
๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ
"Kenapa melamun, sayang?" tanya Arjuna pada Susi yang tengah mencuci perabotan bekas makan mereka tadi.
"Ha! Apa!" Susi terperanjat, saat merasakan lingkaran tangan perkasa itu pada perutnya. Lamunannya pun buyar seketika.
"Apa yang sedang kau pikirkan? Seharusnya kau tidak perlu membersihkannya sekarang, istirahat saja." Arjuna berbisik pelan di telinga sang istri, seraya mengecupnya sesekali. Membuat sang empunya bergidik kegelian.
"Hentikan, Ar. Kau menganggu pekerjaanku, sshh." Susi berdesis kecil, ketika Arjuna mengisap caping telinganya.
"Makanya jawab, tadi kau sedang memikirkan apa." Arjuna yang meletakkan dagunya di bahu Susi, menoleh sedikit melihat bagaimana ekspresi Susi saat ini.
๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ฎ๐บ ๐ฒ๐ถ๐ฆ๐ฆ๐ฏ ๐ฌ๐ฆ๐ญ๐ช๐ฉ๐ข๐ต๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ช๐ฏ๐จ๐ถ๐ฏ๐จ? ๐๐ข๐ฏ, ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฌ๐ช๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐จ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ด๐ฌ๐ข๐ฏ. ๐๐ฌ๐ถ ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐ช๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข.
Arjuna, semakin mengeratkan pelukannya dari belakang, hingga Susi dapat merasakan sesuatu yang menegang di balik bokongnya.
๐๐ช๐ข ๐ช๐ฏ๐ช, ๐ฎ๐ข๐ด๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฉ๐ข๐ณ๐ถ๐ด ๐ฃ๐ช๐ญ๐ข๐ฏ๐จ, ๐ฌ๐ข๐ญ๐ข๐ถ ๐ด๐ฆ๐ฅ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ช๐ฌ๐ช๐ณ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ค๐ข๐ณ๐ข ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฏ๐จ๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข ๐ฎ๐ข๐ญ๐ข๐ฎ ๐ช๐ฏ๐ช.
Susi mempercepat kegiatannya, meski perlakuan Arjuna membuat dirinya risih dan susah untuk bergerak. Ia tau, suaminya itu sedang sangat ingin.
Ya, setiap malam sejak sampai ke negara ini, mereka belum libur sama sekali. Arjuna selalu berhasil membuatnya melayang dan melupakan segalanya.
๐๐ฌ๐ถ ๐ฉ๐ข๐ณ๐ถ๐ด ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ข๐ด๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข ๐ด๐ฆ๐ฃ๐ฆ๐ญ๐ถ๐ฎ ๐ต๐ข๐ฎ๐ถ ๐ฃ๐ถ๐ญ๐ข๐ฏ๐ข๐ฏ๐ฌ๐ถ ๐ฅ๐ข๐ต๐ข๐ฏ๐จ.
"Apa kau sedang memikirkan ku?" Seperti halnya dapat membaca pikiran, pertanyaan Arjuna tepat mengenai sasaran.
"Geโer!" cebik Susi. Sementara itu hatinya sebenarnya sedang deg-deg-ser.
๐๐ข๐จ๐ข๐ช๐ฎ๐ข๐ฏ๐ข ๐ฅ๐ช๐ข ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ต๐ข๐ถ? ๐๐ข๐ช๐ฉ, ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฃ๐ข๐ฉ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ฆ๐ญ๐ถ๐ฎ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐จ๐ถ๐ฏ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐จ๐ข๐บ๐ข ๐ข๐ฑ๐ข ๐ฏ๐ข๐ฏ๐ต๐ช. ๐๐ข๐จ๐ข๐ช๐ฎ๐ข๐ฏ๐ข ๐ฌ๐ข๐ญ๐ข๐ถ ๐ฅ๐ช๐ข ๐ฃ๐ฐ๐ด๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข๐ฌ๐ถ, ๐ฌ๐ข๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ข ๐จ๐ข๐บ๐ข ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ช ๐ด๐ฆ๐ญ๐ข๐ญ๐ถ ๐ช๐ต๐ถ-๐ช๐ต๐ถ ๐ด๐ข๐ซ๐ข.
