
🔥🔥🔥🔥🔥
Sabetan kedua benda tajam yang menyerang sekaligus dari dua sisi, membuat napas Arjuna tercekat tiba-tiba.
Crasshh!
Isi di dalam karung bertebaran di udara, karena Arjuna melempar demi menangkis ayunan pedang kembar.
Dedauan kering dengan bentuk kecil-kecil itu, berserakan keseluruh lantai. Ternyata, tumpukkan karung itu berisi daun ganja yang sudah di keringkan.
Arjuna terus melempar demi menghalau pandangan si kucai, sembari ia mencari letak senjatanya yang terlempar.
Musuhnya itu terus menyerang tanpa ampun,meski bahunya terus merembeskan cairan merah berbau amis.
Kali ini Arjuna melihat sedikit celah, ia kembali melempar sebuah karung. Ketika sabetan pedang membelah karung itu, sebuah tendangan keras mendarat tepat di ulu hati si kucai.
Bugh!
Tubuh pria itu tersungkur, cairan kental berwarna merah kehitaman sukses menyembur dari mulutnya.
Arjuna memegangi kakinya yang perih, karena salah satu sabetan pedang itu menyenggol betisnya hingga celananya sobek di bagian bawah.
"Apa yang harus aku lakukan?" gumam Susi dengan tangan gemetar, ia ragu untuk melempar tembakan.
Takut-takut malah salah sasaran. Keringat dingin membasahi tubuhnya, yang masih setia mengawasi duel di hadapannya ini.
" Aku harus yakin ... harus!" Susi kembali memposisikan dirinya, menekan pelatuk itu siap membidik.
Arjuna semakin terpojok, tak ada lagi barang di sekitar yang bisa ia gunakan untuk melawan. Sementara musuh perlahan mulai bangkit.
"Aarrrghhh!" Si kucai menggeram marah. Kembali maju untuk melakukan penyerangan.
Arjuna berguling kebawah ketika sabetan benda tajam itu melewati atas kepalanya, menendang tungkai kaki hingga keseimbangan musuh kembali tersungkur.
"Orang ini apa tidak lelah? Kapan dia akan menyerah." Arjuna bergumam seraya merangkak menghampiri Katana miliknya, yang tergeletak tak jauh dari tempatnya terguling.
__ADS_1
Hap!
"Hah!" Arjuna terkesiap, dirinya bahkan tak sempat bangun. Untung saja Katana sudah berada didalam genggamannya.
"Aarggg!" Kucai menekan kedua senjatanya yang kembali bertemu dengan Katana milik Arjuna.
Sekuat tenaga Arjuna bertahan pada posisinya yang terlentang di lantai, menahan dorongan pedang kembar dengan Katana. Hingga, kedua pedang itu hampir mendekati lehernya.
Dor!
Satu tembakan melesat, menjatuhkan lampu gantung yang berada tak jauh dari lokasi Arjuan dan si kucai.
"Yah kan salah sasaran!" pekik Susi kesal.
Ia memukulkan pistol kosong itu pada kepalanya.
"Aw! Sakit!"
Tembakan yang meleset itu sempat mengecoh konsentrasi dari si kucai. Karena kaget, maka kuda-kudanya renggang.
Masih belum mau menyerah, si kucai kembali maju menyerang. Kali ini ia melempar bubuk ke udara, tepat di depan wajah Arjuna.
"Akh!"
"Apa ini? Akh ... mataku!" Arjuna merasa terganggu pada penglihatannya. Seketika itu, sabetan pedang kembali mengarah mengincar batang lehernya.
Trankk!
Seett!
Crasshh!!
Teriakan melengking keluar menggema, dari mulut seorang pria yang menggelepar di lantai. Cairan berwarna merah seketika menggenang membanjiri lantai kayu tersebut.
Erangan yang keluar dari mulutnya begitu mengerikan dan menyayat.
__ADS_1
"Ar!!"pekik Susi nyaring, ia pun berlari dan melempar senjata api nya yang kosong.
Susi mendekap tubuh tegap itu erat, darah yang bersimbah pada pakaian Arjuna tidaklah di hiraukan nya.
Hujan deras disertai angin kencang, datang menerjang hutan. Di mana telah terjadi pertempuran sengit beberapa saat lalu. Angin kencang serta derasnya tetesan hujan, mambaurkan cairan merah dengan warna tanah. Membiaskan anyir, menyapu bekas-bekas sisa perkelahian.
Terdapat beberapa tubuh tak bernyawa dan terluka parah, mungkin beberap tengah meregang nyawa secara perlahan. Raga penuh luka dengan darah yang hampir mengering bertebaran di segala penjuru.
Di dalam bangunan tua, berbahan material serba kayu. Terletak dilantai dua pada bangunan yang cukup besar itu, terbaringlah sosok seorang pria yang masih tak sadarkan diri di atas tempat tidur usang.
Sementara di ujung sana, lantai kayu yang berwarna kecoklatan. Bertaburan bercak-bercak merah darah.
"Joy ...," lirih Susi dengan wajah yang basah oleh airmata.
"I-iya Nona." Joy menjawab, dengan napas yang masih terengah-engah. Karena ia berlari ketika mendengar arah suara tembakan.
"Arjuna ...," Tangis Susi pun pecah seketika.
...Hai readers ku tercinta ....😍...
...Mak chibi menyapa kalian, untuk pembaca baru ku selamat datang!🥳...
...Terimakasih atas dukungan kalian😇...
...Jangan lupa pencet like, dan komen di setiap babnya ya ...( ngarep banget)...
...Demi semangat penulis yang sering banget drop ini😙...
...Apalagi kalau di kasi hadiah dan vote ... waahh, bisa lompat-lompat otornya😁...
...Sekian terima gaji, eh....
...Dah lah met baca aja🤗...
Bersambung>>>>
__ADS_1