Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Membujuk Kanjeng Ratu.


__ADS_3

๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ


"Aww!!"


"Kenapa, gigit! Dasar, macan!" Susi memekik lantaran Arjuna menggigit dadanya.


" Udah bukan nyamuk lagi nih, ganti jadi macan?" ledek Arjuna, seraya melepas kain yang melekat di tubuhnya satu persatu.


Baru bagian atas yang terbuka, kedua mata Susi sudah menjelajah penuh selera. Mengikuti kata hatinya, Susi pun mengulurkan tangannya untuk meraba roti kombinasi delapan kotak itu.


Arjuna tersenyum penuh arti. Ketika pakaian bawahnya sudah ia lepas, Arjuna menarik tangan Susi seraya mengarahkannya untuk menyentuh sang naga.


"Emh ...," rintih Susi dengan lirih. Baru menyentuh saja, ia sudah merinding sendiri. Mengingat bagaimana sensasi tiap kali sang naga menerobos sarangnya. Begitu sesak di awal, dan menghanyutkan pada akhirnya.


"Dia sudah bangun, saatnya bermain," bisik Arjuna, seraya menciumi caping telinga Susi. Memberi sedikit gigitan serta jilatan. Membuat tubuh itu menggeliat dan menggelinjang tak karuan.


Ketika Susi menggeliat, lalu melenting ke atas, Arjuna segera menangkup bakpao kembar tersebut. Memberi remasan lembut dengan satu tangannya, lalu mulai memainkan perannya sebagai bayi raksasa.


"Ah ... Ar ...!" Satu ******* akhirnya lolos dari bibir seksi Susi. Padahal sudah sekuat tenaga ia mencoba menahannya. Menggigit bibir pun sudah, tapi aksinya itu malah semakin membuat Arjuna terpancing.


Napas dari keduanya pun semakin memburu, jantung telah berdetak lebih cepat. Dikarenakan adrenalin yang terpacu, degupan serta debarannya pun bertalu. Seirama dengan tempo erangan dan desah yang menggema dari keduanya.


"Jangan di tahan, ๐˜”๐˜บ ๐˜˜๐˜ถ๐˜ฆ๐˜ฆ๐˜ฏ ... lepaskan saja!" pinta Arjuna, sambil terus menyerang titik-titik sensitif pada raga aduhai istrinya itu.


"Aahhh ... Ar!" Susi meremas rambut Arjuna seraya menekan kepala itu, agar tenggelam semakin dalam. Padahal tadi dia sebal, melihat tampilan bongkahan bukitnya tak lagi mulus. Karena akibat perbuatan Arjuna, yang menjadikannya seperti motif dari Dalmatian 101.


Arjuna yang semakin tak tahan, ketika lembah surga itu telah nampak di depan matanya. Menampilkan keindahan yang semakin memancing gairahnya.


Susi sendiri yang telah melepasnya segitiga bermuda itu, karena ia mengerti kelanjutan dari adegan selanjutnya akan seperti apa.


Sang naga yang terbangun tak tahan untuk segera keluar dari dalam sarang segitiga biru. Bahkan kepalanya sedikit muncul keluar saking sesaknya ruangan tersebut baginya.


Susi sedikit mengintip bagian itu, menimbulkan semburat kemerahan muncul dari kedua pipi mulusnya.


"Kau menginginkannya? Bantu dia keluar dari sarangnya, ๐˜”๐˜บ ๐˜˜๐˜ถ๐˜ฆ๐˜ฆ๐˜ฏ," pinta Arjuna, yang kemudian sedikit memajukan raga perkasanya agar Susi dapat meraih bagian itu.


"Uuhh ... ." Arjuna melenguh pelan, ketika jemari Susi bergerak melingkar di saat mengelus kepala sang naga.


Arjuna yang sudah tak tahan, tiba-tiba merasa sedikit tak enak pada perutnya. Namun, ia abaikan saja karena geloranya sudah berada di ujung jurang. Lagipula, musuhnya ini sudah begitu pasrah dan menanti serangan darinya.


Pria gagah berdarah Eropa itu pun mulai memposisikan dirinya, hingga tiba saatnya sang naga untuk menembus hutan lindung yang tertutup hiasan tumbuhan halus.

__ADS_1


Baru saja kepala sang naga sampai di ujung gerbang, Arjuna kembali merasakan hawa tak enak dari perutnya. Susi yang bingung karena gerakan yang tiba-tiba berhenti itu, reflek menekan pinggul suaminya. Sebagai tanda, bahwa ia pun sudah tak kuasa menahan gelora yang hendak meledak dari dalam dirinya.


"๐˜ˆ๐˜ด ๐˜บ๐˜ฐ๐˜ถ ๐˜ธ๐˜ช๐˜ด๐˜ฉ, ๐˜”๐˜บ ๐˜˜๐˜ถ๐˜ฆ๐˜ฆ๐˜ฏ ...!" ucapnya parau. Kemudian Arjuna kembali memberi tekanan agar hujaman nya semakin dalam.


Pandangan keduanya semakin berkabut, karena gairah telah hampir di puncaknya.


Ketika, Arjuna hendak menekan sang naga untuk terus merangsek lebih dalam, tiba-tiba ...


Duuutt!


Brruuutt!!


"๐˜–๐˜ฉ, ๐˜ฎ๐˜บ ๐˜Ž๐˜ฐ๐˜ฅ!" pekik Arjuna kaget, menyusul suara hembusan angin yang keluar dari bokongnya.


๐˜’๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข๐˜ด ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฐ๐˜ฏ ๐˜ง๐˜ช๐˜ณ๐˜ฆ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช! ๐˜ˆ๐˜ฉ, ๐˜ด๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ. ๐˜”๐˜ข๐˜ข๐˜ง๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ, ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜จ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต ๐˜ธ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฎ๐˜ถ.


