Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Awas Kualat!


__ADS_3

๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ


Milna tiba-tiba menarik tangan Joy, lalu mengarahkan tendangannya ke tungkai kaki pria itu. Membuat Joy yang tak siap, limbung ke depan.


Yeayy!! Kau lihat Ar? ini baru benar!" Susi bersorak kegirangan, menonton aksi di depan sana, Hingga, dirinya terlihat melompat-lompat kecil.


"Sayang, ingat anak kita," ucap Arjuna lembut, seraya mengelus perut istri yang agak sedikit menonjol itu.


"Bayi kita ikut senang, Ar. Kau jangan khawatir," sahut Susi. Kemudian ia merangkul Arjuna, mengajaknya melangkah meninggalkan halaman belakang.


"Mereka, bagaimana?" tanya Arjuna seraya menengok kedua orang yang tengah bergelut di atas rumput. Karena saat ini, Joy dan Milna bergantian untuk saling tindih serta mengunci.


"Biarkan saja. Memangnya, kau ingin melihat mereka bermesraan?" protes Susi.


"Bermesraan?" bukankah mereka sedang?" Arjuna pun bingung, seraya mengusap tengkuknya, lalu menggeleng pelan.


๐ŸพMasa gak ngerti sih๐Ÿ˜Ž 'kan dah biasa tuh abis berantem senggol bacok, tar juga ada yang nyetrum๐Ÿคญ๐Ÿคช


Pasangan suami istri ini pun melenggang masuk ke dalam rumah dengan santai, melepas dua orang yang sama-sama sedang menyiksa diri dan hati itu. Berperang, melawan gengsi serta egoisme mereka. Karena, biasanya, setelah emosi terurai, maka pikiran dan hati akan lebih tenang.


"Jauhkan, tanganmu dari dadaku! Berengsek! Jangan mengambil kesempatan!" Milna yang tengah memiting Joy dengan kedua kakinya. Tiba-tiba merasakan tangan Joy seakan meraba bagian depan tubuhnya itu.


"Eng ... aku ... tidak sengaja ... menyentuhnya!" sahut Joy, terbata-bata. Karena tenaga Milna masih saja kuat dan tak nampak kelelahan. Sungguh, berbanding terbalik dengan dirinya.


"Lagi pula ... tidak ada ... bedanya, dengan ... dada pria," sambungnya lagi. Spontan, kata-katanya itu membuat Milna semakin kencang menguncinya.


"Kurang ajar!"


"Aarrgg!" pekik Joy, merasa ngilu pada lengannya.


๐˜ž๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช, ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ-๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ถ! ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข. ๐˜‘๐˜ช๐˜ธ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข, ๐˜ข๐˜ฉ ... ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ช๐˜ณ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ, ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ!


Joy mendadak, mengeluarkan tenaga yang di sembunyikannya. Lalu, ia membalik posisi mereka. Entah bagaimana caranya. Kini, posisi Milna yang berada di bawah kuncian Joy.


"Beraninya kau!" Milna berusaha menggeser tubuh besar Joy, yang menindih bagian atas tubuhnya. Padahal, biasanya mengunci itu dari samping, kenapa dia dari atas?


๐ŸพEng ... kayaknya modus deh๐Ÿค”


"Jangan terlalu percaya diri, tubuhmu itu rata. Aku tidak akan pernah tertarik padamu." Joy, mencibir raga gadis di bawah kungkungan nya. Lain di mulut lain di hati, batinnya penuh sesal, kenapa ia mengambil posisi intim seperti ini.


"Kalau begitu, menyingkirlah!" usir Milna, masih terus berusaha sekuat tenaga untuk bergerak agar lepas dari kuncian pria tengik di atas raganya ini.


"Hei, kalian!" panggil Better, bahkan pria itu terlihat menahan tawanya. Belum, pernah ia melihat tontonan semenarik ini. Dirinya yang baru tiba bersama Vanish, mendapat pesan dari Arjuna, bahwa dua orang sahabatnya ini sedang mengobrol di halaman belakang.


Tapi pada kenyataannya, ia malah di sodorkan pemandangan langka.


