Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Apa Mau Melahirkan?


__ADS_3

๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ


"Perutnya masih keram?" tanya Arjuna. Guratan khawatir begitu kentara di wajah tampannya. Ia sesekali mengelus perut besar Susi.


Ibu hamil itu, menyembunyikan sakit yang sebenarnya. Ia hanya sesekali menarik dan membuang napas saja. Karena senyum itu masih terus ia sungging kan di wajahnya.


"Gapapa kok, ini 'kan udah biasa. Nanti juga baikan," jelasnya. Agar sang suami tak khawatir lagi. Lagipula, ia masih bisa menahan rasa nyeri yang masih datang dan pergi itu.


"Tidur di sini aja ya. Biar kamu bisa rebahan." Tanpa menunggu jawaban dari istrinya, Arjuna menarik tubuh itu ke atas pangkuannya. Lalu, mengusap perut besar istrinya dengan lembut.


" Pantes aja sakit, kencang begini." Arjuna meringis membayangkan bagaimana rasanya ketika otot perut kita ketarik.


"Biasanya, kalau sudah ku usap, dia akan melenturkan. Kenapa sekarang tidak, sayang? apa ada masalah dengannya di dalam?" tanya Arjuna, bingung. Baru begini saja dirinya sudah panik, apalagi ketika Susi akan melahirkan nanti.


"Ku rasa, bayi kita hanya kelelahan sayang. Biasanya, sehabis olahraga kan aku tidur, tapi sekarang. Isshh ...," Susi kembali meringis kecil.


"Kenapa? Apanya yang sakit?" Arjuna mulai panik. Sepertinya, istri bukan hanya merasakan keram perut, tapi ini seperti tanda-tanda yang di katakan oleh Netta.

__ADS_1


"Ini, bawah perutku. Rasanya seperti kencang sekali," jawab Susi, sambil menarik napasnya kemudian membuangnya. Semua ia lakukan demi mengurai rasa nyeri yang durasi datangnya lebih sering dari tadi.


"Sayang, apa kau akan melahirkan! Ah, iya. Ini tanda-tanda kau akan melahirkan. Bahkan, wajahmu sudah pucat dan kau juga berkeringat." Arjuna, menyeka keringat di dahi Susi. Tapi, dirinya abai dengan keringat yang membanjiri pelipisnya.


"Pak, sedikit lebih cepat lagi. Jangan pulang ke mansion. Tapi, antar saja kami ke rumah sakit Muara Kasih Bunda!" titah Arjuna pada pria yang mengemudikan mobilnya ini.


"Baik, Pak. Tidak akan lama, sekitar 20 menit lagi kita tiba di tempat tujuan," jawab sang sopir.


"Sabar ya sayang, sebentar lagi kita sampai rumah sakit." Arjuna tak henti-hentinya mengusap dan mengelus perut, serta kening Susi. Sementara, wanita yang berada di atas pahanya itu sesekali tersenyum. Tangannya terus menggenggam tangan Arjuna yang berada di atas perutnya.


Susi terus terus tersenyum di sela rasa sakitnya. Matanya tak lepas memandang pemilik rahang tegas itu lekat, yang mana saat ini ia terlihat begitu gusar.


"Bisa cepat sedikit tidak! Ini sudah sudah berapa menit berlalu!" omel Arjuna pada supirnya.


"Ar, sabarlah. Aku tidak apa-apa. Aku sudah baikan, aku mau duduk saja," pinta Susi.


"Benar kau sudah baikan? Wajahmu saja semakin pucat. Jangan membohongiku, katakan apa yang kau rasakan saat ini. Berbagilah denganku," pinta Arjuna, ia memandang lekat wajah lemas istrinya itu.

__ADS_1


๐˜‰๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฃ๐˜ข๐˜จ๐˜ช, ๐˜ˆ๐˜ณ. ๐˜”๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ด ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ณ๐˜ฎ๐˜ถ. ๐˜’๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข.


Susi mengulurkan tangannya untuk mengelus rahang yang baru saja di cukur tadi pagi. Sudut bibirnya melengkung ke atas, demi memberi ketenangan pada suami tercintanya.


๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ข๐˜ถ, ๐˜ด๐˜ข๐˜ข๐˜ต ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ณ๐˜ข๐˜ด๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ. ๐˜’๐˜ข๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ. ๐˜๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ต๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ธ๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ณ. ๐˜’๐˜ข๐˜ถ ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ญ, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฑ๐˜ณ๐˜ช๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ข. ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ค๐˜ข ๐˜ช๐˜ด๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ต๐˜ถ๐˜ณ ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฌ ๐˜ธ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฎ๐˜ถ.


Arjuna mendengus kesal, lantaran di depan mereka adalah pertigaan. Kebetulan terjebak di lampu merah. Padahal, jarak rumah sakit kurang dari dua ratus meter di depan sana.


๐˜‰๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข, ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ณ๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข? ๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข? ๐˜š๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ณ ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ช๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ค๐˜ถ๐˜ค๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ถ. ๐˜‹๐˜ช๐˜ข, ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ช-๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ต ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ณ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ญ ๐˜œ๐˜š๐˜Ž. ๐˜‰๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข, ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ. ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ณ๐˜ช๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ข๐˜ด๐˜ข.


Susi mau melahirkan gais ....๐Ÿ˜ฑ


Nantikan keseruan dari kepanikan calon ayah ya, ๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†


Next bab>>>


Bersambung>>>

__ADS_1


__ADS_2