
๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ
๐๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช๐ฏ๐บ๐ข, ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ฃ๐ฆ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ข๐ฑ๐ข ๐ฉ๐ข๐ณ๐ช ๐ช๐ฏ๐ช, ๐๐ฆ๐ฏ๐ฐ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ถ๐ฏ๐ซ๐ถ๐ฏ๐จ๐ช๐ฌ๐ถ. ๐๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฏ๐ข ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ถ, ๐ฏ๐ข๐ฌ? ๐๐ข๐ฎ๐ช ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ช๐ฏ๐ฅ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฎ๐ถ, ๐ฎ๐ฆ๐ด๐ฌ๐ช๐ฑ๐ถ๐ฏ ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ด๐ฆ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ๐ฏ๐บ๐ข ๐ฃ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ๐ญ๐ข๐ฉ ... ๐ข๐ฉ๐ฉ, ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ข ๐ข๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ข๐ด๐ข ๐ญ๐ข๐ญ๐ถ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ถ๐ณ๐ถ๐ฌ.
๐๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ต๐ฆ๐ต๐ข๐ฑ๐ช, ๐ฃ๐ข๐จ๐ข๐ช๐ฎ๐ข๐ฏ๐ข๐ฑ๐ถ๐ฏ ... ๐ฉ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ฌ๐ช๐ต๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ด๐ช๐ด๐ข. ๐๐ข๐ฎ๐ช ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ฆ๐ด๐ข๐ญ ๐ต๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฏ๐ง๐ข๐ข๐ต๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ข๐ฏ๐บ๐ข, ๐ต๐ฆ๐ณ๐ฏ๐บ๐ข๐ต๐ข ๐ฉ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ฌ๐ข๐ถ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ-๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ข๐บ๐ข๐ฏ๐จ๐ช ๐ฎ๐ข๐ฎ๐ช. ๐๐ข๐ฉ๐ฌ๐ข๐ฏ, ๐ฌ๐ข๐ฌ๐ข๐ฌ๐ฎ๐ถ ... ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ญ๐ข๐ฉ๐ช๐ณ ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐ณ๐ข๐ฉ๐ช๐ฎ๐ฌ๐ถ, ๐ต๐ข๐ฌ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ฏ๐ข๐ฉ ๐ด๐ฆ๐ฅ๐ช๐ฌ๐ช๐ต๐ฑ๐ถ๐ฏ ๐ฑ๐ฆ๐ฅ๐ถ๐ญ๐ช ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข ๐ฎ๐ข๐ฎ๐ช. ๐๐ฆ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ต๐ข๐ณ๐ข, ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช๐ฎ๐ถ ๐ด๐ฆ๐ซ๐ข๐ฌ ๐ฌ๐ฆ๐ค๐ช๐ญ ๐ด๐ฆ๐ญ๐ข๐ญ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ถ๐ณ๐ถ๐ต๐ช ๐ข๐ฑ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ข๐ฎ๐ช ๐ช๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ๐ฌ๐ข๐ฏ. ๐๐ฆ๐ณ๐ฎ๐ข๐ด๐ถ๐ฌ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ข๐ฏ๐จ ๐ช๐ด๐ต๐ณ๐ช ๐ฎ๐ถ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ด๐ฆ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ๐ฏ๐บ๐ข ๐ฃ๐ข๐ช๐ฌ ๐ช๐ต๐ถ. ๐๐ฌ๐ถ ๐ต๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฃ๐ถ๐ต๐ข, ๐ฃ๐ถ๐ต๐ข ๐ฌ๐ข๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ข ๐ฉ๐ข๐ณ๐ต๐ข. ๐๐ฆ๐ฌ๐ข๐ณ๐ข๐ฏ๐จ, ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ต๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฌ๐ฆ๐ฉ๐ช๐ญ๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐จ๐ข๐ญ๐ข๐ฏ๐บ๐ข. ๐๐ข๐ฎ๐ช ๐ฉ๐ข๐ณ๐ข๐ฑ, ๐ฅ๐ข๐ฑ๐ข๐ต ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ช๐ฉ๐ข๐ต๐ฎ๐ถ ๐ญ๐ข๐จ๐ช, ๐ฏ๐ข๐ฌ. ๐๐ข๐ฎ๐ช ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ช๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ ๐ฎ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ, ๐ซ๐ช๐ฌ๐ข ๐ฃ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐ต๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ๐ฎ๐ถ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ถ๐ข๐ฑ๐ช.