"Perlu, aku pesankan kamar hotel untuk bermesraan?" ledek pria dengan rambut ikal yang selalu di gelung asal itu. Ia menutup mulutnya dengan kepalan tangan. Demi menahan, kekehanya.

__ADS_1


"Minggirlah, cepat!" pekik Milna, sambil melotot ke arah Joy. Betapa malunya ia, tatkala sang sahabat melihat dirinya dengan posisi yang mantap untuk menjadi bahan bully seumur hidup.


"Sejak kapan, titisan ๐™—๐™ง๐™ช๐™˜๐™š ๐™ก๐™ž itu, ada di sana." Gumam Joy.


๐˜–๐˜ฉ, ๐˜ด๐˜ฉ๐˜ช๐˜ต! ๐˜’๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ, ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ด๐˜ช? ๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ข๐˜จ๐˜ถ๐˜ด๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ด๐˜ช ๐˜ต๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฐ๐˜ช ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช!


"Hei kau! Berhentilah bergerak, atau?!" Joy, tak dapat meneruskan kata-katanya. Isi kepalanya buyar seketika, tiba-tiba darahnya berdesir merasakan sensasi yang sangat ia hafal.


"Selesaikan masalah kalian dengan cepat! Atau kehabisan makan malam!" Sambil terus tertawa lebar, Better pun berlalu. Meninggalkan dua orang yang tidak jelas lagi, tengah berduel atau apa?


Joy dan Milna tanpa sadar saling menatap lama.


๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ด๐˜ฆ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ด๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข. ๐˜“๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ, ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ...


Joy, hanya bisa membatin. Ketika gelombang aneh itu merasuki jiwanya. Pandangan matanya, dengan liar menatap bibir berisi milik si gadis rata yang tomboi.


"Hei, apa kau bawa pisau?" Kedua mata Milna, membola seketika.


"Casanova tengik! Senjata mu menusuk perutku!" pekik Milna, langsung mendorong tubuh Joy sekuat tenaga.


Brugh!


Joy pun terpental, lalu menggelinding di atas rumput.


"Gadis rata sialan!" maki Joy.


"Makanya, lain kali, hati-hati! Ketika kau menyelipkan senjata di pinggang mu!" sungut, Milna. Dirinya yang telah bangun berdiri, menepuk-nepuk pelan pakaiannya. Karena, mereka tadi sempat bergulingan di atas rumput


"Fiiuuhh!" Joy, menghela napasnya lega. Ternyata, Milna tak menyadari apa yang barusan terjadi. Buru-buru, Joy membelakangi gadis tomboi itu. Demi, menyembunyikan sesuatu yang menonjol ke depan.


"Hei! Dasar manusia tengik yang sombong! Kenapa membelakangi ku!" hardik Milna, ia merasa tersinggung karena Joy seakan tak ingin melihat wajahnya.


"Sudahlah, pertandingan ini seri. Tidak ada yang kalah dan menang diantara kita." Joy berkata, tanpa menoleh.


"Terserah kau! Mulai sekarang jangan pernah meremehkan ku lagi! Kalau mau, aku bisa saja menghabisi mu!" Setelah mengucapkan kalimat yang terakhir. Milna pun berlalu tanpa melirik sedikit pun, pada pria yang tengah meringis itu.


"Bagus deh, dia gak nengok. Ini pedang, kapan mau turunnya? masa, aku ke dalam dengan keadaan seperti ini? apa iya, ini efek lama tak main kue moci?" Joy menggaruk-garuk kepalanya bingung.


______


Setibanya di dalam, tepatnya di ruang makan. Terlihat seorang gadis mungil tengah menata makanan di atas meja.


"Ninis!" panggil Milna, ia baru saja dari toilet untuk membersihkan dirinya. Wanita itu menoleh mendengar suara yang familiar di telinganya.


"Kak, Nana!" pekiknya juga girang. Mereka pun menghambur dalam pelukan satu sama lain. Lama tak bertemu membuat rasa rindu tercipta dari keduanya.


"Kangen banget sama kamu," ucap Milna, seraya makin mengeratkan dekapannya.

