_____
" Aku tidak akan pernah membiarkan siapapun menghancurkan perusahaan ini, termasuk Jelita." gumam Seno.
" Maaf, Tuan. Apa maksud anda, nona Jelita ...?"
" Iya, Rich. Wanita itu seringkali bertemu komodo tua itu. Bukan salahku bila mencurigai mereka berdua." jelas Seno berapi-api.
" Benar, Tuan. Siapapun harus di waspadai."
"Pak Direktur Seno." panggil seorang pria berambut rapi dengan di kuncir kebelakang. Pakaian non-formalnya, membuat dirinya nyentrik diantara yang lain.
"Katakan cepat, aku tidak banyak waktu." potong Seno tanpa melihat ke arah lawan bicaranya.
"Untuk mencegah kerugian, tuanku akan menarik sahamnya kembali." ucap Better, membuat Seno mengeraskan urat lehernya.
" Apa maksud kalian?!"
Nah ... nah ... nah!
Sabar ya gais, bukan maksud hati menggantung cerita.
Tapi apa daya, jari otor dah melehoiiii ...😙
Next bab, kita akan bahas hasil pemeriksaan dari Dokter Netta ya😉
__ADS_1
Bersambung>>>>