
๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ
________
"Sayang, aku hanya akan ke kantor sebentar. Setelah ini, aku akan menjemputmu," ucap Arjuna, sembari memperhatikan wajah Susi yang semakin hari semakin bersinar dan tampak muda.
Ya, semua karena perawatan dari luar dan juga dalam. Hingga, kebahagiaan dari dalam hati, memancarkan aura yang positif sehingga membuat kulit wajah menjadi cerah.
"Kenapa aku tidak perlu berkemas, lalu bagaimana dengan pakaianku dan yang lainnya?" tanya Susi, yang kini tengah mengaitkan kancing lengan kemeja.
Padahal, Arjuna sudah melarangnya. Agar tak perlu repot mengurus kebutuhannya. Namun, Susi tetap bersikukuh ingin melakukan tugasnya sebagai seorang istri seperti biasa. Ia merasa bahwa kehamilannya kali ini lebih baik dan lebih kuat dari sebelumnya.
"Bawa saja, yang sangat penting menurutmu. Ingat, sebagian kecil saja!" titah Arjuna.
"Apakah, ada halaman yang luas di rumah itu?" tanya Susi lagi.
"Tentu saja, sayang. Aku telah mempersiapkan segalanya untukmu. Lihat saja nanti. Anggap saja, itu adalah hadiah atas kehamilan mu," jelas Arjuna, dengan senyum yang melengkung lebar di kedua sudut bibirnya.
"Tidak, sayang jangan katakan seperti itu. Itu rumah kita, kau tidak perlu memberikan hadiah untukku. Segala perhatian dan kasih sayang darimu, itu sudah cukup untukku," ucap Susi, seraya memberi remasan kencang pada sisi jas yang ia kenakan pada Arjuna.
"Mana bisa begitu, karyawan saja ku beri hadiah. Apalagi istri cantikku ini, ratuku." Arjuna, tersenyum seraya memberi kecupan di ujung hidung istrinya itu.
Kemudian, ia menempelkan keningnya pada kening Susi. Menghela napas pelan sebelum mengucap kalimat selanjutnya.
"Itu belum seberapa sayang, semua yang ku lakukan adalah kewajiban. Tidak ada yang spesial dari itu semua. Seandainya bisa, biarlah aku saja yang membawa beban di perutmu itu," ucap Arjuna lirih. Semenjak istrinya hamil, ia memiliki perasaan yang halus dan sentimentil.
Sungguh berbanding terbalik dengan Susi. Ia menjadi lebih kuat dan mampu menyembunyikan setiap rasa yang dialaminya. Karena, baginya ini belum seberapa ketimbang dengan kehamilannya yang dahulu.
"Aku baik-baik saja, Ar. Jangan khawatirkan aku. Aku adalah wanita yang kuat sekarang, dan semua itu karena dirimu." Susi membuka matanya demi menatap wajah Arjuna, melihat senyum itu setiap hari, ia sudah begitu bahagia.
"Aku tak menginginkan apapun saat ini, semuanya telah ku miliki. Berkat dirimu." Susi memiringkan wajahnya, mengecup bibir suaminya itu, lalu menyesapnya lembut. Menyalurkan apa yang tengah ia rasakan saat ini.
Mendapat serangan manis di pagi hari, tentu tidak akan dilewatkan begitu saja oleh Arjuna. Lantas ia menekan tengkuk Susi demi memperdalam ciuman hangat mereka.
"Ih, udah ah! Nanti kebablasan," cebik Susi, setelah menarik ciumannya secara sepihak.
"Ck, kau ini. Lagi enak-enaknya, malah berhenti mendadak." Arjuna, pun menarik kembali dagu Susi dengan tangannya.
"Ummhhh." Susi tak mampu berkata-kata lagi, karena kali ini, Arjuna menyesap bibirnya tanpa ampun. Pria tampan nan gagah perkasa itu, menghentikan aksinya ketika Susi mulai kehabisan napas.
"Ihh!" Susi gemas, seraya melabuhkan cubitannya ketengah perut Arjuna.
"Cium lagi nih! Sakit banget sih, kalo nyubit," sungut Arjuna, sembari mengelus kasar perutnya.
__ADS_1
"Kamu yang duluan nyerang aku." Susi berlalu sembari menjulurkan lidahnya.
"Kotak makan mu!" Susi menyodorkan satu set tempat makan, berwarna hijau tosca. "Jangan lupa makan siang," ucapnya, tegas. Pasalnya, Arjuna adalah tipikal orang yang gila kerja dan suka lupa waktu.
