Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Rencana Yang Terbaca.


__ADS_3

🔥🔥🔥🔥🔥


Walls melepaskan perlahan, rangkulannya. Entah kenapa tiba-tiba ia menjadi muak dengan wanita ini.


Karena, keadaannya yang tengah mengandung. Tapi, masih saja hunting pemuas kasurnya.


(Meskipun aku bocah badung, tapi juga pilih-pilih kalee ...)


"Ah, aku harus pergi. Lebih berhati-hatilah, jaga kandungan murah dengan baik." Setelah mengatakannya, Walls pun berlalu dengan gaya.


"Berondong mantab." celetuk Jelita, dengan senyum penuh arti.


"Sayang, dia sepertinya menyukai anak bayi. Karena, itu dirinya tak ingin menyentuhku." Monolognya. Lalu, Jelita pun mengibaskan rambutnya dan kembali melangkah dengan elegan.


Tanpa disadarinya, ada sebuah alat penyadap yang di pasang pada belakang giwangnya.


"Maaf, Don. Aku meninggalkanmu terlalu lama di toilet." Jelita menyisipkan ciuman pada caping telinga komodo tua itu.


Namun, Don tak bergeming.


"Kalian, geledah dia!" titahnya pada dua pengawal berbadan besar di sebelahnya itu.


"Apa maksudmu, Don!"


" Tunggu, kalian jangan mendekat. Enak saja ingin meraba tubuhku seenaknya!" jerit Jelita menghentikan pergerakan dua pria itu yang hendak maju mendekatinya.


"Jelaskan apa ini,Don!" hardiknya pada pria paruh baya yang asik menerima setiap sentuhan dari tiga wanita bayarannya.


"Lagipula, untuk apa kau memanggil mereka? Bukankah hanya kita yang akan bersenang-senang!" Jelita benar-benar kesal, baru saja di tinggal beberapa menit. Mafia bau tanah ini sudah berulah.


" Siapa bilang ini pesta untuk kita berdua saja, siapa kau bisa mengaturku." ucap Don datar, tanpa sedikit pun menatap ke arah Jelita.

__ADS_1


"Jeff, kau saja yang memeriksanya!"


"Baik, Don!" Pria yang disebut pun segera bangkit dari duduknya, pria berwajah bule dengan sorot mata tajam mengiris itu dengan cepat meraba setiap inchi raga molek itu.


" Sialan kau!"


Plak!


Plakk!


"Akh!"


Jeff membalas tamparan Jelita dengan keras, hingga wanita itu terjengkang ke atas sofa.


(Sial. Aku bisa celaka kalau disini terus, kandunganku terancam.) batin Jelita, dirinya sadar bahwa Don mulai bosan padanya. Setelah keuntungan begitu banyak ia berikan terhadap tua bangka itu. Kini, dirinya hendak dihempaskan begitu saja.


" Bagus, Don! Setelah apa yang kulakukan padamu! Kau biarkan anak buah keparat mu itu memukulku!" Teriak Jelita histeris, dirinya teramat kesal atas perlakuan Domino.


Padahal tadi, ketika mereka janjian. Don Domino masih bersikap biasa. Kenapa, sekarang dirinya jadi seakan tak berguna.


" Wanita itu menamparku, aku belum memeriksa rambutnya." Jeff, kembali mendekati Jelita. Pria itu bahkan menarik rambut pirang wanita yang tengah hamil itu.


" Lepaskan aku berengsek!" Jelita memukul lengan kekar Jeff yang menjambak dan menyibak rambutnya kasar. Hingga jemarinya berhenti pada sebelah telinga Jelita.


Don mendengus kasar seraya menepis sentuhan dari para wanita bayarannya.


"Om, kita ketahuan!"


" Shiit!"


" Damn it, mereka kesini!"

__ADS_1


"Komodo tua itu, sudah sadar kehadiran kita sejak tadi ternyata." Tiga serangkai meningkatkan kewaspadaan mereka. Tidak di sangka, ternyata Don Domino telah meretas sistem CCTV klab malam ini. Pantas saja pria bule yang bernama Jeff itu, sejak tadi serius di depan tabletnya.


"Sial banget kalo gitu, mana udah bikin skenario seapik itu. Udah keluar duit juga buat bayar pria pura-pura mabuk tadi." Dengus Walls, kesal. Aksinya sia-sia saja ternyata.


"Apa mereka sengaja, menghampiri kita Bet?"


" Maksudku, mereka mencium gerakan kita." Gusar Joy, terlihat dari caranya meremas kepalan tangannya sendiri. Bukannya mereka takut, hanya saja mereka tak sampai memikirkan ini semua.


Don king-kong benar-benar ngajak perang sepertinya, itulah yang ada di pikiran tiga serangkai itu.


Brakkk!!


Bangg!!


Anak buah Domino menghampiri meja ketiganya, kemudian menendang meja hingga terbalik. Semua yang berada diatas meja pun berserakan dan pecah berantakkan.


"Beraninya kalian mencari masalah denganku, hah!" hardik Domino, suara nya menggelegar memecah dentuman musik di klab tersebut.


"Beri anak ingusan itu pelajaran, tapi simpan senjata kalian." ucap Domino kepada anak buahnya, kurang lebih jumlah mereka delapan orang.


Nah lho ...!


Gimana kelanjutan aksi tiga serangkai ...?


Akankah mereka menjadi tiga jagoan, atau tiga pecundang?


Stay tune ya ...


Cekidot ke bab berikutnya.


Bocoran nih,

__ADS_1


Ssstt ... Sstt, abis tempur baru kita kondangan gais ...🤭🤭🤭


Bersambung>>>>>


__ADS_2