Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Seno Yang Tak Tau Diri.


__ADS_3

๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ


Kemudian, pihak aparat rukun tetangga serta. Dua orang polisi menghampiri pria yang terduduk lemas itu.


Sejak tadi, tak ada satupun kata yang keluar dari mulutnya. Bahkan, untuk sekedar umpatan atau teriakan pun tak ada.


Ingin menyalahkan siapa? Ketika dirinya sadar,bahwa kecerobohannya sendiri yang telah menyebabkan dirinya kehilangan sisa hartanya.


๐˜™๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ถ ... ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ถ ... ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช. ๐˜š๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ด ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ, ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ. ๐˜’๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜จ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ? ๐˜’๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜จ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฉ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ฌ๐˜ถ? ๐˜’๐˜ถ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ? ๐˜‰๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ? ๐˜š๐˜ถ๐˜ด๐˜ช ... ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ถ๐˜ค๐˜ข๐˜ฑ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ? ๐˜‰๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฉ, ๐˜ค๐˜ข๐˜ญ๐˜ฐ๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ถ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ? ๐˜”๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ต๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ค๐˜ถ๐˜ณ, ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ฌ, ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ต๐˜ช๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ.


Kepingan demi kepingan kejahatannya di masa lalu,berseliweran dalam kepala pria dengan wajah yang di tumbuhi brewok kasar itu.


Membuat dirinya meremas dada serta kepala bergantian. Sesak karena telah kehilangan semuanya, itulah yang kini sedang di rasakan oleh Seno.


Setiap kata-kata Susi kembali terngiang di kepalanya. ๐˜’๐˜ฆ๐˜ต๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ณ ๐˜—๐˜ณ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฑ๐˜ต๐˜ข ... ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ข ..


Semua, telah terjadi dan nyata. Keadaan Seno yang cacat karena impotensi menyebabkan ia tak mungkin bisa memiliki keturunan.


Bayi yang di kandung Jelita pun berakhir dengan tragis dan tiada di usia yang sama dengan kandungan Susi dahulu.


Semua karena ulahnya, sikapnya yang arogan dan semena-mena. Menganggap wanita adalah alat pemuas napsu dan senjata untuk memuluskan ambisinya.


Membuat Susi yang dulu mencintainya menjadi benci setengah mati. Membuat Jelita yang dulu memujanya, menjadi tega dan abai padanya, bahkan berniat menghabisi hartanya saja.


Ya, semua itu karena dirinya.


๐˜’๐˜ข๐˜ถ ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต ๐˜š๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฐ, ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ซ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ!


๐˜’๐˜ข๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ด๐˜ข ๐˜ธ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ช๐˜ฎ๐˜ถ. ๐˜”๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข๐˜ฑ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฉ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ฎ๐˜ถ.


"Tidak! Aku tidak jahat!" Seno tiba-tiba berteriak, membuat beberapa warga yang baru datang terkaget.


๐˜›๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ? ๐˜‰๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ช๐˜ณ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ข ๐˜ธ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ข๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฎ๐˜ถ, ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜จ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข. ๐˜’๐˜ข๐˜ถ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ช๐˜ด๐˜ต๐˜ณ๐˜ช ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜จ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ต๐˜ถ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ, ๐˜ฃ๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ช ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ด๐˜ต๐˜ข. ๐˜”๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ค๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข, ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ถ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข, ๐˜ด๐˜ฆ๐˜จ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฎ?


"TIDAK! ITU TIDAK MUNGKIN! KUTUKAN ITU OMONG KOSONG!" jerit Seno histeris, karena ia tengah berperang dengan kata hatinya sendiri.

__ADS_1


"Wah, bray. Jangan-jangan tuh orang setres?" bisik salah warga pada kawannya. Mereka menatap miris keadaan Seno.


"Pak, anda di mohon tenang serta dapat menerima keadaan ini. Barangkali, anda dapat menenangkan diri dulu di rumah saya. Kebetulan, saya adalah RT di kampung ini. Sedangkan, dua orang bapak ini adalah anggota kepolisian yang akan sedikit menanyakan beberapa hal pada anda, mari ikut saya." Pak RT berusaha menenangkan Seno, serta mengajak kerumahnya.


Namun, tanpa di sangka dan di duga. Pria brewok dengan tubuh atletisnya yang semakin kurus, menepis dengan kasar.


"Siapa kau? berani memberi perintah padaku!" pekik Seno menatap nyalang pada pak RT.


"Saya ingin menolong anda, Pak. Tenanglah," bujuk pria dengan kemeja batik itu.


Brught!


Seno mendorong pak RT, hingga pria paruh baya itu terjengkang ke atas tanah berarang.


"Jangan sentuh tubuhku dengan tangan kotormu, Pak tua! Jangan berlagak bahwa aku ini begitu menyedihkan." Seno menatap tajam pada pria yang telah di dorongnya dengan keras.


