
๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ
Akhir bulan, mak kasih yang manis-manis ya gais.
Anggap aja te-ha-er lebaran.๐
Biar kata mak otor kagak ada yang bagi juga๐คญ
Warning!
Bacanya ... di samping paksu ya๐
______
"Iya, aku akan menyentil nya nanti," sahut Susi asal, dengan suara lemahnya serta napas yang turun naik.
"Tega sekali! Kenapa kau ingin menyentilnya? Sekarang, biar aku yang menghukummu saja." Arjuna kembali menghujam lebih dalam. Karena sang naga masih betah bersemayam tadi. Pedang yang masih tegak berdiri itu, berhasil lagi membuat Susi memekik serta mencengkeram bahu suaminya.
"Ar, ngilu tau. Sshh ...!" desisnya. Pasalnya, ia baru saja mendapatkan pencapaiannya. Tapi, kini sudah di serang lagi karena jawaban asal dari mulutnya.
Mulai terbiasa dengan posisi itu, serta bagaimana menaklukkan sang naga. Maka, Susi pun mengambil alih kendali permainan.
Membiarkan suaminya yang kini menikmati, tarian dari pinggulnya. Sofa yang kekar itu tak bergeming. Harga memang sesuai dengan kualitas ternyata. Bayangkan saja kalau sofanya murah, pasti sudah meleyot.
"Sayang ... ๐ฎ๐บ ๐ฒ๐ถ๐ฆ๐ฆ๐ฏ ...," Arjuna mulai meracau dengan mata yang terpejam. Tubuhnya meliuk ke kanan-kiri. Menerima, gesekan aduhai dari penyatuan mereka. Sesekali ia memberi tekanan serta remasan gemas. Pada bagian kesukaannya dari tubuh itu.
Entah berapa lama Susi melakukan tugas mulianya sebagai seorang istri. Melayani serta memberi kepuasan fisik juga batin pada suaminya.
Berkali-kali pria itu mengerang, dan meracau. Namun, belum juga ada tanda-tanda akan mencapai puncaknya. Sementara, Susi sudah mulai merasakan kebas pada kedua tungkainya.
๐๐ช๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ-๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ ๐ฌ๐ถ๐ข๐ต. ๐๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ด๐ฆ๐ญ๐ข๐ฎ๐ข ๐ช๐ฏ๐ช ๐ฃ๐ฆ๐ญ๐ถ๐ฎ ๐จ๐ฐ๐ญ ๐ซ๐ถ๐จ๐ข. ๐๐ข๐ฌ๐ช๐ฌ๐ถ ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ข๐ต๐ช ๐ณ๐ข๐ด๐ข, ๐ฌ๐ฆ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ต๐ข๐ฏ.
Arjuna membuka matanya, kala ia merasakan pergerakan yang semakin lambat. Senyumnya tersungging dari kedua bibir tipisnya itu.
"Apa kau lelah, ๐ฎ๐บ ๐ฒ๐ถ๐ฆ๐ฆ๐ฏ?" tanya Arjuna, yang kemudian di jawab oleh anggukan serta raut wajah malu-malu dari istrinya itu.
Lalu ia pun mendekap erat raga molek tanpa benang itu, kemudian membaliknya. Menidurkannya di atas sofa lebar itu, tanpa melepas penyatuan mereka. Sementara itu, kedua lengan kekarnya bertumpu menahan raga perkasanya itu agar tak terlalu menindih.
" Biarkan aku yang memegang kendali kali ini," ucapnya dengan suara yang parau. Wajahnya kembali mendekat dan mulai meraup kembali bibir seksi milik istrinya itu.
Perlahan Arjuna mulai membenamkan sang naga puspa. Memompanya perlahan demi membangkitkan kembali gairah sang istri. Karena ia tak mau merasakan nikmat sendirian.
Bercinta, bukanlah kesenangan perorangan atau individu. Bukan perihal hak dan kewajiban. Akan tetapi, bercinta adalah bias dari perasaan satu sama lain antar pasangan.
Dimana di situlah momen, untuk menganyam simpul kedekatan dan ikatan hati. Seharusnya, itulah yang dapat di pahami oleh pasutri.
๐พAish, sok bijak amat. Edisi sok tau nya author๐คญ.
"Ar! Sayaaangg ...," racau Susi yang terlihat begitu menikmati, olahraga siang mereka. Karena cuaca yang masih gerimis awet. Membuat matahari tak nampak, sehingga suasana syahdu meski jarum jam sudah bergerak ke arah kanan.
"๐๐บ ๐ฒ๐ถ๐ฆ๐ฆ๐ฏ, kau mengalihkan duniaku. Ini ... ini nikmat sekali," Arjuna terus saja meracau sambil sesekali melabuhkan kecupannya.
