
🔥🔥🔥🔥🔥🔥
"Don!" Daia menghampiri pria berdarah negara spaghetti dan mozarella itu.
"Keterlaluan! Biadab kau!" Daia menerjang Don Domino dan memukulinya, hingga beberapa pengawal pria itu maju dan mencekal tubuhnya.
"Bagaimana wanita ini bisa masuk ke ruangan pribadiku?!" sentak Domino pada para pengawalnya.
"Maaf, Don. Nona ini mengatakan anda yang mengundangnya," jelas sang pengawal.
"Bodoh kalian semua!" Domino melempar kepala pengawal itu dengan gelas berpinggang.
Pyaarr ...!
Darah menetes ke lantai marmer putih, pengawal itu kembali berdiri setelah tadi dirinya sempat terhuyung.
Daia memundurkan tubuhnya hingga mentok ke tembok. Wajahnya yang terlihat pucat karena pasca operasi, semakin terlihat memutih tanpa darah.
Baru kali ini dirinya melihat kemarahan dari sugar daddy-nya itu.
"Sejak kapan aku bermain dengan para agenku?!" hardik nya lagi. Dengan wajah sangar dan geraham yang bergemeletak beradu.
"Kami akan membawa Nona ini keluar." Pengawal yang lainnya menundukkan kepalanya, lalu menarik tangan Daia kencang.
"Lepaskan! Aku mau di bawa kemana?"
"Aku ingin bersamamu,Don ... Aku takut!" mohon Daia dengan wajah memelas.
Don Domino menghampirinya, lalu mencengkeram dagu wanita pucat itu.
__ADS_1
"Apa kau bercanda, hah?"
"Kau lihatlah dirimu!" Don menyentak rahang itu hingga Daia menoleh dengan keras.
"Sakit ...." lirihnya.
Daia menoleh lalu menatap wajah Don dengan amarah.
"Kenapa kau lakukan ini padaku! Kenapa kau membebaskan ku hanya untuk menjadikanku alat!" teriak Daia, sekuat tenaga ia memberanikan diri. Di tengah rasa sakit yang menderanya hingga membuat tubuhnya begitu lemas.
Don menatap raga lemah itu, melihat bagaimana cairan merah itu merembes hingga tercetak pada sweater yang di kenakan Daia.
"Dia gagal, bawa kembali ke lab. Keluarkan chip itu sebelum rusak, dan menyatu dengan jaringan tubuhnya." titah Don tegas pada para pengawalnya.
"Apa maksudmu!"
"Kalian tau apa artinya produk gagal kan?" tanya Domino dengan seringai nya.
"Apa maksudmu Don!" Daia semakin memucat, ia merasa ada sesuatu yang buruk akan terjadi pada dirinya.
"Akhh ...!" Daia meringis, menahan perih dan nyeri di kedua dadanya.
Tapi para pengawal itu menyeretnya keluar dari yacht.
"Entah bagaimana caramu sampai kesini, menyusahkan!" gerutu kesal, salah satu pengawal berbadan besar dan hitam.
Pria itu melempar Daia masuk ke dalam jeep. Hingga, dirinya meringis menahan sakit di sekujur tubuhnya.
Entah kenapa tiba- tiba tubuhnya memanas. Kepala amat sangat berat, dan tenggorokannya haus sekali.
__ADS_1
"Kalau saja tidak ada barang berharga di tubuhmu, sudah ku lempar kau kelaut." ucap pria berbadan besar itu, yang kini duduk menghimpitnya.
" Haus ... bi-bisa berikan aku air," lirih Daia, dengan susah payah ia mengeluarkan suaranya.
"Tidak ada permintaan bagi orang yang mau mati!" Pengawal itu mendorong tubuhnya ke samping, hingga ia terjerembab dan tak sadarkan diri.
Sesampainya di lab, setengah jam kemudian.
Brukk.
"Bagaimana kalian bisa kecolongan?" Pria menyeramkan itu menjatuhkan dengan kasar tubuh Daia di atas brankar.
"Apa maksud anda, kenapa agen ini tidak sadarkan diri?" heran seorang juru rawat di lab tersebut.
Para petugas lab yang rata-rata berpakaian tertutup dan memakai masker serta pembungkus kepala.
Mereka layaknya, nampak seperti makhluk luar angkasa saja.
"Bukankah ini seharusnya wewenang kalian!"
"Bagaimana jika, kehadirannya di luar tadi mengundang kecurigaan pihak yang berwajib!" Pria berbadan hitam besar itu sangat marah, dirinya bahkan mendelik kan matanya yang sudah besar itu, hingga nampak seperti hendak melompat dari rongga nya.
"Jadi, agen ini sempat kabur ya." Perawat itu tidak bergeming, ia tetap santai menghadapi kemarahan pengawal itu.
"Selesaikan dia! Agen gagal itu tidak berguna!" Setelah mengatakan perintahnya, pengawal itu keluar dengan membanting pintu.
Bangg!!
Bersambung>>>
__ADS_1