"Aww!" pekik Susi, ketika gigitan Arjuna mendarat di bahu mulusnya.
"Kenapa menggigitku?" sebalnya. Pasalnya, Arjuna selalu melakukan hal itu karena gemas padanya. Menggigit apa saja pada bagian tubuh indahnya itu.
"Aku gemas, ingin memakan mu," kata Arjuna terus terang.
"Tidak perlu banyak gaya, cukup satu gaya saja. Itu, sudah membuatku puas dan bahagia," tambahnya. Membuat kedua mata Susi sukses membola.
๐๐บ๐ข๐ข ... ๐ข๐ฑ๐ข ๐ฅ๐ช๐ข ๐ต๐ข๐ถ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฑ๐ช๐ฌ๐ช๐ณ๐ฌ๐ข๐ฏ? ๐๐ข๐จ๐ข๐ช๐ฎ๐ข๐ฏ๐ข ๐ฃ๐ช๐ด๐ข? ๐๐ฆ๐ฎ๐ข๐ญ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ!
"Buโbukankah setiap malam kita begitu? Apa kau tidak bosan?" Susi yang telah menyelesaikan cuciannya, kini mengeringkan kedua telapak tangannya. Berusaha mengalihkan rasa malu, karena isi pikirannya telah terbaca.
"Akh!"
"Ar, kau iniโ"
Dalam hitungan detik, Arjuna telah membalik tubuhnya sehingga kini mereka menjadi saling berhadapan.
__ADS_1
"Mana mungkin aku bosan pada bidadari ku ini," potong Arjuna dengan tatapan matanya yang hangat. Ucapannya yang tulus dan jujur itu, telah menyentuh sampai ke lubuk hati Susi yang terdalam.
"Gombal banget sih!" Susi memencet hidung mancung suaminya, kemudian terkekeh. Meski ia agak sedikit mendongak karena tingginya yang hanya sebatas dada Arjuna.
"Ck, buktikan saja."
"Eโeh!"
Arjuna kembali mengangkat tubuh ramping berisi itu, mendudukkannya di samping wastafel. Kini, mereka saling menatap dengan tinggi yang sama.
๐๐ช๐ฉ, ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช๐ฏ๐บ๐ข ๐ด๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฃ๐ช๐ค๐ข๐ณ๐ข.
Susi hanya bisa merutuki dirinya didalam hati, karena bibirnya telah dibungkam oleh sentuhan serta sesapan yang memabukkan. Hingga otaknya kosong dan seluruh tubuhnya merinding.
๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ข๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ช๐ข ๐ฃ๐ฆ๐จ๐ช๐ต๐ถ ๐ฑ๐ข๐ฏ๐ฅ๐ข๐ช? ๐๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ข๐ต ๐ด๐ฆ๐ญ๐ถ๐ณ๐ถ๐ฉ ๐ด๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ช๐ฌ๐ถ ๐ฃ๐ข๐จ๐ข๐ช ๐ต๐ฆ๐ณ๐ด๐ฆ๐ต๐ณ๐ถ๐ฎ ๐ฃ๐ฆ๐ญ๐ถ๐ต ๐ญ๐ช๐ด๐ต๐ณ๐ช๐ฌ.
๐๐ฉ๐ฉ ...
Susi hanya bisa meredam desahannya, hingga yang terdengar hanyalah geraman kecil. Ketika telapak tangan besar suaminya itu, menyelinap lewat bawah dress-nya.
"Kau tanya apa aku tidak bosan? Bagaimana aku bisa bosan pada hal yang paling kusukai di dalam hidupku, apalagi ini," lirih Arjuna, melepas pagutan nya sesaat.
