Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Dapet temen di sel.(Seno)


__ADS_3

๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ


๐˜š๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข, ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช, ๐˜š๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฐ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ. ๐˜’๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ, ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ? ๐˜”๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฎ๐˜ถ, ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ... ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฉ, ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด๐˜ข ๐˜ญ๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฌ.


๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช, ๐˜ฃ๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ ... ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ช๐˜ด๐˜ข. ๐˜”๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ข๐˜ญ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ง๐˜ข๐˜ข๐˜ต๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข, ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ต๐˜ข ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ-๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช. ๐˜‰๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฎ๐˜ถ ... ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ช๐˜ณ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ฌ๐˜ถ, ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช. ๐˜š๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ณ๐˜ข, ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ค๐˜ช๐˜ญ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ต๐˜ช ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ. ๐˜›๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ช๐˜ด๐˜ต๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ. ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ต๐˜ข, ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ต๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ต๐˜ข. ๐˜š๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜จ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข. ๐˜”๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฑ, ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช, ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ. ๐˜”๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ซ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช.


Easy menatap nanar ke luar jendela kamar rumah sakit, dimana dirinya kini tengah duduk di atas kursi roda. Pikirannya menerawang, memikirkan sang putra. Karena, Seno tidak lagi muncul menjenguknya.


"Ayo, Bu. Makan sedikit saja," bujuk perawat yang berseragam hijau muda itu. Sudah sejak satu jam lalu, ia belum juga berhasil membujuk Easy.


"Sebenarnya anak anda kemana? Pihak rumah sakit juga menunggu konfirmasinya, sebenarnya Ibu sudah bisa pulang hari ini," jelas perawat wanita itu, seraya kembali mengulurkan sendok berisi bubur.


Easy, tak bergeming. Wanita itu tetap menutup mulutnya rapat sembari menggeram.


"Saya tau, Ibu hanya ingin di suapi dengan putra anda bukan? Baiklah, sembari menunggu beliau, bagaimana kalau anda makan dulu beberapa sendok? Nanti, putra anda akan sedih, jika melihat ibunya semakin kurus," bujuk perawat itu lagi.


Easy, malah semakin mengeram. Pertanda bahwa dirinya benar-benar menolak makan lagi hari ini.


"Baiklah, kalau ini memang mau anda. Terpaksa, kami akan memasukkan nutrisi dan makanan melalui selang." Perawat itu mendorong kursi roda Easy, lalu memanggil kawannya.


" Masih belum mau makan dia?" tanya nya pada saat masuk, yang kemudian di jawab dengan gelengan dan bahu yang terangkat.


"Ya sudah, naikkan saja. Biar nanti ku infus dia. Ini sudah hari ketiga, bisa-bisa nanti ngedrop lagi." Perawat yang berpakaian seragam dengan warna pink muda itu, mulai menyiapkan selang nutrisi.


Sementara itu, Easy yang sudah di letakkan di atas kasur hanya bisa mengeram dan meneteskan air matanya.


"Ibu jangan nangis, kita cuma mau ngasih anda makan. Kalau menunggu putra anda datang, bisa-bisa nanti anda ngedrop lagi,"


"Iya Bu, semoga hari ini putra anda datang ya. Karena, anda sudah bisa pulang lho. Ibu senang kan, akan kembali ke rumah?" tanya sang perawat dengan senyum ramahnya. Sementara tangannya terus bekerja memasang selang melalui hidung.


Easy, melengking sesaat ketika selang kecil itu masuk ke dalam hidung serta melewati tenggorokannya.


"Ibu sih, di suruh makan gak mau. Kan jadi kayak gini prosesnya. Gapapa ya, sakit dikit aja." Perawat itu terus bicara, membesarkan hati sang pasien. Karena memang itulah tugasnya.


"Permisi, Sus." Seorang perawat lagi datang. Kali ini dengan seragam berwarna hijau tua.


"Ya, Kak. Ada apa?"


"Apa ini kamar Ibu Easy?" tanya Suster yang baru masuk itu.

__ADS_1


'Iya, Kak betul,"


"Apakah, anaknya sudah datang hari ini?"


"Belum, Kak. Pasien juga lagi galau nungguin anaknya. Sampai gak mau makan dan minum obat. Kami pun kewalahan dan bingung," jelas perawat tersebut.


"Iya, Kak senior. Tuh, akhirnya kita kasih makan lewat selang." tunjuk perawat yang satu lagi, menjelaskan keadaan.


"Duh, bagaimana ini? Lalu, siapa yang akan bertanggung jawab dengan pasien?" tanya si perawat senior.


