Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Aku Cantik.


__ADS_3

🔥🔥🔥🔥🔥🔥


Aku seperti kenal dengan wanita cantik itu, siapa ya dia?" gumam seorang wanita bertubuh seksi yang wajahnya tengah dilapisi masker.


" Apa yang barusan itu seorang model?" tanyanya pada gadis muda yang sedang mengecat kuku-kukunya.


"Bukan kak, tapi kekasih dari pengusaha tajir, yang ganteng itu lho. Nih jadi sampul depan, keren abis deh pokonya," gadis itu menyodorkan sebuah majalah bisnis dengan wajah maskulin Arjuna yang terpampang di depannya.


"Kenapa aku juga seperti familier dengan mata ini?" gumamnya kemudian.


Tuk. Tuk. Tuk.


Suara hak sepatu high hells menapaki lantai marmer yang mengkilap. Langkah anggun seorang wanita cantik yang mengenakan dress selutut, berwarna krem dengan motif bunga.


Di padukan dengan blazer lengan pendek berenda, berwarna karamel. Rambut coklatnya yang sebahu di buat wave di ujungnya, serta poni tipis yang menutupi dahi lebarnya.


Membuat penampilan Susi semakin segar dan muda. Bahkan, polesan peach di bibirnya membuat ia semakin terlihat cantik.


Tergambar dari arti tatapan seorang pria tampan nan gagah yang spontan berdiri. Ketika langkah kaki jenjang Susi semakin mendekat ke arahnya.


"Cantik." Satu kata yang keluar dari mulut Arjuna, kontan membuat Susi terperangah.

__ADS_1


Ini kali pertama pria kanebo kering itu memuji dirinya.


Bahkan bibirnya melengkungkan sebuah senyum yang belum pernah tercetak di sana selama Susi mengenalnya.


" Yang benar? Masa iya?" Susi memindai tubuhnya sejauh pandangan matanya. Arjuna mendorong bahunya, mengarahkan dirinya pada cermin besar.


Hingga sepasang mata indah itu mengerjap beberapa kali, melihat pantulan dirinya pada cermin.


"Apa itu saya?" tanya Susi membuat wanita yang menjadi stylist nya tersenyum simpul.


"Tentu saja, Nona. Wanita cantik itu adalah anda," ucapnya.


Membuat Susi membekap mulutnya demi menahan pekikannya sendiri.


"Bukan hanya cantik, tapi sangat cantik," bisik Arjuna di samping kepalanya, hingga napas hangat itu menerpa lembut telinganya.


Dadanya berdesir, laksana terkena aliran listrik, bulu-bulu halusnya sontak berdiri semua.


Mereka saling menatap melalui perantara kaca, Susi pun ikut tersenyum. Arjuna membalik tubuhnya, hingga kini mereka saling berhadapan.


"Kita sepakat untuk menjalani ini semua mulai saat ini?" tanyanya pada pemilik bibir ranum di hadapannya itu.

__ADS_1


( Kenapa aku selalu ingin menyesap benda kenyal itu? Haish, mata dan otakku tidak bisa di kondisikan.) batin Arjuna.


" Iya, aku sepakat. Biarkan rasa yang lain datang secara suka rela dan perlahan. Aku tidak akan memaksamu," jawab Susi dengan senyum manisnya.


"Baiklah, kita pulang. Ingat, untuk mengenakan pakaian yang satunya lagi besok." Arjuna pun menggandeng tangan mungil Susi dan mereka berlalu dengan cepat.


( Pria ini, kenapa jalannya cepat sekali? Aku kan pakai hak tinggi!) batin Susi.


Mereka telah berada di dalam mobil, Arjuna mengendurkan dasinya.


Pria berahang tegas itu menarik napasnya dalam. Mencoba menetralkan deburan ombak yang menerpa dadanya.


(Hufft. Untung saja aku berhasil lolos. Wanita itu, sepertinya dia tidak mengenaliku.) Arjuna mencengkeram lingkaran kemudi mobilnya.


"Kau kenapa? Apa yang membuatmu menghindar hingga gusar seperti ini?" Susi bertanya, karena dilihatnya Arjuna tengah menahan emosinya.


"Tidak ada apa-apa," jawab Arjuna menoleh sebentar, ya niatnya hanya sebentar, tapi wajah itu membuatnya terpaku sesaat.


Susi memiringkan wajahnya sedikit, ia sedang mencoba menerka isi pikiran pria yang tengah menatapnya penuh arti itu.


Pandangan Arjuna telah berkabut, fokusnya hanya satu. Itu, ya ..., itu.

__ADS_1


(Mata itu, apakah dia mau menciumku lagi! Dasar pria mecum!) Susi sudah mengambil ancang-ancang, bersiap untuk menolak serangan yang akan membuatnya kalah telak nanti.


Bersambung>>>>


__ADS_2