
🔥🔥🔥🔥
___***___
CALON ISTRI!" Joy memekik sampai mendelik.
"Atur semuanya, aku sendiri yang akan menyiapkan calon istri ku."
"Kau, menjauh saja darinya." Arjuna menyambar jasnya dan berjalan keluar dari ruang kerjanya.
Meninggalkan sosok pria tampan yang menganga. Untung saja tidak ada lalat hijau di area perkantoran.
"Gilak! Ternyata niat tuan sudah sejauh itu!" gumam Joy yang masih berdiri kaku.
"Dia tidak sedang bermain hati kan? Aih, karena kalau iya, kau tengah menggali kuburan mu sendiri tuan." Joy berdecak gusar.
"Kenapa kau mengumpankan wanita yang kau sukai!" Joy memukul meja jati itu dengan tangan kosong. Membuatnya meringis sendiri merasakan telapak nya berdenyut nyeri.
"Meja kamvret!"
Sementara itu, Arjuna tengah mencari di mana keberadaan Susi saat ini.
Susi yang bercengkrama dengan Vanish tiba-tiba melongo, karena sang CEO menginjakkan kakinya pertama kali di kantin demi mencarinya.
"Ikut aku." Arjuna meraih tangan Susi kemudian membawanya pergi.
__ADS_1
Dua langkah kemudian kakinya berhenti.
" Kau pulanglah! Aku akan memerintahkan sopir kantor untuk mengantarmu." Setelah mengatakan kalimat yang di tujukan pada Vanish, Arjuna meneruskan langkahnya.
"Tuan, tidak usah menarik tanganku. Aku bisa jalan sendiri," Susi berusaha menepis tangan kekar itu, hingga Arjuna melepaskannya dan memindahkan tangan itu ke pinggang rampingnya.
"Gyaa! Bukan gini juga!" pekiknya tertahan oleh bungkaman dari telapak tangan Arjuna yang satunya lagi.
"Diamlah! Atau kau ingin aku menciummu di depan mereka?" Arjuna tersenyum miring, dengan mata elangnya yang menatap Susi tajam.
"Jangan memasang wajah seram begitu kenapa!" protes Susi yang akhirnya menurut meski bibirnya mengerucut.
Arjuna tersenyum tipis, wanita ini sangat menggemaskan dan selalu mampu menggoda imannya.
"Gue liat, gue liat...," jawabnya.
" Sejak kapan bos kita bisa senyum bro?" tanyanya heran. Matanya tak lepas memandang pasangan itu hingga masuk ke dalam lift.
"Kayaknya, sejak negara api menyerang negara es," gelak Kalpa sambil menepuk pundak kawannya itu.
"Lu bener bro. Gletser mulai mencair, semoga pemandangan di kantor ini semakin sejuk," Choki yang baru datang menimpali mereka berdua. Jadilah ketiganya tergelak bersama.
"Kerja!!" Suara nyaring bagai petir menyambar di siang hari, tiba-tiba menampar keasikan mereka.
Para karyawan teladan yang tengah menggosipkan bos mereka sendiri.
__ADS_1
"Siap Pak Joy!" jawab ketiganya serempak. Membuat para karyawan lain yang mengintip di balik kubikel mereka menahan tawanya.
" Beri contoh yang baik pada bawahan kalian!"
" Dengan sedikit bicara, banyak bekerja!" pesan Joy yang seketika kepalanya di buat nyut-nyutan oleh sang pemilik perusahaan.
___***___
"Kita cari cincin sekarang, setelah itu aku akan membawa mu ke salon dan butik." Arjuna mulai menjalankan mesin mobilnya setelah ia membantu Susi memasang seat belt nya.
"Apa Tuan tidak bisa menggunakan cara yang romantis?" sindir Susi dengan nada kesal yang begitu kentara.
" Jangan berharap terlalu tinggi padaku, bukankah kau sendiri yang bilang bahwa kau nyaman dengan aku yang begini," cecar Arjuna memandang sekilas kemudian kembali fokus pada jalanan ramai di hadapannya.
"Hemm ...." Susi membuang wajahnya dan hanya menguarkan deheman saja.
Lengkungan sabit itu kembali tercetak dengan jelas di wajah rupawan Arjuna.
(Kenapa rasanya begini, melihatnya merajuk membuatku ingin menenggelamkannya di pelukanku.) Arjuna membatin.
Beberapa saat kemudian, mereka berdua terlihat keluar dari toko perhiasan, dan Arjuna langsung mengajak Susi ke butik.
Kini ia tengah menunggu wanitanya itu di make over di sebuah salon kecantikan yang biasa menangani para artis dan model.
Bersambung>>>>
__ADS_1