
๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ
Tiga bulan kemudian.
"Menjauhlah, Ar. Tolong, jangan mendekati aku malam ini!" Tidak seperti biasanya, Susi mengusir suaminya. Dimana, pada malam-malam sebelumnya, mereka berdua akan tidur dengan berpelukan erat.
"Kamu kenapa sih, sayang?" tanya Arjuna bingung. Pasalnya, sudah beberapa hari ini, istrinya itu bersikap aneh.
"Ya, engga kenapa-napa. Hanya saja, aku tidak mau di dekati. Aku tidak suka bau keringatmu," ketus Susi, dengan lirikan sinis.
๐๐ด๐ต๐ข๐จ๐ข! ๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ฅ๐ช๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฌ๐ข๐ต๐ข ๐ฃ๐ฆ๐จ๐ช๐ต๐ถ? ๐๐ฑ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ด๐ฆ๐ฃ๐ข๐ถ ๐ช๐ต๐ถ?
Lantas, Arjuna mengendusi aroma ketiaknya, tapi tidak ada yang salah. Bahkan dirinya baru saja mandi setengah jam yang lalu.
"Aku tidak bau kok, sayang ... ๐๐บ ๐๐ถ๐ฆ๐ฆ๐ฏ," lirih Arjuna, sambil memasang wajah memelasnya. Pasalnya, sudah beberapa malam, ia gagal menjebol sarang naganya. Hingga keperkasaannya itu, selalu berdenyut nyeri hendak meledakkan sesuatu di dalam dirinya.
"Ya sudah, kalau kamu tidak mau turun dari kasur. Biar aku saja yang tidur di kamar sebelah." Susi yang hendak turun segera di tahan oleh Arjuna.
"Tunggu! Apa aku ada salah pada mu? Katakanlah, jangan membuatku bingung dengan sikapmu?" cecar Arjuna, yang benar-benar tak habis pikir akan perubahan sikap istrinya itu.
"Kamu, tidak salah apa-apa, Ar. Hanya saja, aku tidak suka di dekatmu. Bau mu membuatku kesal." Susi menepis tangan suaminya itu, kemudian ia benar-benar turun dari kasur.
"Sayang ...!" panggilnya.
"Jangan keluar dari kamar ini, biar aku saja yang tidur di sofa." Arjuna menghadang langkah istrinya yang sudah hampir sampai ke pintu.
"Baiklah." Susi pun berbalik dengan sikap acuhnya, benar-benar tak ada lagi Susi yang lemah-lembut.
๐๐ฆ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ๐ฏ๐บ๐ข, ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ช๐ฏ๐ช ๐ฌ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ด๐ข๐บ๐ข๐ฏ๐จ? ๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ค๐ช๐ฌ๐ถ? ๐๐ข๐ฉ๐ฌ๐ข๐ฏ, ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ช๐ฉ๐ข๐ต ๐ฌ๐ถ ๐ฑ๐ถ๐ฏ ๐ฆ๐ฏ๐จ๐จ๐ข๐ฏ.
Arjuna menatap punggung istrinya itu dengan raut wajah yang begitu sendu. Pulang kerja, bukannya di sambut dengan mesra, justru sikap dinginlah yang ia terima.
Setelah rahim Susi di nyatakan sembuh oleh Dokter. Maka, sebulan kemudian Arjuna mengajak sang istri kembali ke negaranya.
Di saat itulah, Arjuna kembali dengan kesibukannya. Mengurus dua perusahaan, serta memantau sesekali perkebunan coklat mendiang kakeknya.
Perusahaannya berkembang kian pesat, di tangan dingin kedua asisten multiguna miliknya. Kini, nama ARSA Company dan juga ChoCho Inc, mulai di perhitungkan oleh perusahaan besar.
"Nih, biar kamu gak kedinginan." Susi menyerahkan selimut serta guling pada Arjuna.
"Jadi, aku cuma boleh meluk guling kamu aja?" tanya Arjuna dengan nada lemas.
