Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Semakin Mencintai.


__ADS_3

๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ


"Kenapa melamun, sayang?" tanya Arjuna pada Susi yang tengah mencuci perabotan bekas makan mereka tadi.


"Ha! Apa!" Susi terperanjat, saat merasakan lingkaran tangan perkasa itu pada perutnya. Lamunannya pun buyar seketika.


"Apa yang sedang kau pikirkan? Seharusnya kau tidak perlu membersihkannya sekarang, istirahat saja." Arjuna berbisik pelan di telinga sang istri, seraya mengecupnya sesekali. Membuat sang empunya bergidik kegelian.


"Hentikan, Ar. Kau menganggu pekerjaanku, sshh." Susi berdesis kecil, ketika Arjuna mengisap caping telinganya.


"Makanya jawab, tadi kau sedang memikirkan apa." Arjuna yang meletakkan dagunya di bahu Susi, menoleh sedikit melihat bagaimana ekspresi Susi saat ini.


๐˜’๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜บ ๐˜ฒ๐˜ถ๐˜ฆ๐˜ฆ๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ? ๐˜’๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ. ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข.


Arjuna, semakin mengeratkan pelukannya dari belakang, hingga Susi dapat merasakan sesuatu yang menegang di balik bokongnya.


๐˜‹๐˜ช๐˜ข ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช, ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ, ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ค๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช.


Susi mempercepat kegiatannya, meski perlakuan Arjuna membuat dirinya risih dan susah untuk bergerak. Ia tau, suaminya itu sedang sangat ingin.


Ya, setiap malam sejak sampai ke negara ini, mereka belum libur sama sekali. Arjuna selalu berhasil membuatnya melayang dan melupakan segalanya.


๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข๐˜ด๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ.


"Apa kau sedang memikirkan ku?" Seperti halnya dapat membaca pikiran, pertanyaan Arjuna tepat mengenai sasaran.


"Geโ€“er!" cebik Susi. Sementara itu hatinya sebenarnya sedang deg-deg-ser.


๐˜‰๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ต๐˜ข๐˜ถ? ๐˜๐˜ข๐˜ช๐˜ฉ, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜จ๐˜ข๐˜บ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ช. ๐˜‰๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฐ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ, ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜จ๐˜ข๐˜บ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ-๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข.


"Aww!" pekik Susi, ketika gigitan Arjuna mendarat di bahu mulusnya.


"Kenapa menggigitku?" sebalnya. Pasalnya, Arjuna selalu melakukan hal itu karena gemas padanya. Menggigit apa saja pada bagian tubuh indahnya itu.


"Aku gemas, ingin memakan mu," kata Arjuna terus terang.


"Tidak perlu banyak gaya, cukup satu gaya saja. Itu, sudah membuatku puas dan bahagia," tambahnya. Membuat kedua mata Susi sukses membola.


๐˜’๐˜บ๐˜ข๐˜ข ... ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข ๐˜ต๐˜ข๐˜ถ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ? ๐˜‰๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข? ๐˜”๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ!


"Buโ€“bukankah setiap malam kita begitu? Apa kau tidak bosan?" Susi yang telah menyelesaikan cuciannya, kini mengeringkan kedua telapak tangannya. Berusaha mengalihkan rasa malu, karena isi pikirannya telah terbaca.


"Akh!"


"Ar, kau iniโ€“"


Dalam hitungan detik, Arjuna telah membalik tubuhnya sehingga kini mereka menjadi saling berhadapan.

__ADS_1


"Mana mungkin aku bosan pada bidadari ku ini," potong Arjuna dengan tatapan matanya yang hangat. Ucapannya yang tulus dan jujur itu, telah menyentuh sampai ke lubuk hati Susi yang terdalam.


"Gombal banget sih!" Susi memencet hidung mancung suaminya, kemudian terkekeh. Meski ia agak sedikit mendongak karena tingginya yang hanya sebatas dada Arjuna.


"Ck, buktikan saja."


"Eโ€“eh!"


