
๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ
"Perutnya masih keram?" tanya Arjuna. Guratan khawatir begitu kentara di wajah tampannya. Ia sesekali mengelus perut besar Susi.
Ibu hamil itu, menyembunyikan sakit yang sebenarnya. Ia hanya sesekali menarik dan membuang napas saja. Karena senyum itu masih terus ia sungging kan di wajahnya.
"Gapapa kok, ini 'kan udah biasa. Nanti juga baikan," jelasnya. Agar sang suami tak khawatir lagi. Lagipula, ia masih bisa menahan rasa nyeri yang masih datang dan pergi itu.
"Tidur di sini aja ya. Biar kamu bisa rebahan." Tanpa menunggu jawaban dari istrinya, Arjuna menarik tubuh itu ke atas pangkuannya. Lalu, mengusap perut besar istrinya dengan lembut.
" Pantes aja sakit, kencang begini." Arjuna meringis membayangkan bagaimana rasanya ketika otot perut kita ketarik.
"Biasanya, kalau sudah ku usap, dia akan melenturkan. Kenapa sekarang tidak, sayang? apa ada masalah dengannya di dalam?" tanya Arjuna, bingung. Baru begini saja dirinya sudah panik, apalagi ketika Susi akan melahirkan nanti.
"Ku rasa, bayi kita hanya kelelahan sayang. Biasanya, sehabis olahraga kan aku tidur, tapi sekarang. Isshh ...," Susi kembali meringis kecil.
"Kenapa? Apanya yang sakit?" Arjuna mulai panik. Sepertinya, istri bukan hanya merasakan keram perut, tapi ini seperti tanda-tanda yang di katakan oleh Netta.
__ADS_1
"Ini, bawah perutku. Rasanya seperti kencang sekali," jawab Susi, sambil menarik napasnya kemudian membuangnya. Semua ia lakukan demi mengurai rasa nyeri yang durasi datangnya lebih sering dari tadi.
"Sayang, apa kau akan melahirkan! Ah, iya. Ini tanda-tanda kau akan melahirkan. Bahkan, wajahmu sudah pucat dan kau juga berkeringat." Arjuna, menyeka keringat di dahi Susi. Tapi, dirinya abai dengan keringat yang membanjiri pelipisnya.
"Pak, sedikit lebih cepat lagi. Jangan pulang ke mansion. Tapi, antar saja kami ke rumah sakit Muara Kasih Bunda!" titah Arjuna pada pria yang mengemudikan mobilnya ini.
"Baik, Pak. Tidak akan lama, sekitar 20 menit lagi kita tiba di tempat tujuan," jawab sang sopir.
"Sabar ya sayang, sebentar lagi kita sampai rumah sakit." Arjuna tak henti-hentinya mengusap dan mengelus perut, serta kening Susi. Sementara, wanita yang berada di atas pahanya itu sesekali tersenyum. Tangannya terus menggenggam tangan Arjuna yang berada di atas perutnya.
Susi terus terus tersenyum di sela rasa sakitnya. Matanya tak lepas memandang pemilik rahang tegas itu lekat, yang mana saat ini ia terlihat begitu gusar.
"Bisa cepat sedikit tidak! Ini sudah sudah berapa menit berlalu!" omel Arjuna pada supirnya.
"Ar, sabarlah. Aku tidak apa-apa. Aku sudah baikan, aku mau duduk saja," pinta Susi.
"Benar kau sudah baikan? Wajahmu saja semakin pucat. Jangan membohongiku, katakan apa yang kau rasakan saat ini. Berbagilah denganku," pinta Arjuna, ia memandang lekat wajah lemas istrinya itu.
__ADS_1
๐๐ข๐จ๐ข๐ช๐ฎ๐ข๐ฏ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฃ๐ข๐จ๐ช, ๐๐ณ. ๐๐ฆ๐ญ๐ช๐ฉ๐ข๐ต ๐ฌ๐ถ ๐ด๐ฆ๐ฅ๐ช๐ฌ๐ช๐ต ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ช๐ฏ๐จ๐ช๐ด ๐ด๐ข๐ซ๐ข ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ต๐ฆ๐ณ๐ช๐ข๐ฌ ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข ๐ด๐ถ๐ฑ๐ช๐ณ๐ฎ๐ถ. ๐๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ข๐ด๐ช๐ฉ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ช๐ข.
