
๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ
Better berguling-guling gelisah di atas tempat tidurnya. Sang kekasih tak ada memberi kabar kepadanya. Bagaimana lagi, rindu telah mendulang resah di hatinya. Angannya terus terbayang-bayang akan Vanish, dimana gadis mungil nan ceria itu seakan menari-nari di pelupuk matanya.
Batinnya kian merindu, mencipta gejolak emosi yang menggebu. Karena sang kekasih tak juga menghubunginya. Meski ia sudah berkali-kali mengirim pesan, tapi tak kunjung ada balasan.
๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐๐ข๐ฏ๐ช๐ด๐ฉ ๐ต๐ข๐ฌ ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฅ๐ช๐ฉ๐ถ๐ฃ๐ถ๐ฏ๐จ๐ช? ๐๐ฉ๐ข๐ต ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช๐ฌ๐ถ ๐ซ๐ถ๐จ๐ข ๐ค๐ถ๐ฎ๐ข ๐ค๐ฆ๐ฌ๐ญ๐ช๐ด ๐ด๐ข๐ต๐ถ ๐ด๐ฆ๐ซ๐ข๐ฌ ๐ฌ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ณ๐ช๐ฏ. ๐๐ฌ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ช๐ฏ๐ฅ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฎ๐ถ, ๐๐ช๐ด. ๐๐ฌ๐ถ ๐ณ๐ช๐ฏ๐ฅ๐ถ ๐จ๐ฐ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ญ๐ข๐ฏ๐ฎ๐ถ, ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ณ๐ช๐ฏ๐ฅ๐ถ ๐ด๐ฆ๐ฏ๐บ๐ถ๐ฎ ๐ซ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฌ๐ข๐ฎ๐ถ. ๐๐ฌ๐ถ ๐ณ๐ช๐ฏ๐ฅ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ณ ๐ด๐ถ๐ข๐ณ๐ข ๐ค๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ธ๐ฆ๐ต๐ฎ๐ถ.
Better, menghela napasnya berat. Kemudian, tanpa banyak berpikir lagi, pria berwajah tampan dengan rambut gondrong itu, beranjak dari atas pembaringannya.
Ia segera meraih jaket serta kunci motornya. Berkendara di area pinggiran kota, lebih enak menggunakan kendaraan roda dua, menurutnya. Karena dengan begitu ia dapat melewati gang-gang yang sempit.
Tap. Tap. Tap. Tap.
Pria dengan rambut gondrong ikalnya yang di gelung asal itu, terlihat setengah berlari menuruni tangga rumahnya. Ketika langkah kakinya hampir mencapai pintu, sebuah suara bariton sukses menghentikan langkahnya.
"Buru-buru sekali? Kau mau kemana?" selidik sang papi, pria yang di ketahui sebagai orang tua angkatnya itu memang begitu banyak berbudi bagi Better. Menariknya dari anak gelandangan yang kumal serta kelaparan. Sehingga, memiliki rumah, keluarga, pendidikan serta martabat. Itulah yang membuatnya susah menolak permintaan sang papi. Better, merasa jiwa dan raganya sudah tergadai oleh pria itu. Tapi, ia tetap bersyukur, karena jika tidak mungkin dirinya sudah mati membeku di pinggiran taman kota waktu itu. Shim Izu, sudah begitu baik membawanya serta ke negara ini.
Better lantas berbalik menghadap ke arah sang papi. Sontak, ia menangkap senyum yang begitu ia rindukan dari pria paruh baya yang masih nampak begitu gagah.
๐๐ข๐ซ๐ข๐ฉ๐ฏ๐บ๐ข ๐ฃ๐ฆ๐จ๐ช๐ต๐ถ ๐ฃ๐ข๐ฉ๐ข๐จ๐ช๐ข, ๐ข๐ฑ๐ข๐ฌ๐ข๐ฉ ๐จ๐ข๐ฅ๐ช๐ด ๐ช๐ต๐ถ ๐ฃ๐ฆ๐จ๐ช๐ต๐ถ ๐ช๐ด๐ต๐ช๐ฎ๐ฆ๐ธ๐ข? ๐๐ฆ๐ฉ๐ช๐ฏ๐จ๐จ๐ข ๐ด๐ข๐ฏ๐จ ๐ฑ๐ข๐ฑ๐ช ๐ต๐ฆ๐ณ๐ข๐ฎ๐ข๐ต ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ถ๐ฌ๐ข๐ช๐ฏ๐บ๐ข?
