Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Berkeringat Bersamamu.


__ADS_3

๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ


Akhir bulan, mak kasih yang manis-manis ya gais.


Anggap aja te-ha-er lebaran.๐Ÿ˜…


Biar kata mak otor kagak ada yang bagi juga๐Ÿคญ


Warning!


Bacanya ... di samping paksu ya๐Ÿ’


______


"Iya, aku akan menyentil nya nanti," sahut Susi asal, dengan suara lemahnya serta napas yang turun naik.


"Tega sekali! Kenapa kau ingin menyentilnya? Sekarang, biar aku yang menghukummu saja." Arjuna kembali menghujam lebih dalam. Karena sang naga masih betah bersemayam tadi. Pedang yang masih tegak berdiri itu, berhasil lagi membuat Susi memekik serta mencengkeram bahu suaminya.


"Ar, ngilu tau. Sshh ...!" desisnya. Pasalnya, ia baru saja mendapatkan pencapaiannya. Tapi, kini sudah di serang lagi karena jawaban asal dari mulutnya.


Mulai terbiasa dengan posisi itu, serta bagaimana menaklukkan sang naga. Maka, Susi pun mengambil alih kendali permainan.


Membiarkan suaminya yang kini menikmati, tarian dari pinggulnya. Sofa yang kekar itu tak bergeming. Harga memang sesuai dengan kualitas ternyata. Bayangkan saja kalau sofanya murah, pasti sudah meleyot.


"Sayang ... ๐˜ฎ๐˜บ ๐˜ฒ๐˜ถ๐˜ฆ๐˜ฆ๐˜ฏ ...," Arjuna mulai meracau dengan mata yang terpejam. Tubuhnya meliuk ke kanan-kiri. Menerima, gesekan aduhai dari penyatuan mereka. Sesekali ia memberi tekanan serta remasan gemas. Pada bagian kesukaannya dari tubuh itu.


Entah berapa lama Susi melakukan tugas mulianya sebagai seorang istri. Melayani serta memberi kepuasan fisik juga batin pada suaminya.


Berkali-kali pria itu mengerang, dan meracau. Namun, belum juga ada tanda-tanda akan mencapai puncaknya. Sementara, Susi sudah mulai merasakan kebas pada kedua tungkainya.


๐˜‹๐˜ช๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ-๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ข๐˜ต. ๐˜š๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜จ๐˜ฐ๐˜ญ ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข. ๐˜’๐˜ข๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ช ๐˜ณ๐˜ข๐˜ด๐˜ข, ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ.


Arjuna membuka matanya, kala ia merasakan pergerakan yang semakin lambat. Senyumnya tersungging dari kedua bibir tipisnya itu.


"Apa kau lelah, ๐˜ฎ๐˜บ ๐˜ฒ๐˜ถ๐˜ฆ๐˜ฆ๐˜ฏ?" tanya Arjuna, yang kemudian di jawab oleh anggukan serta raut wajah malu-malu dari istrinya itu.


Lalu ia pun mendekap erat raga molek tanpa benang itu, kemudian membaliknya. Menidurkannya di atas sofa lebar itu, tanpa melepas penyatuan mereka. Sementara itu, kedua lengan kekarnya bertumpu menahan raga perkasanya itu agar tak terlalu menindih.


" Biarkan aku yang memegang kendali kali ini," ucapnya dengan suara yang parau. Wajahnya kembali mendekat dan mulai meraup kembali bibir seksi milik istrinya itu.


Perlahan Arjuna mulai membenamkan sang naga puspa. Memompanya perlahan demi membangkitkan kembali gairah sang istri. Karena ia tak mau merasakan nikmat sendirian.


Bercinta, bukanlah kesenangan perorangan atau individu. Bukan perihal hak dan kewajiban. Akan tetapi, bercinta adalah bias dari perasaan satu sama lain antar pasangan.


Dimana di situlah momen, untuk menganyam simpul kedekatan dan ikatan hati. Seharusnya, itulah yang dapat di pahami oleh pasutri.


๐ŸพAish, sok bijak amat. Edisi sok tau nya author๐Ÿคญ.


"Ar! Sayaaangg ...," racau Susi yang terlihat begitu menikmati, olahraga siang mereka. Karena cuaca yang masih gerimis awet. Membuat matahari tak nampak, sehingga suasana syahdu meski jarum jam sudah bergerak ke arah kanan.


