
๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ
๐๐ข๐ฃ๐ข๐บ, ๐ฃ๐ข๐ฃ๐บ ๐จ๐ถ๐ฎ๐ถ๐ด๐ฉ๐ช๐ช๐ช๐ฏ๐ฏ! ๐๐ถ๐ฏ๐จ๐จ๐ถ ๐ข๐ถ๐ฏ๐ต๐บ ๐ฑ๐ถ๐ญ๐ข๐ฏ๐จ ๐บ๐ข, ๐ฅ๐ถ๐ข ๐ฑ๐ฆ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ญ๐ข๐จ๐ช ๐ฌ๐ฐ๐ฌ ๐จ๐ข๐ฌ ๐ญ๐ข๐ฎ๐ข. ๐๐ข๐ฏ๐ต๐ช, ๐ฅ๐ฆ๐ฅ๐ฆ ๐ฎ๐ข๐ถ ๐ฐ๐ญ๐ฆ๐ฉ-๐ฐ๐ญ๐ฆ๐ฉ ๐ข๐ฑ๐ข? ๐๐ฐ๐ฃ๐ช๐ญ-๐ฎ๐ฐ๐ฃ๐ช๐ญ๐ข๐ฏ ๐ข๐ต๐ข๐ถ ๐ณ๐ฐ๐ฃ๐ฐ๐ต-๐ณ๐ฐ๐ฃ๐ฐ๐ต๐ข๐ฏ? ๐๐ฐ๐ฌ๐ฐ๐ฌ๐ฏ๐บ๐ข ๐ฏ๐ข๐ฏ๐ต๐ช ๐ฐ๐ฏ๐ต๐บ ๐ฃ๐ข๐ธ๐ข๐ช๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐บ๐ข.
"Bener ya Onty, kalo perlu tokonya bawa sekalian," Susi pun terkekeh di balik layar ponselnya. Sementara itu, di seberang sana ia juga melihat Milna yang berdecak seraya menggeleng kepalanya.
๐๐บ๐ข ๐ฏ๐ข๐ฏ๐ต๐ช ๐ฅ๐ฆ๐ฉ ๐ด๐ข๐ต๐ถ ๐ต๐ฐ๐ฌ๐ฐ ๐ข๐ถ๐ฏ๐ต๐บ ๐ฃ๐ข๐ธ๐ข. ๐๐ข๐ฑ๐ช, ๐ฅ๐ข๐ฅ๐ฅ๐บ ๐ฏ๐บ๐ข ๐๐ข๐ต๐ณ๐ช๐ข ๐บ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ข๐บ๐ข๐ณ. ๐๐ข๐ฉ๐ข๐ฉ๐ข ...!
Milna pun tergelak, sampai baby S menangis.
"Aunty sih, nyeremin ketawanya." Susi cemberut di depan layar kamera.
"Udah ya, Kakak mau ng-ASI dulu ke baby S. Nanti kita sambung lagi vidio callnya kapan-kapan," pamit Susi seraya hendak menekan tombol merah di layar ponselnya. Tapi, teriakan Milna menghentikannya.
๐โ๐ฆ๐ฉ ๐๐ข๐ฌ. ๐๐ช๐ข๐ณ๐ช๐ฏ ๐ข๐ซ๐ข ๐ช๐ฉ, ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฎ๐ข๐ถ ๐ญ๐ช๐ข๐ต ๐๐ข๐ต๐ณ๐ช๐ข ๐ฏ๐บ๐ถ๐ด๐ถ. ๐๐ข๐ฏ๐ซ๐ฆ๐ญ ๐ข๐ซ๐ข ๐ฑ๐ฐ๐ฏ๐ด๐ฆ๐ญ๐ฏ๐บ๐ข ๐ฑ๐ข๐ฌ๐ฆ ๐ฃ๐ข๐ฏ๐ต๐ข๐ญ, ๐๐ข๐ฌ!
"Enak aja! Pelanggaran tau! Nanti, kalo tiba-tiba ada Joy gimana?" omel Susi, menolak permintaan Milna.
