
___**___
BUKK!
"Kau pikir aku tidak mampu, mengganti ponselmu yang jelek itu." Arjuna mendorong tubuh ramping Susi, kedua tangannya menempel pada dinding besi lift itu.
Hingga posisi Susi berada di antara himpitan tubuh kekar nan tinggi itu. Mata indah nya membola dengan kepala mendongak, karena tingginya hanya sebatas dada Arjuna.
Mata mereka beradu dalam jarak cukup dekat, jantung Susi bergemuruh ia tak tahan, kemudian mendorong dada bidang itu.
Arjuna malah sengaja menekuk tangannya, hingga posisinya semakin menghimpit janda muda yang semakin hari semakin cantik itu.
Membuatnya panas dingin, apalagi ketika mengingat momen keran copot yang membuat mereka basah bersama.
Bukan hanya momen bertautan bibir yang diingatnya, namun pakaian basah wanita itu membuat setiap inchi lekuk tubuhnya tercetak jelas dan sialnya pemandangan itu terus terekam dalam memory Arjuna.
" Aku menanggung hidup mu sejak awal kau di usir suami gak ada akhlak itu. Tapi, hanya karena sebuah ponsel jatuh yang itu pun karena kecerobohan mu sendiri. Berani sekali kau memaki dan melotot padaku." Arjuna berkata dengan nada diskriminatif.
Membuat Susi menelan ludahnya susah, ia memejamkan matanya. Hatinya benar-benar akan meledak sebentar lagi.
Lift yang hanya berisikan mereka berdua, dan Arjuna yang telah menekan tombol jeda, membuatnya leluasa mengerjai wanita di bawah kungkungan nya itu.
__ADS_1
"A-aku minta maaf, aku panik dan kaget. Karena ponsel itu satu-satunya hiburan untukku," jelas Susi dengan mata yang masih terpejam, tangan kecilnya menahan dada itu agar tak menghimpitnya.
"Tatap orang itu jika kau sedang bicara." Arjuna berkata masih dengan nada yang sama datar dan dingin, sungguh tekanan yang hebat.
Susi bisa merasakan bau mint yang keluar dari napas pria di hadapannya ini, membuat otaknya seketika ngeblenk dan berfantasi liar.
Entahlah, apakah karena dia yang telah menyukai pria itu atau karena memang tubuhnya rindu sentuhan hangat seorang lelaki.
Ia memberanikan diri untuk membuka matanya lebar-lebar. Hingga iris pekat itu menatapnya dalam. Kenapa pandangannya tidak seperti biasanya.
Arjuna merasakan sesuatu di dalam dirinya, suatu keinginan yang telah lama tidak pernah ia rasakan bila berhadapan dengan wanita.
Sejak kecewa itu membunuh angan dan asanya, hatinya pun ikut mati rasa. Tak pernah ada selera pada wanita manapun yang berniat mendekati dan menjalin hubungan dengannya.
Hingga di usinya yang cukup matang ini, tak sekalipun ia pernah mencicipi, bahkan merasakan nikmatnya beradu kulit dengan mahluk yang bernama wanita.
Tapi tidak kali ini, tamengnya perlahan menipis. Pertahanannya hampir runtuh, sejak ia tinggal bersama dengan wanita bodoh nan malang, menurutnya.
Karena setau Arjuna, selama ia mengenal dan dekat dengan wanita dulu kala. Mereka adalah salah satu makhluk yang licik, berbisa dan bermuka dua.
Hingga pada akhirnya ia membenci koloni mereka sampai ke akarnya. Memutuskan untuk memagari hatinya dengan tembok besi tebal dan tinggi.
__ADS_1
Kini, mendapat kesempatan berdua di kotak sempit yang dingin. Menguji iman dan juga ego pada dirinya. Apalagi wajah Susi sejak tadi membuatnya gemas dan bibir itu yang terus komat-kamit marah menggerutu.
( Sial. Kenapa bibir itu terus menggoda pikiranku. Tidak, aku tidak boleh tergoda. Wanita makhluk yang lemah dan bodoh, aku tidak akan kalah.) batin Arjuna bergejolak melawan gelora dan gairah yang hampir menguasai akal sehatnya.
"Bu-bukankah kita mau beli ponsel? A-ayo." Susi berusaha mengeluarkan dirinya dari situasi yang hampir menenggelamkan imannya itu.
Wajah rupawan yang begitu dekat dengan wajahnya, harum maskulin dan napas dari pria di hadapannya ini, hampir membuatnya mabuk dan hilang kewarasan diri.
Dengan sisa kesadarannya, Susi mencoba bicara. Tanpa sadar ia menjilat bibirnya yang terasa kering.
(Sial. Wanita ini menggodaku, ternyata kau memang rubah yang licik nona.) Arjuna mengepalkan jarinya,sebelah tangannya turun menyentuh rahang runcing Susi.
"Ku pikir kau adalah wanita polos. Tapi ternyata...?" Arjuna tersenyum sinis, meski begitu matanya tak sesenti pun beralih dari bibir ranum Susi.
"Apa maksudmu? Tuan Arjuna yang terhormat!" Susi mencengkeram kemeja Arjuna, kesal.
Wajah tampan berahang tegas itu semakin mendekat pada wajahnya, hingga kini jarak sudah terkikis diantara keduanya. Tangan kecil Susi tak mampu mendorong tubuh kekar yang semakin menghimpitnya itu.
"Emmmpphhh...!"
Bersambung>>>>
__ADS_1