Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Pindah Hak Milik.


__ADS_3

๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ


๐˜‰๐˜ข๐˜ฃ๐˜ข๐˜บ, ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฃ๐˜บ ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ด๐˜ฉ๐˜ช๐˜ช๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฏ! ๐˜›๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ ๐˜ข๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜บ ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜บ๐˜ข, ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ฐ๐˜ฌ ๐˜จ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข. ๐˜•๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ช, ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ฆ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฉ-๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฉ ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข? ๐˜”๐˜ฐ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ญ-๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ถ ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ฃ๐˜ฐ๐˜ต-๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ฃ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ? ๐˜—๐˜ฐ๐˜ฌ๐˜ฐ๐˜ฌ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ช ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ต๐˜บ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ธ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข.


"Bener ya Onty, kalo perlu tokonya bawa sekalian," Susi pun terkekeh di balik layar ponselnya. Sementara itu, di seberang sana ia juga melihat Milna yang berdecak seraya menggeleng kepalanya.


๐˜๐˜บ๐˜ข ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฉ ๐˜ด๐˜ข๐˜ต๐˜ถ ๐˜ต๐˜ฐ๐˜ฌ๐˜ฐ ๐˜ข๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜บ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ธ๐˜ข. ๐˜›๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช, ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ฅ๐˜บ ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜š๐˜ข๐˜ต๐˜ณ๐˜ช๐˜ข ๐˜บ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ณ. ๐˜๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข ...!


Milna pun tergelak, sampai baby S menangis.


"Aunty sih, nyeremin ketawanya." Susi cemberut di depan layar kamera.


"Udah ya, Kakak mau ng-ASI dulu ke baby S. Nanti kita sambung lagi vidio callnya kapan-kapan," pamit Susi seraya hendak menekan tombol merah di layar ponselnya. Tapi, teriakan Milna menghentikannya.


๐˜Œโ€“๐˜ฆ๐˜ฉ ๐˜’๐˜ข๐˜ฌ. ๐˜‰๐˜ช๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜ช๐˜ฉ, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ญ๐˜ช๐˜ข๐˜ต ๐˜š๐˜ข๐˜ต๐˜ณ๐˜ช๐˜ข ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ถ๐˜ด๐˜ถ. ๐˜Ž๐˜ข๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ฆ๐˜ญ ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฆ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ญ, ๐˜’๐˜ข๐˜ฌ!


"Enak aja! Pelanggaran tau! Nanti, kalo tiba-tiba ada Joy gimana?" omel Susi, menolak permintaan Milna.


๐˜Œ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜’๐˜ข๐˜ฌ, ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข ๐˜จ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ฐ๐˜ณ. ๐˜“๐˜ข๐˜จ๐˜ช, ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ต๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฏ. ๐˜›๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช, ๐˜ต๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ณ๐˜ข๐˜ธ๐˜ข๐˜ต, ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ต๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ˆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ข๐˜ถ ๐˜’๐˜ข๐˜ฌ?


"Mungkin, tapi dia belum memberi tahu Kakak soal itu," jawab Susi, seraya mengeluarkan sumber makanan bagi bayinya.


๐˜ž๐˜ช๐˜ฉ๐˜ฉ, ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฑ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ต ๐˜ด๐˜ช ๐˜š๐˜ข๐˜ต๐˜ณ๐˜ช๐˜ข. ๐˜—๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ด ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ฑ๐˜ช ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜บ. ๐˜๐˜ฉ, ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ฏ ๐˜จ๐˜ถ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ญ-๐˜จ๐˜ถ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ญ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜’๐˜ข๐˜ฌ.


"Makanya, cepet nikah nanti bikin yang kayak gini," ledek Susi seraya terkekeh kecil. Karena, kedua mata baby S sudah mulai terpejam kembali.


๐˜•๐˜จ๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜’๐˜ข๐˜ฌ. ๐˜’๐˜ข๐˜ญ๐˜ฐ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ฐ๐˜ฎ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ, ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ด๐˜ช๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข?


"Makanya kalian jangan berantem mulu, biar bisa cepet nikah!" Setelahnya Susi membungkam mulut sendiri menahan gelak tawanya.


๐˜๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ฉ, ๐˜ฌ๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜จ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ค๐˜ฐ๐˜ธ๐˜ฐ๐˜ฌ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ, ๐˜’๐˜ข๐˜ฌ. ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ธ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ถ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ช๐˜ด๐˜ต๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข. ๐˜๐˜ช๐˜ช๐˜ช ...


"Awas nanti kualat lho, kemakan omongan sendiri. Kalo kata Kakak, sih suatu saat kalian balal berjodoh. Entah gimana nanti jalan dan alurnya. Kamu tungguin aja ya, di lamar sama Joy," tutur Susi.


๐˜›๐˜ข๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฉ! ๐˜’๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ฐ๐˜ฅ ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜จ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ด ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข. ๐˜Š๐˜ฐ๐˜ธ๐˜ฐ๐˜ฌ ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ด, ๐˜ซ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฅ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜จ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ, ๐˜ด๐˜ช๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ช๐˜ด๐˜ต๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข? ๐˜ ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฉ ๐˜’๐˜ข๐˜ฌ, ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ฐ ๐˜จ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜จ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ต๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ด. ๐˜๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข ...!


" Hussh! Kalo benci gak boleh kelewatan nanti bisa cinta kebangetan!" ujar Susi. Ia menggelengkan kepalanya tak habis pikir dengan kedua orang anak buah suaminya itu. Entah, bagaimana lagi cara mendamaikan mereka berdua.


๐˜๐˜ต๐˜ถ ๐˜ค๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ต๐˜ฐ๐˜ด ๐˜’๐˜ข๐˜ฌ, ๐˜ต๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜บ๐˜ถ๐˜ญ! ๐˜‘๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ค๐˜ข๐˜บ๐˜ข! ๐˜’๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข, ๐˜จ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข.


"Terserah kamu deh, ya. Kakak mah dukung aja deh siapapun nanti yang bakal jadi calon pasanganmu. Biar cepet - cepet nyusul si Ninis. Kalo perlu, pas resepsinya nanti, kamu udah bawa gandengan begitu juga dengan Joy. Ya, siapa tau kalian berdua yang malah gandengan," ucap Susi dengan senyum penuh harap.

__ADS_1


๐˜๐˜บ๐˜ถ๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ฉ, ๐˜’๐˜ข๐˜ฌ. ๐˜•๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฉ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ค๐˜ถ๐˜ค๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ด๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช. ๐˜š๐˜ช๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ต๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ต ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ฆ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฉ! ๐˜๐˜ช๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ช ...


"Lha, itu Joy bule!" celetuk Susi.


๐˜–๐˜จ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ข๐˜ฉ! ๐˜”๐˜ข๐˜ถ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ฆ ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข. ๐˜Ž๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ถ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ข๐˜ญ-๐˜ข๐˜ฃ๐˜ข๐˜ญ.


"Iya deh iya, selamat hunting! See you, next time!" Susi pun pamit dengan melambaikan tangannya. Begitu juga, Milna.


"Siapa yang mau nyari bule?" Arjuna tiba- tiba masuk ke dalam kamar.


_______


"Aku yang mau nyari, kenapa emang?" tanya Milna ketus, pada laki-laki yang entah sejak kapan berada di belakangnya itu.


"Sok cantik!" celetuk Joy julid seperti biasa. Padahal mereka team work. Tapi, selalu saja bertengkar dan berdebat demi hal-hal kecil.


"Dasar tukang kepo! Tukang nguping!" kesal Milna. Ingin rasanya ia melempar printer tinta di atas mejanya ini.


"Siapa yang nguping, 'kan ini juga ruangan ku." kilah Joy datar.


"Ngeles aja!"


"Selamat mencari! Dan, jangan nangis kalo gak laku." ucap Joy datar. Seraya menatap layar laptopnya kembali.


"Lakukan! Jangan hanya omong besar." Joy kini mengangkat wajahnya yang bertopang dagu. Ia menatap remeh pada gadis di hadapannya.


"Jangan ngajak lembur, weekend ini. Awas saja jika kau tau-tau memberi ku tugas yang tak manusiawi!"


_______


"Milna, dia mau nyari bule katanya di sana. Buat jadi temen kondangan nanti. Pas acaranya Vanโ€“Be," jelas Susi. Seraya buru-buru merapikan pakaian depannya. Bukan apa, ia hanya menjaga hasrat suaminya saja.


"Kenapa, di masukkan sih. Melihat sebentar memang tidak boleh," cebik Arjuna. Pria itu melepas dasi dan juga kemejanya.


"Eh, ngapain buka di sini! Sana, di kamar mandi." Susi mengusir suaminya, yang sepertinya sengaja memamerkan otot di hadapannya.


"Sebentar dulu, mau memandangi istri cantikku yang semakin seksi," ucap Arjuna membuat Susi semakin salah tingkah saja.


"Ck, untuk apa merayu! Mandi sana, kamu bau!" ucap Susi, berlagak menutup hidungnya.


"Masa sih?" Arjuna pun mengangkat tangannya, sembari mengendus ketiaknya sendiri.

__ADS_1


"Masih wangi, sayang. Parfumku kan mahal. Awet 24 jam. Kalau aku bau, bisa ku tuntut distributornya." Sungut Arjuna, tapi pria itu malah duduk di belakang Susi.


"Aih, kenapa dekat-dekat!" tolak Susi, sebenarnya memang Arjuna itu tidak bau, hanya saja Susi sengaja mengusirnya. Karena tatapan suaminya itu, begitu mendamba saat menatapnya. Ia jadi risih dan malu sendiri.


"Kenapa sih? Semenjak ada baby S. Aku jadi di cuekin," rajuk Arjuna. Ia sengaja meletakkan wajahnya di bahu Susi.


"Ih, bukan gitu. Bukan cuekin kamu, hanya saja aku menjaga kedekatan kita sampai pada waktunya."


"Waktu apa?"


"Waktu bersih."


"Memangnya, di larang bermesraan jika kamu belum bersih, gitu?"


"Engโ€“enggak juga sih, aku cuma takut kamu nya gak tahan aja."


"Gak tahan ya tinggal salurkan, kok bingung sih." Arjuna mengecup ceruk leher yang kini beraroma minyak telon itu.


"Ar, geli ...." Susi menggeliat. Merasakan sensasi menggelitik yang membuat sesuatu yang tersembunyi berdenyut ria.


"Aku merindukanmu." Arjuna mengulurkan tangannya untuk memeluk raga itu dari belakang.


"Selagi, Satria pulas. Biar sekalian mandi," bisik Arjuna di telinga Susi. Mengerti apa yang diinginkan suaminya itu, Susi pun mengangguk.


Mereka berdua pun pindah ke sofa. Agar baby S tidak terganggu dengan kegiatan kedua orangtuanya.


"Pelan-pelan jalannya." Arjuna menuntun Susi, padahal jarak dari tempat tidur ke sofa hanya beberapa meter saja.


"Emang kenapa harus pelan-pelan? Aku gapapa kok, jahitan ku juga gak sakit." kata Susi, kini mereka telah duduk berdampingan di sofa. Seraya melihat senja di luar jendela kamar mereka. Arjuna kembali merengkuh Susi dari belakang. Menciumi aroma sampo dari rambut istrinya itu, hingga beralih ke pipi dengan harum bedak bayi.


"Boleh ya, aku minta tolong. Kamu gak usah banyak bergerak, biar aku saja. Cukup, diam dan biarkan aku menikmati aroma tubuhmu yang sangat aku rindukan." Pinta Arjuna dengan suara berat, pertanda dirinya telah diliputi oleh gairah napsu yang membara.


"Apa aku harus membuka pakaianku?" tanya Susi, tanpa malu. Bagaimanapun, ia harus membantu sang suami menyalurkan hasratnya.


"Aku akan sangat senang jika kau bersedia sayang, aku menyukai kembar bakpao mu yang semakin bulat dan besar itu," ucap Arjuna dengan kedua mata berbinar. Ketika Susi hanya menyisakan penutup bukit teletubbies saja.


"Kau hanya boleh melihatnya, karena ini nyeri bila di sentuh." pesan Susi, membuat Arjuna menelan ludahnya kasar. Kentara sekali jika pria itu ingin merasakannya.


"Cium saja, boleh tidak?" tawar Arjuna, memelas.


" Tutup lagi aja ya." gemas Susi.

__ADS_1


"Eh, jangan! Iya deh aku nurut. Hanya lihat saja." Akhirnya, Arjuna pun pasrah. Sekarang mainannya itu sudah berpindah hak milik.


Bersambung>>>>


__ADS_2