"Baik, kanjeng ratu." Arjuna membungkukkan tubuhnya, ala hormat kerajaan. Susi pun terkekeh di buatnya.
________
"Semua sudah siap, Tuan. Anda dan Nyonya, tinggal datang dan menempatinya saja," ucap Joy. Bangga, karena ia berhasil mendapatkan rumah yang sesuai dengan apa yang diinginkan oleh bosnya itu.
" Cek rekening mu." Arjuna, yang terlihat tak menanggapi asistennya itu, karena asik memainkan gawai nya. Ternyata ia tengah mengirim sejumlah uang sebagai bonus, sesuai janjinya tempo hari.
"Waw ... Waw ... Waw!"
"Tuan, ini banyak sekali!"
๐๐ช๐ญ๐ข๐ฌ, ๐ฑ๐ถ๐ฏ๐บ๐ข ๐ฃ๐ฐ๐ด ๐ฃ๐ข๐ช๐ฌ๐ฏ๐บ๐ข ๐จ๐ข๐ฌ ๐ฌ๐ฆ๐ต๐ถ๐ญ๐ถ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ. ๐ ๐ฉ๐ข๐ท๐ฆ ๐ค๐ฆ๐ฃ๐ข๐ฏ $. ๐๐ฐ๐ด ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช ๐ช๐ฏ๐ช, ๐ฑ๐ข๐ญ๐ช๐ฏ๐จ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฉ๐ข๐ณ๐ถ๐ด ๐ฅ๐ช ๐ข๐ธ๐ฆ๐ต๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ข๐ต๐ข๐ถ ๐ฅ๐ช ๐ฎ๐ถ๐ด๐ฆ๐ถ๐ฎ๐ฌ๐ข๐ฏ.
๐พJoy, lu kate bos barang antik yang udeh langka banget keberadaan nye?๐ Tapi, bener juga sih.๐ค Bos baek begitu sejuta banding satu.๐คฉ Kasih formalin boleh deh Joy. Eh ...,๐คญโ
"Kau sudah memanggil, Milna 'kan?" tanya Arjuna, karena semenjak ia menempati kembali singgasananya. Milna yang sadar bahwa dirinya tidak lagi di butuhkan, segera mengundurkan diri. Saat itu, Arjuna tidak dapat mempertahankannya. Karena memang tidak ada posisi yang tepat untuknya.
Karena itulah, ada yang merasa kehilangan bahan bullyan sepertinya. Sementara, Chang min pun, sudah lebih banyak berubah. Pria kemayu nan manis itu, sudah lebih manly sekarang.
Sekretarisnya itu, menguasai lebih dari 5 bahasa asing. Karena itulah, ia langsung menempati kursi sekretaris di perusahaan ini. Meski di awal, banyak karyawan yang meremehkannya.
Semenjak ia menunjukkan kemampuannya, bahkan telah memenangi tender besar sebanyak dua kali. Membuat dirinya pun di perhitungkan, dengan segala inovasi yang kerap muncul dari otak jeniusnya.
" Belilah, motor ๐ฉ๐ง๐๐๐ก yang kau inginkan. Atau, kau ingin simpan untuk biaya pernikahanmu? tenang saja. Jika kau menikah dengan Milna, biar aku yang menanggung semua biayanya." Arjuna tersenyum, penuh arti dengan sudut bibir yang menukik tajam ke atas.
"Hahaha!" Joy tertawa hambar. Membuat, Arjuna semakin yakin akan praduga nya.
"Anda bercanda?" tanya Joy, sinis.
"Aku tidak akan menikah, apalagi dengan dia!" tolaknya.
"Sampai kapan, kau akan membuang waktumu. Dengan para wanita kiloan itu!" seru Arjuna, bagaimanapun ia peduli dengan asisten setianya. Joy, bukan baru sebentar mengabdi padanya.
"Sekarang aku lebih pemilih, anda tenang saja,Tuan. Aku ...," belum sampai Joy, meneruskan kalimatnya. Ada yang tengah mengetuk pintu ruangan Arjuna.
Tok ... Tok ... Tok!
Arjuna hanya tinggal memencet tombol, maka kunci otomatis akan terbuka.
__ADS_1
"Permisi ...."
Seketika sepasang mata, Joy tak dapat di kondisikan. Hati boleh saja berkata tidak, akan tetapi bahasa mata tak dapat membohongi siapapun. Kecuali perasaan keduanya.