"Aku, mau keluar sebentar, Pi," jelasnya.
"Baiklah, tapi jangan lupa dengan pertemuan nanti malam. Karena, sebagai penentu rencana kalian ke depan. Lagipula, besok 'kan kau sudah kembali ke kota." Pria berdarah keturunan pendekar samurai itu, berkata dengan santai tapi penuh penekanan pada setiap kalimatnya. Garis tegas pada wajahnya, menyiratkan harapan dan juga keinginan yang besar.
๐๐ข๐ซ๐ข๐ฉ ๐ช๐ต๐ถ, ๐ฌ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ฃ๐ฆ๐จ๐ช๐ต๐ถ ๐ฑ๐ฆ๐ฏ๐ถ๐ฉ ๐ฉ๐ข๐ณ๐ข๐ฑ? ๐๐ข๐ฑ๐ข๐ต๐ฌ๐ข๐ฉ, ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฐ๐ญ๐ข๐ฌ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ซ๐ฐ๐ฅ๐ฐ๐ฉ๐ข๐ฏ ๐ช๐ฏ๐ช? ๐๐ข๐ฏ๐จ๐จ๐ถ๐ฑ๐ฌ๐ข๐ฉ ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ช๐ฉ๐ข๐ต ๐จ๐ข๐ณ๐ช๐ด ๐ฌ๐ฆ๐ค๐ฆ๐ธ๐ข ๐ฅ๐ช ๐ฌ๐ฆ๐ฅ๐ถ๐ข ๐ฎ๐ข๐ต๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฃ๐ช๐ฏ๐ข๐ณ ๐ช๐ต๐ถ? ๐๐ข๐ฎ๐ฑ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฉ ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ถ๐ฑ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข? ๐๐ข๐ฅ๐ช๐ด ๐ช๐ต๐ถ, ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ธ๐ข ๐ด๐ฆ๐ญ๐ถ๐ณ๐ถ๐ฉ ๐ฉ๐ข๐ต๐ช๐ฌ๐ถ. ๐๐ข๐ฉ๐ฌ๐ข๐ฏ, ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ข๐ณ๐ถ๐ฉ ๐ฏ๐ข๐ง๐ข๐ด๐ฌ๐ถ ๐ซ๐ถ๐จ๐ข ๐ต๐ฆ๐ณ๐ฃ๐ข๐ธ๐ข ๐ฐ๐ญ๐ฆ๐ฉ๐ฏ๐บ๐ข. ๐๐ช๐ฏ๐จ๐จ๐ข, ๐ณ๐ช๐ฏ๐ฅ๐ถ ๐ช๐ฏ๐ช ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ถ๐ญ๐ข๐ฏ๐จ ๐ด๐ฆ๐ด๐ข๐ฌ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ช๐ฉ.
Better mengalihkan wajahnya dari pria yang berada tak jauh darinya itu. Ia takut, jika sang papi mampu menebak isi hati dan juga pikirannya. Ia harus mencari cara untuk mengulur waktu. Hingga ia dapat menemui kekasih hatinya dulu.
"Aku hanya ingin mencari angin, sekalian mengenang masa kecilku di sini." Better berdalih, agar orang tua angkatnya itu tidak mencurigainya. Bagaimanapun, ia harus kembali menegaskan hubungannya dengan Vanish.
"Nikmatilah waktu mu. Kembalilah ke rumah sebelum petang." Shim kemudian berpesan pada putranya. Ia juga tak dapat terlalu menekan anak angkatnya itu. Ia yakin, perlahan tapi pasti. Sang putra, akan menerima keputusannya, bahkan akan berterima kasih padanya suatu saat nanti.