Jemarinya menyentuh sesuatu yang telah lembab di bawah sana. Sesuatu yang tebal dan tertutup kain tipis berenda. Membuat Susi menggeliat, seraya melebarkan pahanya. Lalu, Arjuna kembali membenamkan bibirnya dengan memberi sesapan yang lebih dalam.
Membuat suara-suara indah itu mengalun dari kedua bibir seksi Susi. Benda kenyal yang telah di buat bengkak dan kebas oleh Arjuna. Dikarenakan dirinya telah kecanduan akan manisnya belitan dan hisapannya.
Lenguhan, decapan serta desisan. Mengalun secara berurutan dari bibir keduanya. Napas pasutri ini semakin memburu, seiring permainan mereka yang semakin memanas.
"Pindah yuk, sayang," ajak Arjuna, padahal dirinya sudah memporak-porandakan pakaian bagian atas istrinya itu. Bahkan, beberapa stempel ๐ต๐ณ๐ข๐ฅ๐ฆ ๐ฎ๐ข๐ณ๐ฌ Arjuna Satria, telah tercetak jelas dengan warna kemerahan.
Sementara itu, Susi hanya bisa menganggukkan kepalanya lemah. Karena, dirinya baru saja mencapai pelepasan pertamanya.
๐๐ข๐ญ๐ถ ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ข๐ญ๐ช! ๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ด๐ฆ๐ญ๐ข๐ญ๐ถ ๐ฎ๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ค๐ข๐ฑ๐ข๐ช ๐ช๐ฏ๐ต๐ช ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ฎ๐ข๐ช๐ฏ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ช. ๐๐ฆ๐ญ๐ข๐ญ๐ถ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ข๐ฅ๐ข ๐ฅ๐ช ๐ฑ๐ถ๐ฏ๐ค๐ข๐ฌ ๐ญ๐ฆ๐ฃ๐ช๐ฉ ๐ฅ๐ถ๐ญ๐ถ. ๐๐ข๐ข๐ฉ ... ๐ข๐ฑ๐ข๐ฌ๐ข๐ฉ ๐ข๐ฌ๐ถ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ญ๐ข๐ญ๐ถ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ฃ๐ช๐ถ๐ด ๐ฌ๐ฆ ๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ฎ ๐ฃ๐ถ๐ข๐ช๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข?
"Kau tidak perlu malu, bukankah itu hak mu, sebagai istriku?" Arjuna melempar pertanyaan yang sebenarnya mengartikan sebuah pernyataan.
"Kita pindah ke kamar, setelah itu giliran mu yang memimpin. Bagaimana?" Arjuna menatap Susi dengan pandangan berkabut nya.
"๐๐ด ๐บ๐ฐ๐ถ ๐ธ๐ช๐ด๐ฉ, ๐ฎ๐บ ๐๐ฐ๐ณ๐ฅ." Susi pun menempelkan bibirnya, mencium Arjuna dengan gelora yang membara. Tentu saja serangan dari sang istri tidak akan di sia-siakan olehnya.
Arjuna pun membalas, seraya mengangkat bokong Susi, lalu menggendongnya ke kamar mereka berdua. Tanpa, melepaskan tautan bibir yang basah dan manis dari keduanya. Sementara itu, Susi melingkarkan kakinya di atas pinggang Arjuna.
Sesampainya di depan kamar, Arjuna memutar knop dengan satu tangannya. Lalu mendorong pintu dengan bahunya, kemudian ia menutup dengan sebelah kakinya.
Mudah baginya, melakukan itu semua dengan kegiatan yang tengah ia lakukan saat ini. Karena posturnya yang tinggi besar sesuai postur tubuh orang Eropa, belum lagi otot-ototnya yang membentuk di beberapa bagian raga perkasanya.
Arjuna menurunkan raga molek aduhai itu di samping tempat tidur. Masih dengan tautan bibir mereka yang mengeluarkan suara decapan.
__ADS_1
Hingga para cicak-cicak di dinding kabur menyelinap ke sela-sela plafon. Di karenakan mereka kena mental, akan keromantisan serta kehangatan pasangan ini.
