Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Pembalasan Susi.


__ADS_3

🔥🔥🔥🔥


"Bagaimana?" tanya Arjuna yang masih menyusuri jalan bersama Joy dan kedua anak buahnya.


Mereka masih belum sampai, karena pria bermotor satunya kembali menghadang.


"Mereka telah membuatku membunuh manusia hari ini." Arjuna menggenggam kemudinya erat. Menggantikan posisi Joy, karena lagi-lagi asistennya itu terluka.


"Inilah hukum rimba Tuan, membunuh atau di bunuh." sarkas Joy dengan seringainya.


" Jangan memasang senyum itu di hadapanku. Atau kubuat kau tidak lagi bisa tersenyum selama hidupmu!" kesal Arjuna.


( Siapa yang senyum, Bambang!) batin Joy kesal, padahal ia ingin terlihat kejam. Tapi kenyataannya, seorang Joy Kinder selalu tak punya harga diri di hadapan Bosnya ini.


Dreett!


"Tuan, keadaan Nona terancam. Kami mungkin akan menyergap tanpa menunggu." lapor Better yang mempunyai firasat bahwa sang Nona terancam bahaya.


"Tunggu sebentar lagi kami sampai!" Arjuna mengebut semakin kencang, membuat ketiga anak buahnya berpegangan.


"Sebaiknya saya saja yang mengemudi, Tuan." ucap Joy yang sudah mulai pusing karena mobil melaju di atas rata-rata.


"Diam kau! Inilah gunanya mobil sport kau tau!" Arjuna semakin gila saja ketika bayangan Susi menari-nari di kepalanya.


"Ingatkan aku untuk meledakkan kepala si Seno sialan itu!"


Kembali ke dalam bangunan tua di tengah hutan.


Susi hendak menendang, tapi kedua tangan pria itu menahannya. "Kalau berani, lepas ikatan tanganku dasar pria lemah!" teriak Susi dengan gejolak amarah yang hampir meledak dari ubun-ubun.


"Lemah kau bilang." Pria itu menekan paha Susi dengan cengkeraman tangannya.


Susi mengeratkan giginya menahan linu, ia tidak akan berteriak, yang mana akan membuat pria gila di hadapannya kegirangan.


" Iya, kau itu lemah ... payah ... cemen!"

__ADS_1


" Menangkap ku yang seorang wanita ini dengan menggunakan cara licik dan menggunakan tenaga orang lain. Apa namanya kalau bukan lemah." ucap Susi dengan aksen lambat pada akhir kalimatnya demi merendahkan harga diri sang player di hadapannya ini.


"Kau, jangan memaksaku berbuat lebih kasar!" Sergah Seno dengan emosi. Susi merasakan sakit di tubuhnya, karena pria ini telah menindihnya.


Namun ia tetap bertahan agar tidak terlihat lemah. "Lalu, kalau bukan lemah apa dong?" ledek Susi sengaja menyerang mental dari pria yang sudah kurang waras ini.


(Wanita ini, bagaimana dia bisa mendiskriminasi ku dengan tatapan matanya itu.) batin Seno, yang melihat aura berbeda. Namun, membuat geloranya semakin menggebu.


" Kalau kau memang jantan, hadapi aku secara bebas," tantang Susi, ia harus berani menghadapi Seno yang terobsesi padanya.


"Kau ini, bagaimana bisa menggilai diriku sampai seperti ini?" sarkas Susi, ketika Seno tengah membuka ikatan pada tangannya.


Pria itu telah mabuk oleh wangi yang menguar dari tubuh Susi. Sesekali ia mencium bahu terbuka itu.


(Menjijikkan, kenapa lagi-lagi aku harus di sentuhnya. Aku akan membuat mu tidak bisa berdiri lagi lihat saja!)


Kedua tangan Susi sudah terbebas dari tambang yang mengikatnya tadi, sementara itu mata pria di atasnya ini telah berkabut.


Sementara di luar sana sang pangeran penyelamat baru saja tiba.


"Menurut pantauan kami sekitar delapan orang dan mereka bersenjata," sahut Better pelan.


" Kita hanya berenam. Aku sendiri akan menghajar Seno keparat itu. Kalian bagi berlima terserah masing-masing berapa." Arjuna menyiapkan amunisi dengan mengisi ulang peluru pada pistolnya. Menyematkan Katana di punggungnya, menggenggam erat senjata api dengan kedua tangannya.


"Oke. Kami siap Tuan," ucap Better dengan pistol dan juga trisula yang terselip di pinggangnya.


"Kami akan melindungi mu." Joy pun maju dengan pistol di genggamannya.


Dor. Dor. Dor. Dorr!


Tembakan saling melesatkan peluru, membuat Joy berguling lalu bersembunyi dibalik pohon.


Begitupun Better, mereka sengaja mengecoh untuk menghabiskan amunisi musuh.


Dorr!

__ADS_1


Bugh!


Seorang jatuh, terkena tembakan dari Arjuna. Dirinya segera lari samping bangunan, sambil mencari jalan masuk.


Seorang pria menghadangnya, sementara pistolnya hanya tersisa satu peluru.


Pria yang menghadang segera menekan pelatuk. Tekk!


Ternyata pelurunya telah habis, ia pun berteriak hendak maju menyerang.


Sraangg!


Crassh!


Satu tebasan Katana dari Arjuna berhasil melumpuhkan musuh. Luka yang mengoyak dada, merembeskan darah hingga ke tanah. Arjuna melangkahi tubuh pria itu, terus masuk mencari musuh utama.


Susi membiarkan Seno mencumbui dirinya penuh gelora, dengan menahan rasa sakit di hatinya. Dirinya memiliki rencana, untuk terlihat menyerah lebih dulu.


( Kau menjijikkan, kau adalah manusia rendahan! Menginginkan tubuhku lagi setelah dulu kau menghinaku sedemikian rupa. Teruslah bermain sayang, sebentar lagi aku akan memberi balasan yang setimpal ) batin Susi terus mengumpat dan mengutuk setiap sentuhan Seno pada tubuhnya.


"Nah, begini kan lebih baik. Bahkan, kau bisa menikmati lagi tubuhku ini. Bukankah, kau sangat menyukainya dulu," ucap Seno dengan tangan yang terus menggerayangi raga indah itu.


"Setelah ini, kembalilah padaku. Tawaranku masih sama kepadamu." Seno membuka sarang ularnya sambil menyeringai buas.


(Its show time, dear!) batin Susi, tertawa jahat.


Pertama Susi mengelus perlahan hingga Seno lemas dan terlentang, terus mengelus sampai ular itu menegang kencang. Menanti saat yang benar-benar pas, demi pembalasan.


(Seno, kau lah satu-satunya manusia, yang telah membuat diriku seperti ini.) seringai Susi terbit di bibirnya yang ranum.


Hingga akhirnya saat itu tiba, dan ...


Krak!


"Aaakkkhh!"

__ADS_1


Bersambung>>>


__ADS_2