
🔥🔥🔥🔥
Para pengawal bayaran tersebut mengitari bangunan sambil menyiram setiap sudutnya dengan cairan yang berbau khas. Cairan yang biasa digunakan untuk bahan bakar kendaraan bermotor. Area yang tersembunyi dan jauh dari pemukiman bangunan juga sudah rusak di sana-sini. Mungkin apabila terbakar juga tidak menjadi masalah yang berarti.
Setelah beres dengan pekerjaannya, salah satu pria menyalakan pemantik api. Ia bersandar tenang di salah satu batang pohon yang besar. Dimana pohon itu terletak tak jauh dari gedung tua tersebut. Pria itu mendekatkan pemantik ke ujung batang rokok yang terselip diantara kedua bibirnya. Kemudian ia menghisap dalam-dalam lalu mengepulkan asapnya ke udara.
Kini batang rokok itu terselip diantara jari telunjuk dan jari tengahnya. Dengan seringai penuh arti, pemimpin dari pengawal bayaran tersebut menjentikkan jarinya ke depan. Hingga batang rokok yang menyala tersebut terpental lalu mendarat di sudut bangunan yang telah disiram oleh bahan bakar.
BUSSHH!
Seketika api menyala dan menyambar dengan cepat ke sekeliling bangunan. Merambat melalui beberapa bagian bangunan yang sudah lapuk tersebut. Si jago merah membara dan membesar dengan begitu cepat. Melahap apa saja yang sekiranya mudah terbakar.
Sementara itu di dalam ruangan yang terdapat sandera. Hewan-hewan tersebut lari kocar-kacir. Karena asap dan hawa panas telah menyusup ke dalam ruangan tersebut.
Tinggallah kini dua orang gadis yang tengah pingsan dan juga terikat dengan keadaan berantakan. Wanita yang bekerja sebagai pramusaji itu tersadar dari pingsannya setelah hidungnya mencium bau asap yang merangsek masuk melalui celah daun pintu. Dirinya lantas terbatuk-batuk dalam keadaan mulutnya yang masih dilakban.
' Ibu betapa buruknya nasibku kini. Bahkan kupikir tadi aku sudah mati tapi ternyata keadaannya masih sama. Aku masih hidup dalam siksaan yang entah kapan berakhir. Jika dapat memilih aku lebih baik ditembak mati saat ini bu. Aku tidak menyangka jika niat jahatku langsung dibayar kontan oleh semesta saat ini juga. Maafkan aku bu selama ini melupakanmu. Aku lupa pulang dan lebih memilih bersenang-senang dalam duniaku sendiri. Hingga kau sakit sekalipun aku memilih tidak pulang. Sampai pada akhirnya engkau pergi untuk selama-lamanya. Mungkinkah ini semua terjadi karena kutukan darimu bu.' batin pramusaji malang itu menyesali kesalahannya dulu yang berakibat pada nasibnya kini. Ia terisak di hebat sebelum napasnya tercekat di tenggorokan.
Tak lama Miranda pun sadar dari pingsannya juga. Kedua bola matanya seketika membesar. Ketika mendapati ruangan tempat mereka disekap dijilat oleh si jago merah. Asap kini sudah mengepung ruangan tersebut. Membuat dada mereka sesak karena pasokan udara yang menipis. Sehingga membuat keduanya sulit bernafas.
' Tidak mungkin! Ini tidak boleh terjadi! Akhir hidupku tidak boleh seperti ini! Rencanaku tidak mungkin berakhir seperti ini! Tidak!!' Miranda berteriak dalam hatinya. Dirinya masih tidak terima dengan nasib buruk yang menimpanya.
__ADS_1
KREKK!
KRETEKK!
Sepasang mata milik Miranda dan gadis pramusaji tersebut melihat ke arah asal suara keras yang berasal dari atas kepala mereka. Seketika keduanya menggeram dengan sekeras-kerasnya meskipun suara mereka tidak akan terdengar keluar.
'Tidak!' teriak Miranda dan Pramusaji itu dalam hati mereka tatkala sebuah batang kayu besar yang terbakar api jatuh dari atap. Benda tersebut menimpa tubuh malang keduanya. Ternyata para pengawal salah mengartikan keadaan. Dikiranya mereka berdua telah tiada karenanya mereka membakar tempat demi menghilangkan jejak. Siapa disangka jika pada akhirnya kedua wanita jahat itu terbakar hidup-hidup.