"Iya, sampai aku gak benci sama bau badan kamu." Setelah berucap dengan datar, Susi pun lantas berbalik. Tanpa sedikit pun melihat ekspresi suaminya itu. Sehingga, dirinya tak tau jika Arjuna tengah memandangnya dengan kedua mata yang mendung.
๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข, ๐ต๐ช๐ฃ๐ข-๐ต๐ช๐ฃ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ช๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฏ๐จ๐ช๐ด ๐ด๐ช๐ฉ? ๐๐ฌ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ข๐ด๐ข ๐ฅ๐ช ๐ค๐ข๐ฎ๐ฑ๐ข๐ฌ๐ฌ๐ข๐ฏ. ๐๐ข๐ฅ๐ข๐ฉ๐ข๐ญ, ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ต๐ช๐จ๐ข ๐ฌ๐ข๐ญ๐ช ๐ฎ๐ข๐ฏ๐ฅ๐ช ๐ด๐ฆ๐ซ๐ข๐ฌ ๐ด๐ฐ๐ณ๐ฆ ๐ต๐ข๐ฅ๐ช. ๐๐ข๐ฉ, ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ ๐ด๐ข๐ซ๐ข.
Arjuna, mendesah dalam resahnya. Langkahnya tertatih dan lunglai. Apalagi, ketika pintu kamar di tutup rapat, mendadak harinya serasa berdenyut nyeri.
__ADS_1
๐๐ถ๐ฎ๐ฑ๐ข๐ฉ, ๐ช๐ฏ๐ช ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ-๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ ๐ช๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฏ๐จ๐ช๐ด. ๐๐ช๐ฉ, ๐ด๐ฆ๐ซ๐ข๐ฌ ๐ฌ๐ข๐ฑ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ด๐ฆ๐ค๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฆ๐ฏ๐จ ๐ช๐ต๐ถ!
Arjuna menyeka air yang telah menggenang di ujung matanya.
"Cih, apa aku benar-benar menangis." Gumamnya, seraya berdecak sebal.
"Ternyata, hatiku lemah ketika kau acuh dan bersikap dingin padaku." Arjuna menghela napasnya berat.
Ia meluruhkan raganya di sofa, menatap pintu kamar yang tertutup rapat itu. Kemarin-kemarin, ia masih bisa mengendap-endap setelah lewat tengah malam. Karena, saat itu pintu kamar tidak di kunci. Akan tetapi kini, Arjuna hanya bisa gigit jari meratapi nasibnya yang malang.
๐๐ข๐ช๐ฉ, ๐ฏ๐ข๐จ๐ข. ๐๐ข๐ฎ๐ฑ๐ข๐ช ๐ฌ๐ข๐ฑ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ช๐ต๐ข ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ด๐ช๐ฌ๐ด๐ข ๐ฃ๐ฆ๐จ๐ช๐ฏ๐ช. ๐๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ฆ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฉ ๐ด๐ข๐ณ๐ข๐ฏ๐จ๐ฎ๐ถ, ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ข๐ด๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ข๐ฏ๐ช๐ด ๐ฃ๐ช๐ฃ๐ช๐ณ๐ฏ๐บ๐ข ๐ฑ๐ถ๐ฏ, ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ต๐ข๐ฌ ๐ฃ๐ช๐ด๐ข.
"Siapa yang harus aku tanyai soal ini?" gumamnya, seraya memikirkan beberapa nama temannya.
"Arrggh!" Arjuna berteriak frustrasi, sembari mengacak-acak rambutnya. Tak ada satupun nama yang nyangkut di kepalanya. Pasalnya, Arjuna memang tak pernah curhat akan masalah pribadinya dengan orang lain.
"Sudahlah, tidur saja. Semoga ini semua hanya mimpi." Arjuna pun menutupi tubuh hingga kepalanya dengan selimut.
Keesokan harinya di kantor.
"Tuan, kenapa wajahnya di tekuk begitu?" heran Joy. Melihat bosnya itu tak seperti biasanya. Begitu lesu dan tak bergairah, bahkan rambutnya seperti tidak disisir.
