
🔥🔥🔥🔥
"Kau ini bagaimana? Punya senjata tapi tidak tau namanya?" Milna tertawa meledek. Membuat Puspa menekan permukaan pipih senjata yang dipegangnya untuk menggores pipi mulus nan licin milik Milna.
'Kenapa tidak berdarah? Apa wanita ini punyw ilmu kebal?' tanya Puspa bingung dalam hatinya.
Puspa terus menekan dan menggores tapi tidak terjadi apapun pada kulit Milna. Hingga sebuah tangan memutar pergelangan tangan Puspa. Dengan gerakan cepat pula, Milna membalik posisi. Kini, Puspa yang berada di bawah kuasanya.
"Biarkan aku memberitahu padamu bagaimana cara menggunakan alat ini." Milna merampas senjata tajam ditangan Puspa, kemudian menempelkan bagian pipih tajamnya ke kulit pipi remaja binal itu.
"Nih, yang bener tuh begini. Bagian tipis tajam ini di bagian bawah. Lalu kau tekan perlahan dan mulailah beri sayatan tipis." Milna seperti tengah melakukan tutorial, ia memberi penjelasan sekalian prakteknya.
Kedua bola mata Puspa membelalak dengan lebar. Ketika benda dingin itu menyayat kulit wajahnya yang setipis kulit bayi. Puspa meringis merasakan perih seiring dengan cairan berwarna merah yang mengalir hingga ke dagunya. Sayangnya ia tak bisa meronta ataupun berontak. Wanita di hadapannya ini telah mengunci pergerakannya.
"Hiks, sakit!" pekiknya bersamaan dengan air mata yang bercucuran. Bahkan seluruh tubuhnya bergetar. Puspa sungguh tidak menyangka jika tenaga Milna bisa sebesar dan sekuat ini. Tubuhnya kaku tidak dapat bergerak. Milna juga tiba-tiba dapat merubah wajahnya yang polos menjadi bengis.
'Sebenarnya, dia ini wanita seperti apa? Kenapa auranya seram sekali. Kak Miranda, aku menyesal telah mendukungmu. Mereka pasangan kejam.' batin Puspa, menyesali hal yang terlambat di sadarinya.
" Benarkah ini sakit? Sewaktu kau hendak melakukannya padaku apakah kau berpikir tentang rasa sakitnya? Kau bermaksud menghancurkan wajah orang lain akan tetapi kau tidak tahu caranya. Saat ini aku hanya sedang memberitahumu saja. Agar lain kali, ah sepertinya tidak boleh ada lain kali. Orang sepertimu tidak boleh diberi kesempatan." Milna mengangkat benda tajam itu dari wajah Puspa, bersamaan dengan senyum sinis yang tercetak di wajahnya.
Milna melepaskan kuncian pada tubuh Puspa. seketika Gadis remaja yang sebenarnya sudah tidak pantas disebut gadis karena sudah tidak memiliki keperawanan. Luruh ke atas tanah. sontak seluruh sendi Puspa Tak memiliki daya dan tenaga.
Milna berjongkok seraya mengeluarkan tangannya untuk meraih rahang Puspa. Milna mencengkram kedua pipi basah itu hingga bibir Puspa terlihat maju ke depan. "Jadi siapa wanita lemah itu sekarang? Setelah ini apalagi yang kau rencanakan padaku biar ku realisasikan pada dirimu saja," ucap Milna dengan aura mengancam yang membuat seluruh tubuh Puspa bergetar karena gemetar ketakutan.
"Tidak, Kak. Ku mohon maafkan aku. Kau sudah menghancurkan wajahku yang cantik ini. Sekarang kau bisa melepaskan aku kan?" ucap Puspa memohon sambil menangis.
__ADS_1
"Ck, anak orang kaya sepertimu pasti dapat mengembalikan kecantikan di wajahmu ini." Milna menghempas wajah Puspa hingga gadis itu terjerembab ke samping.
🐾TAHAN DIRI NAPA BUMIL😆JANGAN ESMONI ...WKWKWKWK.
Puspa meraba pipinya, tangannya gemetar melihat darah di telapak tangannya.
"Kau benar-benar membuat wajahku hancur! Aku pasti tidak bisa dapat pacar yang tampan lagi. Kau keterlaluan!" teriak Puspa, seakan takut yang tadi dirasakannya hilang seketika. Ia mengambil batu besar di samping tubuhnya, kemudian hendak melemparnya ke wajah Milna.
