
🔥🔥🔥🔥🔥
Peluru terakhir Arjuna berhasil mengenai bahu kiri si pria kucai dengan wajah menyebalkan itu.
"Mogui!" (Setan!) umpatnya dalam bahasa macao/ china tradisional/kanton. Lantaran kesal, maka keluarlah bahasa asli si kucai.
"Likai zheli, gaisi de!" ( Keluar kau, sialan!) teriaknya menantang Arjuna, lalu melempar pistolnya yang juga kosong.
Ptaakk!
Senjata api itu terlempar sejauh dua meter.
Arjuna menyeringai di balik tumpukkan benda yang di bungkus karung. Karena mereka berada di sebuah ruangan seperti gudang.
Sementara Susi tidaklah turun kebawah seperti perintah Arjuna, melainkan mengintip dari balik tumpukkan karung di sudut lain.
" Aku tidak setega itu meninggalkanmu sendirian." gumamnya sambil terus mengintai. Bersiap dengan mengokang senjatanya.
Menggenggam dengan kedua tangan, senjata yang baru pertama kali di lihatnya secara nyata. Bersiap menarik pelatuk, meski dirinya tak yakin tembakannya akan meleset atau tepat sasaran.
" Ya Tuhan, selama ini aku hanya melihat adegan ini di tivi. Tapi sekarang..., kenapa hidupku begitu rumit?" gumam Susi, menela'ah takdirnya.
Mengetahui bahwa musuh telah kehabisan amunisi, Arjuna keluar dengan seringai serigalanya.
Entah sejak kapan pria ini menjadi menyeramkan seperti itu. Lama sudah Arjuna tidak berduel dengan lawan sungguhan.
Karena sejak patah hati belasan tahun lalu, dirinya sempat terjungkal di kehidupan underground.
Dari itulah, ia mengenal beberapa ilmu beladiri dan juga senjata tajam, bahkan senjata api.
Sebelum akhirnya, ia belajar sungguhan sambil menunggu wasiat dari sang kakek turun untuknya.
__ADS_1
"Sudah lama ototku kaku, baiklah ... mari kita beraksi kawan!" Arjuna menjulurkan jarinya menantang.
Si kucai hanya menggeram memperlihatkan taringnya yang macam hiu. Entah itu gigi sungguhan atau sengaja di buat bertaring semua.
Bagaimana nasib wanitanya bila mereka berciuman, sementara giginya saja macam piranha.
Hiii ... Otor ngeri bayanginnya gais.
Pria berkulit sawo matang dengan tato ulat kaki seribu. Menarik sesuatu dari punggungnya.
Sreettt ...!
Kedua tangannya menggunakan pedang pipih sedikit lebar. Wajahnya tersenyum remeh menantang Arjuna.
" Kita tidak punya dendam kan, Tuan ...?" seloroh Arjuna seraya memindai bahasa tubuh lawan. Mengira-ngira arah serangannya nanti, agar ia dapat mematahkan dengan mudah setiap jurusnya.
"Ini bukan aksi perkenalan, jadi pergilah ke neraka!" si pria kucai menyerang membabi-buta meski sebelah bahunya terluka. Namun, hal itu tak menghalanginya untuk bergerak dengan gesit.
"Kau saja yang ke alam baka!" Arjuna menangkis setiap serangan dari twins of sword itu.
Suara pedang kembar beradu dengan katana, menimbulkan melodi nyaring berdenting.
Arjuna menangkis, berputar, menghunus serta melayangkan sabetan keras. Namun, musuhnya ini benar-benar tangguh.
Tarian dari senjatanya yang super indah dan lincah dapat di patahkan dengan mudah.
(Lama tak bertarung, sekalinya duel, mendapat lawan yang benar-benar tangguh. Cukup menguras tenaga ku. Setelah ini, aku akan mulai berlatih lagi.) batin Arjuna, yang sempat kewalahan.
Si kucai melompat dengan memantulkan lebih dulu, sebelah kaki pada dinding. Lalu pria itu , mengarahkan pedang kembarnya dari atas.
Sssrraaanggg ...!
__ADS_1
Suara benda tajam bertenaga itu beradu, hingga memercik api di udara.
Karena tidak pernah latihan, Arjuna payah di napas dan tenaga.
Sehingga, serangan nya bisa di tangkap begitu mudah, lalu si kucai mendorongnya sekuat tenaga.
Dorongan bertenaga dalam itu, membuat Arjuna hampir tersungkur, bila saja ia tidak menggunakan senjata nya sebagai tumpuan.
Musuhnya ini benar-benar menginginkan nyawanya. Pria bertato dengan wajah beringas nan menyebalkan ini, terlihat begitu berhasrat untuk menghabisinya.
"Haaaaaiiiiaahh!"
Trankk!
Traankk!
Katana dalam genggaman Arjuna terlepas, dirinya salah prediksi dalam serangan.
(Sial, dia menggunakan cara licik dengan melakukan gerakan tipuan.) batin Arjuna yang kini, tengah memegangi dadanya.
Posisinya yang terjerembab di atas tumpukan karung membuatnya menjadi sasaran empuk sang musuh.
Si kucai tergelak, lalu berlari cepat kearah Arjuna.
Arjuna sekuat tenaga, berusaha menegakkan tubuhnya, berkelit pun takkan bisa.
Hanya bisa meraih beberapa karung di sekitarnya.
"Habis kau!" teriak si kucai dengan geraman disertai sabetan dari kedua pedangnya.
Sreett ... Sret. Sret!
__ADS_1
Craashhhh ...
Bersambung>>>>