
🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥
"Syukurlah, Kakak tidak apa-apa," ucap Vanish setelah melerai pelukannya.
"Kami sangat khawatir ketika Kakak lama berada di dalam," sambung Yupi.
"Untung saja bagian keamanan melihat CCTV, hingga sekelompok orang berseragam hitam datang," tambah Rapika.
"Terima kasih, kalian sudah menghawatirkan ku. Tapi, sejak kapan ruangan kepala Supervisor ada kamera pengawasnya?" heran Susi.
"Maksud Kakak?" tanya Vanish.
"Ya, aku rasa si kakus itu tidak tau jika dirinya di awasi, karena bila ia tahu pasti tidak akan berani bertindak di luar batas," jelas Susi. Masih dengan sisa amarah dan kesalnya.
"Beberapa hari terakhir, Siska sering sekali di panggil ke dalam ruangannya. Pernah ku lihat, Siska terlihat kacau dan berantakan ketika keluar dari sana. Apa dia?" ucap Vanish terjeda.
"Mengalami pelecehan? sambung Rapika.
Mereka semua saling pandang kemudian bergidik ngeri.
" Jika pada saat itu sudah ada CCTV, sudah pasti riwayat pembersih wc itu akan tamat sebentar lagi, di pecat secara tidak hormat," ucap Rapika dengan gigi beradu saking geramnya.
"Bisa jadi hukuman penjara jika benar Siska mengalami pelecehan dan melaporkannya," tambah Yupi.
"Lalu, siapa orang-orang berseragam hitam itu?" tanya Susi melihat ke arah Vanish.
"Benar Kak, mereka adalah orang-orang yang sama ketika di Mall," jawab Vanish.
"Memang apa yang terjadi ketika kalian pameran?" Yupi dan Rapika bertanya secara bersamaan.
" Kompak banget kalian," kekeh Susi.
" Kita penasaran, jawab dong ada apa sih?" ucap Yupi.
"Kasih tahu apa tempe ya...," kelakar Susi.
"Kakaaak!" pekik mereka gemas.
Susi tak tahan lagi dengan wajah kepo keduanya, ia pun tergelak sambil memegangi perutnya.
(Aku beruntung memiliki teman seperti kalian, sangat menghibur.) batin Susi.
******
Kini mereka berempat tengah memasuki sebuah pusat perbelanjaan yang cukup ternama di Kota.
"Daripada di rumah aja kan kesel mikirin si bau, mending kita cuci mata di mari. Sapa tau ada barang diskonan," seloroh Vanish dengan logat nyablak nya.
" Bener banget kata kamu, Van," sahut Yupi yang paling antusias ketika mereka memutuskan ke tempat ini.
"Kalian ini kenapa selalu ceria," tanya Susi yang tengah di gandeng keduanya.
Sedangkan Rapika berjalan paling depan, macam bodyguard cantik.
__ADS_1
"Hidup ini ngapain diratapi Kak, mending kita ketawain siapa tau kesedihan bin kesengsaraan itu minder, terus dia minggat deh," seloroh Vanish dengan filsafat asalnya.
" Kalo aku sih, ndak mau terlalu dipikirin Kak, takut cepat tuek," timpal Yupi di tambah dengan kekehan kecil.
"Gitu ya? ternyata rumus kalian semudah itu," sahut Susi, dengan senyum terkembang.
(Kalian lebih muda dari ku, tapi pemikiran kalian lebih simple dan sederhana. Aku akan belajar untuk mengacuhkan rasa yang terkadang mengacaukan hati dan pikiranku.) batin Susi.
"Gais ..., gais ...,"
" Sepatunya lucu kali, gasken kesana kuy!" ajak Rapika sambil menunjuk satu toko di seberang mereka.
Ternyata, sejak tadi diam dia tengah hunting gais. Berburu barang diskonan yang amazing.
"Serbu girls!"
"Iya kuy, aku juga udah lama gak beli sepatu," Vanish dan Yupi pun menyeret Susi yang terlihat enggan.
******
"Sayang, ini tas branded yang aku mau," pinta seorang wanita bertubuh tinggi, putih. Mengenakan dress ketat di atas paha, dengan tali kecil tipis yang bertengger di bahu mulusnya.
"Ambil apa yang kamu mau, sayang. Asalkan nanti malam puaskan aku sampai pagi," bisik seorang pria tampan dengan postur tubuh tinggi dan berkacamata.
"Itu sudah pasti, sayang." Wanita itu tersenyum kemudian mengecup pipi sang pria.
Setelah membayar tas seharga motor N-Mac itu. Wanita itu kembali berjalan menyusuri toko sambil bergelayut manja.
"Sayang, aku juga mau sepatu ya!" rayunya sambil memasang wajah menggoda.
"Pilih yang kau mau, aku akan menunggu di kursi itu." Pria itu lantas menjauh dari wanita yang hampir setiap bulan menjebol tabungannya.
Ia menghempas tubuhnya pada sofa di ujung toko, memijat pelipisnya. Seakan ada sesuatu yang belum tuntas sehingga membuatnya pusing.
