
๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ
"Aku sibuk mempelajari ๐ฎ๐ข๐ฏ๐ข๐จ๐ฆ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ต ๐ฃ๐ถ๐ด๐ด๐ช๐ฏ๐ฆ๐ด, sejak kecil." Arjuna meringis, meratapi kebodohannya di depan sang istri. Sampai ia tidak faham, darimana bayi akan keluar.
๐๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฏ๐จ๐ฏ๐บ๐ข ๐ฌ๐ฆ๐ญ๐ถ๐ข๐ณ ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช๐ฎ๐ข๐ฏ๐ข? ๐๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฌ๐ข๐ฉ, ๐ฉ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฌ๐ฆ๐ญ๐ถ๐ข๐ณ ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ข๐ฌ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ฆ๐ฅ๐ข๐ฉ๐ข๐ฏ? ๐๐ข๐บ๐ช ๐ช๐ต๐ถ ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ฆ๐ด๐ข๐ณ.
Arjuna membatin, dengan segala kebingungannya. Rupanya, ada pelajaran terpenting dalam hidup yang ia lewatkan.
"Bawa istrimu ke bawah, mobilnya sudah siap!" titah Joy.
"Apa kau bisa menggendongnya? dia sudah tidak kuat berjalan sepertinya?" tanya Arjuna pada Beng-Beng.
"Sepertinya, tidak. Sayang, apa kau masih kuat berjalan?" tanyanya lirih, tak tega melihat wajah pucat istrinya itu.
Sementara wanita yang tengah tersengal-sengal itu, hanya bisa menggeleng lemah. Wajahnya kembali meringis tanda ia sedang menerima gelombang cinta dari bayinya.
"Engghh!" lenguhnya pelan, tapi masih terdengar oleh yang lainnya.
"Suami macam apa kau ini! Makanya pelihara otot dong!" omel Joy. Kemudian ia mengambil alih wanita hamil itu dari Beng-Beng.
Karena memang postur pria itu kurus dan kecil, Sementara sang istri, semenjak hamil menjadi lebih besar tiga kali lipat.
"Dia memang berat, Tuan. Bisakah, anda saja yang menggendongnya?" tanya Joy, seraya menoleh ke arah Arjuna. Seketika, pria yang memiliki bulu-bulu halus di sekitar rahangnya itu, mendelik kan mata.
"Ar, kau saja. Ototmu 'kan lebih besar. Ketimbang Joy, yang hanya besar mulut saja," sindir Susi, dengan lirikan sebalnya. Pasalnya, asisten suaminya itu lebih dulu menghina Beng-Beng yang badannya memang kecil.
"Aku!" tunjuk Arjuna, mengarahkan telunjuk ke dadanya. "Baiklah, demi dirimu."
Arjuna pun mengambil alih tubuh wanita hamil yang rintihannya semakin kencang itu. Dengan sekali angkat, raga itu telah berada di dalam gendongannya.
"Pegang saja leherku tidak apa." Arjuna bicara pada istri Beng-Beng tanpa menoleh. Wanita itu pun segera mengalungkan kedua lengannya, hatinya lebih berdenyut dari pada perutnya. Manakala wajah tampan bos suaminya ini, dapat di lihatnya dari jarak yang begitu dekat.
๐๐ฏ๐ข๐ฌ ๐ฌ๐ฆ๐ฅ๐ถ๐ข๐ฌ๐ถ, ๐ฑ๐ข๐ด๐ต๐ช ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ด๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ต ๐ต๐ข๐ฎ๐ฑ๐ข๐ฏ. ๐๐ฌ๐ถ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ช๐ฏ๐จ๐ข๐ต ๐ฌ๐ฆ๐ฃ๐ข๐ช๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ข๐ฏ๐ฅ๐ข ๐ด๐ฆ๐ถ๐ฎ๐ถ๐ณ ๐ฉ๐ช๐ฅ๐ถ๐ฑ๐ฌ๐ถ, ๐ต๐ถ๐ข๐ฏ.
Wanita itu, membatin di sela-sela kontraksinya.
๐๐ฑ๐ข๐ฌ๐ข๐ฉ, ๐๐ถ๐ด๐ช ๐ซ๐ถ๐จ๐ข ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช ๐ช๐ฏ๐ช ๐ฌ๐ฆ๐ต๐ช๐ฌ๐ข ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ๐ช๐ณ๐ฌ๐ข๐ฏ. ๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฉ๐ข๐ฏ ๐ด๐ข๐ฌ๐ช๐ต ๐ฉ๐ช๐ฏ๐จ๐จ๐ข ๐จ๐ฆ๐ฎ๐ฆ๐ต๐ข๐ณ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ถ๐ค๐ข๐ต. ๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฌ๐ถ๐ต๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ข๐ญ๐ช, ๐ข๐ฑ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ด๐ข๐ฏ๐จ๐จ๐ถ๐ฑ ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ช๐ฉ๐ข๐ต๐ฏ๐บ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฉ๐ข๐ฏ ๐ด๐ข๐ฌ๐ช๐ต ๐ด๐ฆ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช?
