Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Selangkah Lebih Maju.


__ADS_3

πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯


Beberapa karyawan menundukkan kepala mereka ketika berpapasan dengan Direktur S. Seorang wanita muda, pemegang saham sebesar 40% di perusahaan properti ini. Susi tanpa segan membalas hormat mereka dengan senyum.


" Ibu Direktur S, memang sangat cantik, beliau juga ramah," puji salah satu karyawan wanita.


"Iya, tidak seperti Pak Direktur, arogan dan ketus." Itulah, beberapa penilaian dari para karyawan, semenjak Susi menjabat sebagai petinggi di perusahaan tersebut.


Perusahaan properti yang bergerak di bidang pembangunan lahan untuk perumahan atau real estate.


Perusahaan yang hampir bangkrut karena mengalami kerugian besar beberapa waktu lalu.


Sehingga calon istri dari CEO ARSA, menawarkan uluran dana kerja sama nya, dengan berinvestasi saham pada perusahaan Pradipta.


"Pagi Nona." Better menundukkan kepala, menyapa bosnya.


"Pagi Better." sahut Susi.


Ia mendudukkan dirinya pada kursi kebesarannya.


"Better, apa pekerjaan ku hari ini?" tanya Susi asisten nyentriknya itu.


Bagaimana tidak di bilang nyentrik, Better tidak pernah berpakaian formal.


Pria itu tak pernah mengenakan kemeja apalagi dasi. Ia hanya mengenakan kaus saja yang di lapisi dengan Coat yang manly.


"Nona, hanya perlu menandatangani beberapa berkas yang sudah saya periksa," jelas Better, singkat ... padat ... jelas.


Susi mulai membuka berkas-berkas yang tersusun menumpuk di atas meja kerjanya itu.


Tumpukan yang lumayan, dan dirinya hanya perlu tanda tangan saja.

__ADS_1


"Terima kasih, kau telah menghandle tugasku sepekan ini." Susi menoleh pada Better, tersenyum.


Pria itu hanya mengangguk dan menatap sekilas.


"Ini sudah tugas saya. Nona, jangan sungkan." Better kembali pada posisinya, tegak berdiri di samping Susi.


"Jangan terlalu formal, kau bisa santai kalau hanya berdua dengan ku di kantor," Susi memiringkan tubuhnya agar ia dapat menatap sepenuhnya.


"Maaf, Nona. Saya tidak pantas mendapat perlakuan spesial dari anda." tolak Better halus.


Susi menyandarkan tubuhnya pada kursi.


"Sepertinya, aku tidak akan memiliki teman di sini." gumamnya, akan tetapi masih bisa terdengar oleh telinga Better.


(Maaf, Nona. Saya masih sayang nyawa yang cuma sebiji ini.) Better menelan ludahnya, ketika membayangkan lehernya terpisah dari badan seperti apa yang di ancamkan Arjuna padanya.


Susi mengambil berkas-berkas itu dan mulai serius membalik kertas itu satu persatu.


πŸ‰πŸ‰πŸ‰πŸ‰


"Tuan." Joy menyerahkan berkas laporan di atas meja kerja Arjuna.


Arjuna menatap amplop itu lalu membukanya.


"Don Domino?"


"Bukankah dia?" Arjuna mengerutkan dahinya, lalu tersenyum miring.


Arjuna mengesampingkan laporan tentang wanita masa lalunya, karena karir wanita itu telah hancur berkeping-keping.


Wanita busuk seperti itu tak patut lagi meskipun hanya singgah sesaat di pikirannya.

__ADS_1


"Benar-benar wanita bodoh, ia memilih menyerahkan nyawanya pada mafia itu. Demi, waktu dua tahun penjara saja." Arjuna tak mengerti jalan pikiran kakak perempuan Seno itu.


"Mungkinkah, kakak perempuan laki-laki laknat itu adalah sugar baby, Don Domino si mafia narkoba?" Arjuna mencoba menganalisa bukti-bukti yang berserak di hadapannya.


"Apa sikap yang harus kita ambil, Tuan?" tanya Joy.


"Jangan pernah sekalipun bersentuhan dan berhubungan dengan mereka."


"Mereka adalah penjahat sekaligus pengusaha lembah hitam." tegas Arjuna.


"Tuan, apakah ini tidak ada kaitannya akan penolakan kita, atas ajakan kerja samanya beberapa tahun yang lalu?" Joy sedikit risau.


Arjuna, mengerutkan dahinya. Pertanda dirinya tengah berpikir keras, demi menyatukan puzzle akan segala kemungkinan yang terjadi.


Ingatannya kembali pada dua tahun lalu, di mana Don Domino mendatanginya.


"Carikan aku pekerja wanita muda, bukankah perusahaan mu mudah dalam merekrut pegawai wanita."


"Jangan sok menjadi pebisnis yang bersih anak muda."


"Pikirkan tawaranku! Kau dapat menjadikan perusahaan mu lebih besar dan kuat, di bawah perlindungan Naga Bayang." (Don Domino)


Seketika Arjuna memijat pangkal hidungnya.


"Awasi setiap gerakan yang mencurigakan. Semoga kekhawatiran kita tidak menjadi kenyataan," titah Arjuna.


"Saya, telah menambah personil untuk menjaga Nona Susi ... Tuan." jelas Joy.


" Ini yang ku suka darimu Joy, kau selalu selangkah lebih maju," puji Arjuna.


"Saya lebih suka bonus ketimbang pujian, Tuan?" Joy mengulum senyumnya dengan mata yang berbinar.

__ADS_1


Bersambung>>>


__ADS_2