Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Hak Prerogatif


__ADS_3

🔥🔥🔥🔥


"Sugan ...," lirih Vanish memanggil suaminya. Wanita ini sudah sadar seutuhnya. Dengan keadaan yang lebih baik dari sebelumnya. Bahkan selang oksigennya sudah di ganti dengan yang standar. Vanish juga sudah ganti pakaian dengan piyama pasien. Sementara tadinya ia hanya menggunakan kostum operasi.


"Iya sayang, Imoy-ku mau apa?" sahut Better lembut seraya menghampiri dan kemudian duduk di kursi yang terletak pada tepi brangkar.


"Katakan, apa yang terjadi dengan Ninis?" tanya Vanish dengan kedua mata yang sudah berkaca-kaca. Di kepalanya telah berseliweran penggalan demi penggalan kejadian kemarin siang di apartemennya. Setelahnya ia tak tau lagi apa yang terjadi. Tapi perasaannya mengatakan bahwa ada kejadian besar yang sudah terjadi.


"Sayang, dengarkan aku. Apapun yang terjadi, aku akan selalu bersamamu. Kita akan melewati bersama. Kau sudah baik-baik saja, kau selamat itu yang terpenting bagiku," ucap Better lembut sambil menggenggam tangan mungil Vanish. Kemudian mendekatkan pada bibirnya. Pria itu berkali-kali melabuhkan kecupan di sana lalu menempelkan telapak tangan itu ke pipinya.


"Jadi, bayi kita?" Vanish sontak membekap mulutnya. Ketika ia mengerti arti dari perkataan suaminya dan juga makna dari tatapannya yang sendu itu.


"Sayang, jangan menangis. Tidak apa-apa, semua sudah suratan takdir. Ku mohon, nanti kamu sesak lagi," tahan Better karena isakan Vanish semakin kencang. Membuat dadanya naik kala mengeluarkan emosinya.


" Maafkan Ninis ... ini semua salah Ninis. Aku gak bisa jaga anak kita dengan baik. Kita gak jadi punya bayi ...," teriak Vanish histeris. Tangisnya semakin menjadi seiring teriakannya.


"Imoy sayang, ku mohon hentikan ini. Semua bukan salahmu, bukan. Kau sudah menjaganya dengan baik. Kau bahkan selalu mengajaknya berbicara. Semua ini bukan salahmu, jelas bukan." Better merangkul raga Vanish erat, kristal bening itu ikut meleleh merasakan luka batin istrinya. Ini yang ia takutkan, kekecewaan dari sebuah harapan yang terlalu besar. Ekspektasi di luar kemampuan dan kuasa kita. Akan membuat kita terpuruk dan kecewa, jika akhir cerita tidak berpihak pada keinginan kita. Inilah, yang tengah di rasakan Vanish.


Hatinya kecewa, sedih, marah dan terluka. Berujung menghakimi diri sendiri, beranggapan bahwa kegagalan yang terjadi adalah akibat dari sebuah kesalahan.


"Enggak ... bayi kita pergi ...! Karena aku belum pantas memilikinya. Ninis, Ninis tidak bisa menjaga bayi kita. Sugan ... bahkan Ninis sudah membuat nama panggilan untuk kita. Aku Mimi dan Sugan jadi Bibu ... hiks!" Vanish kembali terisak. Ketika ia mengingat kembali pembicaraannya dengan janinnya kemarin pagi.

__ADS_1


"Tidak sayang, bukan begitu. Semua bukan salahmu. Kita hanya belum beruntung pada saat ini. Percayalah, suatu saat itu semua akan menjadi milik kita. Jika memang sudah waktunya." Better terus membisikkan kata-kata motivasi untuk Vanish. Ia tak sedikit pun melepas rangkulannya pada istri mungilnya itu. "Sayang berhentilah menyalahkan dirimu sendiri. Hatiku pun turut sakit mendengarnya. Kau tidak tau jika kami hampir juga kehilangan separuh jiwamu." Better ikut terisak. Dadanya begitu sesak mengingat bagaimana status Vanish beberapa waktu.


"Apa maksudnya? Katakan Sugan! Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa bayi kita diambil? Kenapa?" Vanish kembali histeria, ia bahkan menarik kemeja suaminya hingga kancing-kancingnya lepas dan bertebaran di atas kasur.


"Sayang, kumohon tenangkan lah dirimu. Bagaimana aku akan bercerita jika kau terbawa emosi seperti ini." Better memegang kedua tangan Vanish yang masih mencengkeram kemejanya. Kini bagian dadanya telah terekspos. Tapi kita jangan terfokus pada itu, please. Meskipun bentukan dada bidang Better begitu pelukable dan menggoda untuk di sentuh. Aiihh ... godaan.