"Ar!" Susi pun, akhirnya berteriak dengan kedua mata yang membola. Ada-ada saja, hal yang membuat moodnya langsung anjlok seketika. Keinginan yang sudah sampai di ubun-ubun, kini buyar tertiup angin.


Susi berdesis, ketika Arjuna mengeluarkan sang naga yang sudah setengah masuk itu, karena rasa mulas yang tak dapat lagi di tahannya. Hingga ...


Druuuttt!!


๐˜ˆ๐˜ฉ, ๐˜ฏ๐˜ข๐˜จ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ด๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ. ๐˜’๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ถ ๐˜บ๐˜ข, ๐˜ฅ๐˜ณ๐˜ข๐˜จ๐˜ฐ๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ต๐˜ต๐˜ข๐˜ค๐˜ฌ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข. ๐˜—๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ช. ๐˜‰๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฐ๐˜ต ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ด๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช.


"Iya, iya aku pergi sekarang." Arjuna pun berkelebat turun dari atas tubuh polos istrinya.


"Tunggu aku, sayang! Kita lanjutkan lagi setelah ini!" teriaknya sambil berlari menuju kamar mandi.


"๐Ÿพ๐Ÿ˜† Mane bise nyambung, bang. Udeh ambyar, kalo kate Susi mah.


Alhasil, Susi pun hanya bisa bergelung dengan selimutnya sambil berguling-guling. Mulutnya terus berkomat-kamit menggerutu.


๐˜œ๐˜ถ๐˜จ๐˜ฉ ...! ๐˜ˆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฏ! ๐˜œ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข, ๐˜จ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช? ๐˜š๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ! ๐˜š๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ!


Susi berguling dan berguling di atas kasur itu, guna menghilangkan libidonya yang sudah di ujung tanduk. Hingga akhirnya ...


Bruggh!


"Aduh!" pekiknya ketika bokongnya mencium marmer. Karena Susi menggelinding ke atas lantai.


Sementara itu di bawah shower, kamar mandi.

__ADS_1


๐˜๐˜ข๐˜ช๐˜ฉ๐˜ฉ, ๐˜ฏ๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ต ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ณ. ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ช๐˜ด๐˜ช ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜จ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฉ.


Setelah selesai mandi, Arjuna keluar dengan handuk kimono yang menutupi tubuhnya.


Arjuna pun sontak menahan tawanya, ketika melihat sang istri yang menutupi tubuhnya dengan selimut. Wajahnya yang cemberut disertai pandangan mata yang seolah sinis.


"Maaf ya, sayang. Semua itu di luar kendaliku," ucap Arjuna penuh sesal. Satu tangannya terulur hendak mengelus pipi Susi.


"Aku kebelet pipis," ketusnya serasa menghindar dan langsung berdiri. Ketika hendak melangkah ...


"Sayang!" Untung Arjuna dengan cepat menangkap tubuh yang macam dadar gulung itu.


"Bagaimana tidak terserimpet, kalau kau berjalan dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhmu ini," sindir Arjuna. Perlahan ia membuka gulungan yang membungkus tubuh istrinya.


"Biar aku saja." Susi menepis tangan Arjuna, lalu ia meluruhkan sendiri selimut itu hingga jatuh ke kakinya. Setelahnya ia berlalu dalam keadaan polos, tanpa memikirkan keadaan Arjuna yang tengah melongo di buatnya.


๐˜‘๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ, ๐˜ฎ๐˜บ ๐˜ฒ๐˜ถ๐˜ฆ๐˜ฆ๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ซ๐˜ถ๐˜ฌ. ๐˜ˆ๐˜บ๐˜ฐ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ณ ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช, ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ธ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ต๐˜ถ ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ซ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ถ, ๐˜ฐ๐˜ฌ!


Seperti orang yang sudah tidak waras, Arjuna mengajak bicara si naga sudah mulai membuat sarangnya sesak lagi. Karena Susi sengaja memperlihatkan body aduhainya, bahkan agak berlenggok ketika berjalan tadi.


๐ŸพPastikan, kondisi kondusif dulu, bang. Atau kanjeng ratu akan ngambek dalam kurun waktu yang tidak bisa di tentukan๐Ÿ˜†.


________


Demi membujuk kanjeng ratu yang lagi badmood sehingga merajuk. Arjuna pun berinisiatif untuk mengajak Susi jalan-jalan di malam hari.


Kebetulan selama disini, mereka belum pernah keluar malam. Kecuali hanya melihat keadaan dari atas apartemen saja.


Dimana, letak kamar mereka yang tertinggi itu. Membuat view di atas balkon, langsung mengarah pada jalan layang di tengah kota.



Maka, kali ini Arjuna akan mengajak istrinya itu. Mencoba ๐˜ด๐˜ต๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฆ๐˜ต ๐˜ง๐˜ฐ๐˜ฐ๐˜ฅ dari kota tersebut. Menjajal berbagai macam kuliner di sepanjang jalan trotoar. Dimana memang disediakan khusus demi kenyamanan para pejalan kaki. Arjuna dan Susi sengaja tidak menggunakan kendaraan mereka, karena sengaja ingin menikmati masa-masa pacaran layaknya muda-mudi.


Bergandengan tangan, saling merangkul sambil menertawai apa saja yang mereka lihat di sepanjang jalan. Bahagia itu sederhana 'kan.



Otor ingetin lagi, biar jangan lupa like dan komen dan ... yang lainnya jugaaaa๐Ÿคฉ


Hari ini, tiga bab lho ...๐Ÿ˜Ž

__ADS_1


Bersambung>>>


__ADS_2