Easy menatap nanar ke luar jendela kamar rumah sakit, dimana dirinya kini tengah duduk di atas kursi roda. Pikirannya menerawang, memikirkan sang putra. Karena, Seno tidak lagi muncul menjenguknya.
"Ayo, Bu. Makan sedikit saja," bujuk perawat yang berseragam hijau muda itu. Sudah sejak satu jam lalu, ia belum juga berhasil membujuk Easy.
"Sebenarnya anak anda kemana? Pihak rumah sakit juga menunggu konfirmasinya, sebenarnya Ibu sudah bisa pulang hari ini," jelas perawat wanita itu, seraya kembali mengulurkan sendok berisi bubur.
Easy, tak bergeming. Wanita itu tetap menutup mulutnya rapat sembari menggeram.
"Saya tau, Ibu hanya ingin di suapi dengan putra anda bukan? Baiklah, sembari menunggu beliau, bagaimana kalau anda makan dulu beberapa sendok? Nanti, putra anda akan sedih, jika melihat ibunya semakin kurus," bujuk perawat itu lagi.
Easy, malah semakin mengeram. Pertanda bahwa dirinya benar-benar menolak makan lagi hari ini.
"Baiklah, kalau ini memang mau anda. Terpaksa, kami akan memasukkan nutrisi dan makanan melalui selang." Perawat itu mendorong kursi roda Easy, lalu memanggil kawannya.
" Masih belum mau makan dia?" tanya nya pada saat masuk, yang kemudian di jawab dengan gelengan dan bahu yang terangkat.
"Ya sudah, naikkan saja. Biar nanti ku infus dia. Ini sudah hari ketiga, bisa-bisa nanti ngedrop lagi." Perawat yang berpakaian seragam dengan warna pink muda itu, mulai menyiapkan selang nutrisi.
Sementara itu, Easy yang sudah di letakkan di atas kasur hanya bisa mengeram dan meneteskan air matanya.
"Ibu jangan nangis, kita cuma mau ngasih anda makan. Kalau menunggu putra anda datang, bisa-bisa nanti anda ngedrop lagi,"
"Iya Bu, semoga hari ini putra anda datang ya. Karena, anda sudah bisa pulang lho. Ibu senang kan, akan kembali ke rumah?" tanya sang perawat dengan senyum ramahnya. Sementara tangannya terus bekerja memasang selang melalui hidung.
Easy, melengking sesaat ketika selang kecil itu masuk ke dalam hidung serta melewati tenggorokannya.
"Ibu sih, di suruh makan gak mau. Kan jadi kayak gini prosesnya. Gapapa ya, sakit dikit aja." Perawat itu terus bicara, membesarkan hati sang pasien. Karena memang itulah tugasnya.
"Permisi, Sus." Seorang perawat lagi datang. Kali ini dengan seragam berwarna hijau tua.
"Ya, Kak. Ada apa?"
"Apa ini kamar Ibu Easy?" tanya Suster yang baru masuk itu.
__ADS_1
'Iya, Kak betul,"
"Apakah, anaknya sudah datang hari ini?"
"Belum, Kak. Pasien juga lagi galau nungguin anaknya. Sampai gak mau makan dan minum obat. Kami pun kewalahan dan bingung," jelas perawat tersebut.
"Iya, Kak senior. Tuh, akhirnya kita kasih makan lewat selang." tunjuk perawat yang satu lagi, menjelaskan keadaan.
"Duh, bagaimana ini? Lalu, siapa yang akan bertanggung jawab dengan pasien?" tanya si perawat senior.
Namun, hanya di jawab dengan bahu yang terangkat oleh kedua teman sejawatnya itu.
"Haih, meriwehkan!" Kemudian ia pun berlalu keluar dari kamar tersebut.
"Sebenarnya, anak ibu ini kemana ya?" tanya salah satu perawat itu, dan mereka berdua pun saling pandang dengan bingung.
________
"Gimana cara aku keluar dari tempat ini? Mami, pasti sedang menungguku." Gumam Seno, matanya terus memindai keadaan sekitar.
Lalu, tiba-tiba ...
"Eh, kenapa ni tangan ama kaki lu sampe di tembak?" tanya salah satu pria berkulit gelap dengan kepala pelontos licin serta tato di tengkuknya.
Sambil bertanya, pria tersebut juga sembari menekan luka yang diperban. Membuat Seno meringis dan mengeram menahan perih.
"Lepasin tangan kotor lu! Sialan!" pekik Seno, kalau saja kakinya sudah dapat di pakai berdiri dengan benar. Sudah pasti ia dapat memukul pria jelek di hadapannya ini.
