Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Kisah Terpendam Masa Lalu.


__ADS_3

๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ


"Na, bagaimana keadaan Ninis sekarang? apakah dia sudah sampai di kampungnya?" tanya Susi pada Milna yang tengah membantunya merapikan kamar bayi.


"Sudah, Kak. Ninis baru saja mengabari ku, sejam yang lalu," jawab Milna, sambil memasukkan berbagai macam perlengkapan bayi baru lahir. Ke dalam lemari yang memiliki banyak sekali laci.


"Syukurlah, setidaknya ia sudah aman serta berada di rumah," ucap Susi lega.


"Sangat di sayangkan, jika kisah cinta mereka harus kandas." Susi mendengus pelan.


" Benar, Kak. Serba salah memang, jika masalah hati, harus bentrok dengan asas kewajiban," timpal Milna.


"Kau benar, Na. Semoga masih ada kesempatan dan jalan bagi mereka untuk bersatu," ucap Susi penuh harap.


"Sulit, kurasa. Aku tau dia ( Better ). Kami, sudah bersahabat cukup lama. Permintaan papinya, adalah mandat yang tidak bisa di bantah." Milna berkata dengan pandangan nanar, ke sembarang arah.


"Na ...." Susi mendekati Milna, lalu menyentuh bahunya, hingga gadis itu menoleh dengan senyum yang seolah di paksakan.


"Dia, pernah berpisah sekali dengan gadis yang dicintainya. Padahal mereka begitu dekat, hingga beberapa kali melakukan hubungan intim. Namun, kenyataan bahwa orang tua sang gadis adalah keluarga pesaing yang ternyata pernah melukai papinya. Membuat Better sangat kecewa dan syok. Apalagi, ketika gadis itu memilih mengakhiri hidupnya karena ia tak bisa memilih antara kekasih dan juga keluarganya. Sejak saat itulah, Better menjadi sosok yang dingin terhadap wanita. Bahkan, kami pernah di gosip kan memiliki hubungan karena kedekatan kami," tutur Milna bercerita, dengan penuh perasaan. Sepasang mata gadis itu terlihat sendu dan mendung.


๐˜’๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ด๐˜ข ๐˜”๐˜ช๐˜ญ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ญ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฑ ๐˜‰๐˜ฆ๐˜ต๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ? ๐˜ด๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ต ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ข ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช, ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช ๐˜ค๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฎ.


Susi, memasan lembut pada bahu, Milna. Memberi dukungan agar wanita yang sudah ditunjuk sebagai pengawal pribadinya itu meneruskan cerita. Bagaimanapun, ia cukup penasaran dengan kisah percintaan ๐˜ด๐˜ฒ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฅ ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ด๐˜ด๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ ini.


" Dia dan tuan Arjuna, adalah penyelamatku. Jika tidak, mungkin saat ini keluargaku masih berada dalam lingkaran jebakan lintah darat." Milna kembali meneruskan ceritanya.


" Ar, sudah bercerita padaku. Karena keluargamu sering ditindas, maka kau memutuskan untuk memperkuat diri dengan masuk ke dalam militer. Tapi, bagaimana bisa, kau terjerumus hingga menjadi anggota gangster?" heran Susi, sedikit berniat mengulik masa lalu Milna, juga awal kedekatannya dengan Better.


"Awalnya, aku hanya berniat membalas budi pada Better. Tapi dengan cara yang salah. Masa itu adalah masa kelam kami, ketika kami melarikan diri dari masalah di permukaan. Begitu pun, tuan Arjuna. Kesakitan telah menempanya, menjadi sekuat sekarang. Aku ingat, dulu dia tidak seperkasa ini. Tekadnya sangat kuat untuk merubah takdirnya. Hingga, semangatnya menular pada kami," jelas Milna dengan seulas senyum. Mengenang masa perjuangan untuk lepas dari lembah hitam.


"Ternyata, kita semua memiliki masa lalu yang berat. Dengan jalan cerita serta tingkatan kesulitannya masing-masing. Kesusahan itu, bukan berarti akan selamanya, kesabaran dan perjuangan tentu akan membuahkan akhir yang bahagia. Aku, mengerti sekarang." Susi tiba-tiba menggenggam tangan Milna.


"Suatu saat, kau pasti akan menemukan kebahagiaanmu. Aku yakin, semuanya hanya tinggal selangkah lagi di depan mata," ujar Susi pada Milna. Mereka saling bersitatap. Hingga seulas senyum, tersungging dari keduanya.

__ADS_1


"Kak Susi, sudah bahagia, sangat bahagia ku rasa. Apalagi, kalian akan segera menyambut kehadiran anggotq keluarga baru. Milna berucap senang, seraya mengelus perut Susi yang sudah terlihat semakin bulat dan besar.


Wanita yang menggenakan baju rumahan longgar berbahan katun itu tersenyum lebar.


"Ya, kau benar, Na. Kini, adalah titik puncak dari kebahagiaan kami, terutama untuk diriku. Setelah melewati beberapa fase yang begitu menyakitkan. Hingga, aku mengira luka di hatiku selamanya tidak akan sembuh. Tidak ada yang abadi di dunia ini, termasuk dengan penderitaan. Suatu saat, ia akan berganti dengan kebahagiaan." Susi bertutur dengan lembut dan penuh kehangatan. Layaknya seorang kakak yang tengah memberi semangat pada adik perempuannya. Perhatian tulusnya inilah, yang membuat orang lain dengan mudah menyayanginya.