(Bersamamu benar-benar memakan uang yang sangat banyak. Berbeda dengan Susi, bahkan ia tak pernah ku ajak berbelanja seperti ini. Hah! Kenapa seperti ada yang kurang dalam diri ku! Aku seperti tak terpuaskan, meski setiap malam bergelut dengan Jelita yang seksi itu.)
Ketika tengah memilih sepatu secara kebetulan dua orang wanita tengah memegang model sepatu yang sama.
"Hei! Aku yang lebih dulu memegangnya!" teriak seorang wanita pada Susi.
"Kau!" kaget Susi kemudian menjatuhkan sebelah sepatu yang di pegang nya. Namun, sepatu itu mengenai kaki Jelita.
"Aww, sakit!"
"Dasar perempuan udik!"
PLAK!!
Susi hampir terhuyung karena sebuah tangan mendarat kasar di pipinya. Ia merasakan panas pada area wajah sebelah kirinya.
"Kenapa kau menampar ku? aku kan tidak sengaja menjatuhkannya?" tanya Susi geram pada wanita plastik yang telah merebut Seno dari nya. Begitulah yang ada di pikirannya saat ini.
"Pake nanya lagi! Kalau sepatunya rusak bagaimana? Aku menginginkannya, kau tau tidak berapa harganya? Berani nya tangan kotor mu itu menyentuh barang mahal seperti ini!" hardik Jelita dengan tatapan meremehkan.
__ADS_1
"Aku tidak berniat membelinya, hanya sekedar menyentuh dan melihatnya. Kalau kau berminat ambil saja, tidak perlu menghinaku!" balas Susi dengan tatapan tajam.
"Ya ampun, kalau tidak mampu ngapain pegang-pegang. Yang ada nanti sepatunya kotor kena tangan kamu yang penuh kuman itu!" ketus Jelita yang kini bersedekap sambil mencibir ke arah Susi.
"Ada apa sayang, kenapa kau marah-marah," Seno menghampiri Jelita dari samping, tatkala matanya melihat siapa lawan debat kekasihnya itu, seketika matanya pun membola.
(Susi? Dia cantik, lagi?)
"Lihatlah sayang, wanita kampungan itu. Mengotori sepatu pilihanku," rajuk Jelita dengan gayanya yang manja.
(Ish, perutku seperti diaduk-aduk saking mual nya. Kenapa juga harus bertemu mereka di sini.) batin Susi.
"Kalau kau jijik, ya sudah jangan di ambil sepatunya. Masih banyak yang lainnya bukan?" tukas Seno pada Jelita. Kemudian hendak menariknya dari sana.
"Tidak apa sayang, mungkin akan ku semprotkan dengan desinfektan terlebih dulu," ucap Jelita kemudian ia memerintahkan pelayang toko untuk membungkus sepatu itu.
Pandangan Seno tak lepas dari sosok Susi. Menurutnya, wanita yang pernah menjadi istrinya itu kini nampak lebih fresh dan energik.
Dengan tampilan gaya casual nya, kaus lengan pendek yang dibalut cardigan serta celana denim yang pas di badan.
Hingga ia merasa sesuatu semakin sesak di bawah sana.
Susi berusaha mengabaikan tatapan lapar dari mantan suaminya itu, meski di dalam hati ia ingin sekali menatap dan melepas rindu itu sesaat.
(Bodoh kau! Untuk apa mengharapkannya lagi!) Lagi-lagi, Susi merutuki dirinya.
Kejadian itu pun tak luput dari perhatian Jelita.
( Bisa-bisanya kau terpesona padanya! Laki-laki bodoh!)
"Sayang, terima kasih ya tas dan sepatu mahalnya. Aku jadi makin cinta sama kamu. Pokoknya aku kasih hadiah yang hot ya nanti malam," tutur Jelita jelas, sengaja agar Susi dapat mendengarnya.
(Jadi mereka bersama setiap malam? Jangan-jangan mereka sudah menikah diam-diam? Ah...! Apa peduliku!)
Susi yang jengah hendak melangkah pergi,namun kata-kata Jelita berhasil menghentikan langkahnya.
"Sekali sampah tetaplah sampah, meskipun sudah di daur ulang biar kelihatan kinclong. Asalnya tetap saja sampah!" cerca nya dengan gelak tawa.
Susi berbalik, kemudian menampar dengan keras.
"Berkacalah pada air yang jernih, bukan pada genangan lumpur. Agar kau sadar seburuk apa diri mu!" ucap Susi penuh penekanan.
Seno pun menarik Jelita setelah sebelumnya ia terperangah akan keberanian Susi.
"Kenapa kau melarang ku untuk membalasnya!" pekik Jelita tak terima di seret menjauh oleh Seno.
"Bukankah kau sudah mendapat apa yang kau mau? Jangan terus membuang waktu ku hanya untuk melihatmu mempermalukan diri sendiri!" sergah Seno yang tengah menahan sesuatu yang hendak meledak dari tubuhnya.
"Aku sudah tidak tahan, puaskan aku sekarang!" Seno membuka celananya setelah ia mengunci mobil.
"Di-di sini?!"
...Mungkin bab selanjutnya akan telat gais....
__ADS_1
...Soalnya, anak mak lagi demam....
Bersambung>>>>>