Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Bertemu Dokter Obygn.


__ADS_3

🔥🔥🔥🔥🔥


Perkenalkan Net, dialah calon istriku. Pasti, asisten Joy sudah menjelaskan padamu, akan maksud dari kedatangan kami hari ini." tutur Arjuna, sambil memperhatikan ekspresi wanita di sebelahnya.


" Ah, ya asisten tampan itu sudah menjelaskan padaku. Bahwa kalian sebentar lagi akan menikah," sahutnya dengan senyum yang mencipta lesung di kedua pipinya.


"Halo, Nona. Aku adalah Netta, teman kuliah Bang Juna." sapa Dokter wanita itu mengulurkan tangannya ke arah Susi, dengan senyum yang belum pudar dari wajah putihnya.


"Ah, ya ... Halo, salam kenal Dokter." sambut Susi ramah. Meskipun ia agak terkesiap sedikit karena sempat terbengong tadi.


(Jadi, mereka adalah kawan lama ya.) batin Susi, merasa tergelitik sesuatu. Namun, ia mencoba abai. Karena Arjuna sudah membawanya sejauh ini, maka ia haruslah yakin.


"Jadi, anda Dokter Spesialis Obygn? Masih muda sekali, biasanya ahli kandungan itu sudah berumur," puji Susi berusaha membangun suasana.


Dokter Netta tertawa kecil," Usia ku dengan Bang Juna hanya selisih dua tahun, apanya yang muda?" lagi-lagi Netta tertawa renyah.


"Kau masih seperti dulu, Net. Bagaimana wanita ceria sepertimu memilih bidang yang serius seperti ini," Arjuna menggelengkan kepala pelan.


"Aku bisa mengkondisikan, Bang. Adakalanya kita santai, adakalanya serius dan bersikap semestinya," jelas Netta.


(Ar, baru kali ini aku melihatnya berbicara panjang pada seseorang.) Susi terlihat menghela napasnya pelan.

__ADS_1


"Ah, kenapa jadi mengobrol terus. Mari masuk." ajaknya pada kedua pasiennya itu.


"Maaf ya, Nona. Kami ini sudah lama tidak mengobrol, bertemu saja jarang sekali." jelas Netta, berharap wanita cantik di hadapannya ini tidak salah faham akan sikapnya tadi.


"Aku mengerti," jawab Susi singkat. Mereka kini sudah berada di ruangan pemeriksaan.


"Oke. Saya akan mulai sesi tanya jawab antar pasien ya, santai saja. Anggap saya ini temen baikmu," ujar Netta, dengan cara bicara yang lebih serius ketimbang tadi.


"Baiklah, Dokter. Saya siap menjawab apapun yang ingin anda ketahui," sahut Susi, berusaha menguasai degup jantungnya sendiri. Bagaimanapun, dirinya harus flashback ke masa menyakitkan itu. Demi, jalannya pemeriksaan yang akan menentukan status keadaannya.


"Kalau boleh saya tau, kapan kejadian keguguran itu?" tanya Dokter Netta.


Sebelum menjawab, Susi menarik napasnya terlebih dahulu.


"Kejadiannya tahun lalu, bahkan saya masih ingat akan rasa sakitnya," jawab Susi dengan pandangan mata nanar yang menatap kesembarang arah.


" Sayang, Nona tidak memiliki rekam medisnya, maka saya dan tim akan memeriksa dari awal lagi. Apa anda keberatan?" tanya Netta, ikut merasakan perihnya luka Susi yang terpaksa ia kuak demi pengobatan.


" Saya siap Dokter, saya berharap masih ada harapan baik, meskipun itu sangat tipis." ucap Susi, menghadap ke arah Arjuna. Ia tau, pria itu berusaha memberi support untuknya. Menenangkan hatinya, dengan senyum yang tak pernah ia berikan untuk orang lain selain kepadanya.


(Ternyata masih ada lelaki baik seperti mu, Ar. Membuatku semakin merasa tak pantas untukmu.) Susi merasakan nyeri ketika memikirkan apa yang ada di hatinya.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian,


"Nona, menurut penjelasan dari anda. Kami menemukan kejanggalan dari hasil pemeriksaan tim kami." Netta, sekilas melirik ke arah Arjuna.


"Apa masih ada yang belum anda jelaskan pada saya? Atau, apa perlu Bang Juna keluar dulu biar kita bisa bebas bicara, bagaimana?" saran Netta yang merasa wanita kawannya ini masih sungkan. Menceritakan detil permasalahannya, yang bagi sebagian wanita merupakan aib dari masa lalu atau aib rumah tangga terdahulu. Bagaimanapun, Netta harus mengetahui keseluruhan detail dari akar permasalahannya.


" Biar Ar tetap disini, aku tidak ingin menutupi apapun darinya." Susi dan Arjuna saling menatap dalam.


"Katakan semuanya pada Netta, apapun itu. Karena apapun yang terjadi dulu dan nanti, tidak akan mengubah niat dan perasaanku padamu," Arjuna mengecup punggung tangan yang sedari tadi digenggamnya. Membuat Susi ingin menangis melihat kesungguhan pria ini padanya.


Tak terkecuali Netta, tanpa ada yang menyadari. Ia tengah mengusap ujung matanya yang basah.


" Ku pikir, adegan romantis itu cuma ada di drama. Tenyata semua itu nyata kini ada di hadapanku. Cinta sejati, cinta yang kuat. Ku rasa tidak akan ada yang dapat menggoyahkan cinta di hati kalian." Netta berkata sambil sesekali mengusap matanya.


Hatinya trenyuh dan tersentuh melihat bagaimana sikap kawan kuliahnya dulu. Pria yang mau menerima keadaan wanitanya, dan mencintai dengan tulus apa adanya.


Bagaimana hasil pemeriksaan Susi ya?


Apakah kerusakan pada rahimnya masih bisa diobati atau sudah fatal?


Tunggu kelanjutan kisah mereka ya gais ...😉

__ADS_1


Bersambung>>>>


__ADS_2