
🔥🔥🔥🔥🔥
Triniit ... nit ... nitt!
Suara seperti sebuah alarm terus berbunyi beberapa kali. Akan tetapi belum di sadari oleh sang empunya alat tersebut. Karena saat ini mereka tengah tenggelam dalam keindahan pesona hasrat hingga birahi keduanya menari.
Semakin lama bunyi alarm tersebut semakin sering dan kegiatan pasangan pasutri itu seketika berhenti mendadak. Mereka terpaksa menahan gejolak rindu yang sudah di ujung puncak untuk terjeda sementara.
"Sa–sayang ... Imoy." Better menggeliat nikmat lantaran stimulasi yang di berikan oleh Vanish tak di hentikan. Meski ia telah memerintahkan istri mungilnya itu untuk berhenti.
"Sayang berhenti dulu. Ada panggilan darurat." Better menggeram dan melenguh kerena pusat tubuhnya berada dalam kuasa istrinya.
Vanish melepas sementara apa yang tengah di mainkan oleh mulutnya. " Panggilan apa? Sejak tadi Ninis tidak mendengar apapun," tanya Vanish yang kini telah menghentikan kegiatannya sesaat dengan ujung alis yang hampir bertaut.
"Kita lanjut nanti lagi. Akh ... sayang hentikan! Joy pasti dalam bahaya sekarang!" pekik Better karena Vanish kembali melakukan stimulasi untuk menyalurkan lahar panas miliknya yang hampir meledak karena telah penuh.
"Apa! Bahaya! Kak Milna 'kan sedang bersamanya!" kaget Vanish seketika berdiri dari jongkoknya. Better yang tengah duduk dipinggiran kasur langsung mendongak dengan wajah melongo macam orang cengo.
'Tadi ku suruh berhenti kau tidak mau. Kini giliran magma ku sudah di ujung pangkal kau melepasnya begitu saja.' batin Better seraya merasa nyeri ia pun berdiri lalu berjalan kearah nakas. Melewati Vanish yang sekarang duduk di ujung kasur. Wanita itu menutupi tubuh terbukanya dengan selimut.
Better membuka laci lalu meraih benda yang mirip jam tangan tersebut. Ia menekan tombol kecil pada salah satu sisi lingkaran jam itu. "Apa yang terjadi pada kalian?" tanya Better yang telah mendekatkan arloji itu ke depan mulutnya.
"Kami di serang oleh dua pengendara sky motor boat. Ketika aku sedang mengajak Milna mengendarai speedboat. Sekarang kami terjebak di sebuah pulau tak berpenghuni," jelas Joy, ia berbicara pada sebuah arloji yang di kenakan di pergelangan tangan kirinya. Milna hanya dapat memandangi suaminya dengan tatapan heran.
'Apa yang Joy lakukan? Kenapa ia berbicara dengan jam tangannya? Ck kenapa juga ponselku tidak ada sinyalnya!' batin Milna bingung dengan apa yang tengah dilakukan oleh Joy. Sementara ia terus berjalan kesana-kesini sambil mengarahkan ponselnya tinggi-tinggi.
" Berikan titik koordinatmu. Aku akan menghubungi polisi air terdekat," ucap Better memberi saran pada sahabatnya itu. Akhirnya tekhnologi penemuan Walls berguna juga, pikirnya.
"Apa kau perlu aku mengirim orang-orang kita?" tanya Better sebelum Joy mengakhiri panggilan daruratnya.
__ADS_1
"Setelah sampai di hotel aku akan mengirim beberapa file untuk kau selikidi ehm, maksudku selidiki," ucap Joy meralat kata-katanya yang terpeleset barusan.
" Baiklah. Kau jaga Milna agar tetap tenang. Aku akan segera mengirim bantuan untuk kalian." Setelah mengucapkan kata terakhirnya Better mematikan alat tersebut. Ia mencatat titik koordinat yang dikirim oleh Joy. Kemudian Better menghubungi salah satu kawannya lewat ponsel.
"Baik segera lakukan penyisiran dengan segera. Istri kawan saya sedang hamil. Mohon kerahkan pasukan dan selidiki motif dari penyerangan tersebut." Better kembali meletakkan ponselnya di atas nakas. Bersebelahan dengan arloji bertekhnologi tinggi tersebut.
"Bagaimana? Apa kak Milna baik-baik saja?" tanya Vanish seraya membuka selimut yang sejak tadi menutupi lekuk tubuh moleknya.