"๐˜”๐˜บ ๐˜ฒ๐˜ถ๐˜ฆ๐˜ฆ๐˜ฏ, kau mengalihkan duniaku. Ini ... ini nikmat sekali," Arjuna terus saja meracau sambil sesekali melabuhkan kecupannya.


"Ar, aku ...," Susi mendekap erat bahu Arjuna dengan erat.


"Bersama ya sayang." Lalu Arjuna mempercepat ritme gerakannya, dengan hentakan yang cepat dan kencang.


Lengkingan itu pun keluar bersamaan dari mulut mereka berdua. Dengan keadaan raga perkasa yang melenting, serta kepala yang mendongak ke atas. Sementara, Susi mendekap erat tubuh penuh otot itu. Sedikit bangun dari posisinya yang terlentang.


Dengan sedikit meringis, Arjuna melepas penyatuan mereka. Lalu duduk bersandar di sofa, sambil mengontrol napasnya yang tak beraturan. Kedua kaki Susi ia naikkan ke atas pangkuannya.

__ADS_1


Senyumnya mengembang sempurna, menatap raga polos itu, dengan hiasan buatannya di beberapa bagian. Mata Susi masih terpejam, dengan dada yang naik turun mengolah napas.


"Jangan menatapku." Susi menyilang kan kedua tangannya di depan dada, lalu sedikit menaikkan kakinya dan menekuk.


"Apa yang ingin kau sembunyikan dariku, hm?" tanya Arjuna heran, padahal ia telah mengetahui setiap inchi tubuh molek istrinya itu. Bahkan ia pun hafal, dimana letak satu-satunya tahi lalat Susi.


๐ŸพDimana?


๐Ÿ˜…Ikh, kepo!


" Sana, ih. Bersihkan tubuhmu duluan." Susi mengusir Arjuna dengan mata setengah terpejam.


"Kita bersama saja." Arjuna berdiri lalu meletakkan tangannya di bawah pinggang dan juga bahu Susi.


"Kyaa ... Ar!" Susi yang kaget karena tubuhnya seketika terangkat, segera mengalungkan lengannya di leher Arjuna.


Aku gak mau, kamu pasti modus," tolak Susi dengan memanyunkan bibirnya.


Cup!


Arjuna membungkam bibirnya dengan ciumannya yang cepat.


"Arjuna!" pekiknya.


Cup!


Kali ini dengan sedikit sesapan.


Kedua mata Susi pun membola, dengan mulut yang hendak membuka, tapi ...


Cup!


Arjuna kembali meraup bibir itu, dengan agak bernapsu.


Cup!


Kali ini hanya kena punggung tangan Susi, karena istrinya itu telah membekap mulutnya sendiri.


Arjuna pun terkekeh geli, menggoda istrinya itu memang moodbooster.


๐ŸพAih ...! Cap, cip, cup kembang kuncup๐Ÿ˜…


Arjuna melenggang santai dengan Susi yang berada di dalam gendongannya. Bebas, mau apapun. Tanpa mengenakan apapun, toh di dalam rumah sendiri.


Inilah keseharian mereka, sebelum mereka bertolak keluar negeri. Esok lusa, tepat ke sebuah negara yang indah.


Dimana negaranya, masih jadi rahasia.


Nantikan momen itu di bab selanjutnya.


Sekarang kita intip mereka yang lagi mandi bareng, atau jangan-jangan ...


Ih! Otor mecum!๐Ÿ˜


๐ŸพLhaa ... emang klean enggak?๐Ÿ˜Ž


"Sini, biarkan aku menggosok punggung mu," tawar Arjuna, yang mana kini ia tengah memangku Susi di dalam bath up.


๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข-๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข? ๐˜๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข. ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ. ๐˜๐˜ช๐˜ฌ๐˜ด ...

__ADS_1


๐˜–๐˜ฉ, ๐˜ต๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ. ๐˜›๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฏ๐˜ข๐˜จ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ. ๐˜’๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฌ-๐˜จ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ถ ... ๐˜ฉ๐˜ถ๐˜ข๐˜ข!


