Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Naga Beraksi Kembali.


__ADS_3

...Area hareudang! โš ๏ธ...


...Gelombang panas yang akan mengakibatkan hawa gerah di atas peraduan anda!...


...Bab di bawah ini, juga bisa bikin istri merajuk supaya pak suami cepet-cepet pulang....


...Waspadalah!...


...Waspadalah!...


๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ


Setelah mentransfer sejumlah uang, Susi dan Arjuna pun berlalu. Pria berbadan kekar itu tetap tak berhenti membungkukkan tubuhnya berkali-kali. Meski pasangan itu telah pergi meninggalkan arena tempatnya mengais rejeki.


"Kau sudah puas sekarang?" tanya Arjuna pada Susi. Ia memberanikan diri untuk merangkul bahu sang istri. Ternyata, wanita yang baru saja membuat geger pasar malam itu, tidak menolaknya.


"Sangat puas, bahkan hatiku sangat senang dan bahagia," jawabnya dengan senyum yang sangat lebar, hingga menampilkan jejeran giginya yang putih dan rapi.


๐˜‹๐˜ถ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช. ๐˜”๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ข๐˜ด ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜จ๐˜ข, ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜บ ๐˜ฒ๐˜ถ๐˜ฆ๐˜ฆ๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช. ๐˜‰๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ช๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ด๐˜ฆ๐˜จ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ค๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ข. ๐˜—๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข, ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ต ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ข๐˜ด ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ธ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜ต๐˜ถ๐˜ข, ๐˜ญ๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ด๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ข๐˜บ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฐ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข. ๐˜’๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ข, ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ซ๐˜ข๐˜จ๐˜ฐ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ค๐˜ฐ, ๐˜ญ๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ด๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ข๐˜บ๐˜ข ๐˜ฐ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ด๐˜ช. ๐˜‘๐˜ถ๐˜จ๐˜ข, ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฉ . ๐˜’๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฃ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ? ๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ธ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜บ๐˜ช? ๐˜š๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ช? ๐˜ซ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข, ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ฎ๐˜บโ€“๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ ๐˜ฉ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฐ.


Batin Arjuna, menela'ah setiap kejadian hari ini. Meski, semua yang terjadi berada di luar nalar pikirannya. Ia mencoba untuk mengikuti saja alurnya.


Sesampainya di rumah.


"Jangan berendam, sayang. Ini sudah malam!" ucap Arjuna memberi pesan kepada istrinya.


"Baiklah, aku hanya ingin menghilangkan rasa lengket di tubuhku ini," sahut Susi, seraya menoleh dan tersenyum. Hilang sudah sisi judesnya, yang mana membuat Arjuna terkaget-kaget setiap di bentak oleh Susi.


"Apa kau tidak ingin mandi juga, Ar?" tanya Susi, dengan mengangkat sudut bibirnya.


"Ah, tentu saja aku mau!" Arjuna yang tengah bersandar pada sofa, seketika berdiri, lalu menghampiri Susi.


"Ingat, kita hanya mandi. Lakukan hal yang lain di kamar saja." Susi berpesan sambil membuka pakaiannya satu persatu. Kini mereka telah berada di dalam bath room.


Dimata Arjuna, gerakan yang Susi lakukan ketika membuka pakaian seolah menggunakan tekhnik ๐˜ด๐˜ญ๐˜ฐ๐˜ธ ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ช๐˜ฐ๐˜ฏ.


Dirinya yang begitu mendamba, keindahan dari setiap lekuk tubuh istrinya itu, mendadak menelan ludahnya kasar.


Geloranya yang selama lebih dari sepekan tertahan, membuatnya serasa berjalan di bumi gersang. Begitu kering kerontang, tanpa sentuhan serta belaian dari istri cantiknya.


"Sayang, kesini!" Arjuna memanggil Susi yang telah polos untuk mandi di bawah shower. Begitupun dirinya, yang bagaikan bayi baru lahir. Susi melangkah dengan anggun ke arah Arjuna, lalu mulai membasuh tubuhnya yang basah tersiram air hangat.


"Biar aku bantu menggosoknya dengan sabun," tawar Arjuna, yang hanya di jawab Susi dengan senyum.


"Kondisikan, tanganmu, Ar!" Susi berusaha menepis jemari Arjuna yang mulai merayap di antara lekuk tubuhnya. Meskipun rasa rindu akan kehangatan tak dapat disangkalnya. Namun, ia harus menyelesaikan mandinya dengan cepat.


