Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Keberangkatan Joy dan Milna, ke negara K.


__ADS_3

๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ


Setelah pertemuan di rumah sakit kala itu, mereka akan kembali membicarakan rencana pernikahan setelah pertemuan kedua nanti. Aneh tapi nyata, setelah pertemuan itu, dokter menyatakan bahwa kesehatan sang ayah membaik sehingga sudah di perbolehkan untuk pulang ke rumah.


Shim yang merasa bahwa Vanish telah mengetahui semuanya dari Roma, tidak menjelaskan apapun lagi. Ia hanya memasang senyum ramah, tanpa banyak berdialog dengan gadis mungil tersebut. Setelah melihat Vanish dan bagaimana tutur sapa gadis itu, Shim semakin yakin akan pilihannya. Ia yakin, keputusannya ini tidak akan merugikan siapapun.


๐Ÿพ Ya iyalah boleh pulang. Pura-pura sakit, ya sembuhnya juga mendadak๐Ÿ˜„.


Ayah, misimu berhasil! ๐Ÿ˜Ž


______


"Nyonya, baik-baiklah. Sebulan ke depan, aku tidak bisa menemanimu." Milna berkata dengan raut wajah yang sendu. Dirinya bukan hanya berat karena harus meninggalkan Susi. Tapi, juga karena ia harus pergi bersama musuh bebuyutannya itu. Siapa lagi kalau bukan pria serba sok segalanya, Joy Kinder.


๐ŸพHayoo ... siapa yang kangen sama mereka berdua. Kisahnya selengkapnya bakal ada di novel ( Hasrat Terlarang Pembantu ).


Kedua Novel ini akan berkesinambungan ya ... maksudnya bakalan nyambung gitu. Hehe ... makanya yang belom tengokin buruan favorit ya.


Lanjutt ...


"Tenanglah, Na. Kau fokuslah pada misi yang di berikan oleh bosmu. Itu semua karena kalianlah yang paling layak dan mampu di andalkan. Perusahaan itu memang sedang genting dan kritis. Semoga, penyamaran kalian di sana lancar dan sukses," ucap Susi, memberi ketenangan pada Milna. Pengawal cantik yang akhirnya keluar dari sangkar menuju misi yang kemungkinan memiliki ancaman bahaya besar.


Bagaimanapun, Franklin juga berjasa di masa lalu suaminya. Pria itu juga sangat baik dengan memberi tempat tinggal serta akses pengobatan bagi Susi di negara K, pada saat itu.


"Aku akan melakukannya demi kebaikan tuan selama ini. Apapun yang terjadi nanti, toh aku sudah sebatang kara. Sanak keluarga pun tak ada, sehingga tidak ada yang berat ketika aku pergi." Milna berkata dengan datar.


"Na, jangan bicara seperti itu. Aku dan calon Satria Junior akan menunggumu pulang. Tentu saja, kau harus kembali dengan selamat. Kalian, harus saling menjaga, lupakanlah pertikaian yang tak berujung ini." Susi meraih tangan Milna dan menggenggamnya. Mencoba mengurai salah paham yang di rasa oleh gadis tomboi itu.


"Maafkan, aku Kak. Tidak seharusnya aku bicara seperti ini padamu. Aku seperti manusia yang tak tau diri." Milna akhirnya menyadari kekeliruannya. Ia kembali menemukan energi positif dalam dirinya.


_______


"Tuan, haruskah saya, bekerja sama dengan gadis kepala batu itu." Joy terlihat menekuk wajahnya. Tubuhnya lesu dan tak bersemangat. Padahal, keberangkatan tinggal beberapa jam lagi.

__ADS_1


"Kalian itu selalu kompak ketika bekerja. Apakah, ada kandidat sebagus kalian? Tidak ada! Aku mempercayai kalian lebih dari apapun. Selesaikan misi ini, bantu Franklin keluar dari circle tikus-tikus lapar di perusahaannya. Bahkan, imbalan darinya sangat sepadan. Kedua matamu akan melotot ketika melihatnya." Arjuna menunjukkan kertas cek dengan nominal 1milyar pada masing-masing carik kertas tipis itu.


"Kau, bisa saja berhenti bekerja dengan uang yang kau miliki itu. Meskipun, aku tetap berharap kau selamanya menjadi bawahan ku." Arjuna tersenyum remeh, ia benar-benar berkata jujur dan apa adanya, dari hati.


"Niat anda sungguh mulia, Tuan. Saya berharap, tuan Franklin adalah bos yang asik dan gaul. Tidak kudet dan berwajah kaku." Joy membalas ledekan Arjuna dengan sindiran tajam dari mulut julidnya itu.


" Sialan kau!" Arjuna melempar modul berukuran sedang ke wajah tampan di hadapannya ini. Membuat Joy meringis dan segera mengelus keningnya.


๐˜—๐˜ถ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฐ๐˜ด ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ต ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ. ๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ฐ ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ญ. ๐˜—๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ญ '๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ค๐˜ถ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ!


Joy menggerutu kesal di dalam hatinya. Membuat kedua mata Arjuna memicing tajam padanya.


"Kau sudah selesai?" sindir, Joy. Itu itu teramat peka sehingga tau jika ada yang membicarakan dirinya, meskipun lewat pikiran.


"Ah, itu ... iya. Saya akan segera berangkat." Joy segera bangun dari duduknya. Ia hendak mengambil cek itu, tapi Arjuna menariknya lagi.


"Ingat, waktu kalian hanya sebulan. Pastikan, Milna baik-baik saja dan pulang dalam keadaan utuh." Kata Arjuna dengan penuh penekanan.


Sementara itu, di depan ruang tamu. Seorang gadis tomboi terlihat mengepalkan tangannya. Ia juga berjalan mondar-mandir dengan gusar.