Susi mengulurkan tangannya untuk mengelus rahang yang baru saja di cukur tadi pagi. Sudut bibirnya melengkung ke atas, demi memberi ketenangan pada suami tercintanya.
๐๐ฌ๐ถ ๐ต๐ข๐ถ, ๐ด๐ข๐ข๐ต ๐ช๐ฏ๐ช ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ต๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ฏ๐บ๐ช๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ณ๐ข๐ด๐ข ๐ด๐ข๐ฌ๐ช๐ต ๐ช๐ต๐ถ. ๐๐ข๐ถ ๐ด๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ซ๐ข ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ถ๐ฏ๐ซ๐ถ๐ฌ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข๐ฌ๐ถ. ๐๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ฌ๐ข๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ข ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ช๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ข๐ต๐ฌ๐ถ ๐ฌ๐ฉ๐ข๐ธ๐ข๐ต๐ช๐ณ. ๐๐ข๐ถ ๐ญ๐ถ๐ฑ๐ข ๐ด๐ข๐ต๐ถ ๐ฉ๐ข๐ญ, ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ข๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฑ๐ณ๐ช๐ข ๐ฑ๐ข๐ญ๐ช๐ฏ๐จ ๐ฑ๐ฆ๐ฌ๐ข ๐ฅ๐ช ๐ฅ๐ถ๐ฏ๐ช๐ข. ๐๐ฌ๐ถ ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ค๐ข ๐ช๐ด๐ช ๐ฑ๐ช๐ฌ๐ช๐ณ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ถ ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐จ๐ฆ๐ด๐ต๐ถ๐ณ ๐ต๐ถ๐ฃ๐ถ๐ฉ ๐ด๐ฆ๐ณ๐ต๐ข ๐ฎ๐ช๐ฎ๐ช๐ฌ ๐ธ๐ข๐ซ๐ข๐ฉ๐ฎ๐ถ.
Arjuna mendengus kesal, lantaran di depan mereka adalah pertigaan. Kebetulan terjebak di lampu merah. Padahal, jarak rumah sakit kurang dari dua ratus meter di depan sana.
๐๐ถ๐ฏ๐ฅ๐ข, ๐ฃ๐ฆ๐จ๐ช๐ฏ๐ช๐ฌ๐ข๐ฉ ๐ณ๐ข๐ด๐ข๐ฏ๐บ๐ข? ๐๐ฑ๐ข ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ฅ๐ข๐ฑ๐ข๐ต ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ช๐ฉ๐ข๐ต๐ฌ๐ถ ๐ฅ๐ช ๐ด๐ข๐ฏ๐ข? ๐๐ฆ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ต๐ข๐ณ ๐ญ๐ข๐จ๐ช, ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ๐ช๐ณ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ค๐ถ๐ค๐ถ๐ฎ๐ถ. ๐๐ช๐ข, ๐ญ๐ข๐ฌ๐ช-๐ญ๐ข๐ฌ๐ช ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ถ๐ณ๐ถ๐ต ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ฌ๐ช๐ณ๐ข๐ข๐ฏ ๐ฉ๐ข๐ด๐ช๐ญ ๐๐๐. ๐๐ถ๐ฏ๐ฅ๐ข, ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ต๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฏ๐จ๐ญ๐ข๐ฉ. ๐๐ฌ๐ถ ๐ฌ๐ช๐ฏ๐ช ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ด๐ข๐ฎ๐ข ๐ฑ๐ณ๐ช๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ญ๐ถ๐ข๐ณ๐ฃ๐ช๐ข๐ด๐ข.
Susi mau melahirkan gais ....๐ฑ
Nantikan keseruan dari kepanikan calon ayah ya, ๐๐๐
Next bab>>>
Bersambung>>>
__ADS_1