Arjuna mengabaikan, tepisan berkali-kali dari tangan Susi. Ia tetap membasuh dengan lembut, apalagi di bagian yang menjadi favoritnya. Sesekali memberi pijatan penuh penghayatan pada bagian depan yang menantang.

__ADS_1


Penolakan dari Susi semakin lama semakin lemah, wanita itu mulai terhanyut dengan gelombang napsu yang menerpa keduanya. Apalagi, ketika Arjuna membasuh bagian squisy dengan tempo yang sengaja dibuat agak lambat.


Melihat sang istri yang terlihat semakin menggoda, karena telah bersih serta wangi. Arjuna, merapatkan raga itu ke dinding kaca. Memandang wajah basah itu lekat, lalu ia memisahkan jarak diantara mereka, hingga bibir basah mereka saling menyesap kuat.


Menyalurkan rasa rindu yang selama ini menumpuk didalam kalbu. Hingga, rasa itu semakin membuncah dan hampir meledak bagaikan bom waktu.


Kecupan dari Arjuna semakin liar dan mulai menjalar. Beralih kebawah dagu, hingga meninggalkan tanda kepemilikan di leher serta dada bagian atas.


Kembara kembar bakpao pun tak luput dari sentuhan bibirnya, memberi tekanan lembut di sana dengan kedua tangannya. Sementara bibirnya kembali menyesap bibir Susi dengan penuh gairah.


Tiba-tiba Arjuna merendahkan tubuhnya, lalu bertumpu pada salah satu lututnya. Kemudian, ia menempelkan wajahnya pada milik Susi, karena ia sangat merindukan aroma khas pada bagian itu.


"Sshh ... Ar, hentikan," desis Susi dengan lirih. Tak ayal ia pun memberi remasan pada rambut ikal suaminya. Karena, Arjuna telah memberi sengatan pada setiap sendi tubuhnya. Mendapat respon malu tapi mau, Arjuna pun semakin bersemangat.


Ia mulai menyesap semakin dalam, membuat Susi secara spontan membuka jalannya sedikit lebih lebar. Hingga, Arjuna dengan leluasa menggelitik bagian itu, memainkan apa saja yang ada di dalam sana.


Merasa cukup memberi pemanasan, Arjuna pun sontak berdiri. Ia menggendong raga yang telah lemas itu, karena Susi yang terbawa suasana, ?sudah mulai tak mampu berdiri di atas tungkainya.


Tubuh yang hanya di gulung oleh handuk itu, ia rebahkan perlahan di atas tempat tidur berukuran besar. Arjuna menahan berat tubuhnya, bertumpu dengan kedua sikunya. Karena ia tak ingin sampai menekan perut istrinya itu. Mereka pun saling menatap dengan dalam, hingga senyum bahagia merekah diantara keduanya.


"Aku merindukanmu, sangat," ucap Arjuna lirih. Matanya tak bergeser sedikit pun dari wajah yang di dambakan nya itu. Menciuminya hingga puas, sampai dahaga nya terhempas kan.


"Mmmhh ...." Susi mengeluarkan suara merdu yang begitu di tahannya.


"Keluarkan saja, sayang ... aku begitu menyukainya. Desah suaramu sangatlah merdu.


Alunan suara merdu dari Susi, telah membuat gairahnya semakin membara. Arjuna sontak meraup bibir yang menggoda itu, begitu manis dan hangat. Hingga, ia tak pernah bosan, dan berakhir menyesapnya dengan rakus.


Susi yang sudah terpancing sejak tadi, mulai meladeni permainan suaminya. Sebenarnya ia juga merindukan kehangatan dari Arjuna. Setiap sentuhan pria tampan nan perkasa itu, mampu membuatnya melayang hingga ke langit tertinggi.


"Sayang, semoga dia cepat besar sehingga bisa memberi anugerah serta kebahagiaan bagi kehidupan kita. Terimakasih, karena telah berjuang selama ini. Aku sangat menyayangi kalian berdua." Arjuna mengatakan kalimat yang menyentuh hati itu, tepat di atas perut Susi yang terbuka. Karena handuk yang menutupi tubuhnya, telah dihempas entah kemana.


"Tapi, anak Daddy tidak boleh menyusahkan Mommy ya. Atau, kau akan langsung berhadapan denganku. Karena, Daddy sangat mencintai Mommyโ€“mu lebih dari apapun," ucap Arjuna sembari memberi kecupan pada perut yang masih rata itu.


"Ar, geli ...." Susi yang baru saja menyusut air matanya karena terharu, oleh kata-kata ungkapan dari hati Arjuna. Kini di buat risih dengan bulu di sekitar rahang suaminya itu.