"Ar, aku ...," Susi mendekap erat bahu Arjuna dengan erat.
"Bersama ya sayang." Lalu Arjuna mempercepat ritme gerakannya, dengan hentakan yang cepat dan kencang.
Lengkingan itu pun keluar bersamaan dari mulut mereka berdua. Dengan keadaan raga perkasa yang melenting, serta kepala yang mendongak ke atas. Sementara, Susi mendekap erat tubuh penuh otot itu. Sedikit bangun dari posisinya yang terlentang.
Dengan sedikit meringis, Arjuna melepas penyatuan mereka. Lalu duduk bersandar di sofa, sambil mengontrol napasnya yang tak beraturan. Kedua kaki Susi ia naikkan ke atas pangkuannya.
__ADS_1
Senyumnya mengembang sempurna, menatap raga polos itu, dengan hiasan buatannya di beberapa bagian. Mata Susi masih terpejam, dengan dada yang naik turun mengolah napas.
"Jangan menatapku." Susi menyilang kan kedua tangannya di depan dada, lalu sedikit menaikkan kakinya dan menekuk.
"Apa yang ingin kau sembunyikan dariku, hm?" tanya Arjuna heran, padahal ia telah mengetahui setiap inchi tubuh molek istrinya itu. Bahkan ia pun hafal, dimana letak satu-satunya tahi lalat Susi.
๐พDimana?
๐ Ikh, kepo!
" Sana, ih. Bersihkan tubuhmu duluan." Susi mengusir Arjuna dengan mata setengah terpejam.
"Kita bersama saja." Arjuna berdiri lalu meletakkan tangannya di bawah pinggang dan juga bahu Susi.
"Kyaa ... Ar!" Susi yang kaget karena tubuhnya seketika terangkat, segera mengalungkan lengannya di leher Arjuna.
Aku gak mau, kamu pasti modus," tolak Susi dengan memanyunkan bibirnya.
Cup!
Arjuna membungkam bibirnya dengan ciumannya yang cepat.
"Arjuna!" pekiknya.
Cup!
Kali ini dengan sedikit sesapan.
Kedua mata Susi pun membola, dengan mulut yang hendak membuka, tapi ...
Cup!
Arjuna kembali meraup bibir itu, dengan agak bernapsu.
Cup!
Kali ini hanya kena punggung tangan Susi, karena istrinya itu telah membekap mulutnya sendiri.
Arjuna pun terkekeh geli, menggoda istrinya itu memang moodbooster.
๐พAih ...! Cap, cip, cup kembang kuncup๐
Arjuna melenggang santai dengan Susi yang berada di dalam gendongannya. Bebas, mau apapun. Tanpa mengenakan apapun, toh di dalam rumah sendiri.
Inilah keseharian mereka, sebelum mereka bertolak keluar negeri. Esok lusa, tepat ke sebuah negara yang indah.
Dimana negaranya, masih jadi rahasia.
Nantikan momen itu di bab selanjutnya.
Sekarang kita intip mereka yang lagi mandi bareng, atau jangan-jangan ...
Ih! Otor mecum!๐
๐พLhaa ... emang klean enggak?๐
"Sini, biarkan aku menggosok punggung mu," tawar Arjuna, yang mana kini ia tengah memangku Susi di dalam bath up.
๐๐ฑ๐ข-๐ข๐ฑ๐ข๐ช๐ฏ ๐ด๐ช๐ฉ ๐ฅ๐ช๐ข? ๐๐ฏ๐ช ๐ฉ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฏ๐จ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช๐ฏ๐บ๐ข ๐ด๐ข๐ซ๐ข. ๐๐ฌ๐ถ ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ช๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ข๐ฎ ๐ด๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช๐ข๐ฏ. ๐๐ช๐ฌ๐ด ...
__ADS_1
๐๐ฉ, ๐ต๐ถ๐ข๐ฏ. ๐๐ฐ๐ญ๐ฐ๐ฏ๐จ ๐ฌ๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ข๐ญ๐ช๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฏ๐ข๐จ๐ข ๐ฎ๐ถ ๐ช๐ต๐ถ. ๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ฅ๐ช๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐จ๐ฆ๐ณ๐ข๐ฌ-๐จ๐ฆ๐ณ๐ข๐ฌ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ถ๐ด ๐ฅ๐ช ๐ฃ๐ฆ๐ญ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ๐จ๐ฌ๐ถ ... ๐ฉ๐ถ๐ข๐ข!
"Apa airnya kurang hangat?" tanya Arjuna, yang masih mengusapkan sabun ke tubuh istrinya itu. Bahkan di beberapa area kesukaannya, ia sengaja berlama-lama.
