Aku Bukan Pemuas Ranjang

Aku Bukan Pemuas Ranjang
Bab 286. ABPR.


__ADS_3

🔥🔥🔥🔥🔥


'Joy, bertahanlah ku mohon. Kau adalah ksatria terkuat di medan pertempuran. Kau memiliki skill yang tidak sedikit. Tuan Arjuna membutuhkanmu, calon anak-anak kita juga membutuhkanmu, Mami dan Lia mengharapkan kedatangan mu ke rumah. Jadi, tidak ada alasan bagimu untuk menyerah.' batin Milna sambil memeluk tubuhnya sendiri.


Sepasang Mata berairnya menatap nanar ke depan. Di mana pintu kaca ruang operasi masih tertutup dengan rapat. Milna memutuskan untuk menyandarkan tubuhnya karena ia mulai merasakan kram lagi di bagian bawah perutnya.


" Kak Milna!" Panggil Vanish mana Dirinya belum lah bisa berjalan dengan cepat. Rasa linu bekas operasi masih membekas di perutnya. Melihat kedatangan dari sahabatnya membuat segala rasa yang ditahan di dadanya membuncah. Milna menangis sejadi-jadinya di dalam pelukan Vanish.


"Nis, aku takut," ucap Milna seraya terisak.


" Tenanglah Kak! Pak Joy pasti baik-baik saja. dia adalah pria yang kuat andalan dari tuan Arjuna selama ini. Operasinya pasti berhasil karena tuan Arjuna telah menurunkan para tenaga medis yang sangat ahli." Vanish berkata menenangkan seraya menepuk dan mengelus perlahan punggung bergetar Milna.


"Dokter bilang, peluru itu melukai paru-parunya. Semua karena aku Nis, dia menjadikan dirinya tameng," tambah Milna lagi.


"Semua yang pak Joy lakukan demi kalian bertiga Kak. Itu menunjukkan jika dirinya sungguh-sungguh berubah saat ini. Pak Joy ternyata pria berhati baik." Vanish semakin mengencangkan dekapannya. Milna hanya menganggukkan kepalanya sambil terus terisak. Tak lama kemudian tangisnya berhenti.


" Terima kasih Nis!" ucap Milna serak, ia menyeka air mata yang masih saja merembes di kedua pipinya. Milna mendongakkan kepalanya menahan agar buliran kristal bening itu tak lagi turun. Milna Tengah berusaha meyakinkan dirinya bahwa semuanya akan baik-baik saja.


Joy pasti akan kembali bersamanya menemaninya seperti biasa membantunya mengurangi gejala morning sickness dan juga pegal pinggang di tengah malam. bila tidak ingin apa yang ia rasakan saat ini juga menjadi kerisauan yang dirasakan kedua calon bayi yang berada di dalam rahimnya.


" Nah gitu dong, ini baru kakak milnaku sayang yang strong. Kalian adalah pasangan yang hebat karena itu semesta mempersatukan kalian. Terlepas dari apapun dan bagaimanapun caranya. Kalian juga pasangan yang selalu kompak di dalam setiap menjalankan misi pekerjaan. Ninis yakin kalian juga pasti akan kompak dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Apalagi kalian berdua akan segera memiliki dua malaikat kecil yang mana celotehnya nanti pasti akan meramaikan seisi rumah kalian," ucap Ninis dengan senyum manisnya.

__ADS_1


Meskipun di dalam hatinya ia sangatlah iri dengan apa yang akan diperoleh Milna beberapa waktu lagi. Akan tetapi Vanish segera menyadari bahwa hal itu tidaklah baik. Ia telah memutuskan untuk menerima segala yang disurat kan takdir di dalam hidupnya dengan lapang dada.


Lagi pula dirinya masih bisa hamil suatu saat nanti. Karenanya Vanish dan better akan fokus menyiapkan kesehatan juga mental. Serta pengetahuan mereka mengenai cara pengasuhan dan mendidik sang buah hati nanti. Bukankah itu adalah hal yang sering dilewatkan oleh para calon orang tua.


"Kau benar Nis, Joy pasti akan kembali demi kami bertiga," ucap Milna penuh keyakinan.


Beberapa saat kemudian pintu ruangan operasi dibuka dibarengi dengan keluarnya seorang laki-laki berjubah serba putih. Milna dan Vanish sontak terbangun dari duduk mereka. Bahkan Milna segera berlari menghampiri tim medis tersebut.


