Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Pasangan Kreji. (Seno & Jelita)


__ADS_3

πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯


"Mam, aku gak mau di sini. Please, keluarin aku ...!" raung Daia di atas pangkuan Easy.


Wanita cantik itu kini tidak lagi mengenakan pakaian branded nya. Melainkan stelan lengan dan celana pendek berwarna orange, seragam khusus penghuni penjara.


"Dek, kamu kan bisa jamin Kakak," pinta Daia memelas beralih menatap ke arah Seno.


" Pakaian ini sungguh menjijikan, rasanya gatal," rengek Daia.


" Uang perusahaan tidak bisa di gunakan seenaknya, Kak. Uang tabungan hanya tersisa sedikit, itu pun untuk membayar pengeluaran kita," jelas Seno menatap iba pada kakak perempuannya itu.


BRAK!


" Kau memang adik yang tidak berguna!" Daia berdiri dan menggebrak meja.


"Jangan ribut atau anda akan di masukan ke dalam sel sekarang juga!" tegur sipir penjara.


"Hubungi Tora Bika, katakan aku di sini," bisik Daia pada kedua orang di hadapannya.


"Siapa dia?" tanya Easy dengan memicingkan kedua matanya.


" Dia satu-satu nya orang yang bisa mengeluarkan ku dari tempat menjijikkan ini," jelas Daia sambil bergidik menatap sekeliling.


"Dia, salah satu pengusaha klab malam yang belum lama terjerat kasus narkoba. Bagaimana kau bisa mengenalnya?" kaget Seno bahkan ia sampai mendelikkan matanya saat ingat siapa pria yang di sebut oleh Daia.


"Dai, jangan kau bilang kalau ...?" pertanyaan Easy terpotong.


" Waktu jenguk sudah habis, silakan." Pak sipir menggiring kembali Daia masuk kedalam sel nya.


"Hubungi dia lewat ponselku Mam, cari kontak sugar daddyku!" teriak Daia, sampai ia menghilang di belokan koridor.


" Anak itu!" geram Easy, sambil memijat keningnya. Lalu dia menoleh karena merasakan pergerakan dari orang di sebelahnya.

__ADS_1


"Kau mau kemana, Nak?" tanya Easy pada Seno telah berdiri.


"Balik ke kantor. Karena ini sudah lewat jam makan siang." Seno mengeluarkan ponsel dari saku nya.


"Mami pulanglah dengan sopir, aku akan memesan taksi online." Seno berselancar aplikasi jasa berwarna hijau.


Mereka berdua beriringan berjalan keluar.


"Lalu bagaimana dengan kakakmu?" Easy menarik lengan putranya itu.


"Biar dia urus sendiri masalahnya, dia sudah besar dan dewasa." Seno menatap malas pada Easy yang selalu memanjakan kakak perempuannya itu.


"Kenapa kau tega sekali! Dia itu kan kakakmu! Satu-satunya saudaramu!" pekik Easy, matanya nyalang menatap sang putra.


" Masuklah Mam, lalu pulanglah." Seno membukakan pintu pada mobil lalu mendorong pelan sang mami.


"Masih banyak urusan perusahaan yang perlu ku selesaikan." Seno menarik tangannya hendak menutup pintu.


" Waktu dua tahun buka saat yang sebentar," jelas Easy lagi namun Seno tetap abai.


BRAK!


Pintu mobil di tutup, setelah mobil mewah itu melaju keluar dari lingkungan kepolisian.


Keesokan harinya, Easy kembali menjenguk Daia.


"Mam, aku harus menelpon seseorang. Bantu aku," pinta Daia pelan.


" Bagaimana, bahkan ponsel Mami di tahan di luar gerbang," jelas Easy penuh sesal.


"Mami yang telpon saja nanti di rumah menggunakan ponselku, lalu katakan keadaanku. Lakukanlah, Mam. Berjanjilah padaku," rengek Daia dengan air mata yang sudah menggenang.


"Akan, Mami lakukan. Kau tenanglah," hibur Easy, dia sungguh tak tega melihat wajah kusut putrinya itu.

__ADS_1


"Sekarang, Mami pulang dulu. Kau, jagalah dirimu." Easy memeluk Daia kemudian berlalu dengan langkah yang berat.


" Susi Rahayu, kau akan terima lebih dari ini." Easy menggeram, sambil meremas tangannya sendiri.


🍁🍁🍁🍁🍁


"Sayang, kau harus membalasnya!" protes Jelita ketika mereka bertemu di ruangan private sebuah bar.


"Aku tidak bisa gegabah, dia pemilik saham terbesar saat ini." Seno terlihat menenggak minuman haram itu langsung dari botolnya. Sementara tiga botol yang lain telah bergelimpang di atas meja dalam keadaan kosong.


" Lalu, kapan kita akan menikah? Karirku hancur sudah. Gara-gara perempuan mandul siallan itu!" Jelita meracau dan berteriak, tubuhnya sudah kehilangan akal sehat dikarenakan pengaruh alkohol.


" Aku tak punya uang untuk menikahi mu saat ini." Seno menatap tubuh seksi yang tidak tertutup dengan sempurna itu.


Menelan ludahnya kasar, ketika pakaian bawah Jelita tersingkap ke atas. Menampilkan paha yang putih nan mulus.


"Tapi, aku bisa mengajakmu bersenang-senang malam ini." Seno meraih wajah Jelita dan menguasainya.


"Kau harus melahirkan keturunan Pradipta untukku ... ahh! Akan ku patahkan kutukan wanita sok tau itu ... ughh ...!" racau Seno, di tengah kegiatannya menikmati tubuh sintal yang telah di buat polos itu, di atas sofa.


"Aku pasti akan memberikan anak untukmu ... lebih cepat sayaaangg! Engghh ...!"


"Aku tidak akan minum pil penunda kehamilan malam ini." ucap Jelita di tengah napasnya yang tersengal.


Sedangkan Seno masih lanjut meski sudah muntah. Karena bagi hyper sepertinya, sekali keluar itu belum apa-apa.


"Sayaang ... sudahlah aku lelah" lirih Jelita yang sudah tidak mampu bergerak meski hanya mengenakan pakaiannya.


"Baru tiga kali kau sudah mengeluh. Susi, bahkan bisa


melayani ku sampai pagi!"


Bersambung>>>

__ADS_1


__ADS_2