__ADS_1


"Ninis juga kangen banget, sampe tumpeh-tumpeh malah," candanya. Seperti yang biasa mereka lakukan, setelahnya keduanya pun tertawa bersama.


Vanish dan Milna yang mempunyai beberapa kesamaan, memudahkan mereka untuk cepat dekat satu sama lain. Tipe gadis periang yang suka ceplas-ceplos dan bercanda.


"Kata, kak Susi. Kamu lagi berduaan sama pak Joy? terus, orangnya mana? emang, sejak kapan kalian berdamai?" tanya Vanish pelan, tetap saja membuat Milna segera membekap mulutnya.


"Siapa yang berduaan? aku sama dia gitu? cuih, jijai bajai!" cibir Milna dengan ekspresi mual, seraya menjulurkan lidahnya.


"Ih, Kakak. Gak boleh gitu! Kata emaknya, Ninis. Nanti bisa ๐™ ๐™š๐™ฉ๐™ช๐™ก๐™–, lho!" ucap Vanish tegas memperingati.


"๐™†๐™š๐™ฉ๐™ช๐™ก๐™– itu, apa?" tanya Milna bingung. Vanish selalu saja menggunakan bahasa daerahnya yang aneh tapi lucu bagi Milna.


" Artinya, sama aja kayak ๐™ ๐™ช๐™–๐™ก๐™–๐™ฉ, Kak." Vanish memajukan wajah seraya memasang ekspresi menakuti.


"Maksudnya gimana sih, Nis?" tanya Milna mulai khawatir, dirinya sebenarnya tau makna dari kata tersebut hanya saja, ia perlu penjabaran yang jelas.


"Kata emak, Ninis. Kalo sering berantem, terus maen kata-kata'an, nanti bisa berjodoh, gitu." Vanish menjelaskan dengan ekspresi serius tapi santai. Dalam hatinya, ia justru berharap jika Milna bisa membawa Joy ke jalan yang benar, dengan cara mereka bersama.


Bukan berarti, Vanish menginginkan sahabatnya ini mendapat jodoh pria yang buruk. Vanish tau, di balik kebiasaan Joy yang suka bermain wanita, ia adalah pria yang menyenangkan serta bertanggung jawab.


"Idihh! Aku gak mau ah! Bayangin aja ogah banget, Nis." Milna bergidik dengan bayangannya sendiri. Membuat Vanish terkekeh geli.


"Hussh! Gak boleh gitu, Kak! Benci bisa jadi cinta loh!" goda Vanish lagi.


"Sok tau, kamu tuh!" protes Milna, berkilah dengan segala hasil persepsi sahabatnya itu.


"Emang iya, Kakak. Aku tuh sering baca di novel-novel tuh cerita kayak gitu," dalih Vanish.


"Huuu ..., itu mah 'kan di novel, jamilah! Di dunia nyata mah, benci ya gak suka! Mana bisa jadi cinta, yang ada tambah sebel!" kilah Milna, mereka berdua terus berdebat pasal benci yang akan berubah jadi cinta. Hingga akhirnya sang pemilik rumah turun dari lantai atas.


"Vanish ...!" panggil Susi, hampir saja berlari jika tak di tahan oleh Arjuna.


"Jangan, Kak! Biar aku aja yang kesana!" Vanish pun berlari menghampiri Susi yang masih berada didepan anak tangga terakhir.


"Lama ya, kita gak ketemu," ucap Susi di tengah rangkulan keduanya.


"Lama banget! Sampe aku kira tuh, Kak Susi gak mau lagi ketemu sama aku ... hiks!" Vanish, menarik ingus di sela isak tangisnya.


Sruutt!


Slurp!


"Joyok ih, ngerusak suasana deh!"


Sementara itu, Arjuna hanya memperhatikan dari belakang. Interaksi keduanya sejak dulu, selalu membuatnya menggelengkan kepala.


"Oh iya, kamu udah jadian ya sama, bang kuncir? Kok gak cerita sama, Kakak?" cebik Susi seraya memajukan bibirnya.

__ADS_1


"Ah, iโ€“itu ...,"


Bersambung>>>


__ADS_2