Keinginan yang sudah membuncah dari keduanya. Membuat mereka melucuti kain yang menempel pada tubuh masing-masing.
Namun, ketika Arjuna hendak membuka celana panjangnya. Susi segera mengambil alih, ia telah berjanji akan memimpin permainan kali ini.
Kedua matanya beralih pada sesuatu yang masih terbungkus kain segitiga biru. (Kayak merek terigu๐คฃ)
Sesuatu yang menonjol serta bergerak-gerak ketika ia mengelusnya. Pedang naga puspa, yang mana telah terbangun dari tidurnya.
Arjuna menarik napasnya, berusaha mengontrol dirinya. Ketika Susi bermain-main dengan benda keramatnya itu.
Sudah tak tahan lagi, Arjuna membanting sang istri ke atas tempat tidur yang super duper empuk itu. Kemudian, segera memposisikan dirinya untuk menembus benteng pertahanan musuh.
"Sayang, kau luar biasa. Posisi ini yang paling aku suka. Jadi, jangan lagi ๐ด๐ฆ๐ข๐ณ๐ค๐ฉ๐ช๐ฏ๐จ di internet. ๐๐บ ๐๐ถ๐ฆ๐ฆ๐ฏ sudah hebat, dengan apa yang sudah dikuasai saat ini." Arjuna terus mengatakan ๐ด๐ถ๐จ๐ฆ๐ด๐ต๐ช baik pada sang istri. Meski dirinya telah di selimuti kabut gairah. Ia tetap ingat bagaimana memberi kepercayaan diri pada Susi.
"Semua yang kau miliki aku suka, aku tidak akan pernah bosan. Aku sungguh menikmatinya." Arjuna terus berkata sembari sesekali mengeram.
"Semua ini begitu nikmat, aku berharap di kehidupan selanjutnya. Semesta tetap mempertemukan kita." Arjuna terus mengatakan isi hatinya.
Memberi pujian dan pujaan kepada wanita di bawah kungkungan nya. Dimana saat ini, ia tak mampu lagi berkata-kata. Hanya sepasang iris gelap lah, yang menjawab dengan lelehan kristal beningnya.
๐๐ฏ๐ฅ๐ข๐ฉ, ๐ด๐ถ๐ฏ๐จ๐จ๐ถ๐ฉ ๐ช๐ฏ๐ฅ๐ข๐ฉ. ๐๐ฌ๐ถ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฉ๐ข๐ณ๐ข๐ฑ, ๐ฉ๐ข๐ญ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ด๐ข๐ฎ๐ข ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ๐ฎ๐ถ. ๐๐ข๐บ๐ข๐ฏ๐จ, ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฌ๐ช๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ค๐ช๐ฏ๐ต๐ข๐ช๐ฎ๐ถ.
"Akh, sayang ... ia menggigitku!"
"Aahhh ...!" Setelah menyemburkan larva panasnya, Arjuna melenting kan raga perkasanya. Kepalanya mendongak seraya menengok ke kanan dan ke kiri. Merasakan nikmatnya gelora yang baru saja meledak.
"Aku akan membelikan mu ๐ฃ๐ข๐จ๐ฆ๐ญ yang banyak besok."
Cup!
Arjuna kemudian melabuhkan kecupan dalam di kening istrinya. Menutupi raga indah itu dengan selimut.
"Istirahatlah, biar aku yang membersihkan mu." Arjuna melakukan itu semua dengan santai. Karena ia tau bahwa Susi sudah kelelahan karena permainan panas mereka.
Setelah membasuh, bagian kesukaannya itu. Arjuna pun berbaring di sebelah Susi, sambil merengkuh raga yang akan ia jaga dengan nyawanya sendiri.
Note:
Silakan gais, follow akun otor di bawah ini ya.
Karena di sana akan otor posting visual para pemain ABPR ini.
Fb: Aulia Rakhim
Tik tok: chibichibi903
__ADS_1
Tengkiyu๐
Bersambung>>>