" Sudah sayang, aku telah mengirim bantuan ke sana. Kau tau 'kan jika uang dan koneksi dapat menyelesaikan apapun kesulitan dalam hidup," jelas Better sambil kembali mengulang adegan yang akan membuat ia dan juga Vanish berkeringat bersama.
" Ninis ulang dari awal lagi dong nih?" keluhnya dengan nada setengah merajuk.
"Ya, mau gak mau gitu sayang. Kan pas lagi on fire dapet panggilan mengejutkan jadi bobo lagi deh." Better berkata pada Vanish dengan cengiran lucu. Sebenarnya ia cukup kasian. Vanish cukup lama juga memainkan antenanya.
Mau bagaimana lagi, di tempat lain ternyata sahabatnya dalam keadaan susah dan terancam bahaya. Membuatnya mengerahkan segala kemampuannya untuk menolong. Karena itu tadi ia harus menghubungi beberapa orang yang memiliki kuasa agar dapat melakukan tindakan dengan cepat.
" Ninis gak capek kok. Sebenarnya Ninis juga mau dan sangat rindu." tanpa aba-aba Ninis telah memajukan wajahnya. Better tak tinggal diam, ia meraih tengkuk Vanish dan menekannya. Hingga ciuman mereka semakin dalam dan dalam lagi.
"Apa itu Joy?" tunjuk Milna pada benda yang melingkar ditangan Joy.
"Ini adalah alat komunikasi berteknologi tinggi yang ditemukan serta diciptakan oleh sahabatku Walls. Alat ini tidak perlu sinyal seperti ponsel. Ia langsung menggunakan satelit sebagai pemancarnya. Ku harap bantuan segera datang," jelas Joy pada Milna. Membuat istrinya itu langsung mengantongi kembali ponselnya yang tak berguna.
"Kau pasti masih ingat dengan pemuda nyeleneh yang selalu bersama kami kan?" Joy mengingatkan Milna akan Walls si hacker bin casanova.
"Aku ingat. Dia pemuda yang mesum itu kan?" celetuk Milna asal. Dirinya masih ingat bagaimana Walls suka menggodanya kala itu. Bahkan, pemuda itu pernah mengajaknya berkencan dengan gaya yang hampir membuat Milna memotong burung lakbet milik Walls.
"Ah ternyata kau masih ingat, pendendam sekali," kekeh Joy. Ia menuntun Milna mencari
tempat yang lebih teduh. Kini mereka hanya tinggal menunggu datangnya pertolongan.
__ADS_1
"Tentu saja aku ingat. Bahkan senyum menyebalkan itu tidak akan pernah bisa ku lupakan," ucap Milna. Seketika memberengut kala mengingat kenakalan yang dibuat Walls kala itu.
"Jadi kau selalu mengingat anak badung itu? Wah, wah ... tidak benar!" protes Joy dengan raut wajah kesal.
Raut wajah itu ia dapat ia lihat lagi. Ekspresi Joy yang benci kala Milna membicarakan Taro, keponakan bule-nya itu.
"Tidak! Buat apa selalu mengingatnya!" ketus Milna. Ia tidak suka jika mulai di curigai seperti ini.
"Tadi kau yang bilang sendiri. Kalau kau tidak akan bisa melupakan senyumnya!" protes Joy semakin menekan Milna ke batang pohon besar.
"Karena senyumnya sangat menyebalkan. Pemuda itu juga pernah menyinggungku. Jadi, aku hanya tidak bisa lupa akan perbuatannya padaku. Bukan dengan orangnya!" kilah Milna dengan nada tinggi. Ia tidak suka jika Joy berpikiran aneh-aneh tentangnya.
"Lebih menyebalkan mana! Dia atau aku?" tanya Joy serius. Sambil menatap Milna lekat. Kedua tangannya mencengkeram bahu istrinya sedikit kuat.
'Pria ini, kenapa memasang wajah begitu serius dan dingin? Kenapa juga harus? menanyakan hal seperti ini? Bagaimana tanggapannya jika aku jawab jujur?' batin Milna tak habis pikir.
"Kau mau jawaban jujur atau bohong?" tanya Milna berkelakar.
"Tentu saja yang jujur dari dalam hatimu!" gemas Joy, sedikit sebal karena Milna tidak to the point saja.
"Baiklah. Bagiku, kau adalah makhluk yang paling menyebalkan di seluruh jagad alam semesta!" ujar Milna sepenuh hati.
JLEBB!
Joy menelan ludahnya susah setelah mendengar penilaian Milna akan dirinya.
🐾Jangan nangis Joy! Salah sendiri pake nanya😄
Bersambung>>>
__ADS_1