Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Si Gila versus Si Edan.


__ADS_3

πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯


Para wanita kiriman Don Domino telah sampai di beberapa negara. Meski mereka dalam keadaan pasca operasi, mereka tetap terlihat segar-bugar dan energik.


Semua itu karena obat yang di berikan menjadikan mereka pulih lebih cepat.


Meski luka di tubuh mereka belum terlalu kering.


Sesampainya di negara yang di tuju, maka para wanita itu akan menjalani operasi pembedahan kedua untuk mengambil implan yang tertanam dalam anggota tubuh.


Pekerjaan rumit yang hanya bisa di lakukan oleh para ahli. Menjadikan tubuh manusia sebagai alat transporter, penukaran barang haram dan terlarang.


Entah manusia macam apa yang memiliki ide usaha seperti itu. Lebih tepatnya, masih pantaskah mereka di sebut manusia?


"Don ... kenapa kau lakukan ini padaku." gumam Daia yang kini tengah terbaring diatas brankar, menanti giliran untuk di bius.


" Kau merusak bentuk dadaku!" teriaknya pada perawat wanita yang mengenakan masker.


"Sesungguhnya, dadamu semakin terlihat menarik Nona. Setelah pembedahan ketiga maka anda akan mendapat hasil yang permanen Dengan garansi seumur hidup, tanpa kempes." Lalu perawat itu menyuntikkan obat bius lewat tulang punggung. Biusan itu merasuk ke tulang sum-sum, membuat para pasien wanita tersebut tidak akan merasakan sakit ketika pembedahan. Karena mereka akan tertidur pulas selama dua jam.


Pembedahan untuk mengambil implan yang sudah di masukkan sekian gram narkoba. Serbuk obat-obatan terlarang jenis baru ini, per-gramnya seharga satu buah smartphone merek Oppak.


Satu anggota dada bisa membawa sekitar satu sampai dua pon barang tersebut. Belum lagi kalau bagian bokong, maka menampung lebih banyak.


"Semua kiriman anda sudah beres tuan, dan barter barang sudah masuk kedalam tubuh agen kita," lapor dari seorang pria berambut kucai, dengan tato ulat kaki seribu yang memanjang dari leher, melewati bahu hingga ke lengannya yang berotot.


"Kerja bagus!" Don, menyeringai dan menepuk keras bahu pria bertato itu.


"Kita berangkat ke negara M pagi-pagi sekali. Karena, Tuan Jee Ly ingin bertemu langsung dengan ku, di transaksi Opium kali ini." titah Don Domino, sambil menghisap obat melalui hidungnya.


Tawanya menggelegar di ruangan mini bar pada Yacht miliknya itu.

__ADS_1


"Aku menjual barang-barang mahal dan elit. Entah kenapa, yang kupakai justru barangnya rakyat jelata." tawanya lagi di sela-sela aksi mengisapnya.


"Haah ..., ini ibaratkan aku menjual berlian ... namun yang kupakai hanyalah perak." racau pria paruh baya itu.


"Bawa masuk para gadis itu, Don sudah mulai mabuk. Cepat! Sebelum dia mengamuk dan memenggal kepala kalian!" titah si pria bertato kepada anak buah yang berjaga di depan pintu Yacht.


Tak lama para gadis cantik berwajah asia dengan tubuh aduhai, mulus nan licin. Jangan tanyakan pakaian mereka, bayangkan saja jika yang tertutup hanya beberapa bagian kecil saja.


"Tuan, mereka adalah para gadis yang akan menemani anda." Pria bertato itu menunduk, lalu menunjuk ke arah para gadis muda yang bekerja sebagai penghibur itu.


Mereka sudah berpose layaknya model pakaian renang, dengan bermacam gaya yang membuat para pria normal tersedak ludahnya sendiri.


Don Domino melambaikan tangan tanda mengusir kaki tangannya tersebut.


"Silakan, Tuan." Si pria bertato ulat pun pamit undur diri.


"Kemarilah kucing persia ku ...." Don, merentangkan tangannya di atas sofa berkepala tinggi.


Keempat gadis itu segera menghambur menghampiri pria paruh baya dengan wajah dan bentuk tubuh yang masih terjaga.


"Ternyata hidungku masih normal, karena aku mencium wangi bunga kamboja pada rambutmu." Don, menarik surai itu sedikit kencang. Hingga sang pemilik rambut sontak menempelkan wajahnya.


" Hahaha ... Mainkan aku ... Si tua ini mampu menghadapi kalian sekaligus!" Tawa Don membahana di pinggir dermaga.


Pantulan cahaya rembulan di langit malam kota T, memercikkan sinar yang membuat bayang-bayang menari dari atas peraduan sang Raja.


Di atas brankar seorang wanita baru saja sadar.


" Uggh ...." Ia terlihat memegangi kepalanya. Matanya mengerjap beberapa kali.


"Uh ... dadaku, nyeri sekali ...," lirihnya, sambil meringis.

__ADS_1


"Apa yang telah kau lakukan pada ku Don. Pekerjaan apa yang telah kau bebankan untukku," ringisnya, tanpa sadar Daia meneteskan airmatanya.


"Ini lebih buruk dari penjara ... Mami, tolong Daia. Aku tidak mau di bedah lagi ...." Dan , Daia pun menangis sejadi-jadinya, hingga darah pun merembes dari perban yang membalut dadanya.


🍁🍁🍁🍁


"Jelita!" panggil Easy, sambil menggoyang-goyangkan bahu wanita yang tengah tertidur di sofa.


"Perempuan ini, tidur nya macam orang mati saja. Susah sekali di bangunkan." gerutu Easy, yang sudah merasa lelah dan bosan.


Mata nya sakit, melihat calon menantunya itu hanya bermalas-malasan selama beberapa hari dirumahnya.


"Hei. Jelita! Bangun!" Easy mengambil segelas air dan menuangkannya tepat di atas wajah wanita hamil itu.


Pyuuuhhh!


"Akh! Kau ini!" pekik Easy yang mendapat semburan dari Jelita.


"Mami! Apa-apaan sih!" protes Jelita yang hampir saja tersedak karena tiba-tiba ada air yang masuk ke tenggorokannya.


"Kau, kenapa malah menyembur mami!" omel Easy, sambil mengusap wajahnya dengan bawahan bajunya.


"Salah mami sendiri! Keterlaluan!" Jelita menghentakkan kakinya, lalu pergi dari hadapan Easy.


"Aku akan melaporkan pada Seno, atas perlakuan mami padaku selama ini!" tukas Jelita sambil mendelik dan menunjuk ke arah Easy.


"Jangan samakan aku dengan perempuan kampung itu!"


"Kau tidak akan bisa menindasku!" ancam Jelita lagi sebelum dirinya berlalu keatas.


"Wanita gila!"

__ADS_1


"Aku tidak akan membiarkan calon cucuku itu lahir." gumam Easy dengan seringai liciknya.


Bersambung>>>


__ADS_2