
π₯π₯π₯π₯π₯
Jelita berakhir di atas tempat tidur, dengan raga yang lemah dan wajah yang pucat pasi. Bagaimanapun, Seno akhirnya khawatir.
"Kalau sampai dia kenapa-kenapa ... bisa habis aku." Seno mengusap wajahnya kasar, dirinya gusar sekali.
Menatap tubuh Jelita yang demam dan pucat.
Tak lama kemudian bel apartemennya berbunyi.
"Tuan, saya membawa Dokternya kemari." Ternyata asisten Rich yang datang bersama seorang petugas medis.
"Cek dia." kata Seno datar.
Kemudian ia mengajak Rich ke ruang tamu.
"Pastikan Dokter itu bisa tutup mulut, apapun yang terjadi," bisik Seno pada Rich. Yang kemudian diangguki pelan oleh asisten berwajah asia itu.
Klek.
Dokter wanita itu keluar dengan ekspresi yang tidak bisa di artikan. Membuat Seno menahan napasnya sesaat.
"Bagaimana?" tanya Seno berusaha bersikap biasa.
"Maaf, Tuan. Saya hanya Dokter umum, akan tetapi dari pemeriksaan denyut nadi dan detak jantung nyonya, ada kemungkinan istri anda hamil muda saat ini," jelas Dokter wanita itu.
"Ha-hamil?" heran Seno, dirinya dan Rich bahkan saling menatap.
"Selamat, Tuan. Bila hasilnya benar maka anda akan memperoleh keturunan yang dapat meneruskan silsilah keluarga." Rich menundukkan kepala memberi selamat pada tuannya.
__ADS_1
Senyum sumringah terbit seketika di wajah putih Seno, bahkan wajahnya terlihat berseri.
"Semoga, bayi ku itu laki-laki." gumam Seno pelan.
"Tuan bisa mamastikan, dengan memeriksakan nyonya ke SPOG. Saya bisa bantu bikin janji," tawar Dokter wanita tersebut.
"Rich, atur semuanya." Lalu Seno masuk ke kamar melihat keadaan Jelita. Wanita itu belum sadar, membuat Seno kembali keluar.
" Kenapa wanita itu belum sadar?" tanya Seno sinis pada Dokter wanita itu.
"Nyonya, hanya kelelahan Tuan. Saya sudah berikan suntikan vitamin, sebentar lagi istri anda akan bangun," jelasnya dengan gemetar. Karena aura yang di keluarkan Seno amatlah mengerikan bagi Dokter muda itu.
"Kenapa kau tidak mengatakan sejak tadi." ucap Seno datar, dan ia kembali kekamar.
"Mari saya antar," tawar Rich pada Dokter muda itu.
"Terimakasih, Pak Rich." Dokter wanita itu tersenyum manis. Membuat pria berwajah asia itu terkesima sesaat.
"Bagaimana kalau, tuanmu mencari?" tanyanya.
"Dia belum membutuhkanku saat ini." Baru saja Rich menutup mulutnya, ponsel di dalam sakunya bergetar.
"Pesankan makanan, ku beri waktu lima belas menit!" seru Seno di seberang telepon.
"Ba- ... ik."
Tuutt ...
Sambungan di matikan secara sepihak.
__ADS_1
Rich, menghela napasnya.
"Sampai ketemu lain waktu, Pak Rich. Mungkin di lain kesempatan, anda bisa mengajak saya makan malam." pamit Dokter wanita itu dengan senyum, kemudian berlalu meninggalkan jejak harum dari parfumnya.
"Orangnya sudah tidak ada, tapi harum parfumnya masih tertinggal." gumam Rich dengan senyum tipis.
ππππ
"Don, kau darimana saja!" sembur Daia, ketika pria paruh baya itu tiba-tiba sudah menindihnya.
"Apa hak mu untuk tau kehidupanku, hem ...," Don yang sedikit mabuk karena obat terlarang yang biasa dihisapnya itu, menatap Daia dengan liar.
"Kenapa tidak!"
"Kau tau, beberapa hari lalu ada dua orang wanita yang menyerangku!" pekik Daia yang menahan geramnya beberapa hari ini.
Bahkan untuk mengadu pun susah, Don menonaktifkan ponselnya.
"Jadi, mereka sudah menyapamu ya ...." ucap Don ambigu.
Jarinya sudah menurunkan tali spageti pada lingeri yang di kenakan oleh Daia. Memberi kecupan lembut pada ceruk leher putih nan mulus itu.
Membuat Daia seketika melupakan marahnya.
"Besok aku kan mengajakmu jalan-jalan keluar negeri. Maka puaskan lah aku malam ini." Pria keturunan negara penghasil keju terenak itu, tersenyum penuh arti.
" Benarkah Don?" Daia sumringah tak percaya, akhirnya dirinya dapat menghirup udara luar. Pikirnya.
"Hemm ..." Don Domino hanya berdehem pelan karena bibir dan lidahnya, tengah sibuk menikmati bakpao kembar. Sedangkan tangannya memencet-mencet squshy di bawah sana.
__ADS_1
Bersambung>>>