"Hentikan, Ar. Kondisikan tanganmu!" protes Susi, yang sejak tadi sudah geram. Karena dirinya di anggap mainan bagi suaminya itu.
Dimana saat itu Arjuna meremas lalu terkekeh, memencet dan terkekeh lagi. Belum lagi ketika mengusap bagian itu, katanya biar bersih. Tapi, jemarinya sengaja menggelitik di sana.
๐๐ถ๐ฏ๐จ๐จ๐ถ๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ฆ๐ฃ๐ข๐ญ๐ฌ๐ข๐ฏ. ๐๐ฆ๐ซ๐ข๐ฌ ๐ฌ๐ข๐ฑ๐ข๐ฏ ๐๐ณ๐ซ๐ถ๐ฏ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐ฌ๐ฐ๐ฏ๐บ๐ฐ๐ญ ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช ๐ช๐ฏ๐ช? ๐๐ข๐ช๐ฉ๐ฉ ... ๐ฌ๐ข๐ฑ๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ญ๐ฆ๐ด๐ข๐ช๐ฏ๐บ๐ข ๐ฌ๐ข๐ญ๐ข๐ถ ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช ๐ช๐ฏ๐ช?
"Ar, sudah yuk. Aku sepertinya kedinginan," ajak Susi pada Arjuna yang tengah bersandar sambil memejamkan matanya. Akan tetapi, kedua tangannya tetap saja tak mau diam.
"Upah buat mandiinnya mana?"
"Hah! Apa!"
"Kan, tadi aku udah bantu menggosok tubuhmu. Sekarang, gantian ya?" tawar Arjuna, membuat Susi memutar malas bola matanya.
"Ya sudah, aku keluar dulu." Susi hendak beranjak bangun, tapi lengan Arjuna membelit pinggangnya. Hingga ia tercebur kembali kedalam genangan air.
"Gyaaa ...!"
"Arjuna!" Gemasnya.
Kini mereka jadi berhadap-hadapan, dan seketika Arjuna terpukau pada wajah dengan rambut basah itu. Di mana air mengalir, melewati hidung mancung serta bibir yang menggoda itu.
" Gak jadi, aku mau hadiahnya sebuah ciuman saja," ucap Arjuna, tanpa basa-basi. Ia sudah tidak tahan, istrinya selalu saja menggoda di setiap suasana.
"๐๐ด ๐ถ ๐ธ๐ช๐ด๐ฉ, ๐๐ช๐ณ!" ucap Susi, setuju. Setidaknya semua cepat selesai, ia sudah menggigil.
Dan ...
Cup!
"Emhh ...!" Setelah sang istri menempelkan bibirnya, maka Arjuna tidak akan melepaskannya begitu saja.
Semua itu, bahkan tak cukup sampai di situ saja.
Mereka kembali melepas gelora yang memunculkan sengatan panas. Mengarungi nirwana hingga lupa diri. Lupa, telah berapa lama mereka di dalam bak mandi besar itu. Dimana volumenya mampu menampung raga kekar Arjuna di tambah istrinya.
Entah bagaimana caranya, Arjuna si pria polos meski di usianya yang telah sangat matang itu. Menemukan cara bermandi peluh dengan sang istri, lewat imajinasinya sendiri.
"Akh! Ar ....!" Susi menekan kedua pahanya sendiri. Ketika, lagi-lagi dirinya telah merasakan puncak dari permainan panas mereka. Di barengi dengan lenguhan berat dari Arjuna. Menandakan bahwa, mereka telah mendapatkan kepuasan secara adil.
Akhirnya, raga lemas Susi terkapar di atas dada bidang dengan bulu halus itu. Dengan posisi membelakangi Arjuna, Susi menyenderkan tengkuknya di bahu kekar itu.
"Maafkan, aku. Karena tidak bisa menahan diri," bisik Arjuna lirih, di telinga Susi. Seraya mendaratkan kecupan lembut di pipi penuh keringat itu.
"Sepertinya, aku tidak kuat jalan," ucap Susi dengan mata terpejamnya.
" Aku akan menggendong mu, tenang saja. Aku pasti bertanggung-jawab atas perbuatan ku." Sontak, kata-kata terakhir dari Arjuna, membuat Susi terkekeh geli.
"Tentu saja, sebagai istrimu. Aku akan menuntut pertanggung-jawaban padamu," tawa Susi, dengan mata yang masih terpejam.
"Sepertinya, kau masih kuat. Satu ronde lagi?"
"Aww!!"
"Iya, deh. Ampun!"
__ADS_1
pekik Arjuna, karena Susi terus mendaratkan jurus ratu kepitingnya.
Bersambung>>>>