
๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ
"Pagi semua!" sapa Mery yang berdandan dengan gaya casualnya di pagi pertama mereka.
"Pagi Nona Mery," jawab Milo dengan senyum secerah sang surya yang baru terbit. Namun mendadak tenggelam lagi karena mendapat tatapan tajam menusuk bak ujung belati yang baru di asah oleh tukang jagal.
"Pagi Pak." Mery bermaksud menyapa Better si rekan kerjanya yang asik meneguk secangkir susu hangat.
"Ya pagi. Selesaikan sarapan mu dengan cepat, karena kita akan meninjau lokasi." Better menyeruput sisa minumannya lalu ia berdiri dengan ponsel yang menempel di telinganya.
Better menyingkir dari meja makan menuju ujung restoran. Pria itu bersandar di pagar dengan sesekali tersenyum saat bicara dengan orang di seberang teleponnya.
๐๐ช๐ฉ, ๐ฃ๐ข๐ฉ๐ข๐จ๐ช๐ข ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ข๐ญ๐ช. ๐๐ข๐ถ ๐ฎ๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ข๐ญ๐ช ๐ต๐ฆ๐ณ๐ด๐ฆ๐ฏ๐บ๐ถ๐ฎ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ต๐ข๐ธ๐ข ๐ฌ๐ฆ๐ต๐ช๐ฌ๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฃ๐ช๐ค๐ข๐ณ๐ข ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข. ๐๐ฆ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ๐ฏ๐บ๐ข ๐ด๐ช๐ข๐ฑ๐ข ๐ธ๐ข๐ฏ๐ช๐ต๐ข ๐ช๐ต๐ถ? ๐๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช ๐ข๐ฑ๐ข ๐ฅ๐ช๐ข? ๐๐ข๐จ๐ข๐ช๐ฎ๐ข๐ฏ๐ข ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ช๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ถ๐ฃ๐ข๐ฉ ๐๐ฐ๐บ ๐ฉ๐ช๐ฏ๐จ๐จ๐ข ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ข๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ช๐ฏ๐ช. Batin Mery, mulai menelisik.
"Hei kau. Sebenarnya siapa sih yang sedang di hubungi oleh bos-mu itu?" tanya Mery dengan cara bicaranya yang arogan.
"Nona bicara sama saya?" tunjuk Milo ke arah hidungnya sendiri.
"Ya iyalah sama kamu! Memangnya ada orang lain lagi di meja makan ini!" sarkas Mery semakin ketus.
"Ya kan, Nona tidak menyebut nama saya," kilah Milo asal. Ia tak mau sopan lagi dengan wanita yang angkuh seperti Mery.
"Gak penting! Sudah jawab saja!" hardik Mery kemudian.
"Jawab apa?" Milo justru balik bertanya, sengaja mengulur waktu demi mengerjai rekan bisnis bos-nya ini.
"Kau ini! Baiklah, aku memberimu harga yang mahal demi sebuah informasi akurat. Bahkan, aku bisa memberi apapun yang kau inginkan, asal ....," Mery tidak menyelesaikan kata-katanya. Karena Milo menatapnya dengan tatapan penuh arti.
"Aku tidak butuh uang Nona. Jujur aku tertarik padamu sejak pertama kita bertemu. Aku hanya ingin, kau pasti mengerti kan?" ucap Milo dengan senyum miringnya. Ia menoleh demi menatap wanita muda yang begitu segar di pandang mata. Kebetulan Mery duduk di sebelahnya.
Mendapat tatapan menuntut dari Milo, seketika Mery paham. Ia pun mengibas rambut panjang coklatnya. Hingga menampilkan leher jenjangnya yang putih mulus berhiaskan sebuah tato kecil bergambar little poni ungu.
Seketika Milo menelan ludahnya, buru-buru ia meneguk sisa minumannya demi membasahi tenggorokannya yang tiba-tiba kering.
"Pria manapun tidak akan dapat menolak pesonaku. Apalagi hanya kacung macam dirimu. Tapi, jika kau membantuku hingga misi ini berhasil. Maka, aku akan mengijinkan mu untuk mencicipi bagian tubuhku yang mau inginkan." Mery tersenyum smirk ke arah Milo, di sambut dengan sebuah senyum tipis joker yang menghias wajah sang asisten nakal itu.
__ADS_1
๐๐ข๐ด๐ข๐ณ ๐ธ๐ข๐ฏ๐ช๐ต๐ข ๐ซ๐ข๐ญ๐ข๐ฏ๐จ๐ด๐ฆ. ๐๐ฌ๐ถ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฎ๐ถ ๐ฉ๐ข๐ฃ๐ช๐ด, ๐ซ๐ช๐ฌ๐ข ๐ฏ๐ข๐ฏ๐ต๐ช ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ข๐ฅ๐ข ๐ฅ๐ช ๐ฃ๐ข๐ธ๐ข๐ฉ ๐ฌ๐ถ๐ข๐ด๐ข๐ฌ๐ถ. Batin Milo dengan segala pikiran liarnya.