๐๐ข๐ฑ๐ช ๐ต๐ข๐ถ, ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ฎ๐ข๐ด๐ช๐ฉ ๐ฃ๐ฆ๐ญ๐ถ๐ฎ ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฆ๐ณ๐ช๐ฎ๐ข ๐ฌ๐ฆ๐ฑ๐ถ๐ต๐ถ๐ด๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ข๐ฑ๐ช ๐ช๐ฏ๐ช. ๐๐ฆ๐ณ๐ค๐ข๐บ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ, ๐ด๐ช๐ข๐ฑ๐ข๐ฑ๐ถ๐ฏ ๐จ๐ข๐ฅ๐ช๐ด ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ด๐ฆ๐ฅ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ค๐ช๐ฏ๐ต๐ข๐ช ๐ฅ๐ช ๐ด๐ข๐ฏ๐ข. ๐๐ช๐ข ๐ต๐ข๐ฌ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ญ๐ฆ๐ฃ๐ช๐ฉ ๐ฃ๐ข๐ช๐ฌ ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐ฑ๐ช๐ญ๐ช๐ฉ๐ข๐ฏ๐ฌ๐ถ.
________
๐๐ฐ๐ฅ๐ฐ๐ฉ ๐ฌ๐ข๐ถ, ๐๐ฆ๐ต! ๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฏ๐บ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ข๐ญ๐ข๐ฎ๐ข๐ต ๐ณ๐ถ๐ฎ๐ข๐ฉ ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ต๐ถ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐๐ข๐ฏ๐ช๐ด๐ฉ! ๐๐ข๐ค๐ข๐ณ ๐ฎ๐ข๐ค๐ข๐ฎ ๐ข๐ฑ๐ข ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ช๐ฏ๐ช!
Better memaki dirinya sendiri dalam hati, sambil melempar batu-batu koral itu ke dalam danau buatan di hadapannya. Angin yang berembus sedang, menyibak surai ikalnya yang menjuntai ke depan. Hingga, menutupi sebagian matanya yang agak sipit itu.
__ADS_1
Ddrrrtttt ...
Better merasakan ponselnya bergetar di dalam sakunya.
๐๐ณ๐ข๐บ ๐ญ๐ถ ๐ญ๐ข๐จ๐ช ๐ฅ๐ช ๐ด๐ช๐ฏ๐ช '๐ฌ๐ข๐ฏ?
"Iya sob, kenapa?"
๐๐ช๐ต๐ข ๐ฌ๐ถ๐ฎ๐ฑ๐ถ๐ญ ๐ฅ๐ช ๐ต๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ข๐ต ๐ฃ๐ช๐ข๐ด๐ข.
"Oke, mumpung gue ada sini!"
๐๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ญ๐ถ๐ฑ๐ข ๐ฃ๐ข๐ธ๐ข ๐ฎ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ข๐ฏ๐บ๐ข๐ฌ ๐ฐ๐ฌ๐ฆ!
"Oke!"
Better kembali memasukkan ponselnya itu ke dalam saku celananya. Meski ia sempat kecewa, karena berharap itu adalah panggilan dari Vanish.
"Mungkin, kawan lamaku dapat membantu menemukan alamat Vanish. Ah ya, aku akan meminta bantuan pada mereka." Seketika Better seakan mendapat energi dan semangat baru.
_____
"Wahh, pesta guys!"
Ketika datang ke kota ini, perkumpulan di kolong jembatan inilah yang menarik perhatiannya pertama kali. Begitu banyak anak-anak serta remaja yang tumbuh besar tanpa orang tua, juga tempat berlindung.
"Gue, mau minta bantuan kalian." Better, mengatakan niat hatinya secara spontan tanpa basa-basi.
"Ngomong aja si Bray, lu mau minta bantuan apa ke kita?" Salah satu dari mereka mampu menangkap kerisauan di wajah tampan Better.
"Gue mau cari alamat seorang gadis, jaraknya agak jauh dari sini. Gue udah lacak GPSnya. Tapi, gue gak ngerti, titik terakhirnya berhenti di disini." Better menunjukkan titik terakhir pelacakannya dari ponsel Vanish.
"Gong! Bagong! Mana tuh anak?" Pria berbadan besar itu, yang bertindak sebagai ketua di perkumpulan. Memanggil salah satu rekannya.
"Napa Bang, Cep?" Merasa di panggil, pria yang bertubuh kurus itu menghampiri.
"Nih, coba lu lacak titik lokasi ini. Lu cari alamatnya sampe ketemu. 15 menit, kita tungguin di mari!" titah pria yang bernama Cepot tersebut.
"Tenang ae Bray! Kita pasti bisa nemuin tuh alamat." Cepot menepuk bahu Better seolah menenangkan.
