
๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ
Kemudian, pihak aparat rukun tetangga serta. Dua orang polisi menghampiri pria yang terduduk lemas itu.
Sejak tadi, tak ada satupun kata yang keluar dari mulutnya. Bahkan, untuk sekedar umpatan atau teriakan pun tak ada.
Ingin menyalahkan siapa? Ketika dirinya sadar,bahwa kecerobohannya sendiri yang telah menyebabkan dirinya kehilangan sisa hartanya.
๐๐ถ๐ฎ๐ข๐ฉ๐ฌ๐ถ ... ๐ถ๐ข๐ฏ๐จ๐ฌ๐ถ ... ๐ด๐ฆ๐ญ๐ถ๐ณ๐ถ๐ฉ ๐ฑ๐ข๐ฌ๐ข๐ช๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ถ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ซ๐ถ๐จ๐ข ๐ฎ๐ข๐ฎ๐ช. ๐๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ข ๐ญ๐ถ๐ฅ๐ฆ๐ด ๐ต๐ฆ๐ณ๐ฃ๐ข๐ฌ๐ข๐ณ, ๐ต๐ข๐ฌ ๐ข๐ฅ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ด๐ช๐ด๐ข ๐ด๐ฆ๐ฅ๐ช๐ฌ๐ช๐ต ๐ฑ๐ถ๐ฏ. ๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ต๐ข๐ฌ๐ฅ๐ช๐ณ ๐ฃ๐ฆ๐จ๐ช๐ต๐ถ ๐ฌ๐ฆ๐ซ๐ข๐ฎ ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข๐ฌ๐ถ? ๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ฎ๐ข๐ด๐ข ๐ฅ๐ฆ๐ฑ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ฆ๐จ๐ช๐ต๐ถ ๐ฌ๐ฆ๐ซ๐ข๐ฎ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฉ๐ถ๐ฌ๐ถ๐ฎ๐ฌ๐ถ? ๐๐ถ๐ต๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ? ๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ๐ฌ๐ข๐ฉ ๐ช๐ฏ๐ช ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ข ๐ฌ๐ข๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ข ๐ฌ๐ถ๐ต๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ? ๐๐ถ๐ด๐ช ... ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ๐ฌ๐ข๐ฉ ๐ข๐ฑ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ฏ๐ข๐ฉ ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ถ๐ค๐ข๐ฑ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ถ๐ญ๐ถ ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข๐ฌ๐ถ? ๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ๐ฌ๐ข๐ฉ, ๐ค๐ข๐ญ๐ฐ๐ฏ ๐ข๐ฏ๐ข๐ฌ ๐ฌ๐ช๐ต๐ข ๐ต๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ถ๐ต๐ถ๐ฌ ๐ฉ๐ช๐ฅ๐ถ๐ฑ๐ฌ๐ถ ๐ฅ๐ช ๐ฎ๐ข๐ด๐ข ๐ฅ๐ฆ๐ฑ๐ข๐ฏ? ๐๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ข๐ต๐ฌ๐ถ ๐ฉ๐ข๐ฏ๐ค๐ถ๐ณ, ๐ณ๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ฌ, ๐ณ๐ฆ๐ฅ๐ข๐ฎ ๐ต๐ช๐ข๐ฅ๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ.
Kepingan demi kepingan kejahatannya di masa lalu,berseliweran dalam kepala pria dengan wajah yang di tumbuhi brewok kasar itu.
Membuat dirinya meremas dada serta kepala bergantian. Sesak karena telah kehilangan semuanya, itulah yang kini sedang di rasakan oleh Seno.
Setiap kata-kata Susi kembali terngiang di kepalanya. ๐๐ฆ๐ต๐ถ๐ณ๐ถ๐ฏ๐ข๐ฏ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ข๐ฌ๐ฉ๐ช๐ณ ๐๐ณ๐ข๐ฅ๐ช๐ฑ๐ต๐ข ... ๐ฌ๐ถ๐ต๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐ข๐ฏ๐ข๐ฌ ๐ฌ๐ช๐ต๐ข ..
Semua, telah terjadi dan nyata. Keadaan Seno yang cacat karena impotensi menyebabkan ia tak mungkin bisa memiliki keturunan.
Bayi yang di kandung Jelita pun berakhir dengan tragis dan tiada di usia yang sama dengan kandungan Susi dahulu.
Semua karena ulahnya, sikapnya yang arogan dan semena-mena. Menganggap wanita adalah alat pemuas napsu dan senjata untuk memuluskan ambisinya.
Membuat Susi yang dulu mencintainya menjadi benci setengah mati. Membuat Jelita yang dulu memujanya, menjadi tega dan abai padanya, bahkan berniat menghabisi hartanya saja.
Ya, semua itu karena dirinya.
๐๐ข๐ถ ๐ซ๐ข๐ฉ๐ข๐ต ๐๐ฆ๐ฏ๐ฐ, ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ฃ๐ข๐ซ๐ช๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ!