Ia tak dapat dapat berhenti berpikiran nakal dengan cara Mery berpakaian. Dimana wanita itu selalu mengenakan style yang seksi dan menggoda. Meskipun casual tapi begitu pas di badan. Bagaimana tidak, kaus yang membentuk bakpao kembarnya yang besar.
Bahkan jika Mery mengangkat tangannya ke atas maka pusarnya yang berhiaskan tindik berlian akan terlihat jelas menggoda. Belum lagi celana denim nya yang press body, sehingga mencetak jelas bokongnya yang bulat sempurna.
"Kita akan bicarakan ini lagi nanti. Sepertinya bos sudah memberi kode untuk segera menuju lokasi," ujar Milo dengan senyum nakalnya. Ia berani sekarang, karena tanggapannya tentang bagaimana Mery ternyata benar.
"Baiklah, hubungi saja aku." Mery memberikan secarik kartu pada Milo. Kemudian segera diambil olehnya lalu di masukkan kedalam saku oleh asisten dari Better tersebut.
________
"Emak aja yang nginep kesini ya. Soalnya Ninis gak boleh kemana-mana sama suami ganteng Mak."
๐๐ข๐ญ๐ฐ ๐๐ฎ๐ข๐ฌ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฌ๐ฆ๐ด๐ข๐ฏ๐ข ๐ต๐ฆ๐ณ๐ถ๐ด ๐จ๐ช๐ฎ๐ข๐ฏ๐ข ๐ฃ๐ข๐ฑ๐ข๐ฌ๐ฎ๐ถ ๐๐ช๐ด? ๐๐ช๐ด๐ด ๐ซ๐ถ๐จ๐ข ๐ญ๐ข๐จ๐ช ๐ต๐ณ๐บ ๐ฐ๐ถ๐ต, ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ๐ฌ๐ข๐ต ๐ญ๐ข๐จ๐ช ๐ฑ๐ถ๐ญ๐ข๐ฏ๐จ ๐ด๐ฐ๐ณ๐ฆ.
"Nanti Ninis tanya ke suami ganteng dulu, boleh gak kalo kerumah Emak naik taksi online."
๐ ๐ข ๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ช๐ซ๐ช๐ฏ ๐ข๐ซ๐ข ๐ฅ๐ถ๐ญ๐ถ ๐ด๐ข๐ฎ๐ข ๐ด๐ถ๐ข๐ฎ๐ช ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ถ. ๐๐ข๐จ๐ข๐ช๐ฎ๐ข๐ฏ๐ข ๐ฑ๐ถ๐ฏ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ช๐ฏ๐ต๐ข๐ฉ๐ฏ๐บ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฉ๐ข๐ณ๐ถ๐ด ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ถ ๐ต๐ข๐ข๐ต๐ช.
๐๐ข๐ฏ๐ต๐ช ๐๐ฎ๐ข๐ฌ ๐ฌ๐ช๐ณ๐ช๐ฎ๐ช๐ฏ ๐ข๐ซ๐ข ๐ฑ๐ข๐ฌ๐ฆ ๐ซ๐ข๐ด๐ข ๐ฐ๐ซ๐ฆ๐ฌ ๐ฐ๐ฏ๐ญ๐ช๐ฏ๐ฆ.
"Ya ampun, Mak. Kejauhan. Ninis juga maunya disuapin sama Emak. Kayak pas Ninis mau berangkat PKL pagi-pagi."
๐๐ข๐ฎ๐ถ ๐ฌ๐ข๐บ๐ข๐ฌ ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฏ๐จ๐ช๐ฅ๐ข๐ฎ ๐ข๐ซ๐ข ๐ฅ๐ฆ๐ฉ ๐๐ช๐ด. ๐๐ฏ๐ฆ๐ฉ ๐ข๐ซ๐ข ๐ฎ๐ข๐ถ๐ฏ๐บ๐ข. ๐๐ฉ, ๐ซ๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ-๐ซ๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ...?
๐๐ฉ, ๐๐ช๐ด. ๐๐ข๐ญ๐ฐ ... ๐๐ช๐ด. ๐๐ฉ๐ฐ ๐ฌ๐ฐ๐ฌ ๐ฅ๐ช๐ฆ๐ฎ ๐ด๐ช๐ฉ!
Tuuuttt ....
Sontak Vanish reflek memutuskan panggilannya secara sepihak, karena ia kaget akan spekulasi dari wanita yang telah melahirkannya itu.
"Apa iya, semburannya ๐๐ถ๐จ๐ข๐ฏ berhasil setelah lembur sehari tiga kali? Apa iya Ninis hamil lagi secepat ini?" Vanish menyentuh perutnya yang masih rata dengan seulas senyum penuh harap. Tak ada yang tak mungkin bukan?
