Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Rencana Don Domino.


__ADS_3

🔥🔥🔥🔥🔥


Beberapa saat sebelumnya.


"Jadi, Wanita itu yang melakukannya?"


"Menarik. Aku harus merebutnya dengan tanganku sendiri." Don Domino, menyeringai, kemudian menatap sebuah alat penyadap. Terdengar percakapan di sebuah rumah sakit. Antara Jelita dengan Seno dan Easy.


"Anak muda itu berusaha menipuku rupanya." Domino menggeram, meremas kepalan tangannya sendiri.


"Jeff." panggil Don, kepada salah satu hacker andalannya.


"Siap, Don." Pria tinggi dengan wajah kaku itu mengiyakan perintah sang tuan. Bekerja cukup lama dengan pria keturunan negara penghasil lasagna itu, membuatnya faham akan maksud Don Domino.


" Perlahan, Jeff ... perlahan." Pria itu pun tergelak menyeramkan.


Kembali di mana Jelita tengah bergulat panas di atas sofa mewah dan mahal di ruangan pribadi Don Domino.


" Ah, kau begitu hebat." Don memuji keapikan permainan Jelita. Meskipun wanita itu tengah hamil, tapi tidak mengurangi kelincahannya dalam bergoyang.


"Kau suka gaya wanita hamil ini?" tanya Jelita dengan mimik wajah menggoda.


" Meski baru pertama kali ... untukku, aku suka ... bahkan, bagian ini terasa kencang dan kenyal." Kemudian Don membalik posisi, dan memainkan benda di hadapannya dengan buas.


Macam anak bayi yang kehausan, pria paruh baya itu melahap semuanya.


"Berapa lama kau tidak bertemu wanita Don sayang?" Jelita bertanya sambil terus memberi stimulasi pada partner kasurnya itu.


" Errr ..." Domino, hanya bisa mengerang merasakan sensasi yang begitu ia sukai. Hingga sesi puncak dari permainan mereka berakhir dengan lengkingan panjang dan keras.


"You're really, a hot Madame." ucap Domino dengan napas yang terengah-engah.

__ADS_1


" Kau juga pak tua perkasa." timpal Jelita sambil kembali mengenakan pakaiannya.


"Ku harap, dapat mengulangi malam indah ini bersamamu." Don, mengenakan celananya. Kemudian menghampiri Jelita dan merengkuh raga menawan itu.


"Aku pun, kau tau ... Seno sudah di buat cacat oleh mantan istrinya. Pria itu tidak akan bisa memuaskanku," tutur Jelita, sambil memainkan bulu lebat di dada bidang Domino.


"Jangan mulai lagi, kau akan kembali membangunkan nagaku," Don, menangkap tangan jahil Jelita, membuat wanita itu terkekeh geli.


"Kita partner sekarang." tawar Jelita.


" Deal!" Setelah menyetujuinya, Don kembali menyesap madu manis Jelita.


Kembali, mempreteli raga mulus itu hingga tanpa benang sehelai pun.


"Kau benar-benar si tua perkasa, Don." Mereka pun kembali bermain odong-odong sampai pada waktu yang tidak di tentukan.


_______


"Aku masih menyukai, permainannya. Sepertinya, dia juga dapat mencarikan agen selanjutnya." titah Don, pada sang hacker andalan.


"Siap Don." Jeff mengangguk pelan.


"Dark."


" Kirim penyusup ke dalam perusahaan, ARSA. Kirim orang terbaik mu." titah Don selanjutnya, pada tangan kanan kepercayaannya.


"Baik, Don. Segera laksanakan." jawabnya tegas.


"Arjuna, Arjuna ... Kau hanya seorang cucu yang beruntung. Menghabisimu bukan hal yang sulit untukku." Don, memutar kursi singgasananya. Menatap sinis pada sebuah pigura usang.


Ingatannya kembali pada masa itu, di mana dirinya harus kehilangan sosok wanita pribumi yang menjadi obsesinya selama bertahun-tahun.

__ADS_1


"Palmia Margeritha ... Mia ku." Mata Don menatap sinis pada figur wanita ayu dengan pakaian sederhana.


"Arjuna, seharusnya kita sudah menjadi kakak dan adik ipar sekarang. Jika saja kakek tua itu tidak membawa pergi kakakmu dari ku."


"Aku akan membuatmu merasakan apa itu patah hati, hingga kau membenci wanita sampai ke ubun-ubun."


"Akan ku buat kau gila sepertiku!" Pekik Don, di susul dengan gelegar tawanya yang menggema.


________


" Bagaimana keadaanmu?" tanya Joy pada Better yang baru saja masuk ke ruangan dimana ia di rawat pasca operasi.


"Seharusnya aku yang bertanya begitu." ucap Better, dengan gelengan kepala.


" Ah, ya. Yang kutau, kau pun terluka saat itu." kilah Joy, dengan keadaan lebih baik dari sebelumnya. Meski kepalanya masih dibebat oleh kain macam mummy.


"Aku hanya terkilir, di bawa ke mbah Pekok pun cukup," jelas Better. Dengan logat aslinya, karena hanya dengan Joy ia dapat berbicara non-formal.


"Jaga, Nona Susi baik-baik. Kau tau kan, gembong mafia bau tanah itu, sudah mulai terang-terangan memerangi kita." pesan Joy, yang masih menghawatirkan keadaan Susi setelah kejadian itu.


" Aku pun tau! Tak perlu kau ingatkan!" tukas Better, dengan nada tak senang.


" Dia adalah labuhan Bos kita, Tuan Arjuna. Setelah sekian lama, pria kering kaku itu tak tersentuh wanita. Jadi, buang jauh-jauh perasaanmu sebelum berkembang terlalu mekar," tutur Joy, menggebu, memperingati sahabatnya.


"Aku tau, Joy." Better mendengus tak suka, karena perasaannya tercium oleh Joy si penakluk wanita.


"Kau tidak akan bisa membayangkan, akan jadi sekejam apa Arjuna. Jika ia kehilangan wanitanya kali ini." Joy menatap tajam ke arah Better.


"Berisik kau Joy Kinder!" Pria dengan rambut di kuncir itu menyumpal apel yang sudah di kupas kedalam mulut Joy.


Bersambung>>>>

__ADS_1


__ADS_2