"Dokter, kumohon katakan. Bagaimana keadaan suami saya? Apakah dia baik-baik saja dan apakah operasi berjalan dengan lancar? Tolong katakan dok sampaikan pada saya!" cecar Milna dengan raut wajah panik yang begitu kentara.


"Kak sabar Kak. Nanyanya satu-satu dokternya bingung tuh!" ucap Vanish mengingatkan Milna seraya menarik tangan Milna yang sejak tadi mengguncang lengan dokter.


"Tidak apa-apa. Lagi pula saya bukanlah dokternya. Sebaiknya anda ikut saya ke ruangan dokter Alka, biar nanti beliau yang akan menjelaskannya di sana. Sementara itu suami anda akan dipindahkan ke ruangan ICU. Karena pasca operasi kami para tim medis masih harus memantau dan observasi. Walaupun operasinya sudah dinyatakan berhasil untuk saat ini," jelas Ners tersebut dengan lugas dan tegas.


"Baiklah, Ners terima kasih." Milna dan Vanish mengikuti laki-laki berjubah putih tersebut menuju ruangan dokter Alka. Dokter kepala yang menangani operasi Joy tadi.


"Nyonya Milna. Neskipun operasi suami anda telah dinyatakan berhasil untuk saat ini. Akan tetapi suami anda akan tetap kami pantau selama kurang lebih dua pekan. Kami para tim medis hanya ingin memastikan jika kebocoran yang terdapat pada paru-paru suami Anda, sudah berhasil kami tangani dengan baik. Kami harus memastikan jika paru-paru suami anda sudah dapat berfungsi dengan normal kembali," jelas dokter dokter Alka dengan lugas.


Milna memegangi dadanya tanda bahwa ia cukup lega mendengar berita ini. Setidaknya untuk saat ini keadaan suaminya sudah baik-baik saja karena masa kritisnya telah lewat.


"Baik Dokter saya mengerti, tolong lakukan dan berikan yang terbaik untuk suami saya.," pinta Milna dengan nada memohon kepada dokter Alka. Vanish pun cukup lega mendengarnya. Vanish menyeka air mata yang menetes di pipinya dengan cepat.

__ADS_1


Baginya kebahagiaan Milna adalah kebahagiaannya, begitupun juga dengan duka lara yang dirasakan oleh sahabatnya ini, merupakan hal yang menyedihkan dan menyakitkan juga bagi dirinya.


Vanish berharap Milna dan Joy dapat kembali bersatu dan bahagia untuk kedepannya. Setiap kejadian pasti akan ada hikmah baik di belakangnya Vanish berpikir mulai saat ini Milna pasti sudah membuka hatinya untuk Joy. Melihat bagaimana pengorbanan pria itu terhadap dirinya dan juga bayi yang ada di dalam kandungannya.


Bagaimana sikap khawatir Joy selama menemani kehamilannya. Milna merasa sedikit lebih mudah menjalani masa mengidam, dan vanishlah tempat Milna mengadu tentang apapun yang ia rasakan kala itu.


_____


" Nis aku akan menemui Joy Apakah kamu mau ikut?" tanya Milna seraya menoleh kepada sahabat yang berada di sebelahnya ini. Keduanya kini tengah berjalan di koridor yang sepi.


"Sebaiknya aku menunggu di luar saja, biar kakak dan juga pak Joy dapat berbicara dengan bebas dan terbuka," ucapnya dengan senyum ceria seperti biasanya.


"Gimana mau ngobrol sih Nis, pasti Joy juga belum sadar," sungut Milna, yang mana membuat Vanish membekap mulutnya demi menahan kekehan.


"Ya udah sih, nggak apa-apa, Kakak ngobrol aja sama Pak Joy. Ninis Nggak apa-apa kok nunggu di luar. Lagian aku nggak mau ganggu pasangan yang lagi uwu-uwuan," ledek Vanish seraya tertawa geli. Ia bahkan sampai memegangi perutnya yang sedikit nyeri karena tertawa terlalu keras. Bagaimana tidak jika ia melihat wajah Milna yang begitu lucu karena menahan kesal.


"Udah deh Kak ngaku aja, kalau kamu tuh udah baper banget sama tindakan superhero yang dilakukan oleh Pak Joy," goda Vanish lagi, hingga kali ini ia mendapatkan cubitan gemes di kedua pipinya.


"Dasar mulut lemes bisa nggak sih nggak usah diomongin! Bikin orang keki aja deh!" protes Milna, yang justru membuat Vanish semakin gencar menggodanya.


Bersambung >>>

__ADS_1


__ADS_2