๐˜›๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ต๐˜ข ๐˜ค๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฐ๐˜ท๐˜ข ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฌ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ถ. ๐˜š๐˜ช๐˜ข๐˜ญ! ๐˜š๐˜ช๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ต๐˜ถ!


Milna terus saja menggerutu dalam hatinya. Sebenci apapun dengan musuh bebuyutannya itu, mereka harus tetap profesional. Karena, mereka tengah melakukan sebuah misi. Di mana ketika menjalaninya di butuhkan kekompakan serta chemistry yang kuat satu sama lain.


"Ayo berangkat! Apa mau ku tinggal!" Joy yang baru saja melintas di ruang tamu, langsung berkata dengan ketus.


"Heh! Ada juga tadi aku yang meninggalkan kau! Dasar tengik!" hardik Milna kesal. Bagaimana tidak, dirinya sudah berjam-jam menunggu Joy yang berada di dalam ruang kerja Arjuna.


" Ya sudah cepatlah! Bawakan juga barang-barangku!" titah Joy, tanpa memikirkan perasaan Milna yang sudah sangat kesal padanya. Apapun itu, Joy tidak akan peduli.


"Apa-apaan ini. Kenapa barangnya lebih banyak dariku! Keterlaluan!" Milna tak terima, meski jabatannya hanyalah asisten untuk Joy, bukan berarti pria itu bisa seenaknya menyuruh dengan tanpa perasaan begitu. Sementara, Joy berlalu sambil mengutak-atik ponselnya. Milna, berjalan dengan tergopoh-gopoh karena membawa dua koper serta tas ransel di punggungnya.


________

__ADS_1


Di dalam pesawat, mereka saling mengunci mulut masing-masing. Tak ada sapaan sekedar basa-basi, apalagi obrolan ringan. Milna, masih kesal dengan tindakan semena-mena Joy padanya. Sementara, Joy cuek saja. Tidak merasa bahwa tindakannya itu sudah keterlaluan. Pria itu, mengenakan head set di telinganya. Lalu ia memejamkan matanya sepanjang perjalanan. Kecuali ketika waktu makan dan camilan saja.


๐˜š๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฉ, ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ญ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ!


๐˜’๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜บ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ค๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช.


Sekian jam perjalanan sampailah keduanya di negara tujuan. Driver serta seorang ajudan yang di kirim oleh Franklin, telah menunggu mereka di depan lobi bandara.


"Kami akan mengantarkan kalian berdua ke apartemen milik tuan Franklin. Mari ...!" Sang pengemudi pun membukakan pintu mobil geser untuk keduanya. Sedangkan pria yang satunya lagi tengah memasukkan koper serta barang bawaan lainnya ke bagasi mobil. Kemudian, kendaraan itu melaju dengan lancar tanpa hambatan hingga ke tempat tujuan.


"Mari, saya yang akan mengantar serta membawakan barang-barang kalian." Sang driver dengan kawannya itu segera mengeluarkan koper dari dalam mobil.


"Serahkan saja koper miliknya itu, biar dia bawa sendiri," ucap Joy, datar pada pria yang membawa barang.


"Tapi, Tuan ...," heran pria itu mengerutkan keningnya.


"Kau ini, apa-apaan! Tuan Franklin mengirim mereka untuk membantu kita, ini adalah salah satu fasilitas. Kenapa kau, mengatakan hal itu padanya!" Milna yang tiba-tiba maju, dan sudah berada di depan Joy, mendorong bahu pria itu keras. Pria yang selalu di sebut casanova tengik olehnya. Joy menepis bahunya seakan baru saja ada debu yang menempel di sana, dimana ketika itu Milna mendorong dengan jari telunjuknya.


"Katanya kau ini wanita perkasa ... dan tak butuh bantuan seorang pria, bukankah kau yang mengatakannya sendiri?" sindir Joy dengan cengiran menyebalkannya.


"Kita ini baru sampai, tapi kau sudah ngajak perang!" pekik Milna, membuat kedua pria yang membawa barang terlonjak kaget. Memang, Milna adalah gadis bertemperamen tinggi, apalagi jika selalu di pancing begini. Ia yang dari awal keberangkatan saja sudah kesal, makin emosi saja di buat oleh Joy.


" Kau ini, pemarah sekali. Tidak malu di lihat mereka berdua, ini juga 'kan negara orang. Apa kau lupa?" sindir Joy, dengan wajah tanpa dosanya. Bahkan, ia terlihat begitu santai. Sementara gadis di hadapannya ini sudah mengeluarkan tanduk serta cakarnya.


"Mending ๐™œ๐™š๐™ก๐™ช๐™™ aja deh, jangan cuma bisanya mancing emosi doang!" tantang Milna, yang sudah melepas jaketnya, serta melemparnya sembarangan. Hingga, kini dirinya hanya menyisakan kaus yang press di tubuhnya.


๐˜‹๐˜ช-๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ต ๐˜ด๐˜ฆ๐˜จ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข? ๐˜’๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ๐˜ด ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ. ๐˜š๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข, ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ช๐˜ต๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ด๐˜ข๐˜ต ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ... ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ... ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ต๐˜ข. ๐˜ˆ๐˜ฉ ๐˜บ๐˜ข, ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข '๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜จ๐˜ถ๐˜ด, ๐˜ฃ๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ข.


Milna, melihat Joy yang terbengong justru mencetak senyum miringnya. Ia semakin menaikkan lengan dari kausnya sampai memperlihatkan lengan atasnya yang mulus. Bahkan kausnya yang ketat itu, memperlihatkan bentuk dadanya yang berisi.


๐ŸพAyo dah, mulai salfok kan lu, Joy. ๐Ÿ˜


Bersambung>>>>

__ADS_1


__ADS_2