"Apa airnya kurang hangat?" tanya Arjuna, yang masih mengusapkan sabun ke tubuh istrinya itu. Bahkan di beberapa area kesukaannya, ia sengaja berlama-lama.


"Hentikan, Ar. Kondisikan tanganmu!" protes Susi, yang sejak tadi sudah geram. Karena dirinya di anggap mainan bagi suaminya itu.


Dimana saat itu Arjuna meremas lalu terkekeh, memencet dan terkekeh lagi. Belum lagi ketika mengusap bagian itu, katanya biar bersih. Tapi, jemarinya sengaja menggelitik di sana.


๐˜š๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ญ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ. ๐˜š๐˜ฆ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ˆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ฐ๐˜ญ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช? ๐˜๐˜ข๐˜ช๐˜ฉ๐˜ฉ ... ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช?


"Ar, sudah yuk. Aku sepertinya kedinginan," ajak Susi pada Arjuna yang tengah bersandar sambil memejamkan matanya. Akan tetapi, kedua tangannya tetap saja tak mau diam.


"Upah buat mandiinnya mana?"


"Hah! Apa!"


"Kan, tadi aku udah bantu menggosok tubuhmu. Sekarang, gantian ya?" tawar Arjuna, membuat Susi memutar malas bola matanya.


"Ya sudah, aku keluar dulu." Susi hendak beranjak bangun, tapi lengan Arjuna membelit pinggangnya. Hingga ia tercebur kembali kedalam genangan air.


"Gyaaa ...!"


"Arjuna!" Gemasnya.


Kini mereka jadi berhadap-hadapan, dan seketika Arjuna terpukau pada wajah dengan rambut basah itu. Di mana air mengalir, melewati hidung mancung serta bibir yang menggoda itu.


" Gak jadi, aku mau hadiahnya sebuah ciuman saja," ucap Arjuna, tanpa basa-basi. Ia sudah tidak tahan, istrinya selalu saja menggoda di setiap suasana.


"๐˜ˆ๐˜ด ๐˜ถ ๐˜ธ๐˜ช๐˜ด๐˜ฉ, ๐˜š๐˜ช๐˜ณ!" ucap Susi, setuju. Setidaknya semua cepat selesai, ia sudah menggigil.


Dan ...


Cup!


"Emhh ...!" Setelah sang istri menempelkan bibirnya, maka Arjuna tidak akan melepaskannya begitu saja.


Semua itu, bahkan tak cukup sampai di situ saja.


Mereka kembali melepas gelora yang memunculkan sengatan panas. Mengarungi nirwana hingga lupa diri. Lupa, telah berapa lama mereka di dalam bak mandi besar itu. Dimana volumenya mampu menampung raga kekar Arjuna di tambah istrinya.


Entah bagaimana caranya, Arjuna si pria polos meski di usianya yang telah sangat matang itu. Menemukan cara bermandi peluh dengan sang istri, lewat imajinasinya sendiri.


"Akh! Ar ....!" Susi menekan kedua pahanya sendiri. Ketika, lagi-lagi dirinya telah merasakan puncak dari permainan panas mereka. Di barengi dengan lenguhan berat dari Arjuna. Menandakan bahwa, mereka telah mendapatkan kepuasan secara adil.


Akhirnya, raga lemas Susi terkapar di atas dada bidang dengan bulu halus itu. Dengan posisi membelakangi Arjuna, Susi menyenderkan tengkuknya di bahu kekar itu.


"Maafkan, aku. Karena tidak bisa menahan diri," bisik Arjuna lirih, di telinga Susi. Seraya mendaratkan kecupan lembut di pipi penuh keringat itu.


"Sepertinya, aku tidak kuat jalan," ucap Susi dengan mata terpejamnya.


" Aku akan menggendong mu, tenang saja. Aku pasti bertanggung-jawab atas perbuatan ku." Sontak, kata-kata terakhir dari Arjuna, membuat Susi terkekeh geli.


"Tentu saja, sebagai istrimu. Aku akan menuntut pertanggung-jawaban padamu," tawa Susi, dengan mata yang masih terpejam.


"Sepertinya, kau masih kuat. Satu ronde lagi?"


"Aww!!"


"Iya, deh. Ampun!"

__ADS_1


pekik Arjuna, karena Susi terus mendaratkan jurus ratu kepitingnya.


Bersambung>>>>


__ADS_2