Arjuna yang berjalan dengan cepat, terus berperang dengan pikirannya yang menerawang jauh. Para karyawan lain, terutama para wanita yang hanya segelintir itu.
Memasang wajah takjub serta kagum, pada pemimpin mereka yang memiliki kepedulian serta empati yang tinggi.
Baru saja mereka mendapat notif akan bonus karyawan, karena pemimpin mereka itu tengah berbahagia. Serentak mereka mendoakan kelancaran serta keselamatan bagi Susi serta calon bayinya.
Kini, dengan mata kepala mereka sendiri. Melihat sang pemilik ARSA menggendong istri karyawannya yang sedang hamil, untuk melakukan penyelamatan darurat.
"Super hero yang sangat tampan."
__ADS_1
"Lihat, si Beng-Beng!"
"Iya, mereka berdua sangat beruntung."
"Calon pengikut setia dari calon penerus ARSA."
Itulah, kasak-kusuk dari sebagian karyawan, perusahaan tersebut. Penambahan karyawan wanita tak sampai seratus orang.
Karena, Arjuna lebih mengkaryakan para pria, sebagai kepala keluarga yang bertanggung jawab bekerja. Toh, perusahaannya justru semakin besar dan terpandang.
Sesampainya di mobil, Arjuna merebahkan wanita hamil itu perlahan. Rasa simpatinya yang besar serta membayangkan bagaimana jika yang di gendongnya adalah Susi. Membuat dirinya tak risih sedikit pun, meski tangan serta pakaiannya berlumuran cairan ketuban.
"Sayang, biar aku bantu membersihkan tubuhmu." Susi mengandeng suaminya, naik ke lantai atas menggunakan lift. Para karyawan bagian depan lobi menunduk secara serentak memberi hormat pada pemimpin mereka.
Tanpa Arjuna sadari, kejadian beberapa saat lalu. Telah menyisakan ikrar di hati para karyawannya. Kejadian tersebut secara tak langsung telah memberi contoh dan pelajaran.
Bagaimana hubungan antara sang pemimpin dan bawahan yang harus di bangun dengan erat. Demi hubungan yang kekal di masa yang akan datang.
"Joy, siapkan pakaian ganti untuk suamiku. Kami tunggu kau di atas," ucap Susi sebelum mereka berdua masuk ke dalam lift.
Sementara sang asisten yang tadi sempat kena mental tersebut, hanya menjawab dengan tundukkan kepalanya.
๐๐ฆ๐ณ๐ฏ๐บ๐ข๐ต๐ข, ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฏ๐จ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ข๐ฅ๐ข ๐ด๐ฆ๐ถ๐ซ๐ถ๐ฏ๐จ ๐ฌ๐ถ๐ฌ๐ถ ๐ฑ๐ถ๐ฏ ๐ฅ๐ช๐ฃ๐ข๐ฏ๐ฅ๐ช๐ฏ๐จ ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ต๐ถ๐ข๐ฏ. ๐๐ช๐ข ๐ฃ๐ฆ๐จ๐ช๐ต๐ถ ๐ฌ๐ถ๐ข๐ต ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ฌ๐ข๐ด๐ข. ๐๐ข๐ฅ๐ข๐ฉ๐ข๐ญ, ๐ฅ๐ช๐ข ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ช๐ด๐ต๐ณ๐ช ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ข๐ณ๐ข๐ฏ๐จ. ๐๐ฌ, ๐๐ฐ๐บ. ๐๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฏ๐ข ๐ฌ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฎ๐ฑ๐ถ๐ข๐ฏ๐ฎ๐ถ? ๐๐ฑ๐ข ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ฉ๐ข๐ณ๐ถ๐ด ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ช๐ฌ๐ข๐ฉ ๐ซ๐ถ๐จ๐ข ๐ข๐จ๐ข๐ณ ๐ญ๐ฆ๐ฃ๐ช๐ฉ ๐ซ๐ข๐จ๐ฐ? ๐๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ด๐ช๐ข๐ฑ๐ข
Joy, menggaruk tengkuknya sembari jalan melewati lobi. Ia akan membeli pakaian untuk Arjuna di toko seberang.
"Sepertinya, aku benar-benar harus merombak ruangan ini. Lalu menyiapkan ruangan khusus." Gumam Arjuna yang masih dapat di dengar oleh Susi.
"Kenapa kau, lambat sekali. 'Kan harusnya sejak dulu kau menyediakan ruangan itu. Agar aku bisa sering main kesini," timpal Susi. Sambil membuka Kancing kemeja Arjuna satu persatu.
"Gerakan jarimu, membuat ku merinding sayang," bisik Arjuna di samping telinga Susi.