" Ayo kita pergi dari sini. Apinya sudah membakar keseluruhan bangunan. Juga di pastikan tidak akan menyambar ke mana-mana!" ajak pemimpin dari para pengawal bayaran tersebut kepada anak buahnya.
" Tapi dua penyerang berbadan besar tadi lari kocar-kacir entah ke mana. Haruskah Kami mencari keberadaan mereka?" tanya salah satu anak buah pengawal tersebut.
" Tidak perlu, biar saja mereka pergi. Toh mereka hanya penjahat bayaran yang amatir. mereka tidak akan bergerak tanpa perjanjian," jelas sang ketua. Beberapa orang suruhan Joy ini pun kemudian meninggalkan area eksekusi. Setelah melapor pada bos mereka, saat itu juga senyum lebar menghias wajah mereka masing-masing. Karena Joy sudah mentransfer bayaran sesuai dengan kesepakatan mereka.
"Apa kita tidak terlalu jahat pada mereka? Apakah tindakan kita tidak terlalu berlebihan?" tanya Milna yang sejak tadi merasakan risau di hatinya. Terbersit ketakutan itu akan sesuatu yang akan berimbas kepada kedua calon bayinya nanti.
" Tentu saja tidak apa yang kau khawatirkan? bukankah kita tidak melakukannya dengan kedua tangan kita? Setidaknya seperti itu. Lagi pula kau juga kan tahu, bagaimana hukum rimba di kalangan kita." Joy berusaha menenangkan Milna. Entah dorongan dari mana Joy mengulurkan tangannya mengambil alih hair dryer yang berada dalam genggaman istrinya itu.
" Kau benar Joy. Jika kita tidak menghabisi para penjahat itu. Maka mereka akan terus mengulanginya hingga keinginan mereka tercapai dengan sempurna. Membiarkan seorang wanita yang sudah menggilai sesuatu melenggang dengan bebas, itu sama saja kau melepaskan harimau yang sudah menggigit kakimu. Harimau itu tidak akan melepaskan mu sebelum kau menghabisinya dengan melesatkan peluru hingga menembus jantungnya." sahut Milna menimpali pertanyaan Joy tadi. Memikirkan kejadian tadi, membuatnya tidak sadar jika Joy sedang bermain-main dengan rambutnya.
" Hey Joy! Apa yang kau lakukan dengan rambutku! pergi sana! Biar aku saja!" usir Milna segera merampas hair dryer dari tangan Joy.
__ADS_1
" Jangan galak-galak nanti bucin," bisik Joy di telinga Milna. Kemudian pria itu berlalu sambil terkekeh geli.
" Idih najis! Dasar pria tengik gila!" umpat Milna. Namun malah membuat Joy semakin tertawa kencang. Bagi pria itu, akan terasa sangat menyenangkan jika bisa membuat Milna kesal lalu marah. Ternyata sudah sejak lama, mengganggu Milna telah menjadi hobinya.
" Aku sudah memesan makanan untukmu. Aku mau merokok dulu lalu mampir ke bar sebentar, tidak akan lama hanya ingin menghangatkan badan juga merefresh otakku," ucap Joy pada Milna dari ambang pintu.
" Jangan berpikir untuk mabuk! Karena aku tidak suka tidur dengan orang yang berbau alkohol!" ancam Milna ketus, dan jangan lupakan pelototan dari kedua matanya.
" Sedikit saja masa tidak boleh?" tanya Joy dengan raut wajah lesu seketika.
"Boleh saja, asal ...," Milna sengaja menggantung kalimatnya.
"Asal apa?" tanya Joy penasaran.
" Asalkan kau tidak sekamar denganku," jawab Milna dengan senyum miringnya.
"Oh God! Hanya satu sloki please," ucap Joy memohon. Dirinya tidak mungkin tidak menenggak alkohol apalagi setelah beraksi melumpuhkan musuh-musuhnya. Ia harus menghapus rasa bersalahnya dengan membuat tenggorokan serta lambungnya terbakar.
"Satu galon pun tak apa, asal kau enyah dari hadapanku!" Milna langsung naik ke atas tempat tidur kemudian menyelimuti dirinya hingga nampak rambut saja.
" Oh shiitt!! Hukuman macam apa ini!" gumam Joy seraya melangkahkan kakinya keluar kamar hotel.
__ADS_1
Bersambung>>>>