๐๐ฆ๐ซ๐ข๐ฌ ๐ฌ๐ข๐ฑ๐ข๐ฏ, ๐๐ถ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ณ๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช ๐ช๐ฏ๐ช. ๐๐ถ๐ด๐ถ๐ฉ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ณ๐ข๐ฑ๐ช๐ฉ. ๐๐ฏ๐ช ๐ฑ๐ข๐ด๐ต๐ช ๐ข๐ฅ๐ข ๐ฎ๐ข๐ด๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ด๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ต ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ข๐ต.
"Kepalaku, pusing." Arjuna berkata, seraya meremas kepalanya dengan kedua tangannya.
"Meledekku? Kau cari mati Joy!" geram Arjuna, seraya memandang asistennya dengan tatapan tajam.
"Saya serius, Tuan. 'Kan sekarang anda sudah punya pasangan hidup," kilah Joy.
"Cepat panggil karyawan yang sudah menikah, lebih dari tiga tahun." Arjuna memberikan perintah yang tidak bisa di bantah. Joy pun yang faham bahwa keadaan bosnya itu sedang tak baik, tak berani banyak bicara lagi.
Ia hanya bisa mengangguk patuh. " Baik, Tuan."
Asisten serba bisa itu, langsung menyusuri lobi. Menghampiri divisi keuangan di mana di sana ada beberapa karyawan yang sudah menikah cukup lama.
๐๐ฐ๐ด, ๐ข๐ฅ๐ข-๐ข๐ฅ๐ข ๐ด๐ข๐ซ๐ข. ๐๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ ๐ข๐ฑ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ค๐ข๐ณ๐ช ๐ฌ๐ข๐ณ๐บ๐ข๐ธ๐ข๐ฏ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ช๐ฌ๐ข๐ฉ, '๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ต๐ข๐ถ ๐ฌ๐ข๐ญ๐ข๐ถ ๐ฅ๐ช ๐ด๐ช๐ฏ๐ช ๐ญ๐ฆ๐ฃ๐ช๐ฉ ๐ฃ๐ข๐ฏ๐บ๐ข๐ฌ ๐ฌ๐ข๐ณ๐บ๐ข๐ธ๐ข๐ฏ ๐ญ๐ข๐ฌ๐ช-๐ญ๐ข๐ฌ๐ช. ๐๐ฑ๐ข ๐ฃ๐ฐ๐ด ๐ญ๐ข๐จ๐ช ๐ฅ๐ช ๐ด๐ถ๐ณ๐ถ๐ฉ ๐ฑ๐ถ๐ข๐ด๐ข ๐ด๐ข๐ฎ๐ข ๐ฏ๐บ๐ฐ๐ฏ๐บ๐ข ๐๐ถ๐ด๐ช, ๐ต๐ฆ๐ณ๐ถ๐ด ๐ฎ๐ข๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ข๐ฎ๐ฑ๐ช๐ข๐ด๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ฐ๐ฏ๐จ!
Seketika, Joy menghentikan langkahnya.
"Apa, Tuan sudah tak waras?" decaknya sembari menggelengkan kepala.
๐พ๐ Kau yang tak waras Joy๐
Otakmu perlu di siram karbol๐ถ
"Choki!" panggil Joy, pada salah satu karyawan pria di dalam kubikel mereka.
__ADS_1
"Pak, Joy. Ada apa ?" kagetnya, pasalnya ini masih pagi. Tak biasanya, asisten killer ini sidak di saat seperti ini.
"Siapa karyawan di sini yang sudah menikah, dan lebih dari tiga tahun," tanya Joy dengan nada tegas. Jika di depan para karyawan, maka jiwa kepemimpinannya akan keluar.
"Beng!" panggil pria bernama Choki itu pada kawannya di kubikel belakang. Pria yang di maksud tengah serius menatap laptopnya.
"Beng-Beng!" panggilnya lagi dengan nyaring. Membuat Arjuna seketika mengorek telinganya yang berdengung.
"Ah, ya! Ada apa!" kagetnya. Pasalnya, pria itu selalu serius kala bekerja. Apalagi, ini adalah akhir bulan. Saatnya tim keuangan mengakumulasi hitungan.
"Kau, sudah menikah? Dan, lebih dari tiga tahun?" tanya Joy serius.