๐๐ข๐ถ ๐ด๐ฆ๐ญ๐ข๐ญ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ช๐ฌ๐ด๐ข ๐ธ๐ข๐ฏ๐ช๐ต๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ค๐ช๐ฏ๐ต๐ข๐ช๐ฎ๐ถ. ๐๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ๐จ๐จ๐ข๐ฑ ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ข ๐ฉ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ฎ๐ข๐ฌ๐ฉ๐ญ๐ถ๐ฌ ๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ข๐ฉ๐ข๐ฏ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ข๐ญ๐ข๐ต ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ข๐ช๐ฏ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ด๐ถ๐ฌ๐ข ๐ฉ๐ข๐ต๐ช๐ฎ๐ถ.
"Tidak! Aku tidak jahat!" Seno tiba-tiba berteriak, membuat beberapa warga yang baru datang terkaget.
๐๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ซ๐ข๐ฉ๐ข๐ต ๐ฌ๐ข๐ต๐ข๐ฎ๐ถ? ๐๐ข๐ฉ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ข๐ช๐ณ๐ฎ๐ข๐ต๐ข ๐ธ๐ข๐ฏ๐ช๐ต๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฌ๐ฆ๐ด๐ข๐ฌ๐ช๐ต๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ข๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ข ๐ถ๐ญ๐ข๐ฉ๐ฎ๐ถ, ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ข๐ฃ๐ข๐ช๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ฆ๐จ๐ช๐ต๐ถ ๐ด๐ข๐ซ๐ข. ๐๐ข๐ถ ๐ต๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ข๐ฏ๐จ ๐ช๐ด๐ต๐ณ๐ช ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ฆ๐จ๐ช๐ต๐ถ ๐ต๐ถ๐ญ๐ถ๐ด ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฃ๐ฅ๐ช ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข๐ฎ๐ถ, ๐ฃ๐ข๐จ๐ข๐ช ๐ด๐ข๐ฎ๐ฑ๐ข๐ฉ ๐ฃ๐ถ๐ด๐ถ๐ฌ ๐ญ๐ข๐จ๐ช ๐ฏ๐ช๐ด๐ต๐ข. ๐๐ฆ๐ญ๐ฆ๐ค๐ฆ๐ฉ๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข, ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ค๐ถ๐ญ๐ช๐ฌ๐ฏ๐บ๐ข, ๐ด๐ฆ๐จ๐ช๐ต๐ถ ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ฃ๐ช๐ญ๐ข๐ฏ๐จ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฌ๐ฆ๐ซ๐ข๐ฎ?
"TIDAK! ITU TIDAK MUNGKIN! KUTUKAN ITU OMONG KOSONG!" jerit Seno histeris, karena ia tengah berperang dengan kata hatinya sendiri.
__ADS_1
"Wah, bray. Jangan-jangan tuh orang setres?" bisik salah warga pada kawannya. Mereka menatap miris keadaan Seno.
"Pak, anda di mohon tenang serta dapat menerima keadaan ini. Barangkali, anda dapat menenangkan diri dulu di rumah saya. Kebetulan, saya adalah RT di kampung ini. Sedangkan, dua orang bapak ini adalah anggota kepolisian yang akan sedikit menanyakan beberapa hal pada anda, mari ikut saya." Pak RT berusaha menenangkan Seno, serta mengajak kerumahnya.
Namun, tanpa di sangka dan di duga. Pria brewok dengan tubuh atletisnya yang semakin kurus, menepis dengan kasar.
"Siapa kau? berani memberi perintah padaku!" pekik Seno menatap nyalang pada pak RT.
"Saya ingin menolong anda, Pak. Tenanglah," bujuk pria dengan kemeja batik itu.
Brught!
Seno mendorong pak RT, hingga pria paruh baya itu terjengkang ke atas tanah berarang.
"Jangan sentuh tubuhku dengan tangan kotormu, Pak tua! Jangan berlagak bahwa aku ini begitu menyedihkan." Seno menatap tajam pada pria yang telah di dorongnya dengan keras.
๐๐ช๐ข๐ญ๐ข๐ฏ ๐ฏ๐ช ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ. ๐๐ข๐ถ ๐ฅ๐ช ๐ต๐ฐ๐ญ๐ฐ๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฏ๐จ๐ฆ๐ซ๐ฐ๐ณ๐ฐ๐ฌ๐ช๐ฏ! ๐๐ฅ๐ข๐ฉ ๐จ๐ช๐ญ๐ข๐ฌ ๐ฌ๐ข๐บ๐ข๐ฌ๐ฏ๐บ๐ข.
Pak RT agak kesal sepertinya, karena ia merasa bokongnya sangat sakit. Beberapa warga serta kedua polisi itu ikut membantunya berdiri.
