
π₯π₯π₯π₯π₯π₯
Arjuna menatap lurus ke depan, di mana saat ini ia tengah memandang gedung-gedung tinggi itu dari jendela kantornya.
Gedungnya tidaklah seberapa tinggi, karena hanya sampai 19 lantai saja. Walaupun begitu, ia amatlah bangga. Semua ini berkat kerja kerasnya, dan juga beberapa relasi yang termasuk sahabatnya.
Hanya saja, mereka tersebar di beberapa negara.
"Setelah ini selesai, kita akan pergi dari negara ini. Aku akan mengajakmu tinggal di sebuah kota kecil yang indah, dan kita akan membangun keluarga bahagia di sana." gumam Arjuna dengan tatapan yang masih sama.
" Semoga, mimpi ini tidak akan membunuhku." gumamnya lagi, kali ini diakhiri dengan hembusan napas yang panjang.
Tok. Tok. Tok!
"Tuan, nona Susi dan team telah berangkat." lapor Joy pada Arjuna. Pria itu menampakkan gurat khawatir di wajahnya.
" Aku percaya, mereka akan membenahi perusahaan itu, sampai Seno menjual seluruh sahamnya padaku." Arjuna tersenyum sinis dengan menaikkan sudut sebelah bibirnya saja.
"Tuan, tidak khawatir dengan nona Susi?" tanya Joy, yang benar-benar tak habis pikir.
Bagaimana bosnya ini begitu tenang, mengirim calon istrinya sendiri ke kandang sang mantan suami laknat.
"Kau meragukan ku Joy?"
" Sepertinya kau harus puasa dengan para wanita bodohmu itu." Arjuna menyeringai.
"Apa hubungannya?" Joy menanggapi dengan santai ucapan bosnya itu.
__ADS_1
"Karena kau terlalu lelah, setiap malam berganti lembah dan rawa. Membuat otak jeniusmu melemah."
"Tuan." Joy menggeram.
" Kau berani menggeram sekarang? Sudah bosan dengan batang ubi jalarmu, hah!" Ancam Arjuna dengan tatapan elangnya itu.
(Kenapa sekarang kau sentimen pada batangku? Biasanya juga potong gaji.) spontan Joy langsung membekap mulutnya.
Ia lupa kalau bosnya bisa membaca pikiran.
Arjuna tergelak hingga terduduk di atas kursi putarnya.
" Kau tenanglah, Better dan orang-orangnya akan mengawasi mereka berdua," jelas Arjuna setelah berhenti tertawa.
"Terima kasih karena telah menghawatirkan dia, kau memang setia padaku," Arjuna membuka laptopnya.
"Sebagai hadiahnya, aku akan membantumu mendapatkan sahabat dari calon istriku itu," ucap Arjuna datar. Kembali dengan tabiat dan sifat arogan nya.
"Kenapa harus gadis pendek itu?" Joy, entah kenapa ia berkeringat di ruangan ber-AC ini.
πππππ
Tuk. Tuk. Tuk.
Ketukan teratur terdengar ketika lantai marmer itu beradu dengan ujung hak sepatu.
Di mana mereka menjadi alas dari sepasang kaki jenjang nan mulus. Menyempurnakan langkah seorang wanita pintar dan energik.
__ADS_1
" Selamat datang Nona Susi Rahayu, Ibu Direktur kita yang baru. Semoga kita dapat bekerja sama dengan baik memajukan perusahaan ini." Seno memberi sambutan hingga tepuk tangan menggema di ruangan itu.
Para dewan direksi yang telah berbaris dan duduk berhadapan. Serentak menundukkan kepala mereka.
(Kau luar biasa Susi ku.) Seno menyunggingkan senyum penuh arti.
(Ternyata begini rasanya di hormati. Menjadi bagian teratas dan semua mata memandang mu dengan takjub. Bagaimana jika kalian semua tau, siapa aku dahulu.) Susi meringis ketika ia telah duduk di singgasananya.
(Aku akan membalas budi mu Arjuna ku. Kelak bila menjadi istrimu nanti, aku akan menjadikan mu sebagai dewa ku.) janji Susi dalam hatinya.
Selesai acara pelantikan, Susi tengah berbincang dengan asistennya Better.
"Maaf, Nona. Bisakah kita bicara berdua saja, membahas masa lalu mungkin atau masa depan," ucap Seno ambigu.
"Kau pergilah, saya akan memanggilmu nanti," Susi berkata pada sang asisten.
"Baik Bu!" asisten Better mengundurkan diri, setelah ia melirik sinis pada Seno.
Pria gondrong itu berjalan santai keluar dari ruangan meeting yang telah kosong itu.
"Aku tidak ingin berbasa-basi dengan menanyakan kabarmu. Karena yang kulihat sekarang, kau sangat luar biasa," puji Seno dengan tatapan liarnya.
"Aku juga tidak suka basa-basi. Jadi, hentikan gerakan matamu atau aku akan mencongkelnya keluar dan kumasukkan kedalam aquarium itu," tunjuk Susi mengarahkan jarinya ke salah satu sudut ruangan.
Di mana terdapat kotak persegi panjang yang berisi air dan beberapa tanaman laut serta seekor ikan arwana besar.
Seno tertawa meremehkan, lalu ia berkata," baiklah, to the point saja. Aku sangat terharu, karena kau begitu mencintaiku. Aku tidak tau bagaimana cara kau melakukannya, ah sudahlah. Yang pasti aku sangat menghargai ini semua." Seno semakin mendekati Susi yang masih duduk santai di kursi kebesarannya.
__ADS_1
" Berhenti di situ, dan hentikan omong kosongmu!" hardik Susi seketika menghentikan langkah kaki Seno.
Bersambung>>>