"Iโiya, Pak," jawabnya gugup. Karena aura Joy begitu kuat.
"Ikut aku, untuk menemui Tuan presdir." Tanpa memberi penjelasan apapun dan tanpa menunggu persetujuan dari karyawan tersebut.
"Apa yang telah kulakukan?" tanya Beng-Beng dengan gerakan mulut pada kawan-kawannya. Mereka yang sama tak mengerti hanya menanggapi dengan gelengan kepala cepat bersamaan.
"Masuklah, dan ingat. Jawab dengan baik dan benar apa yang di tanyakan oleh presdir, atau pekerjaanmu yang jadi taruhannya.
Glek!
Karyawan itu menelan ludahnya susah, lalu mengangguk dengan cepat. Seketika telapak tangannya menjadi dingin dan berkeringat.
" Permisi, Pak Presdir. Eh, Tuโtuan." Beng-Beng yang telah berada satu ruangan dengan pemimpin perusahaan itu, merasa kikuk. Pasalnya, belum pernah ada karyawan divisi yang masuk keruangan presdir ini.
"Duduklah!" titah Arjuna dengan aura yang membuat tungkai si karyawan bergetar.
๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ข๐ถ๐ณ๐ข ๐ฏ๐บ๐ข ๐ฃ๐ฆ๐จ๐ช๐ต๐ถ ๐ฌ๐ถ๐ข๐ต, ๐ด๐ฆ๐ฃ๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฑ๐ข๐ณ๐ถ-๐ฑ๐ข๐ณ๐ถ๐ฌ๐ถ ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช ๐ต๐ข๐ฌ ๐ด๐ข๐ฏ๐จ๐จ๐ถ๐ฑ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฐ๐ฎ๐ฑ๐ข ๐ถ๐ฅ๐ข๐ณ๐ข.
Karyawan tersebut duduk perlahan, dengan menundukkan kepalanya.
"Jadi, kau sudah menikah lebih dari tiga tahun?" tanya Arjuna, memulai sesi menggali informasi akan apa yang tengah terjadi dengan istrinya itu.
"Sudah, Tuan. Bahkan, kami mau jalan empat tahun di musim ini," jawabnya, seraya memberanikan diri untuk mengangkat kepalanya.
" Selama itu, apa pernah istrimu bertingkah aneh?" tanya Arjuna lagi, kali ini mampu membuat dahi Beng-Beng berkerut.
"Jawab saja, jika memuaskan ku. Maka bonus besar menantimu." Kata-kata Arjuna ini membuat wajah karyawan di hadapannya, bersinar seketika.
"Maaf, Tuan. Deskripsi anehnya seperti apa? Karena, memang wanita itu sering bertingkah aneh dan membingungkan," jelasnya. Membuat Arjuna kini memajukan tubuhnya.
"Jadi, istrimu juga suka bertingkah aneh? Lalu mengusir mu untuk tidur di sofa?" tanya Arjuna lagi.
Sontak, Beng-beng sekuat tenaga menahan dirinya untuk tidak tertawa. Menurutnya, pemimpinnya ini begitu luar biasa, bagaimana bisa mengalami hal menyedihkan seperti itu. Dirinya saja yang bertampang dan berkantung pas-pasan, belum pernah di usir untuk pisah tidur.
๐๐ข๐ฏ๐ต๐ข๐ด ๐ด๐ข๐ซ๐ข ๐ธ๐ข๐ซ๐ข๐ฉ๐ฏ๐บ๐ข ๐ฃ๐ฆ๐จ๐ช๐ต๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ฆ๐ณ๐ข๐ฎ๐ฌ๐ข๐ฏ. ๐๐ถ๐ข๐ฏ, ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ฏ๐ต๐ถ๐ฎ๐ถ, ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ข๐ฑ๐ข ๐ด๐ฆ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ๐ฏ๐บ๐ข ๐ต๐ฆ๐ณ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข ๐ช๐ด๐ต๐ณ๐ช ๐ข๐ฏ๐ฅ๐ข.
__ADS_1
Bersambung>>>