Arjuna kembali mengangkat tubuh ramping berisi itu, mendudukkannya di samping wastafel. Kini, mereka saling menatap dengan tinggi yang sama.


๐˜ˆ๐˜ช๐˜ฉ, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ค๐˜ข๐˜ณ๐˜ข.


Susi hanya bisa merutuki dirinya didalam hati, karena bibirnya telah dibungkam oleh sentuhan serta sesapan yang memabukkan. Hingga otaknya kosong dan seluruh tubuhnya merinding.


๐˜’๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜จ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ช? ๐˜”๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ต ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ช ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ต๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ต ๐˜ญ๐˜ช๐˜ด๐˜ต๐˜ณ๐˜ช๐˜ฌ.


๐˜ˆ๐˜ฉ๐˜ฉ ...


Susi hanya bisa meredam desahannya, hingga yang terdengar hanyalah geraman kecil. Ketika telapak tangan besar suaminya itu, menyelinap lewat bawah dress-nya.


"Kau tanya apa aku tidak bosan? Bagaimana aku bisa bosan pada hal yang paling kusukai di dalam hidupku, apalagi ini," lirih Arjuna, melepas pagutan nya sesaat.


Jemarinya menyentuh sesuatu yang telah lembab di bawah sana. Sesuatu yang tebal dan tertutup kain tipis berenda. Membuat Susi menggeliat, seraya melebarkan pahanya. Lalu, Arjuna kembali membenamkan bibirnya dengan memberi sesapan yang lebih dalam.


Membuat suara-suara indah itu mengalun dari kedua bibir seksi Susi. Benda kenyal yang telah di buat bengkak dan kebas oleh Arjuna. Dikarenakan dirinya telah kecanduan akan manisnya belitan dan hisapannya.


Lenguhan, decapan serta desisan. Mengalun secara berurutan dari bibir keduanya. Napas pasutri ini semakin memburu, seiring permainan mereka yang semakin memanas.


"Pindah yuk, sayang," ajak Arjuna, padahal dirinya sudah memporak-porandakan pakaian bagian atas istrinya itu. Bahkan, beberapa stempel ๐˜ต๐˜ณ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ฆ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฌ Arjuna Satria, telah tercetak jelas dengan warna kemerahan.


Sementara itu, Susi hanya bisa menganggukkan kepalanya lemah. Karena, dirinya baru saja mencapai pelepasan pertamanya.


๐˜”๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช! ๐˜’๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ช ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช. ๐˜š๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ถ. ๐˜๐˜ข๐˜ข๐˜ฉ ... ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฌ๐˜ฆ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข?


"Kau tidak perlu malu, bukankah itu hak mu, sebagai istriku?" Arjuna melempar pertanyaan yang sebenarnya mengartikan sebuah pernyataan.


"Kita pindah ke kamar, setelah itu giliran mu yang memimpin. Bagaimana?" Arjuna menatap Susi dengan pandangan berkabut nya.


"๐˜ˆ๐˜ด ๐˜บ๐˜ฐ๐˜ถ ๐˜ธ๐˜ช๐˜ด๐˜ฉ, ๐˜ฎ๐˜บ ๐˜“๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ฅ." Susi pun menempelkan bibirnya, mencium Arjuna dengan gelora yang membara. Tentu saja serangan dari sang istri tidak akan di sia-siakan olehnya.


Arjuna pun membalas, seraya mengangkat bokong Susi, lalu menggendongnya ke kamar mereka berdua. Tanpa, melepaskan tautan bibir yang basah dan manis dari keduanya. Sementara itu, Susi melingkarkan kakinya di atas pinggang Arjuna.


Sesampainya di depan kamar, Arjuna memutar knop dengan satu tangannya. Lalu mendorong pintu dengan bahunya, kemudian ia menutup dengan sebelah kakinya.


Mudah baginya, melakukan itu semua dengan kegiatan yang tengah ia lakukan saat ini. Karena posturnya yang tinggi besar sesuai postur tubuh orang Eropa, belum lagi otot-ototnya yang membentuk di beberapa bagian raga perkasanya.