"Kamvret luh! Berani ngatain gua!"
Tekk!
"Akhh!"
Pria itu kembali menekan luka di kaki Seno, dengan menginjaknya. Membuat Seno berteriak kencang.
Trank. Trank. Traaannkkk ....!
"Jangan buat keributan! Atau kalian semua ku masukkan ke sel tikus, faham!" ancam sang sipir yang lantas membuat mereka yang di dalam sel bungkam.
__ADS_1
๐๐ข๐ฎ๐ฏ ๐ช๐ต! ๐๐ข๐ณ๐ข ๐ด๐ข๐ฎ๐ฑ๐ข๐ฉ ๐ช๐ฏ๐ช ๐ฑ๐ข๐ด๐ต๐ช ๐ช๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ช๐ฏ๐ฅ๐ข๐ด๐ฌ๐ถ.๐๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฌ๐ช๐ฏ ๐ฃ๐ถ๐ณ๐ถ๐ฌ ๐ด๐ข๐ซ๐ข ๐ฏ๐ข๐ด๐ช๐ฃ๐ฌ๐ถ!
Seno mengatur napasnya yang tersengal-sengal. Karena lukanya yang diinjak tadi kembali mengeluarkan darah.
๐๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ป๐ฆ๐ฌ! ๐๐ฌ๐ถ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ฏ๐ถ๐ฉ๐ฎ๐ถ!
Seno menatap tajam pria berkulit hitam di hadapannya, sembari memaki di dalam hati.
"Tunggu sipir itu pergi makan siang, baru kita bermain-main," bisik salah satu pria cungkring bertato di hampir seluruh tubuhnya.
"Hem, baiklah," Pria berkulit hitam itu pun menyeringai buas. Kepalan tangannya beradu satu sama lain.
๐๐ฑ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฑ๐ข๐ณ๐ข ๐ด๐ข๐ฎ๐ฑ๐ข๐ฉ ๐ช๐ต๐ถ ๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ค๐ข๐ฏ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ? ๐๐ฑ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ถ๐ฏ๐จ๐จ๐ถ ๐ฑ๐ข๐ณ๐ข ๐ด๐ช๐ฑ๐ช๐ณ ๐ช๐ต๐ถ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐จ๐ช? ๐๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ! ๐๐ฌ๐ถ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฎ๐ข๐ถ ๐ฎ๐ข๐ต๐ช ๐ฅ๐ช ๐ฑ๐ฆ๐ฏ๐ซ๐ข๐ณ๐ข ๐ฃ๐ถ๐ด๐ถ๐ฌ ๐ช๐ฏ๐ช!
"Sipir! Sipir!" teriak Seno kencang, memanggil para penjaga penjara. Dirinya benar-benar panik melihat gelagat dari para penghuni baru di selnya.
"Kenapa ribut terus!"
"Kau ini, dengan keadaanmu itu, menyusahkan orang terus!" Sipir itu malah membentak Seno dengan kasar.
"Semua ini kan ulah komandan mu! Salahkan saja dia! Sekarang, bantu aku ke kamar mandi!" Seno balik membentak Sipir penjara itu.
"Sialan! Lu pikir lu siapa! Kencing aja di situ! Hahaha ...!" tawanya, menolak perintah dari napi songong seperti Seno. Karena selama di penjara tak pernah sekalipun Seno berkelakuan baik, lagaknya selalu saja arogan seperti dulu. Tak heran jika, para Sipir penjara itu membenci dirinya.
"Hentikan tawa busuk mu!" Seno berusaha bangkit berdiri meski susah payah. Kakinya masih pincang sebelah, dan kembali ngilu karena diinjak sesaat tadi.
"Setidaknya, jangan gabungkan aku dengan manusia-manusia sampah ini. Biarkan aku sendirian. Maka, aku tidak akan merepotkan kalian lagi." Seno meminta, selnya di pisahkan. Matanya sekilas melirik ketiga orang napi yang mendelik mengancam pada dirinya.
"Heh! Lu pikir ini penjara moyang lu! Bisa mesen kamar!" Hahaha ...!" tawanya lagi, bahkan kini sembari memegangi perut saking gelinya.
"Ini permintaan seorang warga negara, yang menuntut hak asasi serta keamanan pada dirinya!" Kali ini Seno berteriak, karena ia geram terus saja ditertawakan sejak tadi.
"Tidak ada hak asasi manusia di sini, kau salah tempat, Bung!"
Trannkkk!!
Sipir itu pun berlalu, tanpa memperdulikan teriakan Seno berikutnya.
Bersambung>>>
__ADS_1