"Nanti aja cek-nya setelah emak dateng. Jika sudah pasti baru Ninis kabarin ๐๐ถ๐จ๐ข๐ฏ. Sekarang, aku gak mau ganggu dengan menghubunginya terlalu sering." Gumam Vanish dengan raut wajah penuh semangat.
__ADS_1
_______
"Seperti lahan yang ini lebih cocok dan aman Bos," seru Milo yang kini berdiri di atas batu besar sambil melihat sekeliling area di belakang kebun coklat tersebut.
"Atur pertemuan dengan pemilik tanah. Kerja cepat agar selesainya juga cepat!" titah Better. Entah kenapa hatinya begitu ingin berada di samping istrinya saat ini. Senyum dan tawa Vanish menari-nari di wajahnya sejak tadi.
Apalagi gestur dari Mery yang justru semakin membuatnya muak dan ingin segera menyelesaikan pekerjaannya saat ini. Wanita itu terus mengambil kesempatan untuk mendekatinya. Selama dua hari ini, Better sudah cukup menahan diri. Bagaimanapun, nilai kerja sama dengan perusahaan Candy Land akan memberi keuntungan besar pada perusahaan coklat yang sudah dirintisnya dari nol.
"Menurutku. Jika kita bisa menekan warga sedikit. Pasti perusahaan dapat memperoleh harga yang lebih murah. Tentu saja hal itu dapat memberi keuntungan yang lebih besar pada perusahaan. Bukankah begitu?" saran Mery penuh percaya diri. Seakan ia baru saja mengeluarkan ide cemerlang yang kemungkinan membuat Better terkesan padanya.
" Bukan gayaku mendapatkan sesuatu dengan cara menekan serta memaksakan kehendak. Aku lebih suka bernegosiasi dengan cara yang sehat dan sportif. perusahaan ku bekerja dengan cara yang bersih bukan dengan cara kotor dan licik seperti itu." Better dengan lugas mematahkan ide yang dilontarkan oleh Merybelle.
"Kau tidak bisa mengatakan bahwa ideku barusan adalah Salah satu cara yang kotor dan licik. Kurasa hampir semua perusahaan tinggi dan besar menggunakan cara yang hampir sama dengan apa yang ku pikirkan. Terkadang warga kampung yang sok seperti itu harus diberi pelajaran. Agar mereka tidak merasa di atas awan dengan mempertahankan lahan mereka." Mery tetap bersikukuh dengan pendapatnya.
"Lakukan apapun caramu sesuai dengan keinginanmu. Akan tetapi, jika bukan akulah sebagai partner dari perusahaan mu. Jika bekerja denganku maka gunakanlah caraku. Jika kau keberatan, laporkan pada ayahmu. kita bisa masih bisa membatalkan semuanya saat ini." Better berlalu menjauhi Mery yang berdiri angkuh dan berkacak pinggang.
Beberapa aparat di sana berjalan mengikuti Better. Mereka senang dan bersyukur, bahwa Better mau bersabar dengan mencoba bernegosiasi terhadap pemilik lahan setempat.
________
"Aku sudah tidak tahan. Bos-mu itu terus berlagak di hadapanku. Bagaimanapun dua misi harus dapat ku selesaikan malam ini juga. Kalau ingin menjadi orang sukses dan jaya itu haruslah jeli saat melihat peluang besar. Mengambil kesempatan dikala kita dapat meraih keuntungan sebesar-besarnya. Aku harus mendapatkan dua lalat dalam satu tepukan." Mery berkata sambil menghembuskan asap rokoknya ke udara. Satu kakinya ia tumpang di atas kaki yang lain. Hingga paha mulusnya terekspos karena ukuran roknya yang super mini. Ia sengaja menggoda Milo agar semakin tergila-gila pada tubuhnya. Menurutnya, ia akan mendapatkan sekutu untuk memuluskan rencananya.
"Katakan saja, apa yang harus aku lakukan," bisik Milo di belakang kursi yang di duduki oleh Mery. Hingga napasnya menyapu tengkuk Mery yang tertutup surai coklat lurus panjang.
"Nyalakan ini di kamarnya. Pengharum elektrik ini akan membuatnya mabuk kepayang." Mery menyerahkan botol kecil berwarna ungu metalik itu.
"Baiklah, beri aku uang muka untuk tugas berat ini," tawar Milo seraya mengulurkan tangannya demi meraih dagu lancip Mery.
"Kau ini penjahat apa makelar tanah!"
"Ehmpt!"
๐๐ช๐ข๐ญ๐ข๐ฏ! ๐๐ข๐ค๐ถ๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ถ๐ด๐ถ๐ฌ ๐ช๐ฏ๐ช ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ข๐ฏ๐ช ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ค๐ช๐ถ๐ฎ ๐ฃ๐ช๐ฃ๐ช๐ณ๐ฌ๐ถ ๐ด๐ฆ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฌ๐ฏ๐บ๐ข.
Bersambung>>>
__ADS_1