"Wah, jangan maen kasar dong, Pak!"
" Ye, gak ada pikiran amat, udah semaleman bikin orang panik!" Beberapa warga sudah terlihat emosi, karena Seno bertindak kasar terhadap RT mereka.
"Pak Seno, tolong bersikap kondusif. Atau kami terpaksa membawa anda ke kantor polisi!" Seorang pria berseragam itu, memberi peringatan tegas pada Seno.
Bukannya takut, Seno malah menyeringai di balik brewoknya.
"Atas dasar apa kau ingin membawaku, baru berseragam saja sudah berlagak!" hardik Seno, tak terima dengan ancamannya.
๐๐ช๐ข๐ญ๐ข๐ฏ ๐ฏ๐ช ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ, ๐ฏ๐ข๐ฏ๐ต๐ข๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ ๐ฅ๐ช๐ข. ๐๐ข๐บ๐ข๐ฌ๐ฏ๐บ๐ข ๐ณ๐ถ๐ด๐ถ๐ฉ ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฏ๐ช ๐ฃ๐ฆ๐ฌ๐ข๐ด ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฌ๐ข๐บ๐ข.
Pria berseragam itu semakin maju mendekati Seno, dirinya akan menghadapi mantan orang kaya yang tak tau diri ini.
"Wah, tu orang malah nantangin pak pulisi," bisik-bisik beberapa warga dengan warga lainnya.
__ADS_1
"Biasalah, bekas orang kaya. Masih nyisa gaya belagunya. Gak sadar klo sekarang udah miskin bin kupret," timpal warga yang lain.
"Tolong, anda jangan berbuat gaduh. Kami semua disini hampir tidak tidur semalaman. Menangani rumah anda yang terbakar, juga menanti sang pemilik rumah pulang." Polisi itu memberi penjelasan pada Seno dengan sikap tegasnya. Bahkan,ia terlihat mengencangkan rahangnya.
"Saya,baru tinggal di sini, tapi rumah saya sudah terbakar sampai seperti ini. Lalu apa yang kalian lakukan sebagai tetangga! Kau juga, polisi macam apa! Kenapa tindakan anda begitu lambat!" bentak Seno dengan wajah penuh amarah, bahkan ia menunjuk-nunjuk beberapa warga di hadapannya.
"Ye,gak bener ni orang. Malah nyalahain kite!"
"Tauk, gegara die kite pade kagak tidur. Takut tu api nyamber!"
"Wah, nyari perkara ni orang?"
"Tenang, sodara semua. Kita harus bisa menghadapi masalah dengan kepala dan hati yang dingin." Salah satu polisi memberi arahan agar para warga tetap tenang, serta tidak terprovokasi.
"Maaf, Pak Seno. Sebaiknya and ikut kami kekantor saja. Karena ada beberapa pertanyaan yang akan kami ajukan perihal kejadian semalam," ajak salah satu polisi pada Seno.
โHarusnya saya yang bertanya pada kalian semua! Kenapa rumah saya bisa terbakar! Apa kampung ini tidak aman! Apa kalian tidak menyukai saya!" Seno melampiaskan emosi dan rasa tidak terimanya, dengan berteriak pada warga.
"Eh, Pak jangan asal tuduh ye!"
"Jangan asal goblek lu!"
"Wah, minta di kemplang tuh kelapa, eh kepala!"
"Tenang semua! Tenang!"
"Tolong, Pak Seno. Jangan berbuat gaduh, kami tau anda masih kaget dan belum bisa menerima kenyataan. Namun, asalkan anda tau. Kampung ini sempat geger semalaman karena kejadian ini. Kebakaran rumah anda, membuat para warga ketakutan dan berhamburan keluar rumah." Pak polisi berusaha menengahi antara Seno dan warga yang emosi.
"Semua itu benar, saya juga mohon anda berpikirlah secara tenang. Kasian, Pak. Warga tak tidur sampai pagi hingga api benar-benar padam. Berusaha agar api tidak menyambar rumah warga yang lain. Tolong mengertilah, dan terima semua ini dengan hati lapang. Semua ini musibah, Pak. Siapapun tidak akan ad yang mau mengalaminya." Pak RT yang ikut menimpali. Ia mengerti tindakan Seno padanya tadi, sehingga ia memaklumi.
" Haaahh!"
"Persetan dengan itu semua!"
"Kampung ini membawa sial bagi saya! Seluruh harta saya musnah! Kalian harus bertanggung jawab, terutama anda!" Seno tetap dengan pemikirannya, bahkan ia menunjuk Pak RT untuk bertanggung jawab atas semuanya.
__ADS_1
"Eh, Bekas orang kaya sialan! Lu jangan bikin gara-gara di mari!" Seorang warga yang telah emosi merangsek ke depan, menghampiri ke tempat Seno berdiri.
Bersambung>>>>