Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Aku Merindukanmu.


__ADS_3

๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ


Better berguling-guling gelisah di atas tempat tidurnya. Sang kekasih tak ada memberi kabar kepadanya. Bagaimana lagi, rindu telah mendulang resah di hatinya. Angannya terus terbayang-bayang akan Vanish, dimana gadis mungil nan ceria itu seakan menari-nari di pelupuk matanya.


Batinnya kian merindu, mencipta gejolak emosi yang menggebu. Karena sang kekasih tak juga menghubunginya. Meski ia sudah berkali-kali mengirim pesan, tapi tak kunjung ada balasan.


๐˜’๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช๐˜ด๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ถ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช? ๐˜Š๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข ๐˜ค๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ค๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ญ๐˜ช๐˜ด ๐˜ด๐˜ข๐˜ต๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ. ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฎ๐˜ถ, ๐˜•๐˜ช๐˜ด. ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ถ ๐˜จ๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฎ๐˜ถ, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜ซ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ. ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜ค๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ธ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ฎ๐˜ถ.


Better, menghela napasnya berat. Kemudian, tanpa banyak berpikir lagi, pria berwajah tampan dengan rambut gondrong itu, beranjak dari atas pembaringannya.


Ia segera meraih jaket serta kunci motornya. Berkendara di area pinggiran kota, lebih enak menggunakan kendaraan roda dua, menurutnya. Karena dengan begitu ia dapat melewati gang-gang yang sempit.


Tap. Tap. Tap. Tap.


Pria dengan rambut gondrong ikalnya yang di gelung asal itu, terlihat setengah berlari menuruni tangga rumahnya. Ketika langkah kakinya hampir mencapai pintu, sebuah suara bariton sukses menghentikan langkahnya.


"Buru-buru sekali? Kau mau kemana?" selidik sang papi, pria yang di ketahui sebagai orang tua angkatnya itu memang begitu banyak berbudi bagi Better. Menariknya dari anak gelandangan yang kumal serta kelaparan. Sehingga, memiliki rumah, keluarga, pendidikan serta martabat. Itulah yang membuatnya susah menolak permintaan sang papi. Better, merasa jiwa dan raganya sudah tergadai oleh pria itu. Tapi, ia tetap bersyukur, karena jika tidak mungkin dirinya sudah mati membeku di pinggiran taman kota waktu itu. Shim Izu, sudah begitu baik membawanya serta ke negara ini.


Better lantas berbalik menghadap ke arah sang papi. Sontak, ia menangkap senyum yang begitu ia rindukan dari pria paruh baya yang masih nampak begitu gagah.


๐˜ž๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜จ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜จ๐˜ช๐˜ข, ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜จ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช๐˜ด ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜จ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ช๐˜ด๐˜ต๐˜ช๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ธ๐˜ข? ๐˜š๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข?


"Aku, mau keluar sebentar, Pi," jelasnya.


"Baiklah, tapi jangan lupa dengan pertemuan nanti malam. Karena, sebagai penentu rencana kalian ke depan. Lagipula, besok 'kan kau sudah kembali ke kota." Pria berdarah keturunan pendekar samurai itu, berkata dengan santai tapi penuh penekanan pada setiap kalimatnya. Garis tegas pada wajahnya, menyiratkan harapan dan juga keinginan yang besar.


๐˜ž๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ, ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜จ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฑ? ๐˜‹๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฉ, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ฐ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช? ๐˜š๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต ๐˜จ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ด ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ค๐˜ฆ๐˜ธ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ? ๐˜”๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข? ๐˜Ž๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช๐˜ด ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ, ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ธ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ. ๐˜‰๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ง๐˜ข๐˜ด๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ธ๐˜ข ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข. ๐˜๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข, ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ถ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ด๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฉ.


Better mengalihkan wajahnya dari pria yang berada tak jauh darinya itu. Ia takut, jika sang papi mampu menebak isi hati dan juga pikirannya. Ia harus mencari cara untuk mengulur waktu. Hingga ia dapat menemui kekasih hatinya dulu.


"Aku hanya ingin mencari angin, sekalian mengenang masa kecilku di sini." Better berdalih, agar orang tua angkatnya itu tidak mencurigainya. Bagaimanapun, ia harus kembali menegaskan hubungannya dengan Vanish.


"Nikmatilah waktu mu. Kembalilah ke rumah sebelum petang." Shim kemudian berpesan pada putranya. Ia juga tak dapat terlalu menekan anak angkatnya itu. Ia yakin, perlahan tapi pasti. Sang putra, akan menerima keputusannya, bahkan akan berterima kasih padanya suatu saat nanti.


๐˜—๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ต๐˜ข๐˜ถ, ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ต๐˜ถ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช. ๐˜—๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ค๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ, ๐˜ด๐˜ช๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜จ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช๐˜ด ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ค๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข. ๐˜‹๐˜ช๐˜ข ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ถ.


________


๐˜‰๐˜ฐ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ, ๐˜‰๐˜ฆ๐˜ต! ๐˜’๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช๐˜ด๐˜ฉ! ๐˜—๐˜ข๐˜ค๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ค๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช!


Better memaki dirinya sendiri dalam hati, sambil melempar batu-batu koral itu ke dalam danau buatan di hadapannya. Angin yang berembus sedang, menyibak surai ikalnya yang menjuntai ke depan. Hingga, menutupi sebagian matanya yang agak sipit itu.

__ADS_1


Ddrrrtttt ...


Better merasakan ponselnya bergetar di dalam sakunya.