"Lu makin ganteng dan glowing, Bray. Gilak dah!" Cepot akhirnya tak mampu menahan pujiannya lagi.
__ADS_1
"Pasti ni cewek cakep bener ye, sampe lu galau banget, Bray!" kekeh Cepot meledek wajah Better yang memang terlihat gelisah.
"Keliatan banget ya, di muka gue?" tanya Better. Jika para sahabatnya ini tau, kemungkinan besar sang papi juga menyadarinya.
"Buseh, ketara banget, Bray! Nih, ya, di jidat lu itu banyak lope-lope nya!" Setelah meledek Better, Cepot pun tergelak dengan kencang.
"Sialan!"
Plukk!
Better melempar botol air mineral kosong hingga mengenai kepala Cepot.
"Bang! Gue nemuin nih alamatnya!" Bagong menghampiri mereka sambil membawa laptop seken yang di beli daro hasil usahanya sendiri. Karena, Bagong sedang merintis usaha design grafis. Pemuda itu juga bisa ilmu IT secara otodidak.
"Cepot! Lu anter gue!" Better, kembali menaiki motor ninja nya. Diikuti oleh Cepot dan Bagong, kemudian sahabatnya itu berjalan di depan sebagai penunjuk arah.
_______
"Kita tinggal nanya-nanya aja sama orang sini, Bang." Bagong memberi saran karena, dirinya hanya bisa membantu dengan menemukan titik alamat sampai daerah ini saja.
"Cewek lu, tinggal di kampung Bray? Pinggiran kota, tapi padet banget. Masih banyak pohon-pohon gede juga." Cepot mengedarkan pandangannya. Lokasi nya lumayan adem dan ayem. Dia pikir, kekasih sahabatnya ini adalah anak orang kaya, yang tinggal di perumahan elit.
"Itu foto pacar gue!" Better memerintahkan Cepot untuk mengecek ponselnya.
"Oke, Bray. Lu tunggu kita di mari sambil ngopi 'kan enak." Cepot pun meninggalkan Better di warkop pinggir jalan.
๐ผ ๐๐๐ฌ ๐ข๐ค๐ข๐๐ฃ๐ฉ ๐ก๐๐ฉ๐๐ง.
"Gilak lu, Bray. Ternyata entu noh rumahnya!" Cepot terkekeh, sembari menunjuk ke arah seberang dari tempat mereka berdiri sekarang. Di mana terdapat sebuah rumah kecil sederhana, tapi begitu sejuk dan asri.
๐๐ช๐ด, ๐ข๐ฌ๐ฉ๐ช๐ณ๐ฏ๐บ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฎ๐ถ! ๐๐ข๐ถ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ญ๐ข๐จ๐ช ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ฏ๐บ๐ช ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช๐ฌ๐ถ. ๐๐ข๐ค๐ข๐ณ ๐ฎ๐ถ๐ฏ๐จ๐ช๐ญ๐ฌ๐ถ.
Better tersenyum senang, ia akan segera menghampiri gadis yang di rindukannya dengan sangat itu.
Baru saja, Better hendak melajukan motornya ke arah seberang. Ponsel di sakunya kembali bergetar.
๐๐ข๐ฑ๐ช ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ถ๐ฏ๐จ๐จ๐ถ ๐ฎ๐ถ, ๐๐ข๐ฌ.
"Ya, Pi. Aku akan pulang." Better pun mengakhiri panggilan tersebut, dengan pandangan yang tak lepas dari rumah di seberang jalan. Terlihat ia mendengus kesal.
๐๐ช๐ด, ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ญ๐ช ๐ญ๐ข๐จ๐ช ๐ฏ๐ข๐ฏ๐ต๐ช. ๐๐ฌ๐ถ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ช๐ญ๐ช๐ฌ๐ช๐ฎ๐ถ . ๐๐ฌ๐ถ ๐ต๐ข๐ฌ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ช๐ข๐ณ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ด๐ช๐ข๐ฑ๐ข๐ฑ๐ถ๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฎ๐ฃ๐ช๐ญ ๐ฎ๐ถ ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช๐ฌ๐ถ. ๐๐ถ๐ฏ๐จ๐จ๐ถ ๐ข๐ฌ๐ถ!
__ADS_1
Bersambung>>>