
🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥
"Jadi, nanti kita akan tinggal di negara K selama pengobatanku?" tanya Susi di sela kegiatannya melayani Arjuna makan.
"Hemm ... Rekomendasi Netta pastilah dokter yang terbaik. Lagipula, aku memiliki sahabat di sana. Mungkin, aku akan menyewa apartemennya sementara kita di sana.
"Lalu, bagaimana dengan perusahaan mu di sini. Apa tidak mengapa jika di tinggal?"
" Tidak usah pikirkan itu, aku punya anak buah yang hebat." sela Arjuna.
Susi menghela napasnya berat.
"Aku senang bahwa hasil pemeriksaan, menunjukkan harapan baik itu."
"Kenyataan bahwa aku tidaklah cacat, membuat bahu ini serasa lebih ringan."
"Ya, kau bukanlah seperti apa yang mereka katakan. Karena itu janganlah lagi mengecilkan dirimu sendiri." potong Arjuna.
"Maaf, kalau aku merepotkan mu." ucapnya sembari menunduk.
" Berhenti meminta maaf, kau tanggung jawabku sekarang." sela Arjuna untuk kesekian kalinya. Ingin rasanya ia membungkam bibir itu. Jika terus saja mengeluarkan kata-kata seakan dirinya adalah beban bagi orang lain.
Begitulah Susi, dirinya selalu menghargai kebaikan orang lain padanya. Sedangkan jasa dan kebaikannya pada orang lain tak pernah ia ingat atau ia perhitungkan.
Mereka berdua pun menghentikan obrolan, karena kini lidah dan gigi mereka tengah bekerja sama dalam mengunyah makanan.
Hanya suara dentingan antara sendok dan piring yang terdengar beradu. Mereka berdua menikmati hidangan lezat hasil masakan Susi dengan khidmat.
(Kenapa kau terus merasa dirimu sebagai beban dari orang lain, tidakkah kau tau? Bahwa kau telah melakukan hal yang luar biasa untukku, membawa perubahan pada hidupku. Hal yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Harapan yang tak pernah berani ku impikan lagi sejak saat itu. Kenapa? Kau tidak sadar bahwa kau telah mendatangkan banyak kebaikan untuk sekitarmu.) batin Arjuna, yang di sela makannya sesekali mencuri pandang pada wajah menggemaskan di hadapannya ini.
Kalau bukan pria seperti Arjuna, yang sejak dulu tidak pernah tergoda oleh wanita. Mungkin, Susi sudah di lahap sampai habis.
__ADS_1
Meskipun, akhir-akhir ini. Arjuna berusaha mati-matian menahan keinginannya.
"Mumpung akhir pekan, aku akan mengajak mu keluar. Bersiaplah." titah Arjuna, setelah menyelesaikan kegiatan makan malam mereka.
Belum sempat Susi menjawab, pria itu sudah berlalu masuk ke kamar.
Kemudian, Arjuna berdiri di depan balkon. Merogoh ponsel yang berada di dalam saku celana santainya.
"Black. Bersiaplah, kami akan keluar setengah jam lagi." titahnya, pada kedua orang pengawal berbadan besar. Dimana mereka berdua akan selalu mengikuti kemanapun Arjuna dan Susi pergi.
"Baik, Bos!" jawab pria yang dipanggil Black, sesuai dengan warna kulitnya yang legam. Membuat wajah sangar pria itu semakin menyeramkan, sehingga sangat cocok untuk di jadikan algojo sekalipun.
Arjuna benar-benar membawa Susi keluar. Susi mengeratkan coatnya, karena udara malam itu berembus lumayan kencang dan dingin.
"Kenapa kau mengajakku kesini?" tanya Susi dengan binar mata yang berkilau.
"Aku sengaja, mungkin kau ingin nostalgia ketika dengan kawan-kawanmu dulu," jawab Arjuna.
"Ah, i-itu ...," Arjuna kikuk dan salah tingkah, menggaruk rambut dan memutar bola mata ke segala-arah.
(Mati aku ... bagaimana bisa keceplosan begini!) batin Arjuna kacau.
"Kau aneh, Ar."
(Sepertinya ada yang Arjuna sembunyikan dariku, tapi apa itu? Bagaimana dirinya bisa tau, kalau aku sering kesini? Lihatkah, gelagatnya aneh sekali, mencurigakan!) Susi terus menelisik pria di hadapannya.
" Ah, ya. Vanish pernah menceritakannya pada ku." elak Arjuna, dengan raut wajah tegang. Pria itu,benar-benar payah dalam berkamuflase.
"Vanish? Bercerita padamu?" heran Susi, semakin mendekatkan wajahnya. Berusaha membaca arti dari air muka itu.
" Ya, kau berpikir kalau aku bohong padamu? Sungguh tega!" Arjuna merajuk, mencoba mengalihkan isue.
__ADS_1
"Ya, sepertinya begitu. Lagi pula, sejak kapan kau mengobrol dengan Vanish?Menegur dia pun tak." cecar Susi, semakin menyudutkan Arjuna kepojok.
"Itu ..., ya ... apa perlu aku laporan padamu jika aku mengobrol dengannya," dalih Arjuna, terus saja berusaha menutupi kebohongannya dengan kebohongan yang lain.
" Aih ..., sudahlah. Ar, semakin kau berkelit, makan semakin terlihat bila kau hanya mengarang cerita," ketus Susi. Menembak tepat pada sasaran.
" Kau lupa ya, kalau Vanish dan diriku itu, bagaikan kancing dan baju. Selalu bersama bagaikan sendal jepit. Jadi, tidak akan ada satu hal sekecil apapun yang tidak akan di laporkan nya kepadaku." Susi menampakkan wajah gemas nya pada Arjuna. Terlihat dari gaya bicaranya yang terus merapatkan gigi.
" Apalagi, dia nge-fans banget sama kamu. Kau sapa pun dia pasti pingsan. Apalagi kau ajak bicara, bisa semaput tiga hari dia," Susi pun tergelak dengan kata-kata terakhirnya.
Sementara di suatu tempat di waktu yang sama.
"Uhuukk ... Uhuukk!!"
" Eekkkhh ..., kenapa aku tiba-tiba tersedak?" Seorang gadis dengan rambut yang di gerai bangun dari atas kasur busanya. Ia berlari kearah kulkas, mengambil air dalam botol dan menenggak langsung dari wadah itu.
" Haaa ...,"
" Siapa sih yang lagi ngomongin gue, lagi enak-enak baca novel online gratis malah keselek." gumamnya bingung, lalu gadis mungil yang hanya mengenakan kaus longgar dan celana pendek itu, kembali menyambar ponselnya.
🐾Hayyo lho, Arjuna ketauan deh ya bo'ongnya.
Kasian tuh, yang di omongin keselek kan🤣
Ngemeng-ngemeng, itu Arjuna ngajak Susi kemana ya? Ada yang bisa nebak gak readers ...
Pernah lho di bab awal-awal, yang mereka perginya malam dan rame-rame.
Jawab di kolom komentar ya ...😉
Bersambung>>>>
__ADS_1