๐˜š๐˜ช๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ. ๐˜”๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ต๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ซ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ! ๐˜œ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜จ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข.


Pak RT agak kesal sepertinya, karena ia merasa bokongnya sangat sakit. Beberapa warga serta kedua polisi itu ikut membantunya berdiri.


"Wah, jangan maen kasar dong, Pak!"


" Ye, gak ada pikiran amat, udah semaleman bikin orang panik!" Beberapa warga sudah terlihat emosi, karena Seno bertindak kasar terhadap RT mereka.


"Pak Seno, tolong bersikap kondusif. Atau kami terpaksa membawa anda ke kantor polisi!" Seorang pria berseragam itu, memberi peringatan tegas pada Seno.


Bukannya takut, Seno malah menyeringai di balik brewoknya.


"Atas dasar apa kau ingin membawaku, baru berseragam saja sudah berlagak!" hardik Seno, tak terima dengan ancamannya.


๐˜š๐˜ช๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ, ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข. ๐˜’๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ด ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜บ๐˜ข.


Pria berseragam itu semakin maju mendekati Seno, dirinya akan menghadapi mantan orang kaya yang tak tau diri ini.


"Wah, tu orang malah nantangin pak pulisi," bisik-bisik beberapa warga dengan warga lainnya.

__ADS_1


"Biasalah, bekas orang kaya. Masih nyisa gaya belagunya. Gak sadar klo sekarang udah miskin bin kupret," timpal warga yang lain.


"Tolong, anda jangan berbuat gaduh. Kami semua disini hampir tidak tidur semalaman. Menangani rumah anda yang terbakar, juga menanti sang pemilik rumah pulang." Polisi itu memberi penjelasan pada Seno dengan sikap tegasnya. Bahkan,ia terlihat mengencangkan rahangnya.


"Saya,baru tinggal di sini, tapi rumah saya sudah terbakar sampai seperti ini. Lalu apa yang kalian lakukan sebagai tetangga! Kau juga, polisi macam apa! Kenapa tindakan anda begitu lambat!" bentak Seno dengan wajah penuh amarah, bahkan ia menunjuk-nunjuk beberapa warga di hadapannya.


"Ye,gak bener ni orang. Malah nyalahain kite!"


"Tauk, gegara die kite pade kagak tidur. Takut tu api nyamber!"


"Wah, nyari perkara ni orang?"


"Tenang, sodara semua. Kita harus bisa menghadapi masalah dengan kepala dan hati yang dingin." Salah satu polisi memberi arahan agar para warga tetap tenang, serta tidak terprovokasi.


"Maaf, Pak Seno. Sebaiknya and ikut kami kekantor saja. Karena ada beberapa pertanyaan yang akan kami ajukan perihal kejadian semalam," ajak salah satu polisi pada Seno.


โ€œHarusnya saya yang bertanya pada kalian semua! Kenapa rumah saya bisa terbakar! Apa kampung ini tidak aman! Apa kalian tidak menyukai saya!" Seno melampiaskan emosi dan rasa tidak terimanya, dengan berteriak pada warga.


"Eh, Pak jangan asal tuduh ye!"


"Jangan asal goblek lu!"


"Wah, minta di kemplang tuh kelapa, eh kepala!"


"Tenang semua! Tenang!"


"Tolong, Pak Seno. Jangan berbuat gaduh, kami tau anda masih kaget dan belum bisa menerima kenyataan. Namun, asalkan anda tau. Kampung ini sempat geger semalaman karena kejadian ini. Kebakaran rumah anda, membuat para warga ketakutan dan berhamburan keluar rumah." Pak polisi berusaha menengahi antara Seno dan warga yang emosi.


"Semua itu benar, saya juga mohon anda berpikirlah secara tenang. Kasian, Pak. Warga tak tidur sampai pagi hingga api benar-benar padam. Berusaha agar api tidak menyambar rumah warga yang lain. Tolong mengertilah, dan terima semua ini dengan hati lapang. Semua ini musibah, Pak. Siapapun tidak akan ad yang mau mengalaminya." Pak RT yang ikut menimpali. Ia mengerti tindakan Seno padanya tadi, sehingga ia memaklumi.


" Haaahh!"


"Persetan dengan itu semua!"


"Kampung ini membawa sial bagi saya! Seluruh harta saya musnah! Kalian harus bertanggung jawab, terutama anda!" Seno tetap dengan pemikirannya, bahkan ia menunjuk Pak RT untuk bertanggung jawab atas semuanya.

__ADS_1


"Eh, Bekas orang kaya sialan! Lu jangan bikin gara-gara di mari!" Seorang warga yang telah emosi merangsek ke depan, menghampiri ke tempat Seno berdiri.


Bersambung>>>>


__ADS_2