Arjuna menurunkan raga molek aduhai itu di samping tempat tidur. Masih dengan tautan bibir mereka yang mengeluarkan suara decapan.

__ADS_1


Hingga para cicak-cicak di dinding kabur menyelinap ke sela-sela plafon. Di karenakan mereka kena mental, akan keromantisan serta kehangatan pasangan ini.


Keinginan yang sudah membuncah dari keduanya. Membuat mereka melucuti kain yang menempel pada tubuh masing-masing.


Namun, ketika Arjuna hendak membuka celana panjangnya. Susi segera mengambil alih, ia telah berjanji akan memimpin permainan kali ini.


Kedua matanya beralih pada sesuatu yang masih terbungkus kain segitiga biru. (Kayak merek terigu๐Ÿคฃ)


Sesuatu yang menonjol serta bergerak-gerak ketika ia mengelusnya. Pedang naga puspa, yang mana telah terbangun dari tidurnya.


Arjuna menarik napasnya, berusaha mengontrol dirinya. Ketika Susi bermain-main dengan benda keramatnya itu.


Sudah tak tahan lagi, Arjuna membanting sang istri ke atas tempat tidur yang super duper empuk itu. Kemudian, segera memposisikan dirinya untuk menembus benteng pertahanan musuh.


"Sayang, kau luar biasa. Posisi ini yang paling aku suka. Jadi, jangan lagi ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ข๐˜ณ๐˜ค๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ di internet. ๐˜”๐˜บ ๐˜˜๐˜ถ๐˜ฆ๐˜ฆ๐˜ฏ sudah hebat, dengan apa yang sudah dikuasai saat ini." Arjuna terus mengatakan ๐˜ด๐˜ถ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ต๐˜ช baik pada sang istri. Meski dirinya telah di selimuti kabut gairah. Ia tetap ingat bagaimana memberi kepercayaan diri pada Susi.


"Semua yang kau miliki aku suka, aku tidak akan pernah bosan. Aku sungguh menikmatinya." Arjuna terus berkata sembari sesekali mengeram.


"Semua ini begitu nikmat, aku berharap di kehidupan selanjutnya. Semesta tetap mempertemukan kita." Arjuna terus mengatakan isi hatinya.


Memberi pujian dan pujaan kepada wanita di bawah kungkungan nya. Dimana saat ini, ia tak mampu lagi berkata-kata. Hanya sepasang iris gelap lah, yang menjawab dengan lelehan kristal beningnya.


๐˜๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ, ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ. ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฑ, ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ญ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฎ๐˜ถ. ๐˜š๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ช๐˜ฎ๐˜ถ.


"Akh, sayang ... ia menggigitku!"


"Aahhh ...!" Setelah menyemburkan larva panasnya, Arjuna melenting kan raga perkasanya. Kepalanya mendongak seraya menengok ke kanan dan ke kiri. Merasakan nikmatnya gelora yang baru saja meledak.


"Aku akan membelikan mu ๐˜ฃ๐˜ข๐˜จ๐˜ฆ๐˜ญ yang banyak besok."


Cup!


Arjuna kemudian melabuhkan kecupan dalam di kening istrinya. Menutupi raga indah itu dengan selimut.


"Istirahatlah, biar aku yang membersihkan mu." Arjuna melakukan itu semua dengan santai. Karena ia tau bahwa Susi sudah kelelahan karena permainan panas mereka.


Setelah membasuh, bagian kesukaannya itu. Arjuna pun berbaring di sebelah Susi, sambil merengkuh raga yang akan ia jaga dengan nyawanya sendiri.


Note:


Silakan gais, follow akun otor di bawah ini ya.


Karena di sana akan otor posting visual para pemain ABPR ini.


Fb: Aulia Rakhim


Tik tok: chibichibi903

__ADS_1


Tengkiyu๐Ÿ˜˜


Bersambung>>>


__ADS_2