"Aku sudah sangat bahagia dengan keadaanku sekarang ini. Aku tidak mau serakah, dengan berharap lebih pada semesta. Kakak adalah orang baik, kau berhak menerima kebahagiaan ini," ucap Milna, tulus sepenuh hati.


"Kau pasti akan bahagia, sebentar lagi. Semua tergantung padamu. Maukah kau membuka hati, untuk menyambut takdir itu," ucap Susi dengan makna tersirat di dalamnya. Membuat Milna, menunduk seketika.


"Kau, hanya perlu melunak sedikit. Mendapat ikan besar itu, tidak dengan menarik tali pancing sekuatnya. Tapi, kau perlu sedikit mengulur serta mengendurkan tali pancing itu, sebelum kau menariknya ke permukaan." Susi tersenyum, ketika sepasang mata indah Milna bersinar. Sendu dari aura mendung itu sudah tak nampak, pertanda Milna mengerti dan faham akan maksud perkataannya.


"Kak Susi, aku mengerti. Kau memang yang terbaik!" ucap Milna dengan raut wajah sumringah. "Bolehkah, aku memelukmu?" pintanya.


"Tentu saja, kemarilah!" Susi membuka lebar kedua tangannya. Membuat gadis di hadapannya segera menubruk kan tubuhnya pelan.


"Aku merasa, memiliki seorang kakak perempuan." Milna menitikkan kristal bening dari sudut matanya.


"Aasshh," desis Susi, di sela-sela kebersamaan keduanya.


"Kak! Kau kenapa? apa aku menekan perutmu? oh, tidak! Maafkan aku!" seru Milna, kepanikan begitu kentara dari raut wajahnya. Kala ia melihat Susi meringis.


"Ah, tidak apa-apa. Hanya keram seperti biasa," jelas Susi. Namun, Milna tetap terlihat khawatir.


" Benarkah? apa jangan-jangan, bayi Kakak mau keluar!" Milna sontak menutup mulutnya dengan mata yang membola. Ia panik dengan segala pikiran yang berputar di kepalanya.


Sementara, Susi justru terkekeh geli sembari meringis kecil.


" Ngaco kamu, mana ada seperti itu! Satria Junior, hanya terlalu keras menendang Mommynya," jelas Susi, menampik segala praduga Milna.


"Me-menendang? bayi kecil di dalam perut sudah bisa menendang?" heran Milna, dengan ekspresi polosnya. Membuat Susi kembali terkekeh geli.


"Kau ini, tentu saja bisa. 'Kan bayi juga bergerak dan bergeliat di dalam sini," jelas Susi, sembari menunjuk ke arah perutnya.

__ADS_1


"Benarkah? maksudku, bayi sekecil itu, tapi bisa membuatmu meringis kesakitan. Ku pikir, Kakak mau lahiran," ucap Milna, masih dengan raut bingungnya.


"Tidak dalam waktu dekat ini, Na. Masih dua purnama lagi. Mungkin, ia akan menunggu calon uncle dan aunty-nya bersatu." goda Susi. Membuat wajah Milna melengos seketika.


Susi kembali terkekeh, ketika Milna menyembunyikan semburat kemerahan itu darinya.


"Sudahlah, Kak Susi jangan menggodaku terus. Lebih, baik aku antar dirimu ke kamar untuk beristirahat. Biar aku saja yang menyelesaikan sisanya." Milna membantu Susi berdiri, karena wanita itu sudah kesusahan membawa beban di perutnya yang besar.


"Biar aku ke kamar sendiri, cuma di sebelah ini," tolak Susi, ketika Milna hendak mengantarnya.


"Tidak, aku akan tetap mengantarmu. Memastikan, Kakak benar-benar telah beristirahat di atas kasur," sanggah gadis tomboi itu.


"Kau ini." Susi memberengut sebal lantaran rencananya sudah terbaca oleh pengawal cantiknya.


"Kakak, kau harus menurut perintah dari suamimu," tukas Milna.


" Iya, iya. Tapi 'kan aku bosan. Aku ingin menengok bunga-bungaku sebentar saja," rengek Susi. Meski semakin kesini, pisiknya semakin lemah. Tapi, ia juga lelah dan bosan jika tidak melakukan apapun.


"Ya sudah, nanti sore saja. Setelah Kak Susi bangun tidur, bagaimana?" tawar Milna, mencoba bernegosiasi. Bagaimanapun, ia harus menjaga Susi agar tidak kelelahan. Semenjak kehamilannya memasuki trisemester ketiga. Pertahanan tubuh Susi sedikit menurun, ia menjadi mudah letih. Punggung serta kakinya menjadi sering sakit. Karena itu, Arjuna semakin over protektif padanya.


______________


"Juna ... juna. Kau menemui ku hanya untuk ini?" heran Netta, Dokter Obgyn cantik itu bingung. Dirinya sampai membuat tiga garis di dahinya.


"Apa kau bilang!" hardik Arjuna marah. Bahkan, dirinya sampai berdiri dari duduknya.


"Iya ... iya, tidak perlu marah begitu. Aku lupa kalau kau adalah suami paling bucin seantero jagad." Netta malah meledek, meski wajah sahabatnya itu sudah merah padam.


"Kau tidak akan mengerti, Netta. Sebelum kau merasakan yang namanya cinta." Perkataan Arjuna barusan, sontak membuat Dokter cantik itu kena mental.


"Sial kau!"


Bersambung>>>

__ADS_1


__ADS_2