Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Apa Yang Terjadi Dengan Susi?


__ADS_3

🔥🔥🔥🔥🔥


"Maaf, saya pamit ke toilet." Susi menundukkan kepalanya pada semua orang di hadapannya, tak terkecuali Domino.


"Ooh, lembut sekali suaramu ..., aku jadi penasaran bagaimana dengan suara desah mu?" seloroh Don Domino, dengan ekspresi mabuk.


"Tolong jaga bicara anda Don. Pahami batasan anda terhadap milik orang lain." jelas Arjuna penuh penekanan, sambil menepuk bahu pria paruh baya itu.


"Hahaha ..., kau sensitif sekali." tawa Don, remeh.


"Saya rasa, pembicaraan kita sampai di sini saja."


"Sayang, aku akan mengantarmu ke toilet, karena aku khawatir pada mata-mata lapar dari lelaki kurang ajar." tawar Arjuna pada Susi, dengan seulas senyum.


Susi pun mengangguk senang, ternyata Arjuna mengerti dan peka.


(Kurang ajar katamu! Akan kurebut dia kembali darimu!) Seno hampir saja mengikuti, akan tetapi lengannya di cekal oleh Jelita.


"Pantas saja, wanita itu bisa membalas setiap perlakuan kita. Ternyata, bekingnya adalah Arjuna!" Jelita membulatkan matanya menatap Seno.


"Maksudmu?" heran Seno, menelisik ekspresi syok Jelita.


"Mantanku Juna, kau ingat?"


"Dia itu, Arjuna Satria yang sekarang." ucap Jelita dengan air muka berubah-ubah karena keheranan.


"Bagaimana mungkin itu dia. Kau jangan mengada-ada!" pekik Seno tertahan, hanya gerahamnya yang bergemeletak.


"Tentu saja, aku mengenalinya. Bahkan suara nya pun aku ingat, hanya beda cara bicaranya saja." jelas Jelita meyakinkan.


"Tidak mungkin, si cupu itu?" Seno memijat pelipisnya, tiba-tiba kepalanya terasa berat.


" Kau bisa kehilangan perusahaan Seno!" seru Jelita khawatir.


" Pantas saja, dirinya tiba-tiba menawarkan bantuan padaku. Atau jangan-jangan?" Seno tengah mengumpulkan kepingan puzzle kecurigaannya.


" Apa kalian butuh bantuan?" tawar Don Domino, yang sejak tadi mengawasi atau menguping perdebatan sepasang pria dan wanita licik ini.


" Bantuan apa yang bisa kau berikan, dan atas dasar apa?" cecar Seno, meskipun ia tahu kekuasaan pria ini. Jangan sampai ia berniat mengambil keuntungan dari masalahnya.


"Pertama, aku menginginkan wanitanya." jelas Don dengan seringainya.


"Kau!" Seno mengarahkan telunjuknya ke depan wajah Don, dengan air muka yang mengeras.


"Kedua, aku benci anak muda sok suci seperti Arjuna." sarkas Don, menepis telunjuk Seno kasar.

__ADS_1


" Kau pria bodoh yang telah membuang permata langka, lalu apa sekarang mau menyesal dan mau mengakuinya milikmu?" sindir Don keras tepat sasaran.


"Aku." Seno, terkunci tak bisa menangkis serangan yang menjurus padanya. Karena itu benar adanya.


Ia sungguh menyesal kini. Meskipun Susi mandul, tapi wanita itu benar- benar memiliki banyak kelebihan lainnya. Seandainya, dulu ia tegas pada sang mami. Mungkin, semua ini tidak akan terjadi.


"Aku akan membantu mu, mengambil alih perusahaan 100% kembali padamu. Akan tetapi, kau harus mendatangkan wanita itu kedalam pelukanku." tawar Don Domino, membuat kesepakatan yang jelas hanya akan menguntungkannya. Senyum licik pun terbit, ketika Seno mengulurkan tangannya.


"Deal!" Mereka pun berjabat tangan.


Seno pun menerbitkan senyum miringnya. ( Sebelum ku serahkan padamu, tentu aku yang akan mencicipinya terlebih dahulu.)


________


"Hei, kau tunggu di sini." tahan Susi pada tubuh depan Arjuna.


"Kenapa, kan aku ingin menjagamu," kilah Arjuna, berusaha menerobos halangan dari tangan Susi.


" Ih, kau ini. Ini kan toilet wanita!" kesal Susi, mendaratkan capitnya ke roti kombinasi Arjuna. Membuat pria itu melotot seketika.


"Dua kali sudah, seperti aku harus visum dan melapor pada komnas perlindungan pria." cebik Arjuna, merajuk.


"Mana ada yang seperti itu," Susi pun tak kuasa menahan tawanya.


"Aku akan tetap melapor biar mereka buat, masa kaum pencapit dan pembuat patah hati saja yang di buat perlindungannya," protes Arjuna, yang membuat tawa Susi semakin kencang.


"Aku ini cool and handsome. Menggemaskan itu untuk anak laki-laki bukan pria dewasa sepertiku." sanggah Arjuna, tak terima Susi gemas padanya. Baginya, cowok menggemaskan itu vak keren dan cemen.


(Cowok menggemaskan itu mudah di sakiti, lemah dan payah.) kesal Arjuna menggeram dalam batin.


" Ish, kau ni. Cowok menggemaskan itu lebih menyenangkan. Ketimbang seperti ini horor tauk." Susi pun meninggalkan Arjuna dan melangkah masuk ke bilik toilet wanita.


Arjuna menyandarkan bahunya ke dinding.


"Apa iya, menggemaskan itu lebih menyenangkan?"


"Masa sih, gaya keren begini di bilang horor. Memangnya wajahku seperti mayat bangkit dari kubur?" decak Arjuna, sambil komat-kamit sendiri.


Di sela menanti Susi, ia merogoh ponselnya lalu mengetik pesan pada Walls.


📨 Kumpulkan semua bukti percakapan mereka.


📨📨Tidak bisa Bang, terlalu jauh.


"Shiit!"

__ADS_1


"Pasti ada yang tengah mereka rencanakan." pikir Arjuna, lalu ...


Bukk!


Kepalan tangannya mendarat mulut pada dinding sebelah toilet.


"Siapa wanita itu?" Arjuna mencurigai seorang perempuan yang baru saja masuk ke toilet..


1menit ...


2menit ...


5 menit ...


Susi tak kunjung keluar juga, Arjuna sudah tak bisa menahan dirinya.


Sejak tadi yang keluar hanya orang lain. Sedangkan wanita yang di tunggunya tak kunjung keluar.


"Ah. Bodo amat!"


BRAK!!


"Kosong?"


Brak!


Brak!


Arjuna mendorong satu-persatu pintu bilik.


" Semua bilik kosong ... di mana Susi?!"


"Damn it!"


"Sial!"


Arjuna pun tergopoh-gopoh berlari keluar toilet.


Tangannya masuk ke kantong celana merogoh ponselnya.


"Walls, Hack sistem otomatis. Kunci seluruh akses keluar gedung!" perintah Arjuna pada Walls yang setia di depan layar komputer canggihnya.


"Ada apa Bang!"


"Apa terjadi sesuatu?" Walls, mengernyit ketika matanya menangkap gerak-gerik janggal di base man.

__ADS_1


" Susi!"


Bersambung>>>


__ADS_2