Dimana, Arjuna sengaja menggosokkannya tepat di bawah pusar Susi.


"Jadi, geli ya? Baiklah, aku akan pindah." Arjuna pun semakin menurunkan ciumannya kebawah. Melewati lembah hingga pedalaman hutan tropis yang semakin lembab.


Arjuna bermain-main di sana, menghirup aromanya kuat-kuat. Menyesapnya hingga sang pemilik raga menggeliat tak karuan.


Melihat istrinya telah siap tempur, Arjuna pun memposisikan dirinya. Sebelum itu, ia akan meminta izin dulu seperti biasanya. Apalagi kali ini, ada calon bayi mereka yang tengah bersemayam di dalam rahim hangat istrinya itu.


Cup! Cup! Cup!


Arjuna memberi kecupan berkali-kali pada seluruh area wajah cantik natural Susi. Seakan belum puas, meski sedari tadi ia telah ratusan kali melabuhkan ciumannya.

__ADS_1


"Sayang, aku ingin menyapa bayi kita. Boleh?" tanya Arjuna dengan suara berat. Sementara, Susi yang telah di selimuti gelora hanya bisa mengangguk lemah dengan pandangan berkabut.


Naga Arjuna, sudah siap di depan gerbang sarangnya. Ia akan menerobos pertahanan Susi secara perlahan, seperti saran yang di katakan oleh Dokter kandungan.


Slupp!


"Emhh!"


"Ahh ...."


Sang naga perkasa yang sudah libur sepekan lebih, kini telah kembali masuk ke dalam sarang kegemarannya. Arjuna sengaja mendiamkan dirinya di sana, agar Susi terbiasa dan memintanya sendiri untuk melanjutkan.


Benar saja, Susi pun menekan pinggulnya. Tanda bahwa ia sudah boleh untuk bergerak perlahan. Naga miliknya yang besar, terasa sesak di dalam sarang yang sempit. Membuat Susi meringis campur nikmat tiada tara.


Arjuna mulai menaikkan ritme serta tempo permainannya, pelan tapi pasti mereka mulai terbuai dengan kenikmatan duniawi.


"๐˜๐˜ข๐˜ด๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ ,Ar!" lirih Susi dengan suara parau nya. Ia hampir sampai di puncak permainan panas mereka. Hingga tubuh keduanya telah basah oleh peluh yang bercampur baur menjadi satu.


"Tidak, ๐˜”๐˜บ ๐˜˜๐˜ถ๐˜ฆ๐˜ฆ๐˜ฏ. Aku harus bermain dengan hati-hati," sahut Arjuna dengan suara serak karena telah terbius gairah yang menggebu. Bagaimanapun ia telah mencoba menahan dirinya, karena ada calon bayi yang harus ia jaga.


"๐˜—๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ข๐˜ด๐˜ฆ! Ar ... bayi kita kuat, percayalah," kali ini Susi memohon dengan wajah yang telah berselimutkan gelora. Hingga, ia juga menggerakkan pinggulnya di bawah sana.


"Aku percaya padamu, sayang ...." Akhirnya, Arjuna mengabulkan permintaan Susi. Hingga, istrinya itu mendekap erat raga perkasanya. Pertanda Susi telah sampai pada pelepasan pertamanya.


"Ahhh!!" Tak lama kemudian, Arjuna pun menyusul. Pria perkasa itu melengking kan tubuhnya, bak serigala yang tengah melolong di bawah purnama. Susi melenguh, ketika semburan larva hangat milik suaminya itu, menyembur kedalam rahimnya. Saking banyaknya, cairan magma itu pun merembes keluar, dan mengotori seprei mereka seperti biasa.


"Terima kasih, sayang. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu." Arjuna menatap lekat iris pekat istrinya itu.


"Jangan membuatku sedih dan khawatir lagi. Lain kali bicaralah, katakan apapun yang ada di dalam hati serta pikiranmu," ucap Arjuna sembari memberi kecupan dalam di kening istrinya itu.


Tak terasa, bulir kristal bening kembali menyeruak tanpa permisi. Hingga mengalir lumayan deras ke pipinya.


"Ar, kenapa kau sekarang cengeng sekali?"


"Aku terharu dengan kata-kata ku sendiri, mungkin,"


" Seharusnya aku yang menangis,"


"Ya sudah, ayo menangis bersamaku,"


"Kalau aku tertawa saja, bagaimana?"


"Huwaaa ...! Kau, tega sekali!"


"Arjuna, hentikan!"


"Kau jadi tidak tampan lagi!"

__ADS_1


Bersambung>>>


__ADS_2