"Kau ini, aku hanya membuka kancing bajumu. Jangan omes!" kesal Susi. Suaminya ini, suka tidak waktu ketika merayunya.
"Apa itu, omes?" heran Arjuna, kata yang belum pernah di dengar sebelumnya. Seraya begitu asing telinganya.
"Omes itu, otak mesum. Masih pagi juga," jelas Susi dengan ujung bibir yang mengerucut.
"Siapa yang mesum? jarimu barusan menyentuh bulu dadaku. Lalu, sentuhan itu mengalirkan sengatan ke bulu yang lainnya," sahut Arjuna tak peduli dengan protes dari istrinya itu.
"Diam!" Susi pun membekap mulut suaminya itu. Entah kenapa dia yang malu mendengar kalimat yang di lontarkan oleh Arjuna.
Di bekap, bukannya malah menghentikan aksi mesum Arjuna. Pria itu, malah menjulurkan lidahnya menjilat telapak tangan Susi. Menangkap tangan itu ketika Susi hendak menariknya.
Lalu, ia memasukkan telunjuk Susi ke dalam mulutnya dan mengisapnya pelan. Aksinya, sontak membuat gelenyar aneh merayap di sekujur tubuh Susi. Ia pun buru-buru menarik tangannya cepat.
"Nakal!" Susi memindahkan jemarinya kepinggang Arjuna. Membuat suaminya itu mengaduh sambil tertawa. Puas sekali sepertinya, karena berhasil menggoda dirinya.
__ADS_1
Tok ... Tok ... Tok!
Suara ketukan di pintu, menghentikan aksi bercanda sepasang suami istri ini. Setelah, Arjuna memencet tombol otomatis, pintu pun terbuka.
Klek!
"Nyonya, ini pakaian ganti, Tuan." Joy menyerahkan paper bag coklat. Ketika dirinya telah berada di dalam. Kemudian, Susi menghampirinya dan mengambil pemberian dari Joy.
Sebelum beranjak, mata kurang ajar asisten serba bisa itu sempat-sempatnya melirik keadaan Arjuna yang tengah bersandar di sofa.
๐๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ข ๐ฑ๐ข๐ด๐ต๐ช ๐ฉ๐ข๐ฃ๐ช๐ด ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฎ๐ฆ๐ด๐ณ๐ข๐ข๐ฏ, ๐ธ๐ข๐ซ๐ข๐ฉ ๐ฏ๐บ๐ฐ๐ฏ๐บ๐ข ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ต๐ถ๐ข๐ฏ ๐ด๐ข๐ฎ๐ข-๐ด๐ข๐ฎ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ฐ๐ฏ๐ข.
Batin, Joy ngeres sama dengan isi otaknya. Hanya karena melihat Arjuna yang pakaian atasnya hampir terbuka, hingga memperlihatkan dada bidang berbulu nya.
๐พNgiri? ๐ Nikah gih!
Lama-lama otor sumpel pake janda tuh mulut.
Eh, jangan ding. Ada perawan menunggumu๐
______
"Sayang?" panggil Arjuna, pada Susi yang kini sedang merebahkan kepala di dada bidang terbuka miliknya. Wanita itu sedang asik membuat lukisan abstrak dengan jarinya. Memainkan bulu-bulu halus yang menggoda.
"Hemm ...," jawab Susi dengan deheman kecil. Dirinya masih lemas, karena Arjuna baru saja menyerangnya. Suaminya ini, benar-benar tak tau tempat.
" Apakah, kau juga akan seperti itu, ketika akan melahirkan anak kita nanti?" tanya Arjuna, mengungkapkan segala kerisauan di hatinya.
Susi sontak mendongak, menatap wajah suaminya yang ternyata juga menatapnya. Ia tersenyum manis, sebelum menjawab pertanyaan Arjuna.
"Sepertinya iya, memang sudah begitu seharusnya. Hanya saja, jalan setiap orang itu berbeda-beda. Aku, juga tidak tau. Aku belum sempat melahirkan kala itu," ucap Susi dengan kesedihan yang berusaha ia tutupi.
"Maaf, bukan maksudku mengungkit rasa itu. Hanya saja, aku ...." Arjuna tidak dapat meneruskan ucapannya, ia meraih tubuh yang polos itu. Menarik semakin dalam kepelukannya.
"Aku pasti bisa, karena ada kau di sisiku." Susi pun melingkarkan lengannya ke pinggang Arjuna, semakin mengeratkan dekapan itu serta menghirup aroma tubuh yang menjadi candunya.
๐พCalon Ibu akan kuat, atas dukungan dari calon Ayah yang siaga.๐ค
Bukan begitu, readers tercintah??
Bersambung lagi dah yak ....
Doakan, semoga otor lancar menghalunya.
Karena itu, dukungan kalian selalu otor tunggu!!โคโค
See u next bab>>>>
__ADS_1