Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Aksi Si Bocah Badung.


__ADS_3

🔥🔥🔥🔥🔥🔥


Adoohh!"


"Kenapa memukulku!" pekiknya tak terima.


"Makanya jangan mikir macem-macem!" kesal Joy.


"Mana ada , cuma semacam juga," sahut Walls yang kembali mendapat pukulan di bahunya.


Bugh.


"Ishh." desisnya.


"Seriuslah!" seru Better, dirinya benar-benar gemas dengan bocah satu ini.


"Sekarang kami akan memberikan misi terhebat untukmu," ucap Joy pada pemuda tengil itu.


" Kau lihat Komodo tua di sebelah wanita seksi itu, dia lah yang kau panggil Don King-kong." jelas Joy. Walls pun sampai melongo di buatnya.


"Tugasmu, dekati wanita itu lalu pasang alat penyadap mu pada tubuh Don. Berlagaklah macam pemuda mabuk hingga kau dapat mendekati mereka." titah Better sambil merangkul bahu Walls.


"Jadi begitu rupanya si kadal burik itu, tidak buruk, pantas saja masih berlagak." cebik Walls.


"Tapi, ku rasa akan sulit jika menempel di tubuh pria tua itu."


"Kau lihat, dirinya begitu di jaga ketat," kilah Walls.


"Lebih mudah bila aku menempel di bagian tubuh tante itu," sambungnya dengan senyum smirk.


Seketika Joy dan Better bergidik sambil menatap Walls.


"Apa ada yang salah dengan rencanaku?" herannya.


Joy dan Better serentak menggeleng, lebih baik Walls tidak tau, pikir mereka.


"Tunggu dulu, kenapa harus aku? Kenapa tidak Om atau Paman saja, kalian juga kan ahli. Lagipula, wanita itu kan seumuran dengan kalian." heran Walls, mulai menyadari.


"Wanita itu telah mengenali kami, lalu bagaimana kami bisa mendekatinya. Lagipula," ringis Joy, menghentikan kata-katanya, tepat ketika seseorang menginjak kakinya.


" Lagipula apa? Memang wanita itu siapa?" cecar Walls.


Sepertinya tidak akan mudah memperdayai bocah badung ini.

__ADS_1


"Lagipula wanita itu suka yang tua dan yang lebih muda, tidak suka yang seumuran." dusta Joy, mengarang bebas.


"Wanita yang aneh." gumam Walls, sambil memperhatikan Jelita dari kejauhan.


Ketika wanita itu menggeser dirinya dari si pria tua Don Domino, maka si bocah badung mulai beraksi.


"Tuh, kayaknya dia mau ke toilet." tunjuk Joy.


"Baiklah." Walls pun berlalu, menyelinap diantara kerumunan pasangan yang tengah berjoged ria di lantai dansa.


Bahkan, Walls sesekali ikut berputar dan bergoyang.


"Seandainya dia tau, bahwa wanita itulah penyebab abangnya menjadi seperti saat ini." tukas Better, menatap ke arah dimana mafia tua itu berpesta.


"Apa si komodo tua selalu membawa anak buah sebanyak itu." tunjuk Joy, dengan gerakan matanya pada Better.


Karena Don Domino di kelilingi oleh, beberapa pria berbadan tinggi besar, dengan pakaian preman.


"Sepertinya, ada yang tidak beres." curiga Better, merasakan keanehan di sekitarnya.


"Aku akan menghubungi seseorang, untuk berjaga-jaga." Better mengeluarkan ponselnya, lalu menekan menggeser sebuah nama.


Tuuuut ....


"Halo, Pak!" Panggilan tegas dari seorang perempuan terdengar di seberang telepon.


"Na, datanglah bersama beberapa orang mu, aku akan kirim lokasi saat ini." titah, Better pada asistennya. Seorang wanita 30tahun yang pernah belajar militer, sehingga Milna memiliki ilmu beladiri yang mumpuni.


Memang, Arjuna menyiapkan anak buahnya bukan hanya pandai dalam bidang management bisnis saja. Namun, juga harus memiliki basic ilmu beladiri dan mampu menggunakan senjata tajam atau senjata api.


Karena, musuh pengusaha itu tidak selalu berdasi dan bermain rapi. Kebanyakan dari mereka akan menghalalkan segala cara untuk melibas lawan bisnisnya.


Kerja sama antar pengusaha dengan para mafia, bandit atau gangster merupakan rahasia umum. Bahkan, ada yang lebih ekstrem dari itu semua. Ketika, para makhluk kasat mata ini menjalin kerja sama dengan yang tak kasat mata.


Akan lebih susah lagi melawan yang bermain halus seperti ini, karena senjata api dan senjata tajam tidak akan berarti. Ilmu beladiri setinggi apapun akan tersapu bagai debu.


"Baik, Pak!"


"Saya akan menyiapkan empat personil." sahut Milna, yang saat ini sebenarnya tengah menikmati mie rebus panas.


Sekejap sambungan pun di putuskan.


Wanita single dengan rambut pendek macam pria ini, kembali mendudukkan bokongnya di kursi.

__ADS_1


"Haiiihh, malam akhir pekan pun ada tugas dadakan." gumamnya, seraya memasukkan mie panas itu dengan cepat ke dalam mulutnya.


Sambil makan tangannya sambil mengetik pesan kepada anak buahnya, yang terpantau sebagai preman jalanan.


Gerombolan preman yang pernah di tolong olehnya, sehingga mereka menjadi pengikut setianya di kala Milna membutuhkan bantuan mereka.


Kebetulan, Milna dan Better pernah bergabung dengan Klan Toyobo. Sehingga, Milna tidak kaget dengan pekerjaannya ini.


Sementara itu, Walls tengah memantau pergerakan Jelita. Dari gesturnya saja bocah ini bisa tau, kalau wanita itu mudah terpesona dengan laki-laki perkasa.


Dengan senyum smirknya, bocah badung itu mulai melancarkan aksinya.


BRUGH!


Jelita yang berjalan buru-buru sambil menunduk, di kejutkan oleh gerakan seseorang yang menabraknya.


"Akh!"


Seketika matanya membola, ketika sebuah lengan kekar menyanggah tubuhnya, dengan cara melingkar di pinggang berisinya.


(Sial, wanita ini tengah berbadan dua.) batin, Walls mengumpat di dalam hatinya.


"Terimakasih, Tuan," ucapnya lembut dengan wajah menggoda.


"Lain kali, berhati-hatilah. Kakak cantik." puji Walls, seraya merapikan rambut yang menjuntai kedepan wajah Jelita.


"Ah, aku setua itu kah?"


"Tidak, hanya saja aku yang terlalu muda," kilah Walls.


"Jelas sekali, kau masih sangat imut," ucap Jelita dengan penekanan pada kata yang terakhir.


"Mungkin wajah ku bisa di bilang begitu, tapi tidak dengan alat tempurku," bisik Walls pada Jelita.


Membuat wanita itu mendelik kan matanya dengan diiringi senyum sensual setelahnya.


"Apa kau menggodaku?" tanya Jelita, seraya menggigit bibir bawahnya.


( Wanita murahan, kau yang menggodaku. Sialan!)


🐾Akankah rencana Walls berhasil?


Tunggu up berikutnya selepas berbuka puasa ya ...😉

__ADS_1


Bersambung>>>>


__ADS_2