"Maaf, Tuan. Jika saya agak terlambat," jelas Milna. Ia menghadap Arjuna, seakan tidak menganggap keberadaan Joy di sana. Karena, yang menghubunginya juga Chang Min.
๐๐ช๐ข๐ญ, ๐ฅ๐ช๐ข ๐ฃ๐ข๐ฉ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ๐จ๐จ๐ข๐ฑ ๐ฌ๐ฆ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ข๐ฅ๐ข๐ข๐ฏ๐ฌ๐ถ. ๐๐ช๐ข๐ญ๐ฏ๐บ๐ข ๐ญ๐ข๐จ๐ช, ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ข๐ต ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฏ๐ฅ๐ข๐ฏ๐จ๐ฏ๐บ๐ข ๐ต๐ข๐ฅ๐ช.
Joy, membatin. Ingin rasanya ia pergi dari ruangan itu. Kehadiran Milna, membuat ingatannya pada malam itu kembali berputar di otaknya. Bahkan, ia sempat mengingat kembali bagaimana rasa, ah ... bibir perawan ternyata lebih manis. Pikirnya.
Segala gerak gerik Joy, ternyata tak luput dari perhatian mata elang Arjuna. Dirinya semakin yakin, meninggalkan serta menyatukan mereka berdua untuk menangani perusahaan kala itu, ternyata tidak sia-sia.
"Na. Aku ingin memintamu, sebagai pengawal pribadi istriku. Tinggallah di rumah kami, aku menyediakan paviliun untuk mu di sana." Arjuna meminta, kesediaan Milna.
Karena, ia tak mudah mempercayai orang lain, apalagi bila berhubungan dengan istrinya.
"Aku tidak terima penolakan, kau tau." Arjuna memotong, sebelum Milna mengeluarkan kalimat penolakan.
"Kalau begitu? Kapan saya bisa mulai bekerja?" tegas Milna, ia memang menyanggupi permintaan mantan bosnya itu. Bagaimanapun, di masa lalu, dirinya berhutang budi pada Arjuna.
"Ikut kami siang ini, karena aku dan istriku akan pindah hari ini. Susi, butuh teman di rumah besar nanti. Meskipun, aku akan memperkerjakan beberapa ๐ข๐๐๐. Itu juga, menjadi salah satu tugasmu nanti. Menyeleksi mereka satu persatu." Arjuna menjelaskan dengan tegas dan gamblang. Meski, Milna. Sepertinya tidak terlalu fokus dengan apa yang di katakan oleh Arjuna.
๐๐ฆ๐ฏ๐บ๐ฆ๐ฃ๐ข๐ญ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ข๐ญ๐ช ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ช๐ฉ๐ข๐ต ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ข ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ช๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช ๐ช๐ต๐ถ. ๐๐ฑ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ซ๐ถ๐จ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฉ๐ข๐ณ๐ถ๐ด ๐ต๐ถ๐ณ๐ถ๐ฏ ๐ต๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ? ๐๐ฆ๐ณ๐ญ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฉ ๐ฌ๐ถ ๐ซ๐ฆ๐ฃ๐ข๐ฌ ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ข, ๐ญ๐ข๐ญ๐ถ ๐ฏ๐ช๐ฌ๐ข๐ฉ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ค๐ข๐ณ๐ข ๐ฑ๐ข๐ฌ๐ด๐ข?
Arjuna menggerutu gemas dalam hatinya. Ia sedikit tau apa yang terjadi, karena ia menyelidiki sepak terjang mereka beberapa waktu yang lalu.
_______
"Selamat datang, Tuan dan Nyonya." Seorang pria berbadan besar dengan otot yang mencuat dari balik kaus hitam ketatnya. Menyambut kedatangan Susi dan Arjuna di rumah baru mereka.
"Anda sudah ada di sini?" tanya Susi heran, pada pria yang juga memiliki brewok tebal di sekeliling rahangnya. Rambutnya yang keriting gondrong, di kuncirnya dengan rapi.
"Sudah, Nyonya. Sejak kemarin," jelasnya.
"Lalu, bagaimana keadaan istrimu pasca operasi?" tanya Susi, lagi.
"Baik sekali, hanya saja ia masih harus di rawat secara intensif," jelas pria kekar tersebut.
"Sabar ya, Bang Panco! Tetap semangat!" seru Susi, dengan senyum yang akan membuat siapapun terlena.
"Parkir mobilnya!" Arjuna segera merangkul bahu Susi, dan berlalu ke dalam. Sebelum, si Panco membalas senyum manis istrinya itu.
Bersambung>>>
__ADS_1