Namun, hanya di jawab dengan bahu yang terangkat oleh kedua teman sejawatnya itu.


"Haih, meriwehkan!" Kemudian ia pun berlalu keluar dari kamar tersebut.


"Sebenarnya, anak ibu ini kemana ya?" tanya salah satu perawat itu, dan mereka berdua pun saling pandang dengan bingung.


________


"Gimana cara aku keluar dari tempat ini? Mami, pasti sedang menungguku." Gumam Seno, matanya terus memindai keadaan sekitar.


Lalu, tiba-tiba ...


"Eh, kenapa ni tangan ama kaki lu sampe di tembak?" tanya salah satu pria berkulit gelap dengan kepala pelontos licin serta tato di tengkuknya.


Sambil bertanya, pria tersebut juga sembari menekan luka yang diperban. Membuat Seno meringis dan mengeram menahan perih.


"Lepasin tangan kotor lu! Sialan!" pekik Seno, kalau saja kakinya sudah dapat di pakai berdiri dengan benar. Sudah pasti ia dapat memukul pria jelek di hadapannya ini.


"Kamvret luh! Berani ngatain gua!"


Tekk!


"Akhh!"


Pria itu kembali menekan luka di kaki Seno, dengan menginjaknya. Membuat Seno berteriak kencang.


Trank. Trank. Traaannkkk ....!


"Jangan buat keributan! Atau kalian semua ku masukkan ke sel tikus, faham!" ancam sang sipir yang lantas membuat mereka yang di dalam sel bungkam.

__ADS_1


๐˜‹๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ต! ๐˜—๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ด๐˜ต๐˜ช ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ด๐˜ฌ๐˜ถ.๐˜š๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฃ๐˜ฌ๐˜ถ!


Seno mengatur napasnya yang tersengal-sengal. Karena lukanya yang diinjak tadi kembali mengeluarkan darah.


๐˜‰๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ป๐˜ฆ๐˜ฌ! ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ฎ๐˜ถ!


Seno menatap tajam pria berkulit hitam di hadapannya, sembari memaki di dalam hati.


"Tunggu sipir itu pergi makan siang, baru kita bermain-main," bisik salah satu pria cungkring bertato di hampir seluruh tubuhnya.


"Hem, baiklah," Pria berkulit hitam itu pun menyeringai buas. Kepalan tangannya beradu satu sama lain.


๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ? ๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜ด๐˜ช๐˜ฑ๐˜ช๐˜ณ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜จ๐˜ช? ๐˜›๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ! ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช!


"Sipir! Sipir!" teriak Seno kencang, memanggil para penjaga penjara. Dirinya benar-benar panik melihat gelagat dari para penghuni baru di selnya.


"Kenapa ribut terus!"


"Kau ini, dengan keadaanmu itu, menyusahkan orang terus!" Sipir itu malah membentak Seno dengan kasar.


"Semua ini kan ulah komandan mu! Salahkan saja dia! Sekarang, bantu aku ke kamar mandi!" Seno balik membentak Sipir penjara itu.


"Sialan! Lu pikir lu siapa! Kencing aja di situ! Hahaha ...!" tawanya, menolak perintah dari napi songong seperti Seno. Karena selama di penjara tak pernah sekalipun Seno berkelakuan baik, lagaknya selalu saja arogan seperti dulu. Tak heran jika, para Sipir penjara itu membenci dirinya.


"Hentikan tawa busuk mu!" Seno berusaha bangkit berdiri meski susah payah. Kakinya masih pincang sebelah, dan kembali ngilu karena diinjak sesaat tadi.


"Setidaknya, jangan gabungkan aku dengan manusia-manusia sampah ini. Biarkan aku sendirian. Maka, aku tidak akan merepotkan kalian lagi." Seno meminta, selnya di pisahkan. Matanya sekilas melirik ketiga orang napi yang mendelik mengancam pada dirinya.


"Heh! Lu pikir ini penjara moyang lu! Bisa mesen kamar!" Hahaha ...!" tawanya lagi, bahkan kini sembari memegangi perut saking gelinya.


"Ini permintaan seorang warga negara, yang menuntut hak asasi serta keamanan pada dirinya!" Kali ini Seno berteriak, karena ia geram terus saja ditertawakan sejak tadi.


"Tidak ada hak asasi manusia di sini, kau salah tempat, Bung!"


Trannkkk!!


Sipir itu pun berlalu, tanpa memperdulikan teriakan Seno berikutnya.


Bersambung>>>

__ADS_1


__ADS_2