๐˜‰๐˜ณ๐˜ข๐˜บ ๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ด๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช '๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ?


"Iya sob, kenapa?"


๐˜’๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ญ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ข๐˜ด๐˜ข.


"Oke, mumpung gue ada sini!"


๐˜‘๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ธ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฐ๐˜ฌ๐˜ฆ!


"Oke!"


Better kembali memasukkan ponselnya itu ke dalam saku celananya. Meski ia sempat kecewa, karena berharap itu adalah panggilan dari Vanish.


"Mungkin, kawan lamaku dapat membantu menemukan alamat Vanish. Ah ya, aku akan meminta bantuan pada mereka." Seketika Better seakan mendapat energi dan semangat baru.


_____


"Wahh, pesta guys!"


Ketika datang ke kota ini, perkumpulan di kolong jembatan inilah yang menarik perhatiannya pertama kali. Begitu banyak anak-anak serta remaja yang tumbuh besar tanpa orang tua, juga tempat berlindung.


"Gue, mau minta bantuan kalian." Better, mengatakan niat hatinya secara spontan tanpa basa-basi.


"Ngomong aja si Bray, lu mau minta bantuan apa ke kita?" Salah satu dari mereka mampu menangkap kerisauan di wajah tampan Better.


"Gue mau cari alamat seorang gadis, jaraknya agak jauh dari sini. Gue udah lacak GPSnya. Tapi, gue gak ngerti, titik terakhirnya berhenti di disini." Better menunjukkan titik terakhir pelacakannya dari ponsel Vanish.


"Gong! Bagong! Mana tuh anak?" Pria berbadan besar itu, yang bertindak sebagai ketua di perkumpulan. Memanggil salah satu rekannya.


"Napa Bang, Cep?" Merasa di panggil, pria yang bertubuh kurus itu menghampiri.


"Nih, coba lu lacak titik lokasi ini. Lu cari alamatnya sampe ketemu. 15 menit, kita tungguin di mari!" titah pria yang bernama Cepot tersebut.


"Tenang ae Bray! Kita pasti bisa nemuin tuh alamat." Cepot menepuk bahu Better seolah menenangkan.


"Lu makin ganteng dan glowing, Bray. Gilak dah!" Cepot akhirnya tak mampu menahan pujiannya lagi.

__ADS_1


"Pasti ni cewek cakep bener ye, sampe lu galau banget, Bray!" kekeh Cepot meledek wajah Better yang memang terlihat gelisah.


"Keliatan banget ya, di muka gue?" tanya Better. Jika para sahabatnya ini tau, kemungkinan besar sang papi juga menyadarinya.


"Buseh, ketara banget, Bray! Nih, ya, di jidat lu itu banyak lope-lope nya!" Setelah meledek Better, Cepot pun tergelak dengan kencang.


"Sialan!"


Plukk!


Better melempar botol air mineral kosong hingga mengenai kepala Cepot.


"Bang! Gue nemuin nih alamatnya!" Bagong menghampiri mereka sambil membawa laptop seken yang di beli daro hasil usahanya sendiri. Karena, Bagong sedang merintis usaha design grafis. Pemuda itu juga bisa ilmu IT secara otodidak.


"Cepot! Lu anter gue!" Better, kembali menaiki motor ninja nya. Diikuti oleh Cepot dan Bagong, kemudian sahabatnya itu berjalan di depan sebagai penunjuk arah.


_______


"Kita tinggal nanya-nanya aja sama orang sini, Bang." Bagong memberi saran karena, dirinya hanya bisa membantu dengan menemukan titik alamat sampai daerah ini saja.


"Cewek lu, tinggal di kampung Bray? Pinggiran kota, tapi padet banget. Masih banyak pohon-pohon gede juga." Cepot mengedarkan pandangannya. Lokasi nya lumayan adem dan ayem. Dia pikir, kekasih sahabatnya ini adalah anak orang kaya, yang tinggal di perumahan elit.


"Itu foto pacar gue!" Better memerintahkan Cepot untuk mengecek ponselnya.


"Oke, Bray. Lu tunggu kita di mari sambil ngopi 'kan enak." Cepot pun meninggalkan Better di warkop pinggir jalan.


๐˜ผ ๐™›๐™š๐™ฌ ๐™ข๐™ค๐™ข๐™š๐™ฃ๐™ฉ ๐™ก๐™–๐™ฉ๐™š๐™ง.


"Gilak lu, Bray. Ternyata entu noh rumahnya!" Cepot terkekeh, sembari menunjuk ke arah seberang dari tempat mereka berdiri sekarang. Di mana terdapat sebuah rumah kecil sederhana, tapi begitu sejuk dan asri.


๐˜•๐˜ช๐˜ด, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ณ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฎ๐˜ถ! ๐˜’๐˜ข๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ. ๐˜—๐˜ข๐˜ค๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ญ๐˜ฌ๐˜ถ.


Better tersenyum senang, ia akan segera menghampiri gadis yang di rindukannya dengan sangat itu.


Baru saja, Better hendak melajukan motornya ke arah seberang. Ponsel di sakunya kembali bergetar.


๐˜—๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ถ, ๐˜•๐˜ข๐˜ฌ.


"Ya, Pi. Aku akan pulang." Better pun mengakhiri panggilan tersebut, dengan pandangan yang tak lepas dari rumah di seberang jalan. Terlihat ia mendengus kesal.


๐˜•๐˜ช๐˜ด, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ช. ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ญ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ถ . ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ข๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ช๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ญ ๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ. ๐˜›๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ!

__ADS_1


Bersambung>>>


__ADS_2