Kembali pada scene!


Mata keduanya yang sama-sama basah dan berair saling menatap dengan dalam satu sama lain. Menyusup ke dalam perasaan masing-masing. Hingga tangan Better terulur untuk menyusuri wajah Vanish yang basah.


" Keadaanmu begini membuat hatiku sangat sakit. Aku lebih baik kehilangan segalanya dibanding dirimu. Keceriaanmu, senyum manismu yang terkadang jenaka. Kau tau, jika Tuhan telah menjawab doa-doa ku. Operasimu berhasil dengan baik. Bahkan tim dokter tidak jadi mengangkat rahimmu. Salah satu organ yang menjadi kebanggaan wanita. Aku sangat bersyukur dengan keadaanmu saat ini. Kau pu harus begitu." Better berkata dengan suara yang bergetar. Ia menguatkan dirinya untuk tidak menangis. Meski lelehan air mata itu tak ayal turun juga.


"Lalu, bayi kita tiada karena apa Sugan. Dia kenapa?" tanya Vanish dengan suara parau nya. Bahkan napasnya masih sesenggukan.


"Iya Sugan benar. Ninis harus cepat pulih biar kita bisa segera cetak bayi lagi. Pasti kali ini bayi kita akan baik-baik saja. Iya 'kan ?" tanya Vanish dengan aura wajah yang sudah lebih ceria.


"Sayang, Imoy harus bersabar dulu. Rahim kamu perlu waktu untuk masa pemulihan pasca operasi," jelas Better yang mampu merubah kembali air muka istrinya itu.


"Berapa lama?"


"Dua tahun sayang,"

__ADS_1


"Kenapa lama sekali! Kenapa Ninis harus menunggu selama itu.Kenapa harus ada penyakit itu di rahimku!" Vanish kembali histeris. Wanita muda itu masih belum mengerti. Belum dapat menerima apa yang di alami oleh dirinya .


"Sayang terimalah semua ini dengan lapang dada. Agar semua tidak terasa mencekikmu," kata Better terus berupaya menasihati istrinya. Seandainya mereka tau di luar kamar terdapat beberapa orang yang menunggu Better keluar. Mereka ingin bergantian menjenguk Vanish. Tapi mau bagaimana, pasiennya masih sangat terpukul dengan kejadian yang menimpa dirinya.


"Kak Susi, Kak Nana. Mereka menggendong bayi, akan menggendong bayi. Bagaimana dengan Ninis? Aku harus masih menunggu selama itu. Kenapa hidup ini tidak adil!" Vanish berteriak lagi sambil memukul dada polos Better.


" Sayang, sebaiknya aku keluar." Better melepas tangan Vanish, hendak berbalik untuk turun.


"Kenapa? Sugan mau ninggalin Ninis juga?" cegah Vanish. Ia menarik lengan Better hingga pria itu kembali menoleh padanya.


"Bukan begitu, hanya saja semua kata-kataku tidak ada yang Imoy dengar. Semoga jika yang berbicara Emak atau Nyonya, kau pasti mendengarkannya." Better pun turun setelah sebelumnya kembali mengecup singkat dahi Vanish. Kenapa selalu dahi? Sebenarnya ia ingin memberi kecupan di bibir Vanish. Hanya saja wajah pucat itu membuatnya tak tega jika nanti ia kebablasan.


"Sugan, panggil Kak Susi dulu ya," pinta Vanish yang kemudian diangguki Better.


"Nyonya. Vanish membutuhkan anda. Dia belum bisa menerima ini semua. Bahkan tadi terus menerus histeris. Sejak tadi Ninis terus menerus menyalahkan dirinya sendiri," adu Better pada Susi. Membuat Susi seketika menoleh kearah suaminya. Memohon ijin untuk masuk menemui sang sahabat. Kedua mata indahnya berbinar tatkala sebuah anggukan Arjuna menjadi jawaban.


" Aku tidak akan lama. Jangan merindukanku," ucap Susi pelan seraya melepaskan kedua tangannya yang barusan menangkup kedua pipi Arjuna.


"Jangan melarang ku untuk tidak merindukanmu. Karena itu adalah hak prerogatif milikku. Pergi dan jangan terlalu lama meninggalkanku." Arjuna pun berpesan dengan suara yang masih terdengar jelas oleh orang lain di sana. Dimana kini ada Roma, Shim dan juga Kelly.


Milna, Joy dan Better yang sudah paham kebucinan bos mereka, hanya menanggapi drama barusan dengan gelengan kepala. Sementara ketiga orang yang berada di kursi seberang hanya bisa memasang wajah seperti orang bodoh.

__ADS_1


Ketiganya cengo seketika, wkwkwkwkw.


Bersambung>>>


__ADS_2