Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Oh ... Joy ...


__ADS_3

🔥🔥🔥🔥🔥


"Kodok 1."


" Target meninggalkan pantai ... Ganti!"


Seorang pria bertopi dengan wajah tertutup masker, tengah memantau dari balik pohon besar. Ia berbicara dengan kawannya melalui ear phone.


" Siap. Bancet 1."


" Posisi ready ... Ganti." jawab pria berpakaian serba hitam dengan kepala botak, dan kacamata hitam bertengger di atas hidung besarnya.


Arjuna dan Susi telah sampai di samping mobil mereka, baru saja Arjuna hendak membuka pintu mobil sebelah kiri, seorang pria melayangkan pukulan ke arahnya.


"Akh!" Susi memekik kaget melihat serangan tiba-tiba kearah Arjuna.


"Bedebah kalian!" Arjuna berhasil mengelak dan dia pun menyerah balik pria bertopeng dengan pakaian serba hitam itu.


"Kau bisa berkelahi rupanya? ku kira hanya CEO bermodalkan keturunan dari nenek moyangmu!" ejek pria bertopeng tersebut, kemudian kembali mengarahkan serangannya pada Arjuna.


Susi melihat adegan kekerasan itu di balik mobil, hatinya ketar-ketir serta dengkulnya lemas seketika.


Pria yang menyerang Arjuna badannya sangatlah besar. Arjuna hampir kewalahan menghadapi serangannya.


BUGH!


"Argh!" Arjuna mendapat pukulan lagi di wajahnya, baru ia hendak menyeimbangkan tubuhnya yang limbung perutnya kini yang menjadi sasarannya.


"Ough!" Darah segar menetes keluar dari mulut Arjuna.


Susi membekap mulutnya, ingin sekali ia menghampiri Arjuna. Namun apa daya kakinya lemas tak mampu ia gerakkan, tapi dia ingat satu hal. Susi meraih ponsel di dalam tasnya.


DUGH!


Kali ini pria berbadan besar itu jatuh, karena Arjuna berhasil menendang tungkainya di sela sakit yang mendera perut dan dadanya.


"Jadi ... kau bersembunyi disini kelinci kecil?" Seorang pria bertopeng kedua muncul entah darimana.


Ia melangkah perlahan dan mulai mendekati Susi. Kedua mata Susi membola, hingga ponselnya jatuh ke bawah kakinya.

__ADS_1


"Sayang sekali ... cantik, tapi harus mati." ucap pria itu sambil memainkan sebilah benda tajam di tangan kanannya.


"Pergi kau!"


" Jangan mendekat atau kau akan mendekam sangat lama di jeruji besi!" ancam Susi, padahal dirinya belum sempat menghubungi polisi.


Ia hanya ingat menghubungi Joy, entah sempat tersambung atau tidak.


Arjuna yang sempat melihat keadaan Susi yang terancam, seakan mendapat kekuatan besar.


Di sisa tenaganya ia menghajar pria bertopeng itu habis-habisan.


KREKK!


"Aakkhh!" Lengkingan panjang kesakitan seiring bunyi tulang dari tangan yang sepertinya patah.


Karena, Arjuna memelintir tangan itu kemudian menginjaknya.


"Lain kali, aku akan mematahkan lehermu!" Geram Arjuna membiarkan tubuh itu tersungkur mencium pasir.


"Singkirkan benda itu, pergi!" Susi berusaha menghindar dengan mengitari mobil. Memberanikan diri dengan sebuah kayu di kedua tangannya.


Pria bertopeng itu menyeringai di balik topengnya.


TAKK!


"Akh!" Susi memekik ketika pria itu mendekat dan menendang tongkatnya hingga patah menjadi dua.


Tangannya sakit, Susi terlihat meringis. Tak lama kemudian, matanya membesar tatkala benda tajam itu di tebaskan ke arahnya.


Susi menangkis sebisanya dengan potongan kayu di tangannya. Melupakan rasa ngilu yang menjalar hingga ke bahunya.


SRETT!


"Arjuna!" pekik Susi ketika lengan besar itu menjadi tameng dari sabetan benda tajam itu.


Tes ...


Darah segar menetes dan luruh menodai pasir putih itu.

__ADS_1


"Rasakan ini!" teriak pria bertopeng kedua. Ia mengarahkan lagi sabetannya.


Arjuna yang meringis merasai perih di lengannya, merasa tak ada jalan lain. Arjuna menghadang serangan itu dengan punggungnya.


DUG!


BUGH!


KRAKK!


Ketika Susi membuka matanya, yang pertama kali di lihatnya adalah wajah penuh luka dari Arjuna. Ia mengintip dari balik punggung pria yang mengungkung tubuhnya.


Joy dan anak buahnya, berhasil merobohkan pria bertopeng.


"Joy, aku menyayangimu!"


"Aku masih menyukai apem ... Tuan."


PLETAK!


Arjuna melempar sepatunya hingga mengenai bahu asistennya itu.


" Apa seharusnya aku tidak datang saja!" pekik Joy sebal. Bos nya ini memang tidak tau di untung.


"Interogasi mereka, aku baik-baik saja." titah Arjuna sambil mendorong Susi masuk ke dalam mobil.


"Ar ... luka mu, bagaimana kau bisa bawa mobil?" tanya Susi khawatir.


"Lalu, kalau bukan aku yang bawa ... siapa?" heran Arjuna, ia menikmati wajah khawatir Susi yang tengah membalut lukanya menggunakan lengan kemejanya.


Hingga Arjuna dapat melihat bahu mulus itu.


Susi mengikat luka itu agar tidak terlalu banyak darah yang keluar.


"Maafkan aku ... bertahanlah," lirih Susi, terlihat wanita itu meneteskan air matanya.


"Hei, aku tidak akan mati. Kau tidak perlu menangis!" protes Arjuna, membuat Susi spontan mengusap air matanya.


" Biar aku yang menyetir!"

__ADS_1


"Kau?"


Bersambung>>>>


__ADS_2