
🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥
"Kenapa sekarang kau diam? Mana taring dan tandukmu tadi?" Arjuna terus memojokkan Susi, hingga wanita itu tak dapat berkutik sedikit pun.
Kakinya seperti mati rasa, tubuhnya panas dingin. Tatapan Arjuna membuat lidahnya kelu seketika.
"Apa karena dia kau menolak tawaranku? Heh!" Arjuna menahan debur gemuruh di dadanya.
"Apa! Joy tidak ada hubungannya dengan penolakanku. Aku hanya menjaga harga diriku sebagai wanita!" Dengan napas memburu Susi menampik semua tuduhan tak mendasar dari bosnya itu.
"Membela seorang pria yang jelas-jelas menyukaimu, apa kau masih bilang menjaga harga diri!" Arjuna mencengkeram dagu lancip Susi.
Ia benar-benar naik pitam karena merasa di permainkan.
"A-apa? Itu tidak benar anda salah fah_," ucapan Susi terpotong karena mulutnya sudah di bungkam oleh sesuatu yang kenyal dan hangat.
Untuk sesaat matanya membola dan kedua tangannya mendorong dada bidang itu.
Akan tetapi, beberapa saat kemudian dirinya hanyut, otaknya kosong bahkan kakinya seakan tidak menapak pada lantai.
"Mmh ...," desah kecil lolos dengan tidak tau malu dari pertautan bibir tanpa permisi itu.
Mendengar suara itu, Arjuna semakin mengeratkan rengkuhannya. Tangan yang satu telah melingkar sempurna di pinggang ramping berpinggul penuh itu.
Sedangkan tangan satunya menekuk tengkuk Susi demi memperdalam aksi berciuman mereka.
Susi pun tak tinggal diam, dirinya sudah terbawa arus yang mengaliri di setiap nadinya. Ia menaikkan kedua tangan yang menahan dada bidang itu, mengalungkannya di leher Arjuna.
Kedua raga mereka kini erat menempel tanpa sekat. Bahkan Arjuna dapat merasakan dua benda bulat kenyal yang menonjol menekan kuat otot bidangnya.
(Pria ini, kenapa sekarang menjadi ahli? Ah, tidak! Kenapa aku tidak bisa menghentikan ini. Aku ...,) Susi kalah dengan logikanya, ia hanya mengikuti apa kata nalurinya.
Ya, hatinya hanya ingin menikmati momen yang membuai jiwa dan raganya itu. Ia merasakan semburan hangat menyiram sanubarinya.
Perasaan yang lama tak pernah ia rasakan. Perasaan yang membuatnya merasa di miliki.
__ADS_1
(Perasaan apa ini? Kenapa aku kesal karena ia membela pria lain. Aku marah, tapi aku malah menciumnya dan tak bisa berhenti menikmati bibirnya yang manis serta harum tubuhnya yang wangi. Aku sudah gila!)
Pertautan mereka semakin hangat dan intens, keduanya sangat menikmati hingga napas mereka memburu.
Arjuna memiringkan wajahnya ke kanan lalu berganti ke kiri, ia benar-benar menikmati dengan puas hingga suara decapan terdengar nyaring dari aksi keduanya.
Arjuna melepas belitan pada bibir yang telah bengkak karena ulah gigitannya, menautkan kening mereka berdua.
Menetralkan deburan dan debaran pada jantung mereka masing-masing.
Mengambil oksigen agar paru-paru mereka kembali berkembang dengan sempurna.
" Aku tidak suka, sangat tidak suka. Kau membicarakan pria lain apalagi membelanya," lirih Arjuna dengan napasnya yang sedikit tersengal.
Karena, ia tengah menahan geloranya mati-matian. Posisinya agak menunduk karena tinggi Susi hanya sebatas lehernya saja.
Susi sontak membuka kedua matanya yang sedari tadi terpejam. Karena ia sangat malu jika menatap wajah di hadapannya ini.
Namun, kata-kata bosnya itu mengagetkan dirinya. Hingga pandangan mereka bertemu karena Arjuna sudah lebih dulu menatap wajah cantik di hadapannya itu.
" Apa maksud Tuan?" tanya Susi bingung. Matanya menelisik jawaban kedalam iris gelap di hadapannya ini.
Sepasang matanya masih belum beranjak dari wajah yang selalu menari di pikirannya itu.
"Entahlah, aku tidak mengerti dengan perasaanku. Bagaimana aku bisa menjelaskannya padamu." Arjuna melepas rangkulannya, menjaga jarak dari tubuh hangat yang hampir menelan kesadarannya bulat-bulat.
Susi pun diam, meski ada rasa tak rela dan kecewa ketika raga itu melepaskan diri darinya, ia pun tak tau harus berbuat apa.
Rasa ini membingungkan hati dan logikanya. Namun, ketika tubuh tinggi tegap itu membelakanginya, ia kembali berperang dengan logikanya.
GREPP!!
Sepasang mata elang Arjuna terbelalak, ketika dua tangan ramping itu melingkar dan membelit pinggangnya erat.
"Aku pun merasakan hal yang sama. Aku nyaman bersamamu." Susi menenggelamkan wajahnya pada punggung tegap itu.
__ADS_1
Yang selalu di tatapnya nanar ketika melewatinya masuk kedalam kamar.
"Maaf, aku telah lancang." Susi melepas belitannya, ketika sadar akan posisi dan statusnya.
"Mungkin, kita hanya terbawa suasana saja, karena kebersamaan kita selama ini. Kita adalah hati yang kesepian," Susi sedikit meringis ketika mengucapkan kalimat terakhirnya.
"Kau ...." Arjuna memejamkan matanya, ketika raga Susi memisahkan diri darinya.
Sementara itu di balik pintu, sepasang mata kepo dan jiwa songong meronta.
"Ckckck. Kenapa mereka berdua gak jadian aja sih!"
"Bos payah!" cibir seorang pria di balik dinding.
"Lumayanlah, aku sudah mengabadikan momen kemesraan mereka.
Beeuuuhh, panas gileee." Joy terkekeh menatap layar ponselnya sambil membekap mulutnya sendiri.
Pintu ruangan yang belum menutup sempurna, hingga menunjukkan pemandangan luar biasa dan belum pernah terjadi selama ini mengikuti sepak terjang Arjuna selama ini.
"Tuan, kau bisa ceroboh juga ternyata. Bagaimana kalau yang melihat musuhmu atau karyawanmu yang lainnya."
"Haish, cinta memang bisa membuat mu bodoh bahkan gila. Karena itu, aku tidak akan pernah mau jatuh cinta."
Joy pun berlalu, hendak menghindar sebentar dan memberi ruang bagi bosnya yang baru merasakan nikmatnya wanita.
Ia akan menunggu mereka selesai di meja kerja sekretaris. Namu baru saja kaki dan tubuhnya berbelok,
BUKK!
"Eh!"
"Shh...,"
"Kau tidak apa-apa Nona?" tanya Joy mengernyitkan dahinya. Sepertinya ia tak asing dengan wajah imut dan tubuh mungil itu.
__ADS_1
" Mmh, tidak apa...," jawab gadis itu, meringis kecil memegangi lengannya.
Bersambung>>>