Dengan tenang Milna menangkis lemparan batu dari Puspa. Ia memukul pergelangan tangan Puspa lumayan keras hingga batu itu terlempar melewati samping kepala Milna. Puspa memekik kesakitan, sepertinya lengan gadis itu patah.
"Akhh! Sakit!" pekiknya sembari berguling diatas tanah.
"Itu akibatnya. Sudah ku lepaskan tapi kau masih saja berniat menyerang ku!" Milna menarik rambut merah Puspa hingga kepala gadis itu terangkat dan mendongak kearahnya.
" Maafkan aku, tolong jangan sakiti aku lagi, hiks!" Puspa menangis dengan kencang. Sekarang bukan hanya pipinya yang perih tetapi juga lengannya begitu linu dan sangat sakit. Ia percaya jika Milna bukanlah wanita biasa.
Tenaganya begitu besar macam pria saja. Padahal jika dilihat dari wajahnya, Milna seperti gadis tomboi biasa yang tidak bisa apa-apa. Apalagi saat ia mengenakan dress, seketika aura feminimnya keluar. Membuat tampilannya semakin manis dan macam gadis lugu saja.
"Aku akan meninggalkanmu di sini. Sepertinya tempat ini juga jauh dari pemukiman. Berusahalah untuk tetap hidup." Milna menaikkan satu sudut bibirnya keatas yang mana langsung membuat wajah peri-nya berubah menjadi devil. Setelah mengatakannya, Milna pun bangkit hendak menghampiri kendaraan yang membawanya ke tempat pinggiran hutan ini.
" Tolong jangan tinggalkan aku Kak! Bawa aku keluar dari tempat ini aku tidak akan melupakan kebaikanmu. Kumohon!" Puspa beringsut perlahan hendak menghampiri Milna. Puspa mengulurkan tangannya hingga dapat menangkap satu pergelangan kaki Milna. Pergerakan Puspa yang sungguh tidak dapat di duga ini ternyata mampu membuat Milna kehilangan keseimbangan tubuhnya.
'Tidak! Aku akan jatuh!' batin Milna menghawatirkan perutnya.
"Akh!" Milna menjerit karena yakin dirinya akan mencium tanah dengan keras.
__ADS_1
GREP
Sebuah tangan kekar telah menyelamatkan Milna dari pertemuannya dengan tanah keras. Napasnya tak jadi berhenti mendadak karena merasa ancaman besar itu lewat. Berkat pertolongan tepat waktu dari pria maskulin yang kini mendekapnya dengan erat.
"Joy," panggil Milna lirih. Ia menolehkan wajahnya hingga berada sangat dekat dengan lelaki yang telah merubah statusnya. Dari musuh menjadi istri.
Joy menarik raga Milna semakin dalam memeluknya. Ia melepaskan segala sesak di dadanya karena khawatir pada Milna dan juga calon bayinya. Milna yang merasa lega tak menolak perlakuan yang di berikan oleh Joy. Milna menyambut pelukan Joy. Untuk saat ini ia membiarkan hatinya melawan ego nya untuk sesaat. Untuk kali ini saja, ia akan menuruti apa keinginan hatinya.
"Hampir saja. Entah apa yang terjadi jika kedatanganku telat sedikit." Joy berkata pelan setelah mereka melerai pelukan hangat pertama keduanya. Milna yang menunduk lantas mendongakkan kepalanya.
"Apa kau sedang memarahiku! Menyalahkanku!" protesnya dengan dada yang naik turun kerena merasa kesal.
"Kenapa kau marah. Aku tidak bermaksud seperti itu. Akan tetapi, lain kali jika suamimu ini mengatakan kau untuk tinggal maka janganlah pergi." Joy berkata dengan cukup hati-hati. Pasalnya wanita di hadapannya saat ini telah mengeluarkan tanduknya karena tersinggung pada perkataannya.
"Itu sama saja! Apa kau lupa? Jika aku bukan wanita rumahan yang akan diam saja ketika dirinya terancam. Kau lupa bagaimana sifat dan sikapku!" kilah Milna tetap tak mau di salahkan.
Ya, hormon kehamilannya sudah mulai mendominasi saat ini.
🐾YANG SABAR YA DADDY JOY😄😄
"HENTIKAN KEMESRAAN KALIAN!" teriak Puspa sambil mencakar tanah.
Ya ampun otor lupa sama tuh ulet keket😆😆.
Bersambung>>>
__ADS_1