๐๐ฏ๐จ๐จ๐ข๐ฌ ๐๐ข๐ฌ, ๐ฅ๐ช๐ข ๐จ๐ข๐ฌ ๐ข๐ฅ๐ข ๐ฅ๐ช ๐ฌ๐ข๐ฏ๐ต๐ฐ๐ณ. ๐๐ข๐จ๐ช, ๐ฅ๐ช ๐ณ๐ถ๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข ๐ต๐ถ๐ข๐ฏ ๐๐ณ๐ข๐ฏ๐ฌ๐ญ๐ช๐ฏ. ๐๐ข๐ฑ๐ช, ๐ต๐ถ๐ข๐ฏ ๐๐ณ๐ข๐ฏ๐ฌ๐ญ๐ช๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข ๐ญ๐ข๐จ๐ช ๐ฅ๐ช ๐ณ๐ข๐ธ๐ข๐ต, ๐ข๐ฑ๐ข ๐ต๐ถ๐ข๐ฏ ๐๐ณ๐ซ๐ถ๐ฏ๐ข ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ต๐ข๐ถ ๐๐ข๐ฌ?
"Mungkin, tapi dia belum memberi tahu Kakak soal itu," jawab Susi, seraya mengeluarkan sumber makanan bagi bayinya.
๐๐ช๐ฉ๐ฉ, ๐ญ๐ข๐ฉ๐ข๐ฑ ๐ฃ๐ข๐ฏ๐จ๐ฆ๐ต ๐ด๐ช ๐๐ข๐ต๐ณ๐ช๐ข. ๐๐ข๐ฏ๐ต๐ฆ๐ด ๐ข๐ซ๐ข ๐ต๐ถ๐ฉ ๐ฑ๐ช๐ฑ๐ช ๐จ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ถ๐บ. ๐๐ฉ, ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐ฑ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฆ๐ฏ ๐จ๐ถ๐ด๐ฆ๐ญ-๐จ๐ถ๐ด๐ฆ๐ญ ๐ข๐ฌ๐ถ ๐๐ข๐ฌ.
"Makanya, cepet nikah nanti bikin yang kayak gini," ledek Susi seraya terkekeh kecil. Karena, kedua mata baby S sudah mulai terpejam kembali.
๐๐จ๐ฐ๐ฎ๐ฐ๐ฏ๐จ ๐ด๐ช๐ฉ ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฌ ๐๐ข๐ฌ. ๐๐ข๐ญ๐ฐ ๐ฃ๐ฆ๐ญ๐ฐ๐ฎ ๐ข๐ฅ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฏ๐จ๐ข๐ซ๐ข๐ฌ๐ช๐ฏ, ๐ต๐ฆ๐ณ๐ถ๐ด ๐ฏ๐ช๐ฌ๐ข๐ฉ๐ฏ๐บ๐ข ๐ด๐ข๐ฎ๐ข ๐ด๐ช๐ข๐ฑ๐ข?
"Makanya kalian jangan berantem mulu, biar bisa cepet nikah!" Setelahnya Susi membungkam mulut sendiri menahan gelak tawanya.
๐๐ฅ๐ช๐ฉ๐ฉ, ๐ฌ๐ข๐บ๐ข๐ฌ ๐จ๐ข๐ฌ ๐ข๐ฅ๐ข ๐ค๐ฐ๐ธ๐ฐ๐ฌ ๐ญ๐ข๐ช๐ฏ ๐ข๐ซ๐ข ๐ด๐ช๐ฉ, ๐๐ข๐ฌ. ๐๐ฌ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ช๐ฏ๐จ ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ข๐ธ๐ข๐ฏ ๐ต๐ถ๐ข๐ฌ ๐ฅ๐ฆ๐ฉ ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐ช๐ด๐ต๐ณ๐ช๐ฏ๐บ๐ข. ๐๐ช๐ช๐ช ...
"Awas nanti kualat lho, kemakan omongan sendiri. Kalo kata Kakak, sih suatu saat kalian balal berjodoh. Entah gimana nanti jalan dan alurnya. Kamu tungguin aja ya, di lamar sama Joy," tutur Susi.
๐๐ข๐ถ๐ฌ ๐ข๐ฉ! ๐๐ข๐ฌ๐ข๐ฌ ๐ฃ๐ช๐ฌ๐ช๐ฏ ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฃ๐ข๐ฅ๐ฎ๐ฐ๐ฐ๐ฅ ๐ข๐ซ๐ข ๐ด๐ฆ๐จ๐ข๐ญ๐ข ๐ฃ๐ข๐ฉ๐ข๐ด ๐ฅ๐ช๐ข. ๐๐ฐ๐ธ๐ฐ๐ฌ ๐ญ๐ฆ๐ฎ๐ฆ๐ด, ๐ซ๐ถ๐ญ๐ช๐ฅ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ด๐ถ๐ฎ ๐ฌ๐ข๐บ๐ข๐ฌ ๐จ๐ช๐ต๐ถ, ๐ด๐ช๐ข๐ฑ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ต๐ข๐ฉ๐ข๐ฏ ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐ช๐ด๐ต๐ณ๐ช๐ฏ๐บ๐ข? ๐ ๐ข๐ฏ๐จ ๐ข๐ฅ๐ข ๐ฏ๐ช๐ฉ ๐๐ข๐ฌ, ๐ต๐ถ๐ฉ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ถ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ข๐ญ๐ฐ ๐จ๐ข๐ฌ ๐จ๐ช๐ญ๐ข ๐บ๐ข ๐ด๐ฆ๐ต๐ณ๐ฆ๐ด. ๐๐ข๐ฉ๐ข๐ฉ๐ข ...!
" Hussh! Kalo benci gak boleh kelewatan nanti bisa cinta kebangetan!" ujar Susi. Ia menggelengkan kepalanya tak habis pikir dengan kedua orang anak buah suaminya itu. Entah, bagaimana lagi cara mendamaikan mereka berdua.
๐๐ต๐ถ ๐ค๐ถ๐ฎ๐ข ๐ฎ๐ช๐ต๐ฐ๐ด ๐๐ข๐ฌ, ๐ต๐ข๐ฉ๐ข๐บ๐ถ๐ญ! ๐๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ค๐ข๐บ๐ข! ๐๐ข๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ข, ๐จ๐ข๐ฌ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ฆ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช๐ข๐ฏ ๐ด๐ข๐ฎ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ช๐ข.
"Terserah kamu deh, ya. Kakak mah dukung aja deh siapapun nanti yang bakal jadi calon pasanganmu. Biar cepet - cepet nyusul si Ninis. Kalo perlu, pas resepsinya nanti, kamu udah bawa gandengan begitu juga dengan Joy. Ya, siapa tau kalian berdua yang malah gandengan," ucap Susi dengan senyum penuh harap.
__ADS_1
๐๐บ๐ถ๐ถ๐ฉ๐ฉ, ๐๐ข๐ฌ. ๐๐ข๐ฏ๐ต๐ช ๐ฅ๐ฆ๐ฉ ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ค๐ถ๐ค๐ช ๐ฎ๐ข๐ต๐ข ๐ฅ๐ช ๐ด๐ช๐ฏ๐ช. ๐๐ช๐ข๐ฑ๐ข ๐ต๐ข๐ถ ๐ฅ๐ข๐ฑ๐ฆ๐ต ๐ฃ๐ถ๐ญ๐ฆ ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ต๐ถ๐ฉ! ๐๐ช๐ฉ๐ช๐ฉ๐ช ...
"Lha, itu Joy bule!" celetuk Susi.
๐๐จ๐ข๐ฉ ๐ข๐ฉ! ๐๐ข๐ถ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฐ๐ณ๐ช ๐ฃ๐ถ๐ญ๐ฆ ๐ฏ๐บ๐ข. ๐๐ข๐ฌ ๐ฎ๐ข๐ถ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ข๐ฃ๐ข๐ญ-๐ข๐ฃ๐ข๐ญ.
"Iya deh iya, selamat hunting! See you, next time!" Susi pun pamit dengan melambaikan tangannya. Begitu juga, Milna.
"Siapa yang mau nyari bule?" Arjuna tiba- tiba masuk ke dalam kamar.
_______
"Aku yang mau nyari, kenapa emang?" tanya Milna ketus, pada laki-laki yang entah sejak kapan berada di belakangnya itu.
"Sok cantik!" celetuk Joy julid seperti biasa. Padahal mereka team work. Tapi, selalu saja bertengkar dan berdebat demi hal-hal kecil.
"Dasar tukang kepo! Tukang nguping!" kesal Milna. Ingin rasanya ia melempar printer tinta di atas mejanya ini.
"Siapa yang nguping, 'kan ini juga ruangan ku." kilah Joy datar.
"Ngeles aja!"
"Selamat mencari! Dan, jangan nangis kalo gak laku." ucap Joy datar. Seraya menatap layar laptopnya kembali.
"Lakukan! Jangan hanya omong besar." Joy kini mengangkat wajahnya yang bertopang dagu. Ia menatap remeh pada gadis di hadapannya.
"Jangan ngajak lembur, weekend ini. Awas saja jika kau tau-tau memberi ku tugas yang tak manusiawi!"
_______
"Milna, dia mau nyari bule katanya di sana. Buat jadi temen kondangan nanti. Pas acaranya VanโBe," jelas Susi. Seraya buru-buru merapikan pakaian depannya. Bukan apa, ia hanya menjaga hasrat suaminya saja.
"Kenapa, di masukkan sih. Melihat sebentar memang tidak boleh," cebik Arjuna. Pria itu melepas dasi dan juga kemejanya.
"Eh, ngapain buka di sini! Sana, di kamar mandi." Susi mengusir suaminya, yang sepertinya sengaja memamerkan otot di hadapannya.
"Sebentar dulu, mau memandangi istri cantikku yang semakin seksi," ucap Arjuna membuat Susi semakin salah tingkah saja.
"Ck, untuk apa merayu! Mandi sana, kamu bau!" ucap Susi, berlagak menutup hidungnya.
"Masa sih?" Arjuna pun mengangkat tangannya, sembari mengendus ketiaknya sendiri.
__ADS_1
"Masih wangi, sayang. Parfumku kan mahal. Awet 24 jam. Kalau aku bau, bisa ku tuntut distributornya." Sungut Arjuna, tapi pria itu malah duduk di belakang Susi.
"Aih, kenapa dekat-dekat!" tolak Susi, sebenarnya memang Arjuna itu tidak bau, hanya saja Susi sengaja mengusirnya. Karena tatapan suaminya itu, begitu mendamba saat menatapnya. Ia jadi risih dan malu sendiri.
"Kenapa sih? Semenjak ada baby S. Aku jadi di cuekin," rajuk Arjuna. Ia sengaja meletakkan wajahnya di bahu Susi.
"Ih, bukan gitu. Bukan cuekin kamu, hanya saja aku menjaga kedekatan kita sampai pada waktunya."
"Waktu apa?"
"Waktu bersih."
"Memangnya, di larang bermesraan jika kamu belum bersih, gitu?"
"Engโenggak juga sih, aku cuma takut kamu nya gak tahan aja."
"Gak tahan ya tinggal salurkan, kok bingung sih." Arjuna mengecup ceruk leher yang kini beraroma minyak telon itu.
"Ar, geli ...." Susi menggeliat. Merasakan sensasi menggelitik yang membuat sesuatu yang tersembunyi berdenyut ria.
"Aku merindukanmu." Arjuna mengulurkan tangannya untuk memeluk raga itu dari belakang.
"Selagi, Satria pulas. Biar sekalian mandi," bisik Arjuna di telinga Susi. Mengerti apa yang diinginkan suaminya itu, Susi pun mengangguk.
Mereka berdua pun pindah ke sofa. Agar baby S tidak terganggu dengan kegiatan kedua orangtuanya.
"Pelan-pelan jalannya." Arjuna menuntun Susi, padahal jarak dari tempat tidur ke sofa hanya beberapa meter saja.
"Emang kenapa harus pelan-pelan? Aku gapapa kok, jahitan ku juga gak sakit." kata Susi, kini mereka telah duduk berdampingan di sofa. Seraya melihat senja di luar jendela kamar mereka. Arjuna kembali merengkuh Susi dari belakang. Menciumi aroma sampo dari rambut istrinya itu, hingga beralih ke pipi dengan harum bedak bayi.
"Boleh ya, aku minta tolong. Kamu gak usah banyak bergerak, biar aku saja. Cukup, diam dan biarkan aku menikmati aroma tubuhmu yang sangat aku rindukan." Pinta Arjuna dengan suara berat, pertanda dirinya telah diliputi oleh gairah napsu yang membara.
"Apa aku harus membuka pakaianku?" tanya Susi, tanpa malu. Bagaimanapun, ia harus membantu sang suami menyalurkan hasratnya.
"Aku akan sangat senang jika kau bersedia sayang, aku menyukai kembar bakpao mu yang semakin bulat dan besar itu," ucap Arjuna dengan kedua mata berbinar. Ketika Susi hanya menyisakan penutup bukit teletubbies saja.
"Kau hanya boleh melihatnya, karena ini nyeri bila di sentuh." pesan Susi, membuat Arjuna menelan ludahnya kasar. Kentara sekali jika pria itu ingin merasakannya.
"Cium saja, boleh tidak?" tawar Arjuna, memelas.
" Tutup lagi aja ya." gemas Susi.
__ADS_1
"Eh, jangan! Iya deh aku nurut. Hanya lihat saja." Akhirnya, Arjuna pun pasrah. Sekarang